Halo!

Han Bu Kong - Chapter 61

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 61

"Siapa itu?" Lamkiong Peng melengak dan saling pandang dengan Ban Tat.

Tanpa pikir panjang, segera kedua orang itu berlari kembali ke arah kedatangan mereka tadi. Tidak jauh mereka berlari, kembali terdengar suara gelak tawa orang terbawa angin.

"Ternyata tidak salah dugaanmu, mereka mengalami sesuatu," kata Lamkiong Peng.

"Kedua nona itu sama-sama menguasai kepandaian tinggi. Bila menghadapi kejadian di luar dugaan, mustahil mereka tetap duduk diam saja hanya untuk berebut kemenangan yang tidak ada artinya itu," ujar Ban Tat.

"Tapi watak kedua orang itu terkadang memang sukar dimengerti..." Belum habis ucapan Lamkiong Peng, sekonyong-konyong berkumandang lagi suara tertawa keras.

"Biar kupergi dulu!" seru Lamkiong Peng sambil mendahului berlari secepat terbang.

Hanya sekejap saja ia sudah sampai di tempat duduk Bwe dan Yap. Dilihatnya pemuda perlente, Cian Tong-lai, yang dibawanya dari Boh-liong-ceng itu sekarang sudah berdiri di depan Bwe Kiam-soat dan sedang membelai rambutnya sambil tertawa, "Ehm, halus dan lemas benar rambutmu, selicin sutra rasanya, sungguh beruntung aku..."

Dari jauh segera Lamkiong Peng membentak, "Berhenti, Cian Tong-lai!"

Saat itu Cian Tong-lai sedang tergiur. Dirasakannya sorot mata kedua nona yang gusar itu justru semakin menambah daya pikat mereka. Ia pikir bilamana mereka benar-benar benci kepadanya, mengapa mereka tidak segera melabraknya, tetapi tetap duduk diam saja tanpa peduli mereka dicolek dan diraba.

Bentakan Lamkiong Peng membuatnya terkejut. Cepat ia berpaling dan dilihatnya seorang pemuda tak dikenal sedang memburu tiba dengan cepat. Ia heran sekaligus mendongkol, segera ia balas membentak, "Siapa kau? Dari mana kau kenal namaku?"

Lamkiong Peng berhenti di depannya, dengan sorot mata tajam ia menjawab, "Aku yang membawamu ke sini dari Boh-liong-ceng, dengan sendirinya kutahu namamu."

"Ya, kau tidak sadar karena terbius. Jika tidak ditolong oleh Wiki, saat ini nasibmu pun sukar diramalkan," tutur Lamkiong Peng.

"Aku tak sadar... terbius... Wiki yang menolongku..." demikian Cian Tong-lai bergumam dengan terheran-heran.

"Ya, baru saja kau bebas dari bahaya, kenapa lantas berlaku tidak senonoh terhadap kaum wanita?" damprat Lamkiong Peng.

"E-eh, nanti dulu!" ujar Cian Tong-lai sambil menggoyangkan tangannya. "Urusan ini rada membingungkan. Tampaknya kedua nona itu seperti kenalanmu?"

"Memang betul," jawab Lamkiong Peng.

"Haha, pantas kau kelihatan cemas begini," ujar Cian Tong-lai dengan tertawa. "Cuma, jangan kau khawatir. Biasanya aku pun tahu baik dan jelek. Kau bilang telah membantuku, kau pun mengatakan mereka adalah sahabatmu, maka bolehlah kita bagi rata saja, seorang dapat satu, urusan lain boleh kita bicarakan nanti."

Mendongkol hati Lamkiong Peng oleh ucapan orang yang tidak pantas itu. Dengan menggereget ia mendamprat, "Kurang ajar! Sungguh tak disangka kau dapat bicara seperti ini. Tampaknya perlu kuberi hajar adat padamu."

Cian Tong-lai mendelik, jengeknya, "Hajar adat padaku? Haha, bagus..."

"Bagus apa?" bentak Lamkiong Peng sambil menampar muka orang itu. Tamparannya ini tidak memakai jurus serangan, melainkan serupa orang tua menghajar anak nakal saja.

Namun, Cian Tong-lai menghadapinya dengan tertawa, sikapnya pongah. Tamparan itu dianggapnya sepele, sekenanya ia hendak menangkis sambil mengejek, "Hm, hanya begini saja..."

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong dirasakan tenaga tamparan lawan sangat kuat. Tangan sendiri yang menangkis terasa kaku kesemutan, tanpa kuasa ia tergetar mundur beberapa tindak.

Sesuai dengan pesan si gelang terbang Wiki, mestinya Lamkiong Peng tidak bermaksud melukai Cian Tong-lai, tapi sikap orang yang congkak dan ucapannya yang menghina membuatnya tidak tahan. Sambil membentak, segera ia menubruk maju, sekaligus menghantam dua-tiga kali, selalu mengincar beberapa hiat-to penting di bagian iga lawan.

Meski lengan Cian Tong-lai masih terasa kemeng, namun gerakannya tidak kurang gesit. Dengan cepat ia mengindar dan balas menyerang beberapa kali. Keduanya sama terkesiap oleh ketangkasan lawan dan tidak berani lagi saling meremehkan.

Dalam pada itu Ban Tat telah memburu tiba. Ia pun terkejut melihat pertarungan sengit kedua orang itu. Apalagi dilihatnya air muka Bwe Kiam-soat dan Yap Man-jing juga menunjukkan rasa cemas, mau tak mau ia ikut prihatin.

Mendadak terdengar suitan Lamkiong Peng. Kedua tangan menghantam susul-menyusul dengan jurus "Ciam-thian" atau naga sembunyi melambung ke langit. Diam-diam Ban Tat bergirang, ia pikir sekali anak muda itu mengeluarkan jurus serangan andalan perguruannya, kemenangan tentu tidak perlu diragukan lagi.

Tak tersangka, Bwe Kiam-soat dan Yap Man-jing justru sama menjerit khawatir, berbareng mereka pun menubruk maju. Kiranya selama beberapa hari ini Lamkiong Peng sudah terlampau letih, ia sudah kehabisan tenaga sehingga gerak-geriknya mulai lamban. Jurus Ciam-liong-sing-thian itu dilancarkannya dengan terpaksa, tujuannya hanya untuk gugur bersama musuh.

Namun, Bwe Kiam-soat dan Yap Man-jing yang menyaksikan dari samping jauh lebih jelas. Mereka tahu tenaga murni Lamkiong Peng sudah habis; dengan melancarkan serangan maut itu, keadaan anak muda itu justru lebih celaka daripada selamatnya. Maka mereka terus menubruk maju untuk membantu.

Cian Tong-lai mendengus sembari menggeser ke samping. Ketika Lamkiong Peng yang melambung ke atas itu mulai turun, segera ia pun bersuit dan bermaksud melompat untuk menyongsong lawan.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari kanan-kiri menubruk tiba dua sosok bayangan orang dengan angin pukulan dahsyat. Ia terkejut, cepat ia berputar melepaskan diri dari gencetan itu. Sementara Lamkiong Peng sudah melayang turun. Karena sasarannya keburu menggeser, ia cepat menggunakan gerakan "Sinin" atau naga sakti memainkan awan; dengan berjumpalitan ia tancapkan kakinya di tanah dengan enteng.

Sempat dilihatnya Bwe Kiam-soat dan Yap Man-jing sama meliriknya sekejap, habis itu mereka terus menerjang lagi ke arah Cian Tong-lai. Dari lirikan mereka itu jelas kelihatan perhatian mereka terhadap keselamatan Lamkiong Peng. Tergetar hati Lamkiong Peng. Ban Tat juga gegetun dan diam-diam ikut merasa bahagia bagi anak muda itu. Akan tetapi, sebagai orang tua yang sudah kenyang asam garam kehidupan, rasanya di balik kebahagiaan itu seperti ada sesuatu yang mengkhawatirkan.

"Haha, tampaknya kedua nona benar-benar ingin belajar kenal dengan kepandaianku, baiklah kuperlihatkan sejurus dua jurus istimewa, supaya kalian tahu siapa diriku," seru Cian Tong-lai dengan tertawa. Akan tetapi ketika selesai ucapannya, dia tidak sanggup tertawa lagi.

Mendadak Bwe Kiam-soat menotok empat kali ke beberapa hiat-to mematikan di tubuh Cian Tong-lai. Meski keempat hiat-to itu tersebar di bagian yang berbeda, namun gerak serangan Bwe Kiam-soat itu seakan-akan dilancarkan secara serentak. Terpaksa Cian Tong-lai melompat mundur dan terguncang oleh serangan maut lawan itu.

Tiba-tiba Bwe Kiam-soat tersenyum kepada Yap Man-jing dan berkata, "Yap moay-moay, boleh kau mundur saja, biar kulayani dia sendiri."

Akan tetapi alis Yap Man-jing seolah-olah menegak, tanpa bersuara ia pun menubruk maju dan melancarkan beberapa kali serangan kilat sehingga terpaksa Cian Tong-lai melayani dengan sama cepatnya.

"Haha, serangan bagus, kungfu lihai!" seru Bwe Kiam-soat dengan tertawa, "Adik yang baik, bukan maksudku bilang kepandaianmu rendah, cuma, untuk mengalahkan kungfu Tiau-thian-kiong dari Kun-lun-san ini bagimu masih belum ukurannya, maka lebih baik kau turuti ucapanku dan mundur saja."

Akan tetapi Yap Man-jing tetap tidak menjawab, melainkan melancarkan serangan lebih cepat lagi. Diam-diam Cian Tong-lai juga terkesiap oleh serangan si nona, di samping heran asal-usulnya dapat dikenali Bwe Kiam-soat.

"Adik yang baik, jika tidak mau kau turuti perkataanku, biarlah cici saja yang menyingkir?" kata Kiam-soat pula sembari menyurut mundur.

"He, apa maksudmu ini?" tanya Lamkiong Peng dengan bingung.

"Dua mengeroyok satu kan tidak pantas, biarlah dia mencoba sendiri, masa kau khawatir?" sahut Kiam-soat.

Air muka Lamkiong Peng tampak masam dan tidak menghiraukannya lagi. Ia mencoba mengikuti gerakan Cian Tong-lai yang aneh itu. Dilihatnya Yap Man-jing sekarang berbalik telah terkurung di bawah pukulannya yang lihai. Namun, Yap Man-jing masih dapat balas menyerang dengan sama gesitnya; meski agak terdesak di bawah angin, tapi belum ada tanda akan kalah.

Dengan tertawa Bwe Kiam-soat berolok pula, "Wah rupanya Yap Jiu-pek memang mengajarkan sejurus kungfu sakti kepada murid kesayangannya. Cuma tak diduganya kungfu ini tidak digunakannya untuk menghadapi murid Sin-liong, tapi murid Kun-lun-pai yang justru dilabraknya."

Lamkiong Peng mendengus saja. Sedang Ban Tat lantas mendekatinya dan berkata, "Tampaknya Nona Yap tidak..."

"Meski dua mengerubut satu, terpaksa harus kubantu dia," kata Lamkiong Peng.

Tiba-tiba terdengar Bwe Kiam-soat berucap dengan hampa, "Jangan kau khawatir, biar ku..." Serentak ia melompat maju dan melancarkan pukulan dahsyat. Terpaksa Cian Tong-lai menarik serangannya terhadap Yap Man-jing untuk melayani Bwe Kiam-soat. Dengan demikian Yap Man-jing jadi bebas tekanan. Ia menghela napas dan menyingkir ke pinggir kalangan.

Ban Tat merasa lega, ucapnya, "Pantas nama Kongjiok Huicu termasyhur, ternyata benar..." Jelas dia sangat kagum terhadap kelihaian kungfu Bwe Kiam-soat.

Setelah termenung sejenak memandang bayangan Cian Tong-lai, Yap Man-jing menghela napas, lalu menunduk, perlahan membalik tubuh, dan melangkah pergi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment