Halo!

Han Bu Kong - Chapter 52

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 52

Toko-toko yang memasang panji "Grup Lamkiong" hari ini tutup, jelas karena sedang mengalami suatu kejadian luar biasa. Dengan tenang, Kwe Giok-he melangkah ke arah Boh-liong-ceng, namun segala sesuatu di sekelilingnya tidak terlepas dari pengamatannya. Itulah sebabnya ia tidak menumpang kendaraan dan lebih memilih berjalan kaki.

Jalan raya yang kelihatannya tentram, namun jelas ada keanehan, akhirnya bergema dengan suara derap kaki kuda dari kejauhan. Waktu Kwe Giok-he menoleh, dilihatnya tiga ekor kuda tinggi besar dengan pelana mengilap muncul dari belakang. Kuda belang yang di depan ditunggangi seorang pemuda gagah berbaju satin dengan wajah tampan. Pedang bergantung di pinggangnya, tubuhnya yang jangkung duduk tegak di atas pelana, dan sorot matanya yang memancarkan sinar kepongahan mengerling kian kemari seolah tiada seorang pun di dunia ini yang pantas dipandang.

Namun, ketika melihat lirikan mata Kwe Giok-he, mendadak pemuda itu menahan kudanya. "Tring", sarung pedang bersepuh emas menyentuh pelana kuda dan menimbulkan suara nyaring. Tanpa memedulikan sopan santun, ia memandang Kwe Giok-he dari atas ke bawah dengan cengar-cengir. Air muka Ciok Tim berubah masam; ia mencoba menahan rasa gusarnya dan tidak menghiraukan sikap orang yang kurang ajar itu. Sebaliknya, sikap Kwe Giok-he meski kelihatan prihatin, lirikannya justru sengaja atau tidak sengaja kembali mengerling dua kejap ke arah orang itu, lalu menunduk.

Karena itu, pemuda penunggang kuda tersebut semakin berani. Perlahan ia terus mengintai di belakang Kwe Giok-he, sorot matanya tidak pernah meninggalkan pinggang Kwe Giok-he yang ramping. Kedua penunggang kuda lain yang mengikuti di belakangnya adalah dua kacung yang berdandan perlente; keempat mata mereka yang besar juga memandang Kwe Giok-he dengan penuh minat. Dandanan kedua anak ini serupa, bahkan wajah dan perawakan juga sama, namun sikap dan gerak-geriknya agak berbeda. Yang satu tampak pintar dan lincah, sementara yang lain kelihatan pendiam dan bersikap dewasa.

Ciok Tim tidak tahan lagi dengan rasa gusarnya. Ia menyusul ke dekat Kwe Giok-he. Si pemuda berbaju perlente memandang sekejap, mendadak ia tertawa, lalu melarikan kudanya cepat ke depan.

"Hm, kurang ajar benar orang ini!" jengek Ciok Tim.

Kacung sebelah kanan mendadak menahan kudanya dan menegur dengan mata melotot, "Apa katamu?"

Sedangkan kacung yang lain lantas mencambuk pantat kuda kawannya dan mengomel, "Sudahlah, lekas berangkat, cari gara-gara apa lagi?"

Setelah kedua kacung itu melarikan kudanya ke depan, dengan tersenyum Kwe Giok-he bertanya kepada Ciok Tim, "Kau kira orang macam apakah pemuda tadi?"

"Hm, besar kemungkinan anak kemarin sore yang baru tamat belajar, mungkin anak keluarga hartawan yang biasa berbuat tidak semena-mena," jengek Ciok Tim.

Kwe Giok-he memandangi bayangan punggung ketiga orang di depan sana, katanya, "Tampaknya tidak rendah ilmu silat mereka, tentu dari perguruan ternama." Di antara kerlingan dan kerut keningnya, agaknya timbul lagi sesuatu dalam pikirannya, hanya hal ini tidak disadari oleh Ciok Tim.

Setelah melintasi dua simpang jalan, tampaklah gedung megah dengan halaman luas; itulah Boh-liong-ceng, tempat kediaman Wiki. Baru saja mereka sampai di depan gerbang perkampungan itu, terdengarlah derap kaki kuda yang ramai; ketiga pemuda penunggang kuda tadi telah menyusul tiba. Seketika air muka Ciok Tim berubah, gumamnya, "Hm, tampaknya mereka sengaja menguntit kita."

"Jangan cari perkara," ujar Kwe Giok-he dengan tersenyum.

Tiba-tiba si pemuda perlente tadi melompat turun dari kudanya dan berdiri tepat di samping Kwe Giok-he. Dengan mendongkol, Ciok Tim lantas memburu maju dan melototi orang tersebut dengan sikap bermusuhan. Selagi pemuda perlente itu hendak menyapa, sekonyong-konyong pintu gerbang perkampungan megah itu terkuak. Menyusul terdengarlah gelak tertawa lantang; tampak Wiki dan Yim Hong-peng muncul dari dalam sembari berseru, "Aha, rupanya ada tamu dari jauh, maaf jika tidak kusambut selayaknya!"

Dengan wajah berseri, si pemuda perlente lantas berpaling ke sana dan memberi salam hormat. Diam-diam Ciok Tim berkerut kening; ia heran orang macam apakah pemuda ini sehingga Wiki merasa perlu menyambut keluar. Di luar dugaan, Wiki hanya menyapa sekadarnya saja kepada pemuda perlente itu, lalu langsung menghampiri Kwe Giok-he dan berucap, "Liong Hujin sungkan bermalam di tempatku ini, tentu semalam telah beristirahat dengan tenang."

"Terima kasih atas perhatian Wi-locianpwe," kata Kwe Giok-he sambil memberi hormat.

Baru sekarang Ciok Tim tahu bahwa yang hendak disambut oleh Wiki ternyata mereka berdua, bukan pemuda perlente tadi. Sebaliknya, pemuda itu merasa kikuk karena yang disambut tuan rumah ternyata bukan dirinya. Dengan tercengang, ia memandang Wiki dan Kwe Giok-he. Ketika dilihatnya Ciok Tim sedang meliriknya dengan sikap mengejek, seketika ia mendelik dan dengan suara dongkol menjengek, "Apakah tempat ini memang betul Boh-liong-ceng?"

Dengan sinar mata gemerlap, Yim Hong-peng menanggapi, "Betul, apakah Saudara ini bukan serombongan dengan Liong-hujin?"

Pemuda itu menjengek, "Aku datang dari Tong-thian-kiong di puncak Kun-lun-san, siapa Liong-hujin belum pernah kukenal." Seketika hati Kwe Giok-he, Ciok Tim, Wiki, dan Yim Hong-peng sama-sama tergetar.

"Aha, kiranya Anda ini murid Kun-lun-pai, silakan masuk. Kebetulan meja perjamuan sudah siap, marilah kita minum bersama barang satu-dua cawan," seru Wiki.

Biasanya orang kangouw juga sedikit sekali yang berkunjung ke Kun-lun-san. Sejak dahulu Put-liong mengalahkan Ji-yan Tojin, ketua Kun-lun-pai di puncak pegunungan itu, berita mengenai murid utama Ji-yan Tojin, yaitu Boh-in-jiu Tok Put-hoan, sangat menonjol di dunia kangouw dan merupakan salah seorang jago pedang yang disegani. Bahwa pemuda perlente ini adalah murid Kun-lun-pai, mau tak mau Wiki harus melayaninya dengan cara lain. Banhiang Yim Hong-peng lantas ikut menyambut juga dengan hormat seakan-akan dia adalah tuan rumahnya.

Sikap pemuda perlente itu tampak semakin congkak, tanpa sungkan ia lantas mendahului masuk ke dalam Boh-liong-ceng. Diam-diam Ciok Tim mendongkol, dengan suara tertahan ia membisiki Kwe Giok-he, "Jika orang ini saudara seperguruan Boh-in-jiu itu, artinya dia juga musuh Ji-ceng kita. Rasanya aku ingin menjajalnya, ingin kutahu betapa lihainya anak murid Kun-lun-pai."

"Berbuatlah menurut gelagat, jangan sembarangan bertindak," desis Kwe Giok-he sambil menarik ujung bajunya.

Sementara itu, sang surya sudah memancarkan cahayanya yang gilang-gemilang, kabut tebal tadi sudah tersapu lenyap, suasana misterius yang meliputi ruang pendopo pun hilang. Di tengah ruangan memang benar sudah siap meja perjamuan. Dengan tertawa, Wiki lantas berseru, "Liong Hujin..."

Belum sempat ia menyilakan duduk, sekonyong-konyong si pemuda perlente tanpa sungkan lantas menduduki tempat utama, seakan-akan tempat itu memang disediakan untuk dia. Selaku tuan rumah, tentu saja Wiki berkerut kening dan kurang senang; ia pikir biarpun anak murid Kun-lun-pai, seyogianya tidak boleh sesombong ini. Ciok Tim juga lantas mendengus menyatakan rasa tidak senangnya. Namun, pemuda perlente itu sengaja menengadah dan tidak menghiraukan cemooh orang lain.

Kwe Giok-he hanya tersenyum saja dan duduk di tempat seadanya. Ciok Tim juga tidak enak untuk bicara, terpaksa ia menahan perasaan dan duduk di samping Kwe Giok-he. Dengan sendirinya Wiki tidak dapat memperlihatkan rasa marahnya; ia hanya berdehem dan mencoba menyebutkan nama Kwe Giok-he, Ciok Tim, dan Yim Hong-peng, maksudnya agar pemuda perlente itu terkejut dan dapat lebih tahu diri.

Siapa sangka, nama ketiga orang itu ternyata tidak membuatnya gentar. Ia hanya menyapa pandang mereka sekejap, lalu menyebut namanya sendiri dengan nada dingin, "Dan namaku Cian Tong-lai."

Lalu, tidak bicara lebih banyak lagi, juga tidak bergerak dari tempat duduknya. Ia hanya memandang wajah Kwe Giok-he yang cantik itu dua-tiga kejap, entah ia sengaja berlagak angkuh atau memang masih hijau sehingga tidak mengenal nama tokoh dunia persilatan yang menonjol ini. Wiki juga mendongkol melihat sikap orang yang sombong itu; ia pikir biarpun Tok Put-hoan juga tidak berani bersikap seangkuh ini.

Setelah menyilakan tetamunya minum, dengan tertawa Wiki berkata, "Agaknya Cian-heng belum lama terjun ke dunia kangouw, tapi kalau dibicarakan sesungguhnya kita pun bukan orang luar. Beberapa tahun yang lalu ketika suheng-mu, Toh-siauhiap, baru turun dari Kun-lun-san, dia juga mampir ke tempatku sini dan saling sebut sebagai saudara denganku, haha..."

Mendadak si pemuda perlente yang mengaku bernama Cian Tong-lai itu memotong, "Toh Put-hoan adalah sutit-ku."

Baru sekarang Yim Hong-peng dan Wiki terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment