Halo!

Han Bu Kong - Chapter 58

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 58

"Losam selalu acuh tak acuh. Alangkah baiknya jika aku dapat berada bersamamu, tentu aku tidak perlu repot..."

"Meski siaute tidak dapat menjaga Toaso sepanjang jalan, tapi..." Tiba-tiba ia mengeluarkan sepotong giok putih dan memberikannya kepada Giok-he, sambungnya, "Dengan membawa giok ini, ke mana pun Toaso pergi, kau dapat memperoleh bantuan pada setiap cabang perusahaan usaha keluarga kami."

Ia tidak memandang langsung kepada Giok-he sehingga tidak diketahui betapa senang hati nyonya muda itu. Ia hanya merasakan sebuah tangan halus memegang tangannya, hatinya tergetar, dan ia mundur selangkah. Pil merah telah ditaruh oleh Giok-he pada tangannya sambil berkata, "Gote, selesaikan urusanmu di sini, hendaknya segera kaupulang. Bila bertemu dengan toako, bujuklah dia supaya lekas pulang."

Ia bicara agak tersendat sehingga Lamkiong Peng tambah rikuh untuk memandangnya. Ia cuma mengangguk sambil menunduk.

"Toaso telah banyak membelamu. Entah kau pun sudi melakukan sesuatu bagiku atau tidak?" kata Giok-he pula. "Orang yang di dalam gendonganmu ini adalah murid Kun-lun dan merupakan musuh kita. Kungfunya sangat tinggi, mungkin kita bukan tandingannya. Demi menghilangkan bahaya di kemudian hari, hendaknya kau totok Hiat-to di bagian punggungnya."

Lamkiong Peng mendongak dengan tercengang, jawabnya kemudian, "Apabila orang ini berbuat sesuatu kesalahan kepada Toaso, setelah dia siuman nanti pasti akan kulabrak dia mati-matian. Tapi sekarang, dalam keadaan pingsan, orang menyerahkan dia dalam tanggung jawabku, maka aku tidak dapat mengganggunya dalam keadaan demikian."

Giok-he tampak kurang senang, jengeknya, "Baru saja kauterima obat penawar dariku dan segera kaubangkang kehendakku. Apapula yang dapat kuharapkan darimu kelak?"

"Tapi aku... aku..." Mendadak Lamkiong Peng mengembalikan pil merah itu kepada Giok-he dan menambahkan, "Lebih baik kukembalikan obat ini daripada berbuat pengecut yang melanggar hati nuraniku."

Selagi ia hendak berpaling dan pergi, sekonyong-konyong Giok-he terkikik tawa, katanya, "Ah, aku cuma menguji kejujuranmu saja, apakah engkau masih ingat kepada ajaran suhu atau tidak. Mengapa kau jadi serius terhadap Toaso?" Sembari berkata, ia serahkan pula pil merah itu kepada Lamkiong Peng.

Hati Lamkiong Peng menjadi lunak lagi, ucapnya, "Asalkan bukan tindakan seperti ini, terjun ke lautan api sekalipun akan kulakukan bagi Toaso dan Toako."

"Apa tidak ada perbedaan antara Toako dan Toaso dalam pandanganmu?" tanya Giok-he.

Kembali Lamkiong Peng melongo bingung. Didengarnya Giok-he berucap pula, "Asalkan pandanganmu terhadap Toako dan Toaso tidak ada perbedaan, maka senanglah hatiku." Tiba-tiba ia menjulurkan sebelah tangannya dan berkata pula, "Untuk memastikan apa yang kaukatakan barusan ini, sudilah kaujabat tangan Toaso."

Sekilas pandang, Lamkiong Peng merasa tangan orang yang putih bersih itu menimbulkan rasa waswas yang sukar diceritakan.

"Kenapa, apakah tangan Toaso kotor?" kata Giok-he melihat anak muda itu ragu-ragu.

Perlahan Lamkiong Peng mengangsurkan tangannya untuk menjabat tangan Giok-he. Baru saja ia hendak menarik kembali tangannya, mendadak genggaman Giok-he mengerat. Hawa hangat dan harum tersalur dari telapak tangan ke lubuk hatinya.

"Gote," terdengar Giok-he berucap dengan lembut, "hendaknya jangan melupakan malam ini..."

Tergetar hati Lamkiong Peng. Sebelum ucapan orang itu selesai, ia segera menarik tangan dan berlari pergi. Gemerlap sinar mata Giok-he memandang bayangan anak muda yang menghilang dalam kegelapan itu. Tersembul senyuman aneh pada ujung bibirnya.

Tiba-tiba dari kegelapan muncul lagi sesosok bayangan yang melayang cepat ke arah Giok-he serta memegang tangannya, "Jangan melupakan malam ini apa?" Setelah berhenti, segera ia membentak pula, "Barang apa yang kaupegang ini?" Suaranya mengandung rasa gusar dan cemburu. Tidak perlu ditanya lagi, jelas orang ini ialah Ciok Tim.

Dengan ketus, Giok-he mengibaskan tangannya dan mendengus, "Hm, kau ini apaku? Kau ingin memerintahku?"

Berubah juga air muka Ciok Tim, "Kau... kau... Ai, terhadap Toako... aku..."

Sambil mendengus, Giok-he membuka telapak tangannya dan berkata, "Giok ini pemberian Gote padaku. Dengan kepingan giok ini, dalam sehari saja bila perlu dapat kutarik berpuluh laksa tahil perak. Apakah kau pun dapat menyediakannya?"

Ciok Tim tercengang. Rasa gusar membuat air mukanya berubah menjadi malu. Ia meremas tangannya sendiri dengan pedih. Mendadak ia membentak dan mencengkeram pundak Giok-he dengan keras, seakan-akan ingin merobek tubuhnya yang berisi itu, seolah-olah ingin mengorek hatinya yang dingin.

Berubah juga air muka Giok-he. Jari tangan kanannya terjulur bermaksud menotok iga anak muda itu, tapi baru menyentuh bajunya, nafsu membunuhnya mendadak berubah lunak. Tiba-tiba ia tertawa menggiurkan, "Eh, ada apa kau? Lepaskan, aku kesakitan!" Suaranya menggetarkan kalbu, membuat tangan Ciok Tim agak gemetar. Akhirnya ia menghela napas panjang, melepaskan tangan, dan menunduk.

Perlahan, Giok-he memijat pundaknya sendiri dan berkata, "Oo, sakit sekali cengkeramanmu, lekas urut bagiku."

Tanpa terasa, Ciok Tim menjulurkan tangannya dan meraba bagian yang dimaksud. Giok-he memejamkan mata seperti menikmati rabaan anak muda itu. Jari Ciok Tim tambah beraksi dengan cepat dan mulai menurun ke bawah. Sorot matanya memancarkan cahaya kerakusan seperti binatang liar yang kelaparan.

Perlahan, tubuh Giok-he menggeliat. Ia berucap seperti orang mengigau, "Sungguh bodoh kau, memang kaukira aku ada berbuat apa terhadap Lo-ngo? Hm, aku kan cuma... cuma ingin memperalat dia saja... Oo, kau mau apa?" Mendadak ia berteriak sambil melepaskan diri dari pegangan Ciok Tim.

Keruan anak muda itu melongo, serupa kucing liar yang sedang berahi mendadak disiram air dingin. Giok-he memandangnya dengan senang. Ia tahu anak muda ini seluruhnya telah jatuh dalam cengkeramannya, sudah masuk dalam perangkap yang diaturnya, dan telah menjadi budaknya.

Dengan lembut ia lantas berkata, "Adik Tim, tentunya kau tahu betapa hatiku terhadapmu. Asalkan kauturut apa yang telah kuatur, segala hasil usahaku kelak adalah milikmu. Cuma, kau pun perlu tahu, meski kusuka padamu, namun banyak urusan yang tidak dapat kutinggalkan hanya lantaran dirimu. Banyak persoalan dunia persilatan yang tidak kaupahami. Demi hari depan kita, mau tidak mau harus kukerjakan hal-hal yang sukar kau bayangkan, untuk ini hendaknya kau maklum."

Dengan bimbang Ciok Tim mengangguk. Maka Giok-he menyambung lagi, "Maka apapun tindakanku selanjutnya jangan kau ganggu. Jika kau terima permintaanku ini, selamanya tentu kaudapat berada bersamaku. Kalau tidak..." sampai di sini ia tidak meneruskan lagi melainkan terus membalik tubuh dan melangkah pergi.

Ciok Tim berdiri melongo di tempatnya. Ia merasa pedih dan juga dongkol, sungguh ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Pada saat itulah Giok-he berpaling dan berseru, "He, untuk apa berdiri di situ? Ayolah kemari..."

Tanpa terasa Ciok Tim ikut melangkah ke sana. Dalam kegelapan terdengar pula suara tertawa yang menggiurkan.

Kegelapan memang telah banyak menyembunyikan berbagai rahasia dan dosa manusia sehingga dunia ini kelihatan lebih indah. Dalam pandangan Lamkiong Peng saat itu, dunia ini memang kelihatan indah dan penuh harapan. Ia merasa di dunia ini ada orang jahat, tapi orang baik jauh lebih banyak. Hasratnya ingin lekas menolong sahabatnya membuatnya lupa letih dan lapar. Dengan penuh semangat, ia berlari dalam kegelapan malam.

Dengan hati-hati ia telah menyimpan pil merah itu dalam sebuah kantung sutra kecil. Kantung yang serupa dompet itu adalah pintalan sang ibu sebelum ia meninggalkan rumah. Pada waktu kesepian ia suka meraba kantung sutra itu. Dia seorang ksatria muda yang tidak pernah melupakan kasih ibunda.

Ia berlari dengan cepat. Tidak lama ia sudah berada di luar kota Se-an. Suasana sunyi senyap. Ia coba memeriksa keadaan sekeliling, akan tetapi tidak terlihat bayangan Bwe Kiam Soat. Ia menjadi khawatir, "Apakah dia sudah pergi?"

Ia coba memanggil, "Nona Bwe... Nona Bwe..." Namun suasana tetap sunyi senyap. Di mana pun Bwe Kiam Soat berada, seharusnya dia mendengar suaranya. Napas Lamkiong Peng terasa sesak, pikirnya, "Kenapa tidak menunggu di sini? Kenapa dia ingkar janji? Tik Yang keracunan, apakah juga dibawanya pergi? Kan obat penawar yang kubawa ini menjadi sia-sia..."

Ia menghela napas dan tidak ingin berpikir lagi, ia melangkah ke sana dengan limbung.

Awan tersingkap, cahaya bulan menembus langsung menyinari sesosok bayangan manusia di balik semak sana. Terlihat mukanya, siapa lagi kalau bukan Bwe Kiam Soat. Dengan girang Lamkiong Peng berseru, "Hei, Nona Bwe, kiranya engkau berada di sini!"

Selagi dia hendak memburu ke sana, dilihatnya muka Bwe Kiam Soat yang pucat itu kaku dingin, melongo seperti orang linglung. Sorot matanya buram, air mukanya kaku tanpa memperlihatkan suatu perasaan, serupa orang yang Hiat-to-nya tertotok, seperti juga orang yang tersihir.

Tergetar hati Lamkiong Peng, ia tahu pasti terjadi sesuatu. Cepat ia memburu maju sambil menegur dengan suara gemetar, "Kenapa..."

Belum lanjut ucapannya, dilihatnya mata Bwe Kiam Soat melirik ke samping depan sana tanpa bersuara. Tanpa terasa Lamkiong Peng ikut memandang ke sana. Di bawah pohon duduk sesosok bayangan orang lagi, duduk kaku tanpa bergerak seperti patung, hanya sinar matanya kelihatan gemerlap dalam kegelapan.

Waktu diperhatikan, kembali hati Lamkiong Peng berdebar. Tanpa terasa ia berseru, "Hei, Nona Yap, kenapa engkau pun berada di sini!"

Sungguh tak terpikir olehnya bahwa bayangan yang duduk di bawah pohon itu adalah murid Tan-hong, Yap Jiu-pek, yaitu Yap Man-jing yang cantik dan juga pongah itu. Siapa tahu, meski mendengar seruannya, namun Yap Man-jing tetap diam saja, seperti tidak mendengar dan juga tidak melihat. Ia masih duduk di tempatnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment