Chapter 57
Namun, titik akhir kehidupan tetap terasa sangat panjang. Ia tidak ingin merusak tubuh pemberian orang tua, tetapi juga tidak tahan dengan derita batin selama menunggu ajal ini.
Entah berapa lama berselang, mendadak ia merasakan dinding tempatnya bersandar bergerak. Cahaya yang masuk membuat matanya silau, berbarengan dengan tubuhnya yang roboh terjengkang.
Ia terkejut dan cepat melompat bangun.
Saat memandang ke depan, dilihatnya seorang kakek telah berdiri di situ dengan wajah prihatin, tangan memegang obor.
Ketika si kakek mendorong lagi dengan sebelah tangan, pintu rahasia gua itu pun menutup kembali.
Lamkiong Peng tercengang; baru sekarang ia merasa terbebas dari bayangan maut.
Sungguh tidak kepalang rasa girangnya. Seketika ia berdiri melongo dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Orang tua yang membawa obor ini ternyata tidak lain daripada si "Gelang Terbang" Wiki, pemilik Boh-liong-ceng.
Kening si kakek tampak berkerut rapat, jelas menanggung tekanan batin.
Ia memberi tanda kepada Lamkiong Peng, lalu melangkah keluar mendahului.
Di bawah cahaya obor, terlihat lorong bawah tanah ini penuh sarang laba-laba. Setiap langkah selalu menimbulkan debu; jelas jalan ini sangat jarang dilalui orang.
Namun, lorong itu berliku-liku dengan bangunan yang ajaib dan mengagumkan.
Memandangi bayangan orang yang tinggi besar itu, hati Lamkiong Peng penuh rasa terima kasih.
Selama hidupnya, belum pernah ia merasakan hal semacam ini. Maklum, ia baru saja menghadapi "kematian" yang membuatnya menderita dan putus asa.
Ia berdehem, tenggorokan serasa tersumbat. Ia mencoba bertanya, "Locianpwe......."
"Ssst, diam!" desis Wiki tanpa menoleh.
Setelah membelok satu tikungan, mendadak Wiki menekan ujung dinding. Terdengar suara "kriaat", dinding di situ pun menyurut mundur dua sampai tiga kaki.
Cepat Wiki menyelinap masuk sambil bergumam, "O, jit-eng, jangan menyesal jika tidak dapat kuselamatkan kalian. Aku telah berusaha sekuat tenaga............."
Selagi Lamkiong Peng merasa bingung, terlihat Wiki sudah melompat keluar lagi dengan mengempit seorang pemuda berbaju perlente dalam keadaan pingsan.
"Gendong dia!" kata Wiki dengan suara tertahan.
Lamkiong Peng menurut; diangkatnya pemuda itu tanpa mengerti apa maksud Wiki.
Setelah merapatkan pintu dinding, Wiki mendahului berjalan lagi ke depan dengan langkah berat dan kening berkerut.
"Loc........" Lamkiong Peng ingin bertanya lagi.
Namun, Wiki memotong, "Tidak perlu kau berterima kasih padaku."
"Tapi.......... sebenarnya........."
"Dunia persilatan segera akan dilanda peristiwa besar. Kawanan perusuh dari Kwang-gwa sudah masuk ke daerah Tionggoan. Aku berada di bawah ancaman mereka, dan harta benda yang kudapatkan dari jerih payah selama berpuluh tahun tampaknya akan hanyut ludes."
Dia bicara dengan sedih dan penasaran. Dengan alis tegak, Lamkiong Peng bertanya, "Siapa yang kau maksudkan? Masa dia........."
"Kepandaian orang ini sukar dijajaki," potong Wiki. "Dia mahir menggunakan berbagai senjata rahasia yang aneh dan dupa bius yang mukjizat. Bahkan banyak anak buahnya yang serba pandai sehingga makin menambah kejahatan yang diperbuatnya. Ada anak buahnya yang berjuluk Toat-beng-jiang (Tombak Pencabut Nyawa) dan Tui-hun-kiam (Pedang Sambar Nyawa). Kungfu kedua orang ini sungguh mengejutkan; kita sama sekali bukan tandingannya."
Tergerak pikiran Lamkiong Peng, katanya, "Apakah gembong iblis yang kau maksudkan itu ialah Swe-thiam-beng?"
Melenggak juga Wiki, seperti heran mengapa Lamkiong Peng juga mengenal nama itu. Sambil menekan lagi pojok dinding, ia menjawab, "Ya, Swe-thiam-beng."
Baru lenyap ucapannya, tampaklah cahaya udara. Ternyata mereka sudah berada di pintu keluar lorong.
Terdengar Wiki bergumam dengan pedih, "Di Boh-liong-ceng kami sekarang entah terkurung berapa orang. Dengan kekuatanku, hanya dapat kuselamatkan kalian berdua. Hendaklah lekas kalian pergi secepatnya. Ingatlah selalu pesanku, ilmu silat orang ini sukar dijajaki; janganlah kalian sembarangan bertindak."
"Locianpwe......."
Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, tahu-tahu Wiki mendorongnya keluar sambil bergumam, "Naga melahirkan sembilan anak, setiap anak berbeda-beda. Biarpun sesama saudara seperguruan, terdapat juga serigala dan harimau di antaranya........."
Terdengar suara keriut, pintu lorong rahasia itu telah rapat kembali.
Lamkiong Peng berdiri termenung dengan terharu. Waktu ia menengadah, cuaca remang-remang, malam sudah larut. Ketika ia memeriksa keadaan Cian-tong-lai, muka anak muda itu pucat pasi, namun tidak mengurangi wajahnya yang cakap.
Ia mencoba menentukan arah, lalu membawa Cian-tong-lai berlari ke arah barat daya. Teringat Bwe-kiam-soat yang berjanji menunggu kepulangannya, seketika bergejolak perasaannya yang tertekan itu.
Namun, bila teringat Tik-yang yang sekarat, seketika ia menghentikan langkahnya. Terjadi lagi pertentangan batin. Jika ia kembali dengan tangan hampa, maka segala langkah usahanya akan menjadi sia-sia. Mana boleh ia menyaksikan Tik-yang yang telah membantunya itu mati keracunan begitu saja?
Selagi bingung dan serba salah, mendadak dirasakannya sebuah tangan perlahan menekan Leng-thai-hiat pada punggungnya. Leng-thai-hiat adalah salah satu hiat-to penting yang berhubungan erat dengan jantung; bilamana tergetar dengan keras, seketika binasa.
Akan tetapi, Lamkiong Peng hanya terkejut sekejap saja, lalu tenang. Ia berpikir dalam keadaan serba susah, bila mati mungkin akan menjadi pelepasan baginya, lepas dari segala siksa derita. Karena itulah ia tetap berdiri diam dan tidak memberi reaksi apa pun, dengan tenang ia menantikan ajal.
Siapa tahu, sampai sekian lama tangan itu tetap tidak bergerak lagi.
Berkerut kening Lamkiong Peng, ia mendengus, "Kenapa sahabat tidak lekas turun tangan?"
Di bawah kerlip bintang, bayangan orang di belakangnya tampak bergerak mendoyong ke depan. Agaknya orang itu merasa heran terhadap sikap Lamkiong Peng yang tak gentar.
Segera terdengarlah suara tertawa ngikik nyaring, "Longo, apakah engkau benar-benar tidak takut mati?"
Suara ini hampir serupa dengan suara yang didengarnya di tempat tahanan yang gelap itu, suara yang sudah dikenalnya.
Tergetar hati Lamkiong Peng, serentak ia membalik tubuh dan berseru, "He, Toaso!"
Di tengah remang malam, Giok-he kelihatan lagi tersenyum riang.
"Kenapa Toaso juga datang ke sini?" tanya Lamkiong Peng.
Giok-he tidak menjawab. Sebaliknya, ia membuka sebelah tangannya dan berseru, "Coba lihat, apa yang kupegang ini?"
Tergerak hati Lamkiong Peng, tanpa terasa ia berseru, "He, obat penawar! Apakah itu obat penawar?"
"Kau memang cerdik. Yang kupegang ini memang obat penawar," ujar Giok-he sambil membuka lebar telapak tangannya sehingga kelihatan sebiji pil merah. "Kutahu demi untuk mendapatkan obat penawar ini, kau tidak sayang menyerempet bahaya dengan taruhan nyawa sendiri. Tapi obat ini tetap tidak kauperoleh, begitu bukan?"
Lamkiong Peng menghela napas menyesal sambil menunduk. Ia seperti mau bicara, tapi urung.
"Setiba di Boh-liong-ceng," tutur Giok-he, "hatiku ikut sedih demi mendengar urusanmu. Betapapun kau adalah suteku dan harus kubela." Ia bicara dengan tulus penuh perhatian, tapi sinar matanya gemerlap dengan maksud yang sukar diraba. Hal ini tidak disadari oleh Lamkiong Peng.
"Sebab itulah aku berusaha memperdayai Yim-hong-peng yang munafik itu. Akhirnya dapat kutipu obat penawar ini dari dia," ujar Giok-he melanjutkan. "Tapi ketika kupancing dia membawaku ke tempat tahananmu dan ingin menolongmu keluar, siapa tahu engkau sudah berhasil kabur lebih dulu. Sungguh aku bergirang bagimu dan juga sedih. Tanpa obat penawar, menuruti watakmu yang keras, tidak mungkin kau mau pulang ke sana. Sebab itulah tanpa menghiraukan bahaya, segera kususulmu ke sini."
Terharu Lamkiong Peng dan juga merasa malu. Ia pikir betapapun Toaso tetap baik kepadanya, hampir saja ia salah menilainya.
Ia menengadah, dilihatnya Giok-he sedang memandangnya. Tiba-tiba Lamkiong Peng merasa Liong-hui sesungguhnya adalah lelaki yang beruntung.
Dengan tersenyum Giok-he berkata lagi, "Toako dan Simoay mendampingiku, tapi dia seorang yang kaku dan pendiam. Seharian paling bicara dua-tiga kata denganku. Entah bagaimana dengan toakomu, ai, sungguh aku khawatir........."
"Toaso, kukira Toako sudah pulang ke Jiceng. Bila urusan di sini selesai, segera kita pun dapat pulang," kata Lamkiong Peng.
Kata Giok-he dengan hampa, "Betapapun aku hanya seorang perempuan."