Chapter 48
Dilihatnya si tojin sedang mengangguk dan berkata, "Baik, anak muda yang sopan, tidak percuma kedatanganku ini." Setelah merandek sejenak, ia berkata lagi dengan keras kepada Yim Hong Peng, "Tanpa sengaja aku berlalu di sini, kulihat di sini hawa pembunuh berkobar. Aku tidak sampai hati menyaksikan kawanan ksatria tertimpa malapetaka, maka sengaja mengitar ke sini." Dengan bingung Yim Hong Peng menjawab, "Ucapan Cianpwe sungguh sukar dimengerti..." "Jelas dirundung kemalangan, apabila kau berani main senjata, pasti celakalah kau. Maka, kuanjurkan lebih baik kau loloskan diri sebelum terlambat," kata si tojin pula dengan geram.
Sama sekali ia tidak memandang Lamkiong Peng dan Bwe Kiam Soat, seperti kedua orang itu membuatnya jemu, lalu dengan nada keras ia menyambung, "Jika ada orang merintangimu, mengingat sopan santunmu ini, biarlah nanti kutahan mereka."
"Tapi..." Yim Hong Peng tambah bingung.
"Tapi apa? Masa kau tidak percaya kepadaku?" bentak si tojin dengan bengis.
Serentak burung gagak itu menyambung, "Kemalangan akan menimpa dan belum lagi kausadari, kasihan!" Yim Hong Peng berdiri termangu dengan air muka pucat. Ia memandang Lamkiong Peng bertiga dan memandang pula si tojin serta burung gagaknya, katanya kemudian dengan tergegap, "Bukan Wanpwe tidak percaya kepada ucapan Cianpwe, soalnya urusanku ini tidak dapat diselesaikan dengan sekata dua patah saja, pula..." "Pula apa yang kukatakan sukar untuk dipercaya, begitu bukan maksudmu?" potong si tojin.
Yim Hong Peng diam saja; biasanya diam berarti membenarkan.
Mendadak si tojin bergelak tertawa, "Haha, apa yang kukatakan selama ini hampir tidak pernah disangsikan orang, juga tidak pernah salah menafsirkan suatu peristiwa. Ternyata sekarang keteranganku tidak kaupercayai, agaknya kau ini memang ingin mampus." Burung gagak itu juga tertawa terkekeh aneh dan berkata, "Hehe, jika benar kau ingin mati, itu kan gampang..." Bola mata Yim Hong Peng berputar, tiba-tiba teringat seseorang olehnya, serunya, "Hei, jangan-jangan Cianpwe ini adalah tokoh serba tahu yang termasyhur pada beberapa puluh tahun yang lalu, Thian-ah Totiang adanya?" Si tojin berambut putih tergelak, "Haha, bagus! Ternyata namaku juga kaukenal. Ya, memang betul, aku inilah Thian-ah Tojin, cuma memberitahukan kemalangan dan tidak melaporkan kemujuran."
"Tapi... tapi menurut berita yang tersiar di dunia kangouw, konon... konon sudah lama Cianpwe wafat..."
"Wafat apa?" potong si tojin alias Thian-ah Totiang dengan tertawa. "Soalnya beberapa puluh tahun yang lalu aku merasa bosan berkelana lagi di dunia ramai ini, maka sengaja pura-pura mati dan mengasingkan diri. Tak tersangka berita ini dianggap benar oleh orang persilatan."
Mau tak mau Bwe Kiam Soat juga terperanjat. Namun, tokoh aneh dunia persilatan masa lampau ini sudah lama telah didengarnya. Diketahuinya orang ini terkenal sebagai peramal ulung, hampir tidak pernah meleset bilamana dia meramalkan malapetaka seseorang. Asalkan dia memberi peringatan kepada seseorang, orang tersebut tentu tertimpa bahaya. Sebab itulah orang dunia persilatan menyebutnya sebagai Thian-ah Tojin; kata "ah" atau gagak biasanya tidak mengenakkan pendengaran, namun setiap orang persilatan tidak ada yang berani bersikap kurang hormat kepadanya.
Lalu dengan serius Thian-ah Tojin berkata kepada Bwe Kiam Soat, "Nah, apa yang telah kukatakan tentu sudah kalian dengar dengan jelas." Tergerak hati Bwe Kiam Soat, dipandangnya Lamkiong Peng sekejap, lalu mengangguk perlahan.
"Dan tentunya kalian tidak berlain pendapat bila hendak kulepaskan dia dari malapetaka yang akan menimpanya, bukan?" kata Thian-ah Tojin pula.
Bwe Kiam Soat cukup cerdik, ia tahu meski resminya si tojin menyatakan menolong Yim Hong Peng terlepas dari malapetaka, tapi sebenarnya pihak sendirilah yang dibantunya. Maka, cepat ia menjawab, "Jika Cianpwe berpendapat demikian, tentu tidak ada persoalan bagi kami."
"Jika begitu boleh lekas kau pergi saja," kata Thian-ah Tojin sambil memberi tanda kepada Yim Hong Peng.
Agaknya Yim Hong Peng masih sangsi juga, segera si tojin menambahkan, "Lekas pergi, jika terlambat mungkin akan terjadi perubahan." Walaupun dalam hati masih penasaran, terpaksa Yim Hong Peng menjawab dengan hormat, "Atas budi kebaikan Cianpwe kelak pasti akan kubalas dengan setimpal." Habis itu ia memberi tanda dan membentak, "Pergi!" Begitulah, pihaknya sebenarnya berada dalam posisi yang menguntungkan, tapi sekarang dia berbalik seperti dilepaskan pergi atas kemurahan hati orang, malahan seperti utang budi terhadap si tojin. Melihat sikap si tojin yang berwibawa dengan burung gagaknya yang ajaib, kawanan lelaki berbaju hitam tadi sudah sama kebat-kebit. Sekarang mereka diperintahkan pergi, tentu saja serupa mendapat pengampunan besar, berbondong-bondong mereka lantas melangkah pergi dengan cepat.
Yim Hong Peng melototi Bwe Kiam Soat sekejap seperti mau bicara, akhirnya mengentak kaki dan membalik tubuh, hanya dengan beberapa kali lompatan saja sudah menghilang dalam kegelapan.
Sejak tadi Lamkiong Peng tidak memberi komentar. Sesudah Yim Hong Peng pergi jauh, mendadak ia menghela napas dan menggerutu, "Ai, kembali kau tipu orang lagi. Kalau tidak ada Tik-heng, aku..." dia seperti sangat menyesalkan diri sendiri. Tentu saja Bwe Kiam Soat merasa heran.
Sedangkan si tojin berambut putih mendadak tertawa dengan keras, katanya, "Ini namanya dengan gigi membayar gigi. Terhadap kawanan licik dan jahat itu, apa salahnya menipu beberapa kali."
"Ai, tipu-menipu betapapun bukan perbuatan yang baik..." Lamkiong Peng menghela napas menyesal.
Bwe Kiam Soat merasa bingung, ia coba bertanya, "Tipu-menipu apa?" Meski dia sangat cerdas, tetap tidak tahu ada tipu-menipu apa dalam hal ini. Si tojin seperti sudah kenal watak Lamkiong Peng, ia tidak menghiraukan omelan anak muda itu, perlahan ia mengelus bulu burung gagak, katanya dengan tertawa, "Sahabat burung, hari ini besar bantuanmu padaku." Dengan tangan kanan ia seperti memutuskan sesuatu pada kaki gagak, habis itu ia angkat tangan kiri dan berkata, "Nah, pergilah!" Mendadak burung gagak itu berbunyi satu kali, terus terbang dan menghilang dalam kegelapan malam.
Bwe Kiam Soat tercengang dan juga merasa sayang melihat si tojin melepaskan begitu saja burung gagak ajaib itu, serunya, "Ai... apakah dia akan terbang kembali kepadamu?"
Tojin itu bergelak tertawa, "Haha, Nona tidak perlu merasa sayang. Gagak semacam ini, bila mau dapat kutangkap sepuluh ekor sekaligus setiap saat." Dengan bingung Bwe Kiam Soat memandang Lamkiong Peng sekejap, lalu berkata dengan heran, "Ai, sesungguhnya bagaimana urusannya, sungguh aku tidak mengerti."
"Hahahaha!" Kembali si tojin terbahak. "Bila bertemu musuh tangguh, yang utama serang batinnya. Tak tersangka jurus seranganku ini bukan saja dapat mengelabui Banhian Yim Hong Peng itu, bahkan Kong-jiok-Huicu yang termasyhur juga dapat kukelabui."
Dengan heran Lamkiong Peng berucap, "Tujuh tahun yang lalu berpisah, tak tersangka sekarang dapat bertemu pula denganmu di sini. Juga tak terduga, engkau akan membebaskan kesukaranku, terlebih tidak nyana watakmu ternyata tidak berubah sedikit pun..."
Tojin itu berhenti tertawa, katanya dengan tergegap, "Terus terang permainanku yang unik ini sudah sekian tahun tidak pernah kugunakan. Baru sekarang lantaran melihat Kongcu terancam bahaya maka sekadar kukeluarkan..."
"Tentu saja kuterima kasih atas pertolonganmu, cuma permainan semacam ini tetap bukan tindakan lelaki sejati. Selama hidupmu berkecimpung di dunia kangouw, masakah engkau tidak ingin berbuat secara gilang-gemilang agar namamu selalu diingat?" Dia bicara dengan suara halus, tapi mengandung semacam wibawa yang tidak dapat dibantah. Air muka si tojin rada berubah, akhirnya menunduk dan tidak bersuara lagi.
Perlahan Lamkiong Peng mendekatinya, katanya sambil menepuk perlahan pundaknya, "Jika kata-kataku terlalu kasar, hendaknya engkau jangan marah. Maklumlah, bila aku tidak merasa bangga karena mempunyai sahabat serupa dirimu, tentu aku takkan bicara terus terang padamu. Apalagi engkau telah membantuku, sungguh aku sangat berterima kasih kepadamu."
Si tojin mengangkat kepalanya dan tersenyum, sorot matanya penuh rasa persahabatan. Kedua orang saling pandang sekejap, mendadak ia menggenggam tangan Lamkiong Peng dengan erat, katanya, "Selama ini apakah... apakah engkau baik-baik saja?"
"Aku sangat baik, hendaknya engkau demikian pula," jawab Lamkiong Peng.
Bwe Kiam Soat ternyata sedang termenung, mendadak ia berkeplok dan berseru, "Aha, tahulah aku!" Habis itu tahu-tahu ia melompat ke samping si tojin berambut putih dan memegang tangannya.
Dengan tertawa Kiam Soat berkata, "Coba lihat, pada tangannya ternyata benar tersembunyi segulung benang hitam. Haha, burung gagak terbang mundur, hal ini ternyata permainan sulap belaka. Rupanya pada kaki gagak terikat benang, lalu ditarik mundur olehnya."
"Nona ternyata sangat pintar, segala apa sukar mengelabui mata telingamu," ucap si tojin dengan tertawa.
Lamkiong Peng memandang Bwe Kiam Soat dengan tertawa senang, pikirnya, "Lahiriah dia kelihatan dingin dan sukar didekati, yang benar dia juga punya hati yang hangat. Cuma sayang, orang persilatan hanya kenal sikapnya yang dingin dan tidak ada yang tahu hatinya yang baik."
Tiba-tiba didengarnya Bwe Kiam Soat bergumam dengan alis berkerut, "Hanya mengenai... mengapa burung gagak itu dapat bicara seperti manusia, hal inilah yang masih membuatku bingung."
Tojin itu bergelak, mendadak ia berseru dengan suara yang serak aneh tadi, "Nona sudah lama berkecimpung di dunia kangouw, masakah engkau tidak pernah dengar bahwa di antara kaum pengelana itu ada semacam permainan sulap yang ajaib..." Suaranya bukan saja aneh, waktu Kiam Soat mengamati, ia tambah tercengang sebab bibir si tojin tidak bergerak, tapi jelas suara tersiar dari mulutnya.