Chapter 53
Wiki berkata sambil menyeringai, "Oh, maaf. Jika begitu, silakan kedua saudara cilik duduk juga untuk minum bersama." Anak yang bersikap prihatin itu berucap, "Susiok hadir di sini, kami tidak berani ikut duduk." Kacung yang lain menambahkan dengan tertawa, "Asalkan lain kali bila kami berkunjung lagi ke sini, jangan Wi-cengcu menyuruh kami berdiri di sini." Muka Wiki berubah merah. Terdengar kacung tadi berseru pula dengan tertawa, "Wah, tak disangka nama Toh-suheng sedemikian tersohor di dunia kang-ouw. Bila tahu, tentu Toasupek akan sangat senang."
Cian Tong-lai menyapu pandang sekejap, lalu menyambung dengan ketus, "Kedatanganku ini adalah karena nama Wi-cengcu yang termasyhur bermurah hati dan gemar mengumpulkan orang pandai dan bijaksana..." Dengan sorot mata tajam ia memandang Wiki sekejap; seketika air muka Wiki bertambah merah.
Maka Cian Tong-lai menyambung lagi, "Selain itu, ingin juga kucari kabar tentang Toa-sutitku itu." Berubah juga air muka Ciok Tim sambil memandang Giok-he sekejap.
Perlahan Cian Tong-lai berkata lagi, "Sejak meninggalkan Kun-lun-san, hanya beberapa tahun pertama saja masih ada kabar beritanya, tapi akhir-akhir ini tidak terdengar lagi sesuatu kabarnya..." Sampai di sini sinar matanya berkelebat ke arah Ciok Tim, lalu menyambung dengan nada bertanya, "Jangan-jangan sahabat she Ciok ini mengetahui jejak Toa-sutitku itu?" Tergetar hati Ciok Tim sehingga arak tercecer dari cawan yang dipegangnya.
Lekas Giok-he menyela, "Nama Boh-in-jiu memang sudah lama kami dengar, cuma sayang tidak pernah bertemu. Bagaimana mungkin kami tahu jejaknya?"
"Apa betul begitu?" jengek Cian Tong-lai.
Senyum Giok-he tampak menggiurkan. Katanya, "Ucapan murid Sin-liong-bun kukira tidak perlu disangsikan." Mendadak sebelah tangannya menekan, cawan arak amblas ke dalam meja. Ketika tangannya terangkat, cawan arak ikut melambung. Gerakannya cepat dan gesit; apa yang terjadi itu hanya sekejap saja.
Air muka Cian Tong-lai sedikit berubah. Ia memandang wajah Giok-he yang cantik itu, lalu mendadak ia bergelak tertawa, "Seumpama Hujin bukan anak murid Sin-liong-bun, aku pun percaya penuh kepada keteranganmu." Mendadak Ciok Tim mendengus.
Yim Hong-peng tertawa, "Arak dan hidangan sudah dingin, ayolah jangan mengecewakan maksud baik tuan rumah..." Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar deru angin keras dari udara. Suasana menjadi gelap, berbarengan dengan itu terdengar pula suara burung. Beberapa ekor elang terbang lewat di depan pendopo, lalu terbang mengitar di halaman. Seluruhnya ada tujuh ekor burung elang.
Berubah air muka Wiki, serentak ia bangkit berdiri.
Si kacung yang lincah lantas berseru dengan tertawa, "Hihi, tak terduga di sini juga ada elang sebesar ini, sungguh menarik." Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong ia melompat miring ke atas, kedua tangannya terpentang, terus menubruk ke tengah kawanan elang yang terbang mengitar itu.
Kacung itu bergerak dengan santai, tapi meluncur secepat kilat. Bajunya yang perlente itu berkelebat; tahu-tahu sebelah tangannya sudah berhasil menangkap sayap salah seekor elang.
"Bagus!" seru Giok-he sambil bertepuk tangan tertawa.
Elang itu bersuara kaget, keenam ekor elang yang lain serentak terbang balik dan hendak mematuk si kacung.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara jepretan busur dan bentakan orang, "Pukul!" Berbarengan dengan itu, selarik sinar hitam menyambar.
Semua itu hanya terjadi dalam sekejap. Belum lagi tubuh si kacung turun ke bawah, cahaya hitam itu sudah menyambar, paruh keenam ekor elang yang tajam itu pun hampir mengenai tubuhnya.
Baru saja Giok-he berseru "bagus", seketika ia menjerit pula, "Celaka!" Yim Hong-peng, Wiki, dan Cian Tong-lai juga berseru khawatir. Si kacung mengendurkan cengkeramannya, kedua kaki ditekuk, ia berjumpalitan sekali di udara, lalu turun ke bawah dengan enteng. Walaupun begitu, ujung bajunya telah tertembus oleh cahaya hitam tadi.
Kacung yang lain tidak tinggal diam, ia membentak, "Lihat serangan!" Sekaligus tujuh titik perak terpancar ke depan menyerang ketujuh ekor elang.
Keenam ekor elang berbunyi kaget dan terbang ke udara. Seekor sempat tersambit oleh senjata rahasia si kacung dan jatuh ke tanah bersama si kacung pertama tadi.
Cahaya hitam tadi masih menyambar ke depan dengan kencang dan "crat", menancap di dinding; nyata tenaga pemanah itu sangat kuat.
Dengan muka kelam Cian Tong-lai bangkit dan berkata, "Wi-cengcu, apakah cara demikian Boh-liong-ceng meladeni tamunya?" Belum lenyap suaranya, terdengar pula orang berteriak lantang di luar, "Tujuh elang menjulang ke udara, gemilang usaha kami malang melintang."
Air muka Wiki berubah seketika, gumamnya, "Jit-eng-tong (Tujuh Elang)!" Pada saat itulah seorang lelaki berbaju hitam muncul dengan membawa sehelai kartu merah besar dan dihaturkan kepada Wiki.
Waktu Wiki membuka dan membacanya, ternyata kartu merah itu tidak memuat tulisan apa pun, melainkan hanya terlukis tujuh ekor burung elang dengan warna dan gaya yang berbeda, tampak seperti elang hidup.
"Tamu agung, silakan masuk!" segera Wiki berseru sambil memburu keluar.
Kening Yim Hong-peng berkerenyit sambil bergumam, "Jit-eng-tong... Jit-eng-tong!" Lalu ia pun melangkah keluar.
Cian Tong-lai memandang bayangan punggung kedua orang itu, sinar matanya menampilkan nafsu membunuh. Ia bertanya kepada si kacung yang jatuh tadi, "Giok-ji, apakah kau terluka?" Giok-ji menggeleng pelan, namun mukanya pucat. Sikapnya yang lincah dan periang tadi kini tak tampak lagi.
"Boleh juga anak ini, tampaknya dia cuma terkejut oleh sambaran anak panah dan tidak menjadi halangan," ujar Giok-he.
"Hm, anak murid Kun-lun mana boleh..." Belum lanjut jengekan Cian Tong-lai, sekonyong-konyong berkumandang suara orang ramai dari halaman.
Tiba-tiba elang yang terluka tadi merentangkan sayap hendak terbang, tapi sekali tangan Cian Tong-lai menuding "crit", elang yang baru melayang setinggi manusia itu jatuh lagi ke lantai.
"Khikang yang hebat!" seru Giok-he memuji sambil melirik Ciok Tim. Tampak air muka Ciok Tim berubah. Sungguh tak disangka anak muda yang congkak itu memiliki kungfu selihai ini; agaknya lebih hebat daripada ketua Kun-lun-pai sendiri.
Pada saat itulah dari balik gunung-gunungan di halaman bergema bentakan seseorang. Menyusul sesosok bayangan tinggi besar melayang tiba. Ia berjongkok dan menjemput bangkai elang tadi. Di bawah sinar matahari kelihatan rambutnya yang putih dan sorot matanya yang muram. Orang tua yang tinggi besar dengan baju perlente ini kelihatan sedih sehingga tangan yang memegang bangkai elang tampak gemetar.
Ia berdiri termangu sejenak, lalu bergumam seperti mau menangis, "Oh, Siau-ang... kau... kau mati!" Dari balik gunung-gunungan lantas muncul pula enam kakek berjenggot dan berambut ubanan, semua dengan baju perlente, namun dari gerak-geriknya tidak terlihat tua.
Muka keenam kakek ini tidak sama, dandanan mereka serupa, hanya pinggang masing-masing terikat tali sutra berlainan warna.
Seorang di antaranya berwajah putih, bermata tajam, dan selalu tersenyum, dengan tali pinggang berwarna putih, muncul diapit oleh Wiki dan Yim Hong-peng.
Ketika melihat si kakek bertali pinggang merah sedang berduka memegangi bangkai elang, segera kakek muka putih bertanya, "Ada apa, Jit-te? Apakah Siau-ang terluka?"
"Mati... bahkan sudah mati..." gumam si kakek bertali merah. Mendadak ia berteriak murka, "Siapa yang membunuhnya? Siapa?" Suaranya keras mendengung memekakkan telinga.
Tanpa terasa si kacung yang bernama Giok-ji tergetar mundur setindak.
Mendadak si kakek bertali merah berpaling, sorot matanya terpancar tajam. Sambil memegang bangkai elang, ia terus menubruk maju, sebelah tangannya segera meraih pundak si kacung.
Giok-ji seperti tertegun oleh keberingasan orang, ingin mengelak tapi tidak sempat. Pundaknya terasa kencang dicengkeram tangan si kakek.
"Siau-ang terbunuh olehmu, bukan?" bentak si kakek.
Kacung itu terkesiap, tapi tangan kanannya mendadak bekerja, hiat-to bagian iga si kakek hendak ditutuknya.
Terkejut juga si kakek oleh serangan ini. Sedikit menggeliat, ia dapat menghindar. Tak disangka kaki kiri si kacung juga melayang ke depan, mengarah ke selangkangan si kakek. Dalam keadaan demikian, bila si kakek tidak melepas cengkeramannya, seketika ia bisa celaka. Terpaksa si kakek menyelamatkan diri dengan melompat mundur.
Tak terduga, pundaknya segera terasa kesemutan. Tahu-tahu pundaknya dicengkeram orang. Suara ketus bergema di samping telinganya, "Akulah yang membunuh binatang piaraanmu itu."
Kejadian ini berlangsung dengan cepat dan membuat semua orang melongo.
Dengan khawatir, Wiki berseru, "He, Cian siau-hiap... Ang-jitya, ada urusan apa marilah bicara secara baik-baik!" Serentak keenam kakek berbaju perlente itu berpencar dan mengepung Cian Tong-lai beserta kedua kacungnya di tengah.
Namun, Cian Tong-lai menghadapi mereka dengan santai saja. Ia tetap mencengkeram pundak si kakek bertali merah. Dengan tak acuh ia memandang keenam kakek itu satu per satu; sama sekali tidak gentar terhadap ketujuh kakek yang terkenal sebagai "Thian-eng" (tujuh elang menembus langit), tujuh piaokiok (perusahaan pengawalan) yang termasyhur sejak 30 tahun lampau.
Si kakek bertali merah tidak dapat berkutik, hanya mata mendelik dan jenggot seakan-akan menegak, bahkan tidak berani bersuara. Sebab, dirasakan ada arus tenaga kuat tersalur dari Koh-cing-hiat di bagian pundak menembus ke dalam tubuh. Bilamana tubuhnya sedikit meronta, bukan mustahil tenaga yang tak terlihat itu akan bekerja keras dan menggetar putus urat nadi jantungnya.
Keenam kakek berbaju perlente dari Thian-eng itu sangat gusar, tapi tidak berani sembarang bertindak mengingat kawan sendiri berada dalam cengkeraman musuh.