Chapter 55
Yim Hong-peng melirik kepadanya dan berkata, "Cayhe juga cuma menjadi tamu Boh-liong-ceng saja." Leng Ya-thian melengak. Meski air mukanya tetap kaku dan dingin, sikapnya sudah berubah.
Sementara itu, pertarungan antara elang kuning dan Wiki masih berlangsung sengit. Keenam ekor elang yang mengitari udara tadi kini sudah hinggap di pendopo dengan sayap terbentang, tampak gagah sekali.
Giok He berdiri dekat serambi dan melirik ke arah elang putih, Pek Kui-thian, yang sedang asyik mengurut elang merah. Ia berkata dengan nada menyesal, "Ai, Banhiang Yim Tai-hiap ini memang tokoh cerdik. Dia selalu nongkrong di atas pagar dan mengikuti arah angin; selamanya tidak mau rugi." Meski suaranya lirih, Pek Kui-thian dapat mendengarnya dengan jelas.
Tiba-tiba Ciok Tim ikut bicara, "Tak disangka orang bermarga Cian ini memiliki ilmu silat setinggi ini, padahal usianya baru dua puluhan. Tak terduga di dunia persilatan memang ada jalan cepat untuk mencapai tingkatan sempurna." Giok He tersenyum, lalu melirik ke arah Cian Tong-lai. Ia melihat pemuda yang datang dari puncak tertinggi Kun-lun-san itu sedang berputar di sekitar elang biru Na Lok-thian, elang ungu Tong Jit-thian, dan elang hitam Leng Cin-thian. Sampai sekarang, ia belum tampak akan kalah meski harus melawan tiga orang sekaligus. Padahal, nama Jit-eng-tong menggetarkan dunia persilatan dan disegani oleh golongan putih maupun hitam. Kawanan elang tersebut tentu memiliki kungfu andalan yang berbeda dari yang lain.
Meski tujuh tahun lalu kawanan elang itu telah "cuci tangan" dan mengasingkan diri, serta seluruh cabang perusahaan pengawalan yang tersebar di berbagai provinsi ditarik kembali ke kantor pusat Jit-eng-tong di Kanglenghu, ketujuh bersaudara ini mendadak muncul kembali. Kepandaian mereka ternyata belum luntur dimakan usia, bahkan watak berangasan sebagian dari mereka tidak berubah.
Cian Tong-lai tetap tidak terlihat bakal kalah. Bayangan pukulannya menyambar ke sana kemari; sekilas pandang, ia seolah-olah memiliki puluhan tangan. Tampaknya ia menghantam elang biru, namun tiba-tiba pukulannya berbalik menuju elang hijau. Ketika elang biru merasa longgar, angin pukulan yang dahsyat menyambar ke arahnya lagi.
Meskipun ilmu pukulan sakti Kun-lun-pai termasyhur di dunia persilatan, jurus yang digunakan Cian Tong-lai saat ini jelas bukan berasal dari perguruan tersebut. Meski tokoh-tokoh dunia persilatan hadir di sana, tidak satu pun yang mengenal asal-usul ilmu pukulannya.
Tiba-tiba Giok He bersuara terkejut dengan alis berkerut. Saat elang putih Pek Kui-thian melihat air muka wanita itu, timbul rasa curiganya. Sementara itu, di antara pepohonan, kabut putih remang-remang mulai muncul sehingga cahaya matahari tampak buram.
Gerakan elang kuning Wi Leng-thian dan Wiki mulai mengendur karena tenaga dalam mereka terasa kewalahan. Di tengah kabut tebal, wajah Leng Ya-thian tampak kelam dan dingin. Kedua kacung masih tergeletak diam di tanah, hanya Yim Hong-peng yang terlihat tenang, seolah sudah memiliki pendirian terhadap segala kejadian ini.
Sebagai kepala Thianeng, Pek Kui-thian membawa elang merah, Ang-hau-thian, ke dekat Kwe Giok-he untuk dijaga sementara. Lalu, ia menuju ke tengah kalangan untuk mengamati gerak langkah Cian Tong-lai yang aneh. Ia melihat elang biru, elang ungu, dan elang hijau terdesak kacau hingga tidak sanggup membalas serangan. Hanya karena pengalaman dan tenaga dalam yang kuat, mereka masih mampu bertahan.
Dengan kening berkerut, Pek Kui-thian berkata kepada elang hitam, "Lakte, apakah kau bisa melihat ciri gerak langkah pemuda ini?"
"Langkah anak muda ini memang sangat ajaib, tapi sukar kupecahkan di mana letak kehebatannya," jawab elang hitam Leng Ya-thian.
Mendadak Pek Kui-thian berseru, "Berhenti, Lo-ngo!" Elang kuning terkejut, ia menghantam sekali, lalu melompat mundur ke samping Pek Kui-thian dengan napas terengah-engah. Wiki juga tampak tersengal-sengal.
"Wi-heng," kata Yim Hong-peng, "tampaknya tidak sedikit kerepotan yang akan kauhadapi nanti."
"Ai, ada apa dengan semua ini? Sungguh aku tidak mengerti," Wiki menghela napas.
Yim Hong-peng mendengus, "Kawanan elang ini datang ke daerah barat karena tujuan mereka ialah Lamkiong Peng. Apabila Lamkiong Peng menghilang, betapapun Wi-heng sukar memberi penjelasan, mungkin Boh-liong-ceng yang harus menanggung akibatnya." Air muka Wiki berubah, ia termenung memandang kabut yang mengambang di udara.
Dalam pada itu, si elang putih Pek Kui-thian berkata lagi, "Tampaknya Lo-ji berdua tidak sanggup bertahan lagi. Agaknya aku perlu turun tangan sendiri." Ia melangkah maju, kedua tangannya bergerak, serentak menghantam dengan dahsyat. Elang putih kelihatan lemah lembut, tapi sekali bergerak ternyata sangat tangkas.
Elang kuning dan elang hitam pun ikut menerjang musuh. Mendadak Pek Kui-thian memberi tanda sambil membentak, "Pencarkan diri!" Kelima elang lain segera menyingkir, lalu dengan cepat menubruk maju ke arah Cian Tong-lai secara serentak. Dalam kerubutan lima orang, Cian Tong-lai mulai kelihatan kewalahan.
Yim Hong-peng berolok-olok dengan sinis, "Thianeng memang hebat. Tampaknya beberapa gebrakan lagi murid Kun-lun-pai ini akan..."
Mendadak Wiki menghela napas seraya menunduk, "Sekalipun aku masuk keanggotaan perkumpulan kalian, itu juga tiada gunanya. Mengapa kau mendesak orang sedemikian rupa?"
"Siapa yang mendesakmu?" ucap Yim Hong-peng dengan raut muka kesal.
"Apa pun yang terjadi, jiwa dan harta bendaku jelas sukar diselamatkan lagi. Ai, aku..."
Selagi Wiki berkeluh kesah, Giok He sedang berbicara dengan Ciok Tim. "Adik Tim, coba lihat wajah Wiki yang muram durja itu dan sikap Yim Hong-peng yang senang itu. Dapatkah kau terka apa yang terjadi di antara mereka?"
"Apa pun yang terjadi di Boh-liong-ceng ini, siapa pun yang menang, bagi Wiki tetap sukar terlepas dari tanggung jawab," ujar Ciok Tim.
"Lantas apa lagi?" tanya Giok He.
"Ada apa lagi?" sahut Ciok Tim bingung.
"Keruwetan hari ini ternyata tidak dapat kau lihat," kata Giok He. "Tadi waktu kita masuk Boh-liong-ceng, sikap Wiki terhadap Yim Hong-peng kelihatan kikuk; tingkah laku Yim Hong-peng juga tidak mirip seorang tamu. Kedatangan orang ini ke daerah pedalaman pasti membawa intrik tersembunyi. Dia memaksa Wiki masuk ke dalam komplotan mereka, padahal usia Wiki sudah lanjut, berkeluarga pula, dan semangatnya sudah luntur. Jelas ia tidak suka kehendak Yim Hong-peng itu, tapi ia juga takut untuk menolaknya."
Ia tersenyum lalu menyambung, "Cian Tong-lai ini menguasai kepandaian tinggi. Dia baru berkecimpung di dunia persilatan; kecuali ingin mencari Boh-in-jiu, dengan sendirinya ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk mencari nama. Sebab itulah dia sengaja berlagak congkak dan mencari perkara dengan Thianeng. Dia memandang rendah kaum piasu, apalagi kawanan elang yang sudah tua itu. Siapa tahu apa yang terjadi justru jauh di luar dugaannya; bukan saja gagal menonjolkan diri, ia malah membuat susah Wiki sebagai tuan rumah. Sebaliknya, Yim Hong-peng yang menarik keuntungan dari kanan-kiri tentu sangat senang."
Baru saja ucapannya selesai, sekonyong-konyong terdengar suara orang tertawa pelan di belakangnya, "Cara Nyonya memandang orang dan menilai persoalan ternyata sangat jitu, sungguh mengagumkan." Suara itu terdengar jelas, seperti muncul tepat di tepi telinganya.
Giok He terkejut dan cepat menoleh. Dilihatnya asap masih memenuhi ruangan, si elang merah Ang-hau-thian masih duduk di tempatnya, dan selain itu tidak ada bayangan orang lain. Giok He terkesiap dan bertanya, "Siapa?"
Ciok Tim berpaling dengan bingung, "Ada apa?"
"Suara tadi, masa tidak kau dengar?" ujar Giok He.
"Suara apa?" Ciok Tim makin bingung.
Berdebar hati Giok He, ia menggeleng dan bergumam, "Jangan-jangan ilmu Toan-bit yang digunakan orang tidak kelihatan itu?" Ia melirik ke sekeliling, heran siapakah di antara mereka yang menguasai ilmu gaib tersebut.
Tiba-tiba suara tadi mendengung lagi, "Sejak kumasuk ke pedalaman, apa yang kudengar dan kulihat, ternyata cuma Nyonya saja yang terhitung ksatria sejati. Bilamana Nyonya mau bekerja sama denganku, tentu segala urusan besar dapat disukseskan. Jika Nyonya setuju, harap mengangguk pelan tiga kali."
Saat itu Ciok Tim sedang memandang Giok He yang menunduk dengan mata terpejam, seperti sedang mendengarkan sesuatu. Lalu, Giok He mengangguk-angguk dan tersenyum, kemudian membuka mata dengan pancaran cahaya cemerlang.
Saking herannya, Ciok Tim bertanya, "Ada apa, Toaso?"
"Oo, tidak ada apa-apa," sahut Giok He sambil tersenyum menunjuk ke depan.
Ketika Ciok Tim melihat ke sana, ia mendapati gerak langkah Cian Tong-lai semakin lemah dan loyo, serupa orang kurang tidur atau kelelahan. Kabut semakin tebal. Tiba-tiba Ciok Tim merasakan kabut putih itu sangat aneh; lambat laun sukar membedakan keadaan ruangan, dan wajah orang-orang yang hadir mulai samar. Segera timbul rasa letih dan mengantuk, napasnya pun terasa sesak, kelopak matanya terasa berat, bayangan orang-orang mulai kabur, dan akhirnya ia kehilangan kesadaran.