Halo!

Han Bu Kong - Chapter 59

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 59

"Nona Yap," tegurnya setelah dekat. "Apakah terjadi sesuatu di sini?" Terlihat senyuman Yap Man-jing yang hambar, namun ia tetap duduk tanpa menjawab.

Lamkiong Peng mengamati lebih teliti. Dilihatnya si nona tetap memakai baju hijau, mata dan alisnya tetap menampilkan sikap angkuh, sama sekali tidak ada tanda *hit-to* tertutup atau sebagainya.

Lamkiong Peng bertambah heran. Ia mencoba mendekati Bwe Kiam-soat dan dilihatnya Kiam-soat melotot ke arahnya sekejap, seperti tidak senang ia memperhatikan orang lain. "Sesungguhnya apa yang terjadi?" tanya Lamkiong Peng dengan gelisah.

Namun, Bwe Kiam-soat juga tidak bergerak dan tidak menjawab, seperti orang bisu dan tuli.

"Bagaimana dengan Tik Yang? Di mana dia!" serunya pula khawatir sambil memandang kian kemari.

Bwe Kiam-soat hanya memandang Yap Man-jing tanpa berkedip. Sebaliknya, Yap Man-jing juga menatap Bwe Kiam-soat. Kedua nona itu sama sekali tidak memandang lagi kepada Lamkiong Peng, seolah-olah ia tidak hadir di situ.

Seketika Lamkiong Peng celingukan dengan bingung. Sekilas pandang, mendadak ia melihat di semak rumput merayap keluar seekor ular hijau sepanjang satu kaki. Dengan cepat, ular itu merayap ke samping dengkul Yap Man-jing. Meski sorot mata Yap Man-jing menampilkan rasa ngeri, tubuhnya tetap tidak bergerak sama sekali. Biasanya di tengah semak rumput memang banyak ular berbisa.

Tentu saja Lamkiong Peng khawatir. Cepat ia melompat maju, sekali raih ekor ular itu segera dipegangnya. Ular itu lantas melingkar ke atas, lidah merahnya terjulur, dan secepat kilat hendak memagut urat nadi Lamkiong Peng. Meski mahir ilmu silat, Lamkiong Peng sama sekali asing terhadap ular. Ia terkejut dan membuang ular itu ke belakang. Namun, ketika ia berpaling mengikuti tempat jatuhnya ular, ia kembali terkejut sebab ular itu dengan tepat terlempar ke atas tubuh Bwe Kiam-soat.

Lekas Lamkiong Peng memburu ke sana. Ular itu pun seperti terkejut, hanya sejenak berhenti di atas tubuh Bwe Kiam-soat, lalu merayap ke bagian lehernya. Air muka Bwe Kiam-soat tampak pucat ketakutan, kulitnya merinding dan berkerut-kerut. Dengan cemas ia memandang lidah ular yang sebentar-sebentar terjulur itu; butiran keringat dingin merembes keluar di dahinya, namun tubuhnya tetap tidak bergeming.

Orang perempuan pada umumnya takut kepada tikus dan ular. Betapa tabah hati seorang perempuan, ia pasti akan menjerit kelabakan bila melihat makhluk melata tersebut. Apalagi sekarang tubuh Bwe Kiam-soat dirayapi ular, betapa cemasnya sukar dilukiskan.

Ketika Lamkiong Peng tiba, ia segera hendak mencengkeram kepala ular. Karena pengalaman tadi, ia pikir sekali pencet akan membinasakan binatang melata ini. Tak terduga, belum lagi tangannya bergerak, tiba-tiba seseorang membentak di belakangnya, "Jangan!"

Dengan terkejut Lamkiong Peng menoleh. Dilihatnya Ban Tat berlari datang dari kejauhan. Dengan napas tersengal, ia menatap ular hijau itu dengan waswas, sembari menarik Lamkiong Peng mundur ke belakangnya.

Dengan heran Lamkiong Peng bertanya, "Apa..." Perlahan Ban Tat memberi tanda supaya jangan bicara, lalu ia melangkah maju dengan prihatin, serupa seorang jago dunia persilatan menghadapi lawan yang paling tangguh. Melihat ketegangan orang tua ini, Lamkiong Peng tahu ular hijau itu pasti bukan sembarang ular berbisa. Jika cengkeramannya tadi tidak berhasil sekali pegang, bukan mustahil jiwa Bwe Kiam-soat akan melayang.

Suasana berubah sunyi mencekam, jantung berdebar kencang. Tubuh ular hijau yang bersisik itu sudah mulai merayapi pundak Bwe Kiam-soat dengan lidahnya yang merah menjulur, hampir menjilat wajah Bwe Kiam-soat yang pucat. Bahkan Yap Man-jing yang duduk di seberangnya juga menampilkan rasa khawatir dan ngeri. Langkah Ban Tat sangat perlahan dan sangat hati-hati. Lamkiong Peng mengepal tinju dengan menahan napas; butiran keringat mengucur dari dahinya.

Mendadak terlihat lidah ular berkelebat lagi. Secepat kilat, Ban Tat turun tangan; dengan tiga jari ia mencengkeram leher ular, beberapa senti di bawah kepala, menyusul dibantingnya dengan keras ke tanah. Kontan ular itu mati kaku dan tidak berkutik lagi. Gerak tangannya cepat dan jitu. Baru sekarang Lamkiong menghela napas lega.

Selagi ia hendak mengucapkan terima kasih, dilihatnya Ban Tat masih prihatin. Mendadak ia melolos sebilah belati tajam. Sekali injak dengan kaki kiri, tubuh ular itu dipotongnya. "Gret!" Menyusul belati itu ditancapkannya di atas kepala ular; darah segar pun memuncrat, menyebarkan bau anyir busuk. Sampai di sini baru Ban Tat menarik napas lega. Tanpa terasa, Lamkiong Peng juga mengusap keringatnya.

Namun, Bwe Kiam-soat dan Yap Man-jing masih tetap duduk kaku di tempatnya. Kejadian yang mendebarkan tadi seakan tidak terjadi atas diri mereka.

"Sungguh berbahaya..." gumam Ban Tat.

"Sebenarnya apa yang terjadi ini?" tanya Lamkiong Peng.

"Ular ini tidak terdapat di daerah Tiong-goan, tetapi jenis ular paling berbisa yang cuma terdapat di daerah gurun. Bisa ular ini sangat jahat; sekali tergigit, dalam sekejap korbannya akan mati sesak napas. Sungguh tak terduga ular semacam ini bisa muncul di sini." Diam-diam Lamkiong Peng bersyukur terhindar dari maut. Untung ada kedatangan penolong yang ahli, kalau tidak, urusan ini bisa runyam.

"Yang kutanyakan bukan cuma soal ular, tapi mereka... sesungguhnya apa yang terjadi?" katanya pula menunjuk Bwe dan Yap berdua. "Kenapa mereka begitu? Dan ke mana perginya Tik-heng?"

Ban Tat mengeluarkan sepotong kain putih. Dengan hati-hati ia membungkus tangkai belati, lalu menggali sebuah liang di samping bangkai ular. Katanya dengan berat hati, "Aku dan Nona Bwe menunggumu di sini. Lambat laun fajar pun menyingsing, sedangkan keadaan sahabat She Tik itu semakin parah dan mengkhawatirkan. Berulang kali dia mengigau, tubuhnya pun mengejang. Mestinya Nona Bwe hendak menutuk *hiat-to* untuk mengurangi penderitaannya, tapi ia khawatir racun sudah masuk ke darahnya. Bila *hiat-to* ditutuk, bisa jadi racun akan mengumpul dan tidak dapat mengalir; hal ini tentu akan tambah bahaya."

Ia berhenti sejenak sambil melirik Bwe Kiam-soat, lalu bertutur pula, "Waktu itu mestinya ingin kucari suatu tempat yang sejuk untuk bersembunyi dan menunggu kepulanganmu, tapi Nona Bwe menolak. Ia bilang sudah berjanji menunggumu di sini; biarpun langit ambruk dan bumi ambles, ia tetap akan menunggumu di sini."

Terharu sekali hati Lamkiong Peng. Tanpa terasa ia memandang Bwe Kiam-soat sekejap; kebetulan Kiam-soat juga sedang melirik ke arahnya. Bentrokan pandangan ini membuat jantung anak muda itu berdebar.

"Kemudian lantas bagaimana?" tanyanya kepada Ban Tat.

"Menjelang magrib, kupergi mencari makanan dan air minum. Siapa tahu, sedikit pun Nona Bwe tidak mau makan. Dia cuma minum dua ceguk air dingin sambil memandang ke arah kepergianmu dengan cemas. Meski dia tidak mengucap kata, dapat kuselami betapa rasa khawatirnya bagimu. Setelah hari gelap, aku ingin mencari lagi kayu bakar untuk membuat api unggun..." Kembali ia merandek sambil memandang ke arah Yap Man-jing, sambungnya, "Pada saat itulah Nona Yap ini mendengar suara igauan Tik Yang dan mencari ke arah sini..." Mendadak ia memandang kian kemari sambil menahan suaranya, "Kedatangan Nona Yap ini seperti juga lantaran dirimu. Sekali dia melihat Nona Bwe, seketika air mukanya berubah dan bertanya, 'Apakah Lamkiong Peng juga terluka?' Agaknya dia dapat menerka siapa Nona Bwe, juga orang yang berada bersama Nona Bwe pasti dirimu."

Diam-diam Lamkiong Peng menghela napas, entah merasa hangat atau bingung. Sedapatnya ia menahan keinginan untuk memandang Yap Man-jing, akan tetapi toh tidak tahan dan akhirnya melirik juga sekejap. Kembali keduanya beradu pandang. Jantung Lamkiong Peng berdebar lagi. Cepat ia bertanya kepada Ban Tat, "Dan kemudian bagaimana?"

"Kemudian..." Ban Tat berdeham dahulu, lalu menyambung, "Kemudian Nona Bwe menjengek dan menegur siapakah Nona Yap. Dan... dan keduanya lantas terlibat dalam pertengkaran..." Agaknya ia sungkan menceritakan pertengkaran kedua nona yang berpangkal atas diri Lamkiong Peng itu. Ia cuma berkata, "Pembicaraan kedua nona itu tentu saja tidak dapat kuikuti, namun akhirnya kudengar Nona Bwe berkata, 'Ya, usiaku sudah 40-an, dengan sendirinya memenuhi syarat untuk menjadi angkatan yang lebih tua. Maka sekarang hendak kuberi hajaran kepada kaum muda yang tidak sopan seperti kau ini.'"

Kening Lamkiong Peng berkerut. Pikirnya, "Jika demikian, jelas Yap Man-jing telah menyebut Nona Bwe sebagai *Locianpwe*. Mengapa dia menganggap Nona Yap tidak sopan?" Betapa pintarnya Lamkiong Peng, ia tetap tidak dapat memahami perasaan perempuan. Ia tidak tahu bahwa Yap Man-jing sengaja menyebut usia Bwe Kiam-soat untuk mengingatkan bahwa ia hanya sesuai menjadi *Locianpwe*, atau kaum tua bagi Lamkiong Peng, artinya tidak cocok untuk menjadi pacarnya. Dengan sendirinya, hal ini membuat Bwe Kiam-soat menjadi marah.

Didengarnya Ban Tat berkata pula, "Maka Nona Yap lantas marah juga. Pada waktu itu Tik Yang lagi meronta-ronta, kudekati dia untuk merawatnya. Ketika keadaannya agak baikan, kudengar kedua nona ribut mulut lagi. Akhirnya Nona Yap menjengek, 'Hm, orang *kangouw* sama menyebut dirimu sebagai *Leng-hiat-huicu*, tentu karena tabiatmu yang dingin dan tenang. Maka sekarang juga boleh kita beradu kesabaran berduduk semedi; tidak peduli menghadapi kejadian apa pun dilarang bergerak, barangsiapa bergerak lebih dulu dianggap kalah.'"

Tergerak hati Lamkiong Peng. Pikirnya, Nona Yap ini sungguh pintar. Ia hidup bersama Yap Jiu-pek di puncak Hoa-san yang dingin dan sepi itu selama berpuluh tahun; dalam hal duduk menyepi dengan sabar, tentu jauh lebih tahan daripada orang lain. Berpikir demikian, tanpa terasa ia memandang Bwe Kiam-soat sekejap, lalu bertanya perlahan, "Dan dia menerima tantangan itu?"

"Masa dia menolak?" ujar Ban Tat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment