Chapter 50
Sorot mata mereka serupa anjing pemburu yang sedang mencari mangsanya. Mereka selalu mengintai ke balik kabut pagi, seakan-akan ingin menemukan Leng Hiat Huicu yang telah membuat panik kota tua Se-an.
Di tengah kesunyian itu, mendadak terdengar suara detak langkah orang. Serentak kedelapan penjaga itu berhenti bergerak dan berpaling ke arah datangnya suara.
Tampaklah seorang pemuda berbaju hijau dengan wajah putih pucat dan mata besar bagai bintang kejora muncul dari balik kabut dengan langkah lebar. Sorot matanya yang menerawang tajam memandang sekejap ke sekeliling, lalu menegur dengan suara berat, "Adakah Wi-cengcu di rumah?"
Kawanan penjaga berseragam hitam itu saling pandang dengan sangsi. Mereka terpengaruh oleh sikap pemuda yang berwibawa ini. Meski enggan menjawab, tidak urung seorang di antaranya bersuara, "Hari masih pagi, tentu saja beliau berada di rumah."
"Hendaknya lekas dipanggil keluar. Ada urusan penting yang ingin kutanyakan padanya," kata si pemuda dengan suara agak parau.
Kawanan lelaki berseragam hitam itu terperangah. Seorang di antaranya yang bermuka burik mendadak tergelak dan berseru, "Haha, kau ingin kami memanggil Cengcu untuk menemuimu? Hehe, fajar baru menyingsing, Cengcu belum tentu bangun, tapi kau meminta beliau keluar untuk menemuimu? Hahaha, sungguh lucu..."
Seorang lagi yang berhidung besar mengejek, "Memangnya kau ini siapa? Berani minta bertemu dengan Cengcu segala? Mendingan jika kau Liong Thihan yang sudah lama termasyhur itu atau Lamkiong Peng yang menggemparkan baru-baru ini..."
Mendadak pemuda yang bersikap kereng ini menjawab, "Aku sendirilah Lamkiong Peng!"
Nama Lamkiong Peng sungguh lebih mengguncang daripada bunyi guntur. Kawanan lelaki berseragam hitam itu sama melongo memandangi Lamkiong Peng. Habis itu, segera mereka berlari ke dalam kampung sambil berteriak, "Lamkiong Peng... Lamkiong Peng datang!"
Mimpi pun mereka tidak menyangka Lamkiong Peng, yang kemarin menempur Giokyang dengan gagah berani, pagi ini datang sendirian ke Bohliongsan-ceng. Dalam sekejap, perkampungan yang semula sunyi senyap itu menjadi gempar. Berita datangnya Lamkiong Peng tersiar dengan cepat. Banyak orang datang ingin melihat bagaimana rupa pemuda perkasa ini; ada juga yang mengintip dari balik pintu dan celah jendela.
Lamkiong Peng sendiri tetap berdiri menanti di situ dengan tenang. Sejenak kemudian, tiba-tiba terdengar gema suara orang membentak dari dalam perkampungan, "Di mana Lamkiong Peng?" Suaranya berat dan pelan, tapi menggema hingga jauh. Hati Lamkiong Peng bergetar, pikirnya, "Siapakah yang memiliki *lwekang* sehebat ini?" Hendaknya maklum bahwa baik Wiki maupun suhengnya, Giokyang, keduanya memang tokoh kelas satu, tapi tenaga dalam orang yang bersuara ini ternyata sangat mengejutkan dan jelas bukan suara Wiki berdua.
Namun, Lamkiong Peng tetap tenang saja. Saat ia memandang ke depan, tampak sesosok bayangan muncul dari balik kabut pagi setelah berdehem, lalu berkata lantang, "Di mana Lamkiong Peng?"
Lamkiong Peng tambah sangsi. Bayangan orang ini tinggi besar dan berambut putih; dia inilah Wiki, kepala Bohceng. Tapi suara ini jelas tidak sama dengan suara pertama tadi. Ia menjadi heran, apakah mungkin di dalam sana ada tokoh *bulim* kelas tinggi yang lain?
Sembari mengelus jenggotnya, Wiki menatap Lamkiong Peng dengan tajam. Ejeknya, "Untuk apa kau datang kemari, Lamkiong Peng? Memangnya benar engkau tidak takut mati?"
Mendadak dengan suara bengis ia membentak, "Bwe Leng-hiat! Di mana Bwe Leng-hiat? Apakah kau pun ikut datang?" Suaranya lantang, tapi kalau dibandingkan dengan suara pertama tadi, jelas bedanya seperti bunyi keliningan dengan suara genta.
Lamkiong Peng menatap sekilas ke belakang Wiki, tampak di belakangnya penuh bayangan orang, suara tadi entah diucapkan oleh siapa. Dengan kaku kemudian Lamkiong Peng balas bertanya, "Di mana Yim Hong-peng?"
Wiki melongo, tapi segera ia berteriak pula, "Mau apa kau mencari Yim Hong-peng?"
Belum lagi Lamkiong Peng bersuara, mendadak bayangan orang berkelebat. Tahu-tahu Yim Hong-peng sudah berada di depannya, serunya dengan tertawa, "Haha, kau datang kemari, Lamkiong Peng. Bagus, bagus sekali..."
Segera Wiki sebagai tuan rumah membuka suara pula, "Baiklah, jika kalian sudah berhadapan, marilah silakan bicara di dalam sana."
Di dalam perkampungan, kabut tampak lebih tebal disertai bau harum yang aneh. Entah siapa gerangan tokoh *kosen* macam apa yang bersembunyi di balik kabut dan bau harum ini. Namun dengan gagah, Lamkiong Peng melangkah masuk di tengah bayangan orang banyak. Orang-orang yang berkerumun itu menyingkir memberi jalan.
Kening Wiki berkerut, seperti mau bicara lagi, tapi setelah memandang sekejap ke balik kabut, sorot matanya menampilkan rasa ngeri sehingga ia urung buka mulut. Dengan menunduk, ia lantas mengikuti di belakang Yim Hong-peng dan Lamkiong Peng. Bohceng yang megah ini mendadak berubah sunyi senyap pula; yang terdengar hanya suara langkah orang banyak melintasi halaman dan menuju ke ruangan pendopo.
Di ruangan pendopo terpasang beberapa lentera tembaga, tapi di tengah kabut tebal yang tampak aneh ini, tampak serupa api setan (api fosfor) yang berkelip di tanah perkuburan sunyi. Lamkiong Peng menaiki undak-undakan dan menuju ke pintu pendopo. Sekonyong-konyong ia membalik tubuh dan memandang sekeliling; perkampungan yang megah ini seperti terbenam di dalam kabut hingga terasa lebih seram dan misterius.
Seketika, hati Lamkiong Peng juga timbul semacam perasaan aneh. Pada saat itulah tiba-tiba dekat belandar pendopo bergema pula suara aneh tadi, "Lamkiong Peng, apakah kedatanganmu ini hendak mencari Yim Hong-peng untuk meminta obat penawar racun?"
Hati Lamkiong Peng bergetar. Ia berpaling ke atas; di tengah pendopo yang remang itu suara orang tadi masih mendengung. Karena rasa ingin tahunya mendorong, tanpa pikir panjang ia langsung melompat ke atas belandar. Belandar tengah pendopo sangat tinggi, tapi jarak tiga tombak ini tidak menjadi soal bagi Lamkiong Peng.
Siapa tahu, baru saja tubuhnya meninggalkan permukaan tanah, mendadak terasa tenaga tidak cukup. Ia terkejut, sebisanya tangannya meraih ke atas dan keburu memegang belandar. Waktu ia pandang keadaan setempat, debu memenuhi belandar itu, mana ada bayangan orang. Tentu saja ia terkesiap, segera ia melayang turun lagi ke bawah.
Dilihatnya Yim Hong-peng sedang memandangnya dengan tersenyum. Cuma senyuman itu mengandung rasa misterius. Air muka Wiki tampak suram. Perlahan ia mendekati meja dan mengambil sebatang jarum baja panjang untuk mengungkit sumbu lampu sehingga cahaya lampu bertambah terang, namun tetap sukar menembus kabut yang tebal dan mengurangi keseraman suasana.
Lamkiong Peng sendiri menyesali diri sendiri, mengapa tenaganya bisa terasa habis setelah lelah semalaman. Namun, ia tetap tidak gentar. Mendadak ia mendongak dan berseru dengan lantang, "Sahabat ini siapa? Kenapa mesti main sembunyi dalam kegelapan? Apakah tidak punya keberanian untuk menemuiku?"
"Haha!" terdengar Yim Hong-peng tergelak, "Jika engkau sudah datang kemari, tujuanmu tentulah ingin minta obat penawar padaku. Akan tetapi, saat ini tenaga murnimu sudah lemah, biarpun kau main kekerasan juga takkan terkabul maksud tujuanmu."
Tiba-tiba Lamkiong Peng merasakan telapak tangan sendiri yang berlepotan debu kotoran belandar itu terasa kaku kejang, seperti dikuasai oleh semacam tenaga yang menggerakkan otot dagingnya. Perlahan ia menjawab, "Jika kutukar dengan sesuatu, apakah kau dapat memberikan obat penawarnya?"
"Itu harus diketahui dahulu, barang apa yang hendak kautukarkan?" ejek Yim Hong-peng. "Supaya kau tahu, biarpun diriku seorang kasar, tapi kalau cuma benda mustika biasa atau batu permata, bisa saja tidak kupandang sebelah mata."
Dengan tenang Lamkiong Peng menjawab, "Barang yang hendak kugunakan untuk menukarkan obat penawarmu adalah jiwa orang she Lamkiong ini!"
Tergetar hati Wiki. Yim Hong-peng juga terperangah, "Apa katamu? Coba jelaskan lagi?"
Dengan lantang Lamkiong Peng berkata, "Asalkan kauberikan obat penawarmu, besok kupasti kembali lagi ke sini..."
"Meski ingin kupercaya kepada janjimu, tapi..."
"Kutahu janjiku tentu takkan dipercaya olehmu," potong Lamkiong Peng. "Supaya kalian tidak sangsi, boleh kauberi minum padaku racun yang bekerja sehari kemudian, lalu serahkan obat penawarmu."
Yim Hong-peng terbahak-bahak, "Haha, bagus, bagus! Tapi ingin kutanya dulu padamu, sesungguhnya apa alasanmu sehingga kau pandang jiwa orang lain lebih penting daripada nyawa sendiri?"
Tanpa pikir, Lamkiong Peng menjawab, "Bila orang lain berbudi luhur bersedia mati bagiku, kenapa aku tidak boleh mati bagi orang lain? Kan lebih baik kumati bagi orang. Mati cara demikian pun akan mendatangkan ketentraman hati."
"Haha, betul juga. Orang hidup akhirnya pasti mati," seru Yim Hong-peng dengan tergelak. "Tapi usiamu masih muda belia, di rumah ada ayah-bunda, ada pula sahabat dan kekasih. Jika sekarang harus mati begitu saja, apakah engkau tidak merasa menyesal?"
Terkesiap juga Lamkiong Peng. Mendadak teringat akan pesan tinggalan sang guru dan rindu ayah-bundanya, hubungan baik sahabat, dan cinta kekasih. Tapi ia pun tidak dapat melupakan budi kebaikan Tik Yang yang sekarang sedang sekarat itu.
Dengan senyum mengejek, Yim Hong-peng memandang anak muda itu, disangkanya perkataannya telah menggoyahkan tekad gugur demi persahabatan anak muda itu. Tak terduga, mendadak Lamkiong Peng menengadah dan berucap tegas, "Mana obat racunnya?"
Air muka Yim Hong-peng berubah, juga Wiki dan lain-lain sama terkesiap. Tiba-tiba dari pojok ruang pendopo yang kelam sana bergema pula suara aneh itu, "Racun berada di sini!"
Serentak Lamkiong Peng berpaling ke sana. Dari tempat yang kelam sana, mendadak melayang tiba sebuah talam.