Halo!

Han Bu Kong - Chapter 56

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 56

Begitu cepat datangnya rasa letih dan kantuk. Sekuat tenaga ia mencoba memandang Giok-he yang berdiri di sampingnya, tetapi sosok itu mendadak terasa berjarak sangat jauh. Ia berteriak, "Toaso... toaso..." Sekonyong-konyong, ia merasakan napasnya sendiri pun terasa jauh. Ia membusungkan dada dan bermaksud lari keluar, tapi kabut putih itu serasa menindihnya dengan berat sehingga sukar melangkah. Baru saja satu-dua tindak, ia segera jatuh tertunduk.

Samar-samar, dirasakan bayangan orang dan pepohonan di taman tertelan seluruhnya oleh kabut tebal; semua orang tidak terlihat lagi.

Tiba-tiba, didengarnya suara orang melangkah keluar dari ruang pendopo itu. Ia mencoba menoleh, tahu-tahu suara langkah itu sudah sampai di sampingnya. Hanya dapat dilihatnya sepasang sepatu yang mengkilat bergeser perlahan di tengah kabut.

Lalu, terdengar suara tertawa mengejek bergema di tepi telinganya, "Huh, *thianeng* apa segala, setiba di sini juga patah sayapnya. Hm, anak murid Kun-lun apa, kedatangannya juga rontok sama sekali..." Habis itu lantas bergema suara tertawa senang; rasanya seperti suara Yim Hong-peng.

Lalu, segalanya kembali menjadi sunyi.

Di tengah kesunyian itulah Ciok Tim terpulas dan ditelan kegelapan.

Kegelapan yang tak berujung, kesunyian yang tak berpangkal.

Perlahan Lamkiong Peng siuman kembali. Waktu ia membuka mata, tidak terdengar suatu suara, juga tidak terlihat apa-apa. Ia menghela napas dan membatin, "Apakah aku sudah mati?" Mati ternyata tidak menakutkan sebagaimana dibayangkan, namun jauh lebih kesepian daripada perkiraannya.

Ia mencoba mengucek mata, tapi tidak terlihat telapak tangan sendiri; apa pun tidak terlihat.

Dalam sekejap itu, segala kejadian selama hidupnya seolah-olah terbayang kembali. Setelah dipikir dan ditimbang, ia merasa selama hidupnya biasa-biasa saja. Tidak pernah timbul pikiran membikin susah orang lain; baik terhadap ayah bunda, guru, maupun sahabat, selalu dihadapinya secara jujur dan tulus. Tidak pernah terpikir olehnya perbuatan yang licik dan munafik.

Ia tersenyum sendiri; ia pikir bilamana cerita tentang surga dan neraka benar ada, sesudah mati mungkin dirinya tidak perlu diputus masuk neraka.

Dalam kesepian, sekonyong-konyong didengarnya sayup-sayup suara musik berkumandang dari kegelapan sana. Lagunya begitu sedih mengharukan, serupa tangisan kawanan setan.

Di tengah suara musik yang sayup-sayup itu, mendadak bergema teriakan, "Lam... kiong... peng... Hahaha, kau sudah datang?" Lalu terdengar serentetan suara tertawa tajam mengerikan.

Lamkiong Peng mengusap dahinya yang berkeringat dan membentak, "Siapa kau? Manusia atau setan? Hm, biarpun setan, juga aku tidak takut! Tidak perlu kau main sembunyi!"

"Hahaha," suara tertawa yang seram itu berubah menjadi tertawa latah yang lantang. "Aku cuma menghendaki kau merasakan bagaimana orang mati, agar kau tahu mati bukan tindakan yang enak, supaya kau kenal berharganya kehidupan."

Dengan geram, Lamkiong Peng menghantam ke arah suara itu; diam-diam ia bersyukur tenaga sendiri belum lenyap. Siapa tahu, pukulannya yang keras itu seperti batu tenggelam dalam lautan, menghilang dalam kegelapan.

Suara tertawa latah itu bergema pula, "Haha, meski tempat ini bukan neraka, tapi jaraknya tidak jauh lagi. Meski kau tidak jadi mati, bila mau, sudah belasan kali dapat kumampuskan kau..."

"Kenapa tidak kau bunuh diriku? Apakah kau ingin memeras diriku, supaya kutunduk padamu?" sela Lamkiong Peng sambil tertawa.

"Ya, memang begitulah maksudku," kata suara itu dalam kegelapan.

"Haha, jika aku sudah pernah mati sekali, apa alangannya mati sekali lagi," seru Lamkiong Peng dengan terbahak. "Bila kau ingin kutunduk kepadamu, huh, jangan mimpi!" Lalu ia duduk bersila dan mengheningkan cipta; tiba-tiba pikiran terang dan lapang dada.

Dalam kegelapan, sang waktu dirasakan lalu dengan sangat lambat, tapi rasa lapar justru datang dengan sangat cepat. Lamkiong Peng duduk bersila; perut mulai lapar sekali dan sukar ditahan. Segera timbul pula macam-macam pikiran.

Ia berdiri dan mencoba meraba sekitarnya; baru sekarang diketahuinya dirinya berada di dalam sebuah gua yang seram serupa neraka dan tidak terdapat sesuatu benda apa pun. Walaupun kelaparan, kesepian, dan kegelapan yang mencekam, namun semua itu tak dapat menggoyahkan pendiriannya.

Entah berselang berapa lama lagi, tiba-tiba Lamkiong Peng mencium bau sedap daging dan arak. Ia menelan air liur, biji lehernya naik turun; rasa laparnya tambah sukar ditahan. Sejak kecil, baru sekarang untuk pertama kalinya ia rasakan betapa susahnya orang kelaparan.

Ia memejamkan mata dan menggerutu, "Sialan, aku hendak dipancingnya dengan makanan!" Bau sedap semakin keras; mau tak mau ia harus mengakui pancingan ini mempunyai daya tarik yang amat kuat.

Selagi ia berusaha memancarkan perhatiannya atas bau sedap makanan itu, tiba-tiba terdengar suara orang mendengus di atas, "Hm, Lamkiong-kongcu tentu tidak enak, bukan, kelaparan?"

Dengan gusar, Lamkiong Peng menjawab, "Tekadku sudah bulat, betapapun kau imingi diriku juga tiada gunanya, tidak perlu banyak omong."

"Sekarang juga sudah kukerek dua ekor ayam panggang lezat tepat di depanmu, boleh coba kau cicipi," kata suara itu.

Meski teguh pendirian Lamkiong Peng, tapi kebutuhan biologis membuatnya tidak tahan. Waktu ia mengendusnya, bau sedap itu tambah merangsang.

Dalam kegelapan, suara itu bergema pula, "Di antara kedua ekor ayam panggang ini, seekor di antaranya dilumuri dengan obat bius. Bilamana kau makan, akan hilang kesadaranmu yang asli dan seluruhnya engkau akan tunduk kepada perintahku. Sebaliknya, seekor ayam panggang yang lain tidak diberi racun apa pun. Bila kau berani, boleh silakan bertaruh dengan nasibmu!"

Tanpa terasa, Lamkiong Peng menjulurkan tangan. Betul juga, ujung jarinya lantas menyentuh sesuatu yang kenyal. Sungguh hatinya tergelitik. Akan tetapi, segera ia memejamkan mata dan menarik kembali tangannya sambil membentak, "Tidak, mana boleh untuk sekadar makan ini aku harus bertaruh dengan nasibku sendiri."

Terdengar suara terloroh dalam kegelapan. Sejenak kemudian mendadak ia menghela napas dan berucap, "Ai, tokoh semacam Anda sungguh sayang tidak suka bekerja sama denganku. Betapapun kuhormati Engkau sebagai seorang jantan sejati, aku tidak tega membunuhmu, juga tidak tega membiusmu dan menganiayamu, makanya kuberi hidup sampai sekarang. Tapi bila kubebaskan dirimu, jadinya tiada ubahnya seperti melepaskan harimau kembali ke gunung; pada suatu hari kelak, bisa jadi usaha yang telah kupupuk selama bertahun-tahun akan hancur di tanganmu."

Ia menghela napas, lalu menyambung, "Kutahan dirimu di sini sesungguhnya karena terpaksa. Hendaknya jangan kau sesalkan diriku bila kau mati, aku berjanji akan menguburmu dengan baik-baik."

Dalam kegelapan ada cahaya mengkilat berkelbat; terdengar suara "trang" jatuh di samping Lamkiong Peng. Lalu suara itu berucap lagi, "Sekarang kulemparkan sebilah belati itu untuk membunuh diri. Apabila pikiranmu berubah, cukup kau berteriak dan segera ku datang membebaskanmu."

"Supaya kau tahu, tinggi gua ini lebih dari enam tombak, dinding sekelilingnya terbuat dari baja, hanya bagian atas saja dapat keluar masuk. Boleh juga kau coba, jika kurang tenaga, silakan makan kedua ekor ayam panggang itu, tidak ada yang diberi racun, jangan kuatir, mungkin akan menambah tenagamu." Dia bicara dengan tulus, serupa sahabat yang memberi nasihat.

Pada saat itulah sayup-sayup terdengar suara orang yang berucap dengan lirih, suara halus merdu, "Eh, cara bicara serupa dua sahabat yang akan berpisah, kau tahu..." Sampai di sini tidak terdengar lagi apa yang diucapkannya.

Suara itu bagi Lamkiong Peng sudah sangat dikenal; hatinya tergetar, ia heran siapakah itu. Didengarnya suara tadi berkata pula, "Bila kita bertemu sepuluh tahun yang lalu, kuyakin kita pasti dapat terikat menjadi sahabat karib; sayang sekarang ajalmu sudah dekat... sebelum kau mati, jika ada sesuatu permintaanmu, tentu akan kulakukan bagimu."

Lamkiong Peng sedang memikirkan suara merdu tadi, tanpa pikir ia menjawab, "Siapakah suara orang perempuan tadi? Boleh kau perlihatkan dia kepadaku sekejap saja."

Suara itu terdiam; sejenak kemudian baru berkata pula, "Hanya ini permintaanmu?" Lamkiong Peng mengiakan.

"Masa tidak ada pesan akan kau tinggalkan bagi orang tua atau sahabatmu?" tanya suara itu. "Masa sama sekali tidak ada urusanmu yang perlu kuselesaikan bagimu? Tidakkah perlu kau lihat sesungguhnya siapa yang mengakibatkan kematianmu ini?"

Lamkiong Peng melenggong; tiba-tiba timbul rasa duka yang tak terkatakan. Kalau dipikir, sesungguhnya teramat banyak urusannya yang belum lagi selesai. Seketika ia merasa putus asa; ia menunduk dan tidak bicara lagi.

"Bagaimana dengan orang yang ingin kau lihat..."

"Tidak perlu kulihat lagi," kata Lamkiong Peng.

"Tapi sudah kusanggupi padamu, maka boleh coba kau pandang ke atas," kata suara itu.

Mata Lamkiong Peng lantas terbeliak; ia tahu tutup lubang gua itu telah dibuka. Namun, ia tetap duduk termenung. Meski diragukannya perempuan itu pasti seorang yang ada hubungan erat dengan dirinya, namun dia tidak ingin memandangnya lagi; ia tidak mau meninggalkan rasa penyesalan sesudah mati.

Keadaan sunyi sejenak; "brak", tutup lubang dirapatkan lagi.

Dalam kegelapan lantas bergema suara musik yang memilukan; suara yang misterius tadi lagi berdendang dan mengucapkan selamat tinggal. Suara musik itu memengaruhi juga rasa duka Lamkiong Peng; tanpa terasa air matanya meleleh.

Dalam dukanya, tiba-tiba timbul semacam keberanian untuk mencari hidup. Ia mencoba meraba belati yang dimaksudkan orang tadi; perlahan ia mendekati dinding, sekuatnya ia tusuk dengan belati itu. Seketika tangan tergetar kesakitan; dinding sekeliling memang benar terbuat dari baja. Ia menghela napas duka dan bersandar di ujung dinding; ia merasa segalanya sudah tamat, sama sekali tidak ada harapan lagi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment