Halo!

Han Bu Kong - Chapter 47

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 47

Pada telapak tangan kiri lelaki berbaju hitam itu terpasang sarung tangan kulit yang terikat seutas rantai perak mengilap. Bola perak pada ujung rantai tersebut dipegang oleh Tik Yang. Mendadak Tik Yang menggeram, cahaya perak berkelebat, dan darah pun berhamburan. Rupanya, hanya dengan sekali hantam menggunakan bola yang dipegangnya, Tik Yang telah menghancurkan kepala lawannya.

Cepat Lamkiong Peng membangunkan Tik Yang. Dilihatnya kedua mata orang itu merah membara dan dadanya berlumuran darah. Untuk pertama kalinya, anak muda ini terluka; juga untuk pertama kalinya selama hidupnya, ia membunuh orang.

Melihat darah yang berceceran, ia menjadi terkesima memandangi bola perak yang masih berada dalam genggamannya.

"Hm, ternyata Thiankiam juga cuma begini saja," tiba-tiba terdengar Yim Hong-peng mengejek dari samping.

"Hanya begini apa? Sedikitnya dia telah mengacaukan barisanmu. Untung kauhentikan gerakan barisanmu, kalau tidak, hmk!" ejek Bwe Kiam-soat.

"Huh, jangan temberang dulu," jawab Yim Hong-peng. "Kedatanganku ke daerah Tionggoan sekali ini sebenarnya tidak bermaksud mengikat permusuhan, sebab itulah barisan bola perak ini belum kugunakan secara tuntas. Apabila kalian bisa melihat gelagat, hendaknya turut nasihatku. Kalau tidak, terpaksa kalian harus menyaksikan kesaktian barisan bola perak yang sesungguhnya." Habis berkata, Yim Hong-peng bermaksud melompat mundur ke tengah barisannya.

"Nanti dulu!" bentak Kiam-soat mendadak. Sekali bergerak, tahu-tahu ia sudah hinggap di depan Yim Hong-peng.

"Hah, memangnya kau dapat menahan diriku?" ejek Yim Hong-peng, mendadak ia meloncat lagi.

"Boleh kau coba!" ejek Bwe Kiam-soat sambil tertawa. Tangan kirinya terangkat dan lengan bajunya berkibar; seperti ular saja, tahu-tahu lengan baju itu hendak membelit betis Yim Hong-peng.

Tergetar juga hati Yim Hong-peng, cepat kedua tangannya menebas ke bawah, kaki kanannya pun mendepak.

Namun, Bwe Kiam-soat sedikit menarik lengan bajunya sembari berkata, "Lebih baik kauturun saja!" Belum lenyap suaranya, Yim Hong-peng benar-benar jatuh kembali ke tempat semula dan menatap Bwe Kiam-soat dengan tercengang.

Baru saja Bwe Kiam-soat mengeluarkan gerakan *Liusiu* atau awan mengambang. Sambaran lengan bajunya tampak biasa, namun ternyata membawa tenaga tarikan yang maha kuat, juga ketepatan waktu dan sasaran yang terjadi secara jitu.

Diam-diam Lamkiong Peng juga terkejut; baru sekarang ia menyaksikan kepandaian asli Bwe Kiam-soat. Di samping terkejut, ia pun kagum. Padahal selama sepuluh tahun ini perempuan tersebut selalu berbaring di dalam peti mati yang sempit, suatu siksaan yang bisa membuat orang gila. Namun, ia tidak saja tetap tawakal, tetapi lwekangnya yang punah dapat pulih kembali—sungguh suatu pekerjaan yang tidak mudah. Terutama ilmu awet muda yang berhasil ia kuasai, bahkan kungfunya tampak lebih maju daripada dulu. Sungguh sukar dimengerti resep apa yang membuatnya mencapai mukjizat seperti ini.

Dalam pada itu, perlahan Tik Yang telah duduk tegak.

"Hm, sudah saatnya kalian memilih apakah ingin menyerah atau tetap bertempur. Apalagi kalian perlu bersiap membereskan urusan orang bermarga Tik ini setelah dia mampus," ejek Yim Hong-peng.

"Apa katamu?" bentak Lamkiong Peng terkesiap.

"Hehe," Yim Hong-peng tertawa mengejek, "pada bola perak berduri itu dilumuri racun. Bila masuk ke dalam darah, sukar lagi ditolong. Maka jika kau ingin menyelamatkan jiwa kawanmu, hendaknya kau lekas ambil keputusan." Rupanya ia agak gentar akan kesaktian Bwe Kiam-soat, sehingga sengaja menggertak dengan racun yang mengenai Tik Yang.

Air muka Lamkiong Peng berubah hebat. Waktu ia berpaling ke sana, dilihatnya wajah Tik Yang berubah kaku dan matanya buram.

"Hm, biarpun kau bicara menakutkan, itu takkan mampu menggertak diriku," ejek Kiam-soat.

"Tapi kuyakin dalam hatimu harus mengakui aku tidak sekadar menggertak," balas Yim Hong-peng. "Kau sendiri sudah terkenal sebagai perempuan berdarah dingin, dengan sendirinya mati-hidup kawan tidak perlu kaupikirkan. Tapi kau, Lamkiong Peng, apakah kau pun manusia yang berbudi rendah begitu?"

Tergetar juga hati Lamkiong Peng. Dirasakan tangan Tik Yang yang dipegangnya panas membara, sinar matanya juga berubah buram.

"Bila kubekuk dirimu, masakah takkan kauserahkan obat penawarnya?" ejek Bwe Kiam-soat pula.

"Obat penawarnya memang ada, tapi tidak kubawa. Apalagi... hehe, apakah kau yakin mampu membekuk diriku?"

Alis Kiam-soat menegak. Mendadak ia terbahak-bahak, "Hahaha, sungguh menggelikan! Kusangka Banhiang Yim Hong-peng itu tokoh lihai macam apa, tak tahunya cuma begini saja."

Yim Hong-peng meraba janggutnya, berlagak tidak mendengar.

Kiam-soat mendengus lagi, "Huh, dengan cara licik ini untuk menjerat orang masuk ke dalam komplotanmu, apakah tindakan ini tidak teramat bodoh? Umpama berhasil kaubujuk orang ke dalam komplotanmu, apakah kemudian dapat kaujamin kesetiaannya? Apakah dia takkan menjual rahasiamu dan berkhianat? Hah, bisa jadi engkau akan menyesal di kemudian hari."

"Hahahahaha!" Yim Hong-peng terbahak. "Untuk ini, Nona tidak perlu khawatir bagiku. Jika orang bermarga Yim tidak yakin mampu menaklukkan harimau, takkan berani aku naik ke gunung."

Diam-diam Bwe Kiam-soat merancang tindakan yang akan diambilnya. Lahirnya ia berlagak tertawa; ia berpikir harus sekali serang merobohkan Yim Hong-peng. Bila gagal, serentak mereka bertiga harus menerjang keluar kepungan musuh sebelum barisan bola maut itu bergerak.

Selagi ia termenung, di tengah malam sunyi mendadak ia mendengar suara burung gagak berkaok satu kali. Segulung bayangan hitam terbang tiba dengan cepat sekali; dari kecepatannya, lebih menyerupai seekor elang daripada seekor gagak.

Selagi Kiam-soat terkesiap, dilihatnya burung gagak aneh ini mendadak menubruk ke muka Yim Hong-peng, tampak hendak mematuk biji matanya. Tentu Yim Hong-peng terkejut, cepat ia menggeser mundur, berbareng sebelah tangannya menghantam. Pukulan ini sangat kuat, dan karena gagak itu sedang menyambar ke depan, sepantasnya sukar menghindari pukulan dahsyat tersebut.

Siapa duga, kembali terdengar suara gaok yang panjang. Secepat kilat gagak itu terbang membalik—kecepatannya lebih mengejutkan daripada saat menyambar tadi—dan hanya sekejap saja lantas menghilang dalam kegelapan.

Yim Hong-peng sendiri jadi melongo; tangan yang hampir menghantam tadi hampir tak dapat diturunkan lagi. Di dunia ini memang banyak hewan cerdik, tapi seekor burung gagak dapat terbang mundur? Sungguh hal ini tidak pernah terdengar; benar-benar peristiwa yang ajaib.

Selagi merasa bingung, tiba-tiba terdengar suara bentakan aneh dari jauh mendekat, "Minggir! Minggir!" Menyusul kemudian kegaduhan di antara kawanan lelaki berseragam hitam dan bersenjata bola berantai. Barisan mereka pun menjadi kacau dan menyingkir untuk memberi jalan.

Kening Yim Hong-peng berkerut, bentaknya, "Tenang, tetap di tempat! Apakah kalian sudah lupa pada disiplin yang diajarkan? Sebelum bertempur barisan sudah kacau, dosa ini tak terampunkan!"

Belum habis ucapannya, mendadak seorang tojin kurus kering berjubah biru dan berambut putih melangkah tiba dari balik barisan sembari membentak, "Minggir! Minggir!" Rambut dan janggut tojin ini sudah putih seluruhnya, panjang jubah birunya cuma sebatas dengkul, mukanya kurus, tapi sikapnya gagah berwibawa. Telapak tangan kirinya terangkat di depan dada, dan di atas telapak tangan itu hinggap seekor burung gagak.

Waktu Yim Hong-peng mengamati lebih teliti, kiranya suara teriakan serak tadi justru keluar dari mulut burung gagak tersebut. Tentu saja ia melongo. Burung gagak dapat terbang mundur saja sudah merupakan kejadian ajaib.

Bwe Kiam-soat juga tercengang. Dilihatnya si tojin kurus tersenyum simpul, mendadak burung gagak itu berteriak lagi, "Bulan tidak gelap, angin tidak kencang, mengapa Kota Se-an yang aman tenteram ini terjadi kekacauan dan pembunuhan? Apakah kalian sengaja bikin rusuh!" Meski serak suaranya, pelafalannya cukup jelas. Hal ini membuat Bwe Kiam-soat tambah melongo.

Hanya sinar mata Lamkiong Peng tetap gemerlap dan tidak menunjukkan rasa terkejut. Namun, setelah melihat si tojin berambut putih itu, tiba-tiba ia teringat seseorang. Baru saja ia hendak berseru, "Kau..." Mendadak sorot mata si tojin menyapu pandang ke arahnya dan mengedipkan mata. Seketika Lamkiong Peng urung bicara dan memandang orang itu dengan bingung.

Banhiang berusaha mengatasi rasa bimbangnya. Ia memberi hormat dan menyapa, "Totiang tentu orang kosen dari dunia luar. Entah ada keperluan dan petunjuk apa datang ke sini?"

Tojin berambut putih itu terbahak, si gagak berteriak lagi, "Mengapa engkau cuma menghormat padanya, masa tidak melihat kehadiranku di sini?"

Yim Hong-peng melongo dan serba susah. Masakah dirinya juga harus memberi hormat kepada seekor burung gagak? Sungguh mustahil.

Si tojin tertawa, katanya, "Kawanku meski seekor burung namun wataknya angkuh, tingkatannya memang sangat tinggi. Bila kauberi hormat padanya, kan tidak menjadi soal?"

Yim Hong-peng melongo sejenak. Dengan hati tidak rela, ia merangkap kepalan di depan dada sebagai tanda hormat. Betapapun, ia telah terpengaruh oleh sikap tojin yang berwibawa dan keajaiban burung gagak itu sehingga menuruti saja apa yang dikatakan si tojin.

Sorot mata Lamkiong Peng menampilkan senyuman geli terhadap apa yang dilihatnya ini. Diam-diam Bwe Kiam-soat juga merasa heran. Ia tahu pribadi Lamkiong Peng yang lugas; tidak mungkin ia tinggal diam menghadapi suatu urusan yang ganjil. Maka ia menjadi curiga, namun kecerdasan burung gagak itu memang terbukti nyata, betapapun pintarnya ia tidak paham mengapa bisa begini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment