Halo!

Han Bu Kong - Chapter 51

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 51

Cara bergerak talam ini sangat aneh, serupa dipegang oleh sebuah tangan yang tidak kelihatan dan disodorkan perlahan ke depan Lamkiong Peng.

Sekali meraih, Lamkiong Peng memegang talam itu. Di atas talam ada sebuah kotak kemala kecil. Tanpa curiga, Lamkiong Peng mengambil kotak kecil itu, lalu sekali tolak ia mendorong talam kembali ke sana.

"Brak," talam kayu membentur dinding dan ternyata tidak disambut orang.

Sang surya sudah mulai terbit di ufuk timur, namun cahaya matahari pagi tetap tidak dapat membelah kabut tebal yang aneh ini. Kembali tercium bau harum sayup-sayup terbawa angin.

Dengan sorot mata acuh tak acuh, Yim Hong-peng memandang Lamkiong Peng. Terlihat anak muda itu sedang mendongak dan menuangkan isi kotak kemala yang berupa bubuk putih ke dalam mulutnya.

Begitu kukuh dan tegas sikap Lamkiong Peng, seolah-olah yang diminum itu bukan racun.

Ia mengangkat secangkir teh yang tersedia di atas meja dan dibuat berkumur.

Dirasakan telapak tangannya berkejang pula, memegang cangkir teh saja rasanya tidak kuat lagi.

Ia menjadi sangsi, masakah racun dapat bekerja secepat ini? Setelah menaruh kotak kemala dan cangkir teh di atas meja, dengan suara berat ia berkata, "Sekarang serahkan obat penawarnya."

"Obat penawar apa?" tanya Yim Hong-peng.

Seketika Lamkiong Peng menarik muka, bentaknya, "Kau... jadi kau..."

"Racun yang kauminum kan bukan pemberianku," ejek Yim Hong-peng. Habis berkata, lengan bajunya mengebas dan ia segera pergi.

Seketika hati Lamkiong Peng panas seperti dibakar.

Ia tidak tahan lagi, segera ia menubruk ke arah Yim Hong-peng.

Namun, Yim Hong-peng tetap melangkah ke depan dengan tenang. Tampaknya Lamkiong Peng segera akan menerjang tubuhnya, siapa tahu mendadak serangkum angin keras menyambar dari balik kabut tebal itu. Meski tidak bersuara, kekuatannya sukar untuk ditahan.

Seketika Lamkiong Peng merasa seperti didorong oleh kekuatan dahsyat, tanpa kuasa ia terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terduduk di atas kursi.

Menyaksikan itu, Wiki menghela napas panjang, mendadak ia bertindak keluar dengan langkah lebar.

Sedangkan Yim Hong-peng lantas membalik tubuh dengan perlahan.

Setelah menenangkan diri, dengan gusar Lamkiong Peng membentak, "Bangsat yang tidak pegang janji, kau..."

Dari balik kabut ada orang yang mengejek, "Hm, memangnya siapa yang pernah berjanji akan memberi obat penawar kepadamu?"

Saking gemasnya, Lamkiong Peng tidak sanggup bicara lagi.

Terdengar suara aneh di balik kabut berkata pula, "Sekali kau masuk perkampungan ini, berarti jiwamu sudah tergenggam di dalam tanganku. Masakah ada hak bagimu untuk bicara tentang tukar-menukar obat penawar segala?"

Ucapan ini sangat menyakitkan hati Lamkiong Peng. Hatinya serasa terkoyak-koyak, rasa murka dan sedih setelah tertipu, rasa cemas, dan putus asa membangkitkan sisa tenaganya yang terakhir. Mendadak ia menubruk ke sana, diterjangnya bayangan di balik kabut yang tebal itu.

Akan tetapi, baru saja tubuhnya melompat ke atas, kontan ia tidak tahan dan jatuh menggeletak lagi ke tanah. Sayup-sayup didengarnya suara ejekan orang, remang-remang sesosok bayangan orang seperti mendekatinya dari balik kegelapan sana.

Akan tetapi, kelopak matanya terasa sedemikian berat sehingga sukar terbuka lagi. Samar-samar hanya terlihat sepasang sepatu yang mengilap perlahan bergeser mendekat.

Suara langkah kaki yang berat dari jauh mendekat, perlahan bertambah keras.

Sinar sang surya yang baru terbit menembus celah-celah tirai dan menyinari kelambu bersulam bunga, tempat tidur yang menyiarkan bau harum semerbak.

Bersama dengan mendekatnya suara langkah orang, mendadak kelambu tersingkap. Seorang pemuda cakap segera bangkit dan duduk di tepi ranjang, mukanya kelihatan pucat, sinar matanya gemerlap takut seperti orang yang merasa berbuat dosa.

Cahaya sang surya yang menyilaukan itu membuatnya mengalangi mukanya dengan sebelah tangan. Ia tidak berani menatap sinar matahari, sebab ia khawatir sinar sang surya akan menerangi kejahatan yang tersembunyi dalam lubuk hatinya.

Suara langkah kaki tadi mendadak berhenti di depan pintu.

Muka pemuda itu bertambah pucat, segera ia hendak berdiri. Tak terduga dari balik kelambu di belakangnya lantas bangkit suara tertawa genit, sebuah tangan putih mulus telah memegang pergelangan tangannya sambil menegur, "He, kau mau apa?"

Dengan rasa gugup pemuda itu memandang ke arah pintu.

Kembali suara tertawa di belakang kelambu bertanya lagi, "Boleh kau tanya siapa yang di luar... Tanyalah, kenapa takut?"

Pemuda itu berdeham terlebih dahulu, lalu bertanya dengan suara berat, "Siapa itu?" Meski cuma satu kata yang sederhana, baginya serasa telah banyak memakan tenaga.

Di luar lantas bergema juga orang berdeham.

Dengan gugup pemuda pucat itu duduk kembali ke tempat tidur.

Terdengar suara seorang menjawab dengan rasa takut-takut, "Apakah Tuan tamu ingin meminta sesuatu?"

Pemuda pucat ini mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya, sambil menghela napas lega, lalu berteriak, "Tidak!"

Segera bergema pula suara tertawa nyaring di balik kelambu.

Pemuda pucat itu menghela napas, katanya, "Ai, kukira... kukira Toako yang berada di luar. Semalam aku bermimpi buruk. Sebentar mimpi Suhu merangkul diriku, lain saat mimpi Toako lagi mendamprat diriku dan..."

Pemuda pucat itu menunduk. Mendadak tangan putih mulus itu menariknya sehingga pemuda itu jatuh ke dalam rangkulan yang hangat dan harum, sehingga tidak sanggup lagi melepaskan diri, serupa seekor kelinci jatuh ke dalam perangkap si pemburu.

Perlahan kelambu tertutup lagi, sejenak kemudian sebelah kaki yang putih bersih pun terjulur ke tepi ranjang yang berguncang perlahan.

"Adik Tim," terdengar suara lembut bergema pula di balik kelambu, "andaikan benar Toako datang, lantas bagaimana?"

"Aku... aku..." Agaknya pemuda itu tidak sanggup menjawab.

Kaki putih tadi tampak terjulur lemas, lalu sampai lama tiada suara lagi di balik kelambu.

Kemudian sebelah kaki yang lain juga menjulur ke bawah, lalu seorang perempuan cantik dengan rambut kusut perlahan berdiri. Bajunya yang tipis melambai ke bawah sehingga menutupi kakinya yang indah.

Ia membetulkan rambutnya sambil menghela napas, katanya, "Adik Tim, kutahu engkau benar masih suka padaku."

Pemuda pucat itu pun muncul dari balik kelambu dan memandang perempuan menggiurkan itu dengan melongo. Katanya kemudian, "Aku... aku memang suka padamu, namun Toako setiap saat dapat... dapat datang, sungguh aku sangat... sangat takut."

Perempuan cantik menggiurkan yang habis main pat-gulipat dengan pemuda pucat ini ialah Kwe Giok-he. Mendadak ia berpaling ke sana dan menatap pemuda itu dengan tajam, katanya, "Jika selamanya Toako takkan kembali lagi, lantas bagaimana?"

Pemuda bermuka pucat itu bukan lain ialah Ciok Tim, ia melongo sejenak lalu berucap dengan heran, "Toako takkan kembali lagi?"

Giok-he mendengus perlahan, ia melangkah ke sana dan duduk di kursi, katanya, "Jika dia tidak mati, kan seharusnya sudah lama ia datang ke Se-an?"

Air muka Ciok Tim tambah pucat, katanya dengan tergagap, "Mak... maksudmu..."

Mendadak Giok-he memotong, "Tempo hari ketika di puncak Hoa-san, sudah kulihat jurang di luar rumah gubuk itu. Setiap saat dapat terjadi malapetaka, bisa jadi di sana tersembunyi sesuatu kejahatan yang belum terbongkar. Tentu kau lihat juga wajah mayat itu penuh rasa kejut dan takut, padahal tubuh mayat itu tidak terdapat tanda luka senjata atau pukulan. Jelas dia mati karena ketakutan."

"Mati ketakutan?" Ciok Tim menegaskan dengan melongo.

Giok-he mengangguk, katanya pula, "Kemudian ketika kau susul tiba, bukankah kau lihat tiba-tiba aku bersenyum?"

"Kukira engkau tersenyum kepada... kepadaku," kata Ciok Tim.

"Biarpun kusenang karena melihatmu, namun senyumanku itu adalah karena kudengar suara jeritan ngeri di bawah jurang itu."

"Jeritan ngeri? Kenapa aku tidak mendengar?"

"Waktu itu engkau lagi asyik memperhatikan diriku, dengan sendirinya tidak mendengar. Namun dapat kudengar dengan jelas jeritan yang keras dan cemas, itulah suara Toakomu. Coba kaupikir, menuruti watak Toakomu yang keras, bilamana dia tidak mengalami sesuatu musibah, mana bisa dia mengeluarkan jeritan ngeri itu."

Ciok Tim terkesima bingung, entah merasa senang, bersyukur, gelisah, atau sedih.

Sembari menggulung rambutnya, Giok-he berkata pula dengan perlahan, "Semula aku belum berani memastikannya, tapi setelah sekian hari tiada kelihatan bayangan Toakomu. Bila dia tidak mati, mustahil sampai sekarang tidak muncul lagi di sini. Dengan nama dan bentuknya, begitu masuk kota Se-an pasti akan dikenal orang dan segera tersiar."

Bola mata Giok-he mengerling dan tersembul senyuman puas yang sukar diraba, lalu berkata pula, "Setelah bertemu dengan perempuan iblis itu, sekalipun semalam Lo-ngo (kelima, maksudnya Lamkiong Peng) dapat menyelamatkan diri, tentu selanjutnya juga tidak berani lagi muncul di dunia kang-ouw, bahkan pulang ke rumah saja mungkin juga tidak berani..."

Ia sengaja menghela napas, namun senyumnya bertambah cerah, sambungnya lagi, "Tak tersangka murid Jiceng akhirnya tersisa kita berdua saja. Betapa besar perusahaan yang ditinggalkan Suhu itu terpaksa harus kuurus sendiri. Ai, selanjutnya engkau harus membantuku, Adik Tim."

Ciok Tim tidak menoleh, bahkan melengos ke arah lain, sebab saat itu air matanya berlinang memenuhi kelopak matanya, entah air mata terharu, menyesal, atau sedih.

Menjelang lohor, Giok-he dan Ciok Tim tampak keluar dari hotel.

Langkah Ciok Tim diperlambat sehingga bertahan suatu jarak tertentu di belakang Kwe Giok-he. Jarak yang layak seorang sute mengiringi sang suci.

Namun sinar matanya tanpa terasa selalu jatuh ke arah pinggang Giok-he yang ramping.

Jalan raya di tengah kota Se-an jelas berbeda daripada biasanya. Hal ini disebabkan kegemparan yang terjadi semalam; sampai saat ini perasaan penduduk masih belum tenteram kembali.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment