Chapter 54
Giok-he mengerling sekejap; dilihatnya wajah Wiki menampilkan rasa cemas dan khawatir, sedangkan Yim Hong-peng tetap tenang saja.
Kedua kacung tadi sedang mengawasi keenam kakek dengan waswas. Keenam ekor elang kembali terbang mengitari udara tepat di atas kepala Cian Tong-lai, seakan-akan mengetahui bahaya yang sedang mengancam si kakek bertali merah. Sekonyong-konyong, keenam ekor elang itu berbunyi dan menubruk ke bawah, sekaligus mematuk kepala Cian Tong-lai. Berbarengan dengan itu, keenam kakek juga membentak dan serentak menerjang maju.
Alis Cian Tong-lai menegak mendadak. Sebelah tangannya menampar ke atas; kontan keenam ekor elang terdampar oleh angin pukulan dahsyat sehingga tertahan dan tidak mampu menembus pertahanannya. Kesempatan itu segera digunakan si kakek bertali merah untuk mendak ke bawah dan hendak meloloskan diri ke samping.
"Hm, ingin lari!" jengek Cian Tong-lai.
Saat itu juga, seorang kakek bertali pinggang warna putih melompat tiba lebih dulu; ia segera menarik kakek bertali pinggang merah tanpa sempat menyerang Cian Tong-lai. Kedua kacung tadi tidak tinggal diam, mereka menyongsong si kakek bertali ungu dan kuning. Walaupun kedua kacung ini masih muda belia, mereka tidak gentar menghadapi lawan tangguh. Si kakek bertali ungu dan kuning saling pandang sekejap, lengan baju mereka mengebas, dan keduanya sama-sama menyurut mundur. Bagaimanapun, tokoh Jit-eng-tong yang termasyhur tidak sudi bertarung dengan dua anak ingusan.
Karena daya tubrukan kawanan elang tadi tertahan oleh angin pukulan Cian Tong-lai, setelah merandek, mereka segera menubruk lagi ke bawah. Saat itu juga Cian Tong-lai sudah terkepung oleh ketiga kakek yang bertali pinggang berwarna hijau, hitam, dan biru. Sekali bergerak, ia kembali mendesak mundur ketiga kakek itu, lalu mengejek, "Huh, main kerubut, dibantu pula kawanan hewan. Kiranya beginilah jago silat daerah Tionggoan." Muka si kakek bertali hitam tampak dingin.
Mendadak si kakek bertali biru bersuit pelahan sambil menggeser ke samping kawannya; kawanan elang yang sedang menubruk ke bawah mendadak terbang lagi ke atas. Si kakek bertali hijau berseru, "Lakte, mundur dulu, biar kubelajar mengenal orang angkuh ini!" Ia segera melancarkan beberapa pukulan dahsyat. Meski perawakannya paling kecil, kekuatannya sangat mengejutkan.
Si kakek bertali putih sempat menarik kakek bertali merah ke pinggir kalangan, kebetulan di samping Giok-he berdiri. Dengan simpatik, Giok-he bertanya, "Tampaknya tidak ringan luka Locianpwe ini. Kubawa obat luka dalam jika sekiranya perlu dipakai."
Si kakek bertali putih tersenyum, katanya, "Terima kasih, cuma saudaraku ini hanya tertutuk Hiat-to kelumpuhannya saja, sebentar lagi dapat bergerak lagi dengan bebas." Dalam pada itu, si kakek bertali hijau sudah bertarung beberapa jurus dengan Cian Tong-lai. Keduanya sama-sama bergerak dengan cepat, namun tenaga pukulan si kakek bertali hijau ternyata tidak tahan lama; ia sudah mulai lelah.
Si kakek bertali kuning bergeser ke sisi Giok-he dan bertanya dengan suara tertahan, "Apakah anak muda ini sekomplotan denganmu?"
"Jika kami sekomplotan, tentu dia takkan berbuat sekasar itu kepada para Locianpwe," jawab Giok-he dengan menyesal.
Sementara itu, si kakek bertali putih sedang menguruti tubuh si kakek bertali merah. Tanpa menoleh, ia menukas, "Pemuda itu adalah murid Kun-lun-san, ilmu silatnya tidak rendah, hendaknya Lak-te disuruh jangan gegabah." Si kakek bertali kuning termenung sejenak, lalu ia mendekati Wiki. Saat itu Wiki juga merasa serba susah dan tidak tahu bagaimana harus melerai.
Tiba-tiba si kakek bertali kuning menghampiri Wiki dan mendengus, "Hm, tak terduga orang Cong-lam-pai bisa ada hubungan dengan murid Kun-lun-pai." Selagi Wiki melengak dan belum sempat menjawab, si kakek bertali kuning berkata pula, "Sebenarnya kedatangan kami tidak berniat jahat, melainkan ingin mencari murid seorang sahabat lama dan meminta Wi cengcu sudi membantu. Siapa tahu cara demikianlah sambutan di sini..." Si kakek bertali kuning ini sudah tua, tapi wataknya tetap sangat keras; habis bicara, ia segera melancarkan pukulan.
Di sebelah sana, si kakek bertali ungu bernama Tong-jit-thian dan si biru bernama Na Lok-thian sekaligus menerjang ke arah Cian Tong-lai. Kakek bertali hijau yang sedang bertempur dengan Cian Tong-lai itu bernama Leng Cin-thian. Dahulu ia dikenal dengan Taikong-jiu, pukulan bertenaga raksasa, tapi sekarang ia ternyata bukan tandingan pemuda bermarga Cian yang sombong ini. Diam-diam Giok-he dan Ciok Tim terkesiap menyaksikan ketangkasan Cian Tong-lai. Begitu pula Yim Hong-peng; ia juga menampilkan rasa kagum seperti saat pertama kalinya melihat Lamkiong Peng dahulu.
Kedua kacung segera bergerak hendak mengadang Tong-jit-thian dan Na Lok-thian, tapi mendadak bayangan hitam berkelebat. Seorang kakek kurus tinggi dengan muka kaku dingin berdiri di depan mereka; sorot matanya yang tajam menimbulkan rasa ngeri. Pelahan, si kakek bertali hitam mengangkat tangannya. Kedua kacung itu terkesiap dan tanpa terasa menyurut mundur setindak; sorot mata mereka sama-sama menatap tangan si kakek kurus kering dan hitam ini. Tak terduga, tangan si kakek hanya terangkat saja dan tidak bergerak lagi. Wajahnya juga tetap kaku tanpa memperlihatkan perasaan apa pun, hanya sorot matanya yang menerawang tajam tetap menatap kedua kacung itu.
Sorot matanya seperti membawa semacam daya gaib yang sukar dilukiskan. Sekalipun Yim Hong-peng juga terkesiap demi beradu pandang dengan sorot mata aneh itu. Diam-diam ia heran, "Aneh, apakah sorot matanya itu pun mengandung semacam kungfu mukjizat?" Tiba-tiba teringat olehnya ada semacam kungfu istimewa yang sudah lama menjadi dongeng di dunia kang-ouw. Tanpa terasa ia memandang ke sana; dilihatnya muka kedua kacung itu pucat pasi, keempat biji matanya yang besar terbelalak lebar, tapi kaku tak bergerak, hanya menatap telapak tangan si kakek yang hitam itu.
Setiap kali si kakek melangkah maju setindak, seperti kena sihir, setiap kali pula kedua kacung itu pun menyurut mundur setindak. Berulang si kakek mendesak maju tiga tindak dan si kacung pun mundur tiga tindak. Dengan suara aneh, si kakek berkata pelahan, "Berdiri saja di sini dan jangan bergerak." Benar juga, kedua kacung itu lantas berdiri termenung tanpa bergerak, hanya mata melotot dan muka bertambah pucat.
"Hari sudah hampir gelap, tidurlah!" ucap pula si kakek. Serentak kedua kacung itu berbaring di tanah dan memejamkan mata, seperti tidur benar-benar. Lalu, si kakek bertali hitam membalik tubuh, sorot matanya mendadak tertuju ke muka Yim Hong-peng. Yim Hong-peng cukup cerdik, cepat ia menunduk dan berucap, "Lihai benar kungfu Locianpwe."
"Ah, kedua anak kecil ini memang penurut, terhitung kungfu apa?" ujar si kakek ketus. Kedua matanya terpejam-melek dan tidak kelihatan hendak bertindak sesuatu. Diam-diam Yim Hong-peng membatin, "Sudah lama tersiar di dunia kang-ouw tentang kawanan elang ini; katanya elang hitam dingin, elang hijau sombong, elang biru bicara lembut, elang merah pemarah, elang kuning dan ungu latah dan nyentrik, bila melihat elang putih kawanan elang sama tertawa. Tampaknya elang hitam ini memang betul dingin luar biasa sesuai namanya, Leng Ya-thian (Malam Sedingin)."
Dalam pada itu, tiba-tiba terlihat asap putih tipis merembes keluar dari permukaan bumi dan melingkar di sekitar kaki semua orang, lambat laun asap putih ini buyar ke berbagai penjuru. Seketika terbeliak matanya, tersembul semacam senyuman aneh pada ujung mulutnya. Waktu ia memandang ke sana, pertarungan di halaman telah bertambah sengit. Kelihatan elang kuning Wi Leng-thian bergerak kian kemari dengan ilmu pukulan yang kuat sehingga si gelang terbang Wiki tampak kewalahan.
Meski ilmu silat Wiki tergolong jago kelas satu dunia kang-ouw, sekarang dia harus memikirkan akibat lebih lanjut dari pertarungan ini. Sebab itulah dia tidak berani menyerang sepenuh tenaga sehingga dia lebih banyak bertahan daripada menyerang. Dalam sekejap saja, belasan jurus sudah berlangsung pula; dia mulai kepayahan. Ia membentak, "Sesungguhnya ada urusan apa Boh-liong-ceng dan Jit-eng-tong kalian? Kenapa kalian mendesak orang secara keterlaluan?"
Elang kuning mendengus, "Hm, Jit-te kami terluka di tempatmu, Lamkiong Peng diuber-uber kalian. Apakah semua ini bukan permusuhan?"
Air muka Wiki berubah; cepat ia berputar menghindarkan sekali pukulan, lalu ia balas menghantam untuk mendesak mundur lawan sambil membentak, "Kau bilang Lamkiong Peng... Jadi, kedatangan kawanan elang ke wilayah ini adalah karena Lamkiong Peng?"
"Betul," jengek elang kuning sambil mengelak. Mendadak sebelah kakinya menendang ke perut lawan. Namun telapak tangan Wiki lantas memotong ke bawah untuk menabas pergelangan kaki musuh. Meski dia enggan bermusuhan dengan kawanan elang dari Jit-eng-tong, rasa gemasnya timbul setelah berulang kali didesak; gerak serangannya sekarang pun tidak kenal ampun lagi.
Namun, elang kuning segera berputar lagi ke samping, telapak tangan lantas menabas iganya. Serangan ini sangat cepat dan tampaknya sukar dihindari. Wiki menjadi nekat, berbarengan ia pun menghantam perut elang kuning dengan pukulan dahsyat dan sama cepatnya; tampaknya kedua orang akan sama-sama roboh. Melihat itu elang hitam Leng Ya-thian terkesiap, cepat ia memburu maju, tapi Yim Hong-peng sudah mendahuluinya melompat maju. Kedua tangannya bekerja sekaligus sehingga kedua orang tertolak mundur. Berbarengan dengan itu, elang kuning Wi Leng-thian dan si gelang terbang Wiki tergetar mundur beberapa langkah. Cara melerai Yim Hong-peng ternyata tidak pilih kasih. Elang hitam Leng Ya-thian melengong dan tidak jadi turun tangan. Mestinya ia siap menghantam punggung Yim Hong-peng karena disangkanya cara orang memisah pasti tidak adil, tapi ia ternyata salah duga. Beruntung ia sempat mengurungkan serangannya.