Halo!

Han Bu Kong - Chapter 49

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 49

Kiam Soat mencoba mengamati lebih teliti lagi. Suara yang timbul dari perut si tojin itu terdengar mirip bunyi perut keroncongan saat lapar.

"Sulap apa?" tanyanya kemudian dengan tercengang.

"Kungfu ini disebut 'bicara dengan perut'," tukas Lamkiong Peng, "yaitu menggunakan tenaga otot dalam perut untuk menimbulkan suara. Bagi tukang ngamen di dunia kang-ouw, permainan ini tergolong kungfu khas dan sangat sukar dilatih..." Sampai di sini, mendadak si tojin memegang perutnya dan berseru sambil tertawa, "Haha, hanya permainan rendahan saja, buat apa dibangga-banggakan."

Dengan serius, Lamkiong Peng berucap, "Setiap ilmu kepandaian pasti tidak mudah dilatih, setiap kepandaian mana boleh diremehkan. Yang penting hanya menggunakan ilmunya itu tepat atau tidak."

"Tak disangka di kalangan kang-ouw terdapat aneka ragam ilmu mukjizat begini. Kau bilang ilmu golongan rendah, bagiku justru sangat ajaib, malah sebelum ini belum pernah kudengar, apalagi melihatnya," ujar Bwe Kiam Soat.

"Ya, dunia seluas ini masih banyak keanehan alam yang belum diketahui. Betapa cerdik pandai seseorang, terkadang juga tercengang menyaksikan hal-hal yang sukar dipecahkan dengan akal sehat," kata Lamkiong Peng.

"Jika demikian, jadi totiang ini bukanlah Thian-ah Tojin. Lantas siapakah engkau sebenarnya?" tanya Kiam Soat dengan heran.

Wajah Lamkiong Peng yang serius tadi mendadak timbul secercah senyuman. Agaknya bila teringat kepada nama tojin berambut putih ini, ia lantas merasa geli.

Si tojin berdehem, lalu berucap, "Namaku yang asli ialah Ban Tat. Dahulu aku sering mengendon di rumah Lamkiong-kongcu, numpang makan dan numpang tidur di sana." Mendadak ia bergelak tertawa, lalu menyambung, "Tapi kawan dunia persilatan justru menganggap aku bu-jip (setiap lubang dimasuki) dan Ban-sutong (segala urusan apa pun tahu). Karena itulah lama-lama nama asliku lantas dilupakan orang, dan terpaksa aku hanya dikenal dengan nama Ban-sutong, begitulah adanya."

Ia bergelak tertawa. Waktu memandang ke arah Bwe Kiam Soat, dilihatnya orang bersikap prihatin tanpa senyum sedikit pun. Dengan heran ia coba tanya, "Apakah nona merasa namaku ini tidak cocok bagiku?"

Kiam Soat menghela napas, ucapnya dengan sungguh-sungguh, "Jika bukan seorang mahabesar, kalau tidak ada hasrat besar untuk mencari pengetahuan, bila tidak berpengalaman luas, mana mungkin seorang disebut serba tahu. Sebab itulah nama ini bagiku hanya menimbulkan rasa kagum, dan tidak ada sedikit pun yang menggelikan."

Si tojin alias Ban Tat atau Ban-sutong jadi tercengang. Sungguh ia tidak menyangka orang justru menaruh hormat kepada kepandaiannya itu.

"Ya, kalau bukan seorang yang mahacerdik, mana mungkin berbicara lain daripada orang lain semacam ini," tukas Lamkiong Peng dengan gegetun (penyesalan/rasa haru).

Ban-sutong lantas berkata, "Sejak kongcu masuk perguruan Sin-liong, kebanyakan orang yang dulu mengendon di tempat kongcu itu lantas bubar juga. Aku sendiri terlunta-lunta di dunia kang-ouw tanpa menghasilkan sesuatu. Kedatanganku ke daerah barat laut sini sebenarnya juga lantaran mendengar berita pertandingan antara Sin-liong dan Tan Hong. Ingin kusaksikan pertarungan yang jarang terjadi ini, sekaligus juga ingin tahu keadaan kongcu akhir-akhir ini. Ternyata kedatanganku sudah terlambat. Setiba di Se-an, lantas kudengar berita muncul kembalinya Kong-jiok Huicu, juga mendengar kabar pertempuran kongcu dengan pejabat ketua Cong-lam Pai di restoran Thian-tiang-lau."

"Sungguh sangat senang hatiku mengetahui kemajuan pesat kungfu kongcu, tapi juga khawatir atas keselamatanmu, maka cepat kususul keluar kota, dan..."

"Dan kebetulan telah kau gertak lari Yim Hong-peng. Kalau tidak, mungkin sukar bagi kami untuk lolos dari kepungan musuh, mengingat di antara kami sudah ada yang terluka..."

"Celaka!" seru Lamkiong Peng sebelum ucapan Bwe Kiam Soat selesai. Cepat ia memburu ke samping Tik Yang dan memeriksa keadaannya.

Di bawah cahaya bintang yang remang, terlihat Tik Yang tak sadarkan diri, mukanya kelihatan bersemu hitam. Nyata ucapan Yim Hong-peng bahwa di atas bola berantai beracun bukanlah gertakan belaka. Tentu saja Lamkiong Peng merasa ngeri melihat keadaan Tik Yang itu. Cepat ia tanya dengan khawatir, "Bagaimana perasaanmu, Tik-heng?"

Namun, kedua mata Tik Yang terpejam rapat seperti tidak mendengarnya. Ban Tat ikut memeriksa keadaan Tik Yang, tampak ia pun mengerutkan kening.

"Bagaimana, dapatkah tertolong?" tanya Lamkiong Peng.

Sejenak Ban Tat termenung, katanya kemudian, "Racun yang mengenainya jelas bukan racun yang kita kenal di daerah Tionggoan, bahkan sekarang racun sudah menjalar, mungkin... mungkin..."

"Masa tak tertolong lagi?" tukas Lamkiong Peng.

"Kecuali obat penawar buatan Yim Hong-peng sendiri dan obat racikan mendiang 'Seng-ih' (tabib sakti) yang mustajab, rasanya tidak ada keajaiban lain yang mampu menawarkan racun ini. Sekalipun Kiutiong (si tabib penyelamat jiwa) Poh-leng-sian datang sendiri juga tidak berdaya mencegah racun yang segera akan menyerang jantung ini. Cuma..."

Belum habis ucapan Ban Tat, mendadak Lamkiong Peng melompat bangun. Tapi Bwe Kiam Soat keburu mengadang di depannya dan menegur, "Kau mau apa?"

"Tik-heng terluka lantaran membela diriku, mana boleh kutinggal diam tanpa menolong menyaksikan ajalnya?" jawab Lamkiong Peng.

"Jika maksudmu hendak mencari Yim Hong-peng untuk minta obat penawar padanya, tindakanmu ini tiada ubahnya serupa minta kulit kepada sang harimau," ujar Bwe Kiam Soat.

"Biarpun minta kulit pada sang harimau juga harus kuusahakan," kata Lamkiong Peng.

Kiam Soat menghela napas, katanya kemudian, "Baiklah, biar kuikut pergi bersamamu."

"Saat ini engkau lagi diincar oleh setiap orang persilatan, mana boleh engkau ikut menyerempet bahaya?" ujar Lamkiong Peng.

"Segala hal selalu kau pikirkan orang lain, mengapa tidak kau pikirkan dirimu sendiri juga?"

"Bila setiap urusan selalu berpikir bagi diri sendiri, hidup ini akan berubah menjadi hina tanpa berharga," kata Lamkiong Peng dengan gegetun melihat "putri berdarah dingin" ini ternyata menaruh perhatian kepadanya. Segera ia menambahkan lagi, "Hendaknya kautunggu sebentar di sini bersama Ban-heng. Apakah urusan akan berhasil atau tidak, tentu selekasnya kukembali ke sini."

Kiam Soat tersenyum pedih, katanya, "Jika urusan gagal, apakah engkau dapat kembali lagi?"

"Pasti kembali!" jawab Lamkiong Peng tegas.

"Jika engkau berjanji sekali pukul gagal segera akan mundur kembali ke sini, bolehlah aku tidak ikut serta," ujar Kiam Soat dengan rawan.

Sangat terharu hati Lamkiong Peng, tanpa tertahan ia pun membuka isi hatinya, "Biarpun merangkak pun aku akan merangkak kembali ke sini. Cuma kalian juga harus hati-hati."

"Jangan khawatir, engkau sendiri yang perlu hati-hati. Akan kutunggu di sini sampai kapan pun," ucap Kiam Soat tegas.

Ban Tat memandangi kedua orang itu. Mendadak ia menghela napas, katanya, "Apakah nona ini benar Kong-jiok Huicu?"

"Masakah perlu disangsikan?" ujar Lamkiong Peng.

"Sungguh sukar dipercaya Kong-jiok Huicu bisa..." mendadak Ban Tat tidak melanjutkan ucapannya. Tak diduganya bahwa Kong-jiok Huicu yang terkenal berdarah dingin itu bisa menaruh perhatian terhadap orang lain.

Lamkiong Peng berdiri termenung sejenak, ia pandang Kiam Soat sekilas, lalu berucap dengan rasa berat, "Kupergi saja!" Segera ia berlari pergi dengan cepat. Di tengah malam remang, hanya sekejap saja bayangannya lantas menghilang.

Kiam Soat menghela napas, gumamnya, "Ai, bilamana engkau benar Thian-ah Tojin, tentu dapat kaukatakan padaku baik-buruk akibat kepergiannya ini."

Seorang mahapintar dan mahacerdik, bilamana menghadapi sesuatu yang merisaukan, biasanya tanpa terasa juga akan mengharapkan bantuan kepada nasib. Selama hidup, Kong-jiok Huicu yang berdarah dingin ini suka meremehkan orang hidup, menertawakan orang lain; segala apa yang dipercaya orang tidak ada yang dipercayanya. Sebab dia tidak memperhatikan urusan apa pun, ia tidak berperasaan. Karena tidak berperasaan menjadi tidak punya rasa takut, karena tidak takut menjadi tidak percaya kepada nasib dan tidak peduli kehidupan ini.

Tapi sekarang justru timbul rasa perhatiannya yang mendalam dan rasa takut. Jiwa si dia (Lamkiong Peng) seolah-olah jauh lebih penting daripada kehidupan sendiri. Perasaan ini datangnya teramat mendadak, serupa sekaleng pewarna yang tumpah dan mendadak membikin merah kehidupannya yang putih pucat.

Ban Tat menghela napas, katanya, "Kesujudan pasti mendatangkan keselamatan, kejahatan tak nanti dapat melawan kebaikan. Dalam hal ini kukira nona dapat berbesar hati."

Dilihatnya Bwe Kiam Soat sedang menengadah dan seperti tidak mendengar ucapannya. Agaknya saat itu orang sedang bertanya bagaimana nasib si dia kepada Thian yang Mahakuasa.

Malam berlalu, fajar mulai menyingsing. Lamkiong Peng menarik napas dalam-dalam, menghirup hawa pagi yang sejuk, dengan gagah ia masuk ke kota Se-an. Meski disadarinya mahasulit usahanya akan mendapat obat penawar dari tangan Yim Hong-peng, tapi tekadnya sudah bulat, betapapun pendiriannya takkan berubah. Keberaniannya yang pantang mundur ini membuatnya sama sekali tidak menghiraukan mati hidup.

Pasar pagi baru mulai, orang berlalu-lalang berjubel memenuhi jalan. Melihat kegagahan Lamkiong Peng, orang lain sama menyingkir memberi jalan padanya, sebab sikap pemuda ini dirasakan membawa semacam keangkeran yang membuat orang tunduk padanya.

Bohceng, perkampungan tempat bersemayam Wiki masih sepi, tapi di tengah kesunyian itu membawa kesiapsiagaan yang luar biasa. Delapan lelaki tegap berbaju ringkas dan bergolok tampak mondar-mandir meronda di depan perkampungan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment