Chapter 60
Lamkiong Peng teringat bahwa Bwe Kiam Soat pernah tersekap belasan tahun di dalam peti mati yang sempit dan gelap. Penderitaan selama itu memerlukan kesabaran yang tak terhingga untuk mengatasinya; jika sekadar duduk diam, tentu bukan masalah baginya. Berpikir demikian, tanpa terasa ia menyapu pandang sejenak kepada Bwe Kiam Soat dan Yap Manjing. Ia berpikir, pengalaman dan watak kedua perempuan ini memang berbeda. Tampaknya, dalam waktu singkat mereka pasti sanggup bertahan untuk tidak bergerak sama sekali.
Melihat perubahan air muka Lamkiong Peng yang sebentar khawatir dan sebentar girang, lain saat kagum, lalu sedih lagi, tentu saja Ban Tat terheran-heran. "Pertandingan mereka ini entah akan berakhir kapan," gumam Lamkiong Peng dengan kesal. Mendadak ia bertanya, "Ke mana perginya Tik-heng?"
"Racun yang digunakan Yim Hong-peng memang sangat lihai. Selain bisa membunuh, racun itu dapat membius pikiran sehat seseorang. Sahabat bermarga Tik itu selama seharian tampak seperti orang sinting; pada waktu malam bahkan kumat gilanya. Aku harus mengawasi Nona Bwe, juga perlu menjaga dia. Sungguh repot. Kedatangan Nona Yap yang segera menantang bertanding kepada Nona Bwe membuatku agak lengah. Sahabat bermarga Tik itu terus melepaskan peganganku dan berlari secepat terbang ke tempat gelap."
"Mengapa tidak kalian susul?" tanya Lamkiong Peng khawatir.
"Nona Bwe dan Nona Yap saat itu sudah mulai bertanding dengan duduk dan tidak dapat bergerak lagi. Dengan sendirinya, mereka tak dapat menyusulnya," tutur Ban Tat.
"Dan kau sendiri?" tanya Lamkiong Peng.
"Aku sendiri segera mengejarnya," ujar Ban Tat dengan sesal. "Siapa tahu, meski sahabat Tik itu keracunan, ginkangnya tetap sangat mengejutkan. Meski sudah kusul dengan sekuat tenaga, tak lama kemudian aku kehilangan jejaknya dalam kegelapan."
"Dan karena tidak dapat kau susul, lantas kembali lagi ke sini?" tanya Lamkiong Peng dengan dongkol.
"Ya, aku memang tidak berdaya. Setibanya aku kembali ke sini, kebetulan kulihat ular hijau tadi," tutur Ban Tat.
"Dia lari ke arah mana?" Ban Tat menunjuk ke arah barat. "Coba bawa aku ke sana," seru Lamkiong Peng sambil menarik tangan Ban Tat dan mengajaknya berlari pergi. Tanpa kuasa, Ban Tat terseret lari secepat terbang. Diam-diam ia membatin, "Berpisah belum ada setahun, tak disangka kungfunya sudah maju secepat ini..."
Malam semakin sunyi. Bwe Kiam Soat dan Yap Manjing hanya sempat melirik ke arah menghilangnya bayangan Lamkiong Peng di kegelapan, lalu segera memusatkan perhatian dan saling tatap kembali. Meski dari luar kedua orang itu kelihatan tenang, dalam hati mereka bergejolak. Angin bertiup dingin di tanah kosong tempat Cian Tong-lai tergeletak tak sadarkan diri di antara mereka.
Mendadak anak muda ini mulai bergeliat dan membalik tubuh. Bwe Kiam Soat dan Yap Manjing tidak tahu siapa pemuda berbaju perlente ini, apakah ia sakit, terluka, atau merupakan musuh maupun sahabat Lamkiong Peng. Terlihat anak muda itu membalik dua tiga kali, mendadak melompat bangun serupa kelinci yang terkejut terkena panah. Dengan tercengang ia mengucek matanya, lalu memandang Bwe Kiam Soat dan Yap Manjing dengan terbelalak.
"He, tempat apakah ini? Kenapa aku berada di sini?" tanyanya bingung.
Setelah siuman, mendadak ia mendapati dirinya berada di tempat sepi dan di sampingnya duduk dua perempuan cantik tanpa bergerak. Betapa tabahnya ia, tak urung ia merasa sangsi dan ngeri. Setelah tercengang sejenak, ia berpaling, "Giok-ji... Tanji..." Lalu ia menghadapi Bwe dan Yap berdua, bentaknya, "Sesungguhnya tempat apakah ini? Mengapa aku sampai di sini?"
Namun, kedua perempuan itu tetap tidak bergerak sedikit pun, bahkan meliriknya pun tidak. Timbul rasa ngeri Cian Tong-lai, pikirnya, "Jangan-jangan aku bertemu setan. Kalau tidak, mengapa tanpa sebab aku bisa berada di sini dari Boh-liong-ceng?" Mendadak ia melayang pergi secepat terbang.
Hati Bwe Kiam Soat dan Yap Manjing sama tergetar; diam-diam mereka memuji kehebatan ginkang anak muda itu. Mereka pun geli teringat kelakuan Cian Tong-lai yang bingung tadi. Namun, sejenak kemudian, terdengar suara orang berdehem. Pemuda berbaju perlente itu muncul kembali. Dengan langkah santai ia mendekati kedua perempuan tersebut. Ia mengamati Bwe Kiam Soat beberapa kejap, lalu mengawasi Yap Manjing dengan cermat, kemudian menuju ke samping Kiam Soat serta mendekatkan kepalanya ke muka orang itu dan menegur, "He, he, kau dengar ucapanku tidak?"
Bwe Kiam Soat tetap diam saja, tidak bergerak, juga tidak berkedip. Cian Tong-lai menggelengkan kepala. Ia mencoba mendekati Yap Manjing, berjongkok di sampingnya, serta menegur, "He... he..." Namun Yap Manjing juga diam saja tanpa bergeming. Sorot mata mereka tampak menampilkan rasa gusar atas tingkah laku yang kasar itu.
Mendadak Cian Tong-lai membentak, "Hai!" Bentakan ini keras luar biasa seakan-akan genta yang dibunyikan di tepi telinga. Hati Bwe dan Yap tergetar; betapapun tenangnya, mereka tidak urung berkedip juga.
"Haha, kiranya kalian bukan orang tuli," seru Cian Tong-lai dengan tertawa. "Semula kusangka kalian bisu tuli, eh kiranya kalian dengar suaraku. Padahal kalian masih muda jelita, jika benar bisu-tuli kan sayang!" Mendadak ia berhenti tertawa dan menarik muka, ejeknya, "Hm, jika kalian bukan orang bisu-tuli, kenapa kalian tidak menggubris pertanyaanku tadi? Apakah kalian menghina diriku?"
Bwe dan Yap merasa, selain kungfu anak muda ini sangat tinggi dan orangnya cakap, tutur katanya kelewat congkak dan menjemukan. Namun, meski hati mendongkol, mereka tetap tidak bergerak.
Cian Tong-lai bersimpuh dan berjalan mondar-mandir. Dipandangnya Bwe Kiam Soat, lalu Yap Manjing. Sejenak kemudian ia menengadah dan bergelak tawa, "Hahaha, bagus, tahulah aku! Mungkin Thian kasihan padaku karena kesepian, maka sengaja memberikan dua teman jelita kepadaku. Betul tidak?" tanyanya kepada Kiam Soat, lalu berpaling kepada Yap Manjing, "Betul tidak?" Lalu ia terbahak-bahak dan menambahkan, "Aha, rasanya memang betul begitu, bukankah kalian telah mengaku secara diam-diam!"
Bwe Kiam Soat menahan rasa gusar. Ia berharap Yap Manjing tidak tahan oleh godaan anak muda itu dan mendahului bergerak, dengan begitu ia akan segera melompat bangun untuk memberi hajaran setimpal kepada pemuda sombong ini. Sebaliknya, Yap Manjing juga tetap diam saja. Ia pun berharap Bwe Kiam Soat bergerak lebih dahulu. Keduanya tetap saling pandang, dada serasa mau meledak saking gemasnya, namun tidak ada yang bergerak.
Mendadak Cian Tong-lai menepuk dahi sendiri, alisnya berkerut, ucapnya dengan masgul, "O, Thian, meski Engkau memperlakukanku dengan amat baik, tapi rasanya juga keterlaluan. Kedua anak perempuan ini sama cantiknya, lantas cara bagaimana harus kuambil keputusan? Padahal aku cuma ada satu tubuh, terpaksa mereka harus kujadikan istri tua dan istri muda. Lantas siapakah di antara mereka yang berhak menjadi istri tua?"
Ia sengaja berlagak kebingungan. Ia mendekati Yap Manjing dan meraba pipinya yang halus itu, katanya dengan menyesal, "Ai, muda jelita seperti ini mana sampai hati kujadikan istri muda?" Lalu dengan lagak kasihan ia mendekati Bwe Kiam Soat, menoleh dagunya, serta berkata, "Dan ini kan juga tidak kalah cantiknya, sungguh sayang bila disuruh antri dari belakang."
Mata Bwe dan Yap serasa mau menyemburkan api saking gusarnya, tapi tiada seorang pun memandang Cian Tong-lai. Keduanya tetap saling pandang dengan melotot, berharap pihak lawan mau bergerak lebih dulu.
Sementara itu, Lamkiong Peng yang cemas sedang berlari menyeret Ban Tat. "Kenapa dia begitu ceroboh dan membiarkan Tik-heng pergi begitu saja? Padahal dia tahu jelas Tik-heng keracunan parah dan aku pergi mencari obat penawar dengan mempertaruhkan nyawa. Ai, jika Tik-heng tidak dapat kutemukan, bukankah berarti jiwanya melayang akibat perbuatan mereka?" Ia berlari semakin cepat dan gelisah.
"Lamkiong-kongcu," kata Ban Tat, "Kedua nona itu berduduk diam di sana, bukan mustahil akan timbul bahaya."
Lari Lamkiong Peng agak diperlambat, ia ucapkan dengan dongkol, "Lantas bagaimana dengan jiwa Tik-heng?"
"Ai, alangkah bahagianya setiap orang yang dapat bersahabat denganmu," ucap Ban Tat dengan sedih. "Tik-heng keracunan lantaran membela diriku, tapi sekarang... ai, sungguh aku..." Lamkiong Peng tidak sanggup melanjutkan karena sejauh itu bayangan Tik Yang tetap tidak kelihatan. Segera ia berteriak, "Tik-heng, Tik Yang... dapatkah kau dengar suaraku?"
"Dia dalam keadaan tidak sadar, biarpun kau panggil di telinganya juga tidak dipahaminya," ujar Ban Tat. "Apalagi dalam keadaan gelap begitu, ke mana akan kaucari dia? Meski dia keracunan parah, aku sudah menyalurkan tenaga murniku untuk memperkuat jantungnya. Kukira dalam sehari atau setengah hari saja takkan membahayakan jiwanya. Akan lebih baik sekarang kita kembali ke sana untuk membujuk kedua nona itu agar berhenti bertanding. Mereka sebenarnya tidak bermusuhan, bujukanmu mungkin akan dituruti. Besok pagi setelah terang tanah, barulah kita berempat mencari sahabat bermarga Tik itu."
Lamkiong Peng ragu dan mengendurkan langkahnya, "Tapi... tapi..." Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong jauh dari belakang sana berkumandang suara bentakan orang yang terbawa angin. Jelas orang yang membentak itu memiliki tenaga dalam yang kuat.