Chapter 62
"Nona Yap!" seru Lamkiong Peng sambil melompat ke samping gadis itu. "Masa engkau hendak pergi?"
Manjing tetap menunduk, jawabnya pelan, "Ya, aku pergi."
"Tapi guruku..." Belum sempat Lamkiong Peng melanjutkan ucapannya, terdengar bentakan Bwe Kiam Soat, "Berhenti dulu!"
Lamkiong Peng dan Yap Manjing serentak berpaling. Mereka melihat Cian Tong-lai sedang menyerang, namun karena bentakan Bwe Kiam Soat, ia lantas menahan serangannya dan menegur, "Ada apa?"
Dengan lagak yang menggoda, Bwe Kiam Soat berucap sambil tersenyum, "Selama ini kita tidak memiliki permusuhan apa pun, untuk apa kita saling melukai hingga mati-matian?"
Cian Tong-lai memandangnya dengan tercengang, lalu menyahut dengan ragu, "Ya, memang tiada permusuhan di antara kita, buat apa kita mengadu nyawa?"
"Malahan, sebenarnya kita dapat saling bertukar kepandaian sejurus dua. Dengan begitu, siapa pula tokoh kangouw zaman ini yang mampu menandingi kita?" kata Kiam Soat lagi.
Cian Tong-lai tertawa senang, "Benar, bilamana kita saling mengajar sejurus dua, haha, bagus sekali!"
"Tutup mulut!" bentak Lamkiong Peng tiba-tiba.
"Kau mau apa?" ejek Kiam Soat dengan muka dingin.
"Aku..." Lamkiong Peng gelagapan.
"Jangan urus dia," ucap Kiam Soat kepada Cian Tong-lai. Lalu ia memandang Lamkiong Peng dengan tajam dan berkata, "Aku bukan sanak kandungmu, urusanku tidak perlu kau turut campur. Soal pesan tinggalan Liong Po Si juga tidak ada sangkut pautnya denganku. Silakan kau bawa Nona Yap itu untuk melaksanakan pesan gurumu."
Seketika Lamkiong Peng berdiri terkesima. Bwe Kiam Soat tersenyum kepada Cian Tong-lai, katanya, "Mari kita pergi mencari tempat bersantap, perutku lapar."
Dengan tersenyum, Cian Tong-lai mengangguk, lalu keduanya melayang pergi. Sebelum hilang, Cian Tong-lai sempat menoleh dan berteriak kepada Lamkiong Peng, "Jika kau ingin bertanding denganku, silakan pulang dan berlatih lagi tiga tahun, baru boleh coba mencariku lagi."
Setelah ia berlalu, hanya suara tawa pongahnya yang berkumandang dalam kegelapan. Lamkiong Peng berdiri terpaku. Suara tawa itu terasa menusuk perasaannya. Sambil mengepal erat tinjunya, ia membatin, "Bwe Kiam Soat, Bwe Leng Hiat, sungguh berdarah dingin."
Menyaksikan kepergian Bwe Kiam Soat, mendadak Yap Manjing mendengus, "Kenapa tidak kau susul dia?"
Lamkiong Peng menghela napas, "Kenapa harus kususul dia?"
"Hm, dasar tidak punya perasaan," ejek Manjing sambil melengos.
Tiba-tiba Manjing berpaling dan berkata, "Dia sangat baik padamu, masa engkau tidak tahu dan tidak menghiraukannya?"
Lamkiong Peng makin heran, "Masa... masa dia bermaksud baik padaku?"
"Jika dia tidak baik padamu, mana mungkin dia menaruh perhatian terhadap keselamatanmu?"
"Tapi... tapi dia... telah pergi bersama..."
"Dia berbuat begitu justru lantaran cemburu ketika ada anak perempuan lain mencarimu," tiba-tiba Manjing menambahkan dengan serius, "Ia tidak tahu maksudku mencarimu adalah untuk memenuhi janjiku terhadap gurumu."
Bingung juga Lamkiong Peng memikirkan perasaan perempuan yang sukar dimengerti itu. Katanya kemudian, "Meski Nona Bwe telah pergi, hal itu disebabkan rasa gusar yang timbul seketika. Nanti dia pasti akan..." Sampai di sini, mendadak ia teringat sesuatu dan berteriak, "Hei, di mana Yap-siang-jiu-loh?"
"Yap-loh apa?" tanya Ban Tat dengan bingung.
"Itu pedang pusaka tinggalan guruku. Senjata itu tadi kutaruh di samping Tik Yang," seru Lamkiong Peng.
Ban Tat melongo, "Tapi pada waktu Tik Yang berlari pergi, tampaknya dia tidak membawa sesuatu."
"Ayo, aku harus..."
"Kau mau ke mana?" tanya Manjing. "Apakah engkau tidak ingin membaca dulu surat wasiat tinggalan gurumu?"
"O, apakah surat wasiat guruku berada pada Nona?" tanya Lamkiong Peng.
Perlahan, Manjing mengeluarkan sepucuk surat sambil melirik sekejap, lalu surat itu disodorkannya. Lamkiong Peng menerima surat itu dan berkata, "Tapi menurut perintah suhu, tiga hari kemudian..."
"Jika engkau tidak pulang ke Jiceng, apa halangannya bila kau baca saja surat ini? Kalau tiga urusan yang ditentukan oleh gurumu memerlukan bantuanku, biarlah kita lekas menyelesaikannya. Dengan begitu, aku pun bisa cepat terlepas dari urusanmu."
Perlahan Lamkiong Peng membuka sampul surat. Tulisan tangan yang sangat dikenalnya segera terpajang di depan mata.
Isi surat itu berbunyi:
*Anak Peng, aku sudah tua dan mendahului pergi. Jiceng bukanlah tempat kediamanmu yang abadi, perusahaan orang tuamu juga perlu pimpinanmu. Kau lahir dari keluarga ternama, bakatmu pun tidak terbatas. Hari depanmu sungguh gilang-gemilang.*
*Seorang lelaki sejati memerlukan pembantu rumah tangga yang bijaksana. Untuk ini, perlu kau dapatkan istri yang baik. Nona Yap Manjing pintar lagi cerdas, dia gadis pilihan yang cocok untuk mendampingi hidupmu. Inilah pesanku yang pertama.*
*Sayang sekali Liong-hui tidak punya keturunan, karena itulah kuharap bila anakmu lebih dari satu, hendaknya seorang kau berikan she Liong untuk menyambung keturunan keluarga Liong. Inilah pesanku yang kedua.*
Membaca sampai di sini, muka Lamkiong Peng menjadi merah. Sungguh tak terduga olehnya pesan tinggalan sang guru justru menyangkut perjodohan dengan Yap Manjing. Ia membaca lagi:
*Selain itu, selama ini di dunia persilatan tersiar berita misterius bahwa tempat suci dunia persilatan bukanlah Siong-san Siau-lim-si, juga bukan Kun-lun atau Bu-tong-san, melainkan terletak di suatu istana dan suatu pulau. Pulau itu bernama "Cu-sin" (para dewa). Di mana letak tempatnya sukar ditemukan.*
*Konon, Kun-mo-to adalah pulau kediaman manusia jahat dan keji di dunia ini, sedangkan istana para dewata dihuni oleh manusia bajik dan bijak. Akan tetapi, jika tidak menguasai ilmu silat mahatinggi, siapa pun sukar memasuki istana dan pulau itu selangkah pun.*
Tergetar juga hati Lamkiong Peng membaca sampai di sini. Ia merasa urusan ini benar-benar misterius dan penuh teka-teki. Ia coba membaca lagi:
*Pada waktu masih muda, sudah kudengar cerita tentang istana dan pulau misterius ini. Akan tetapi, orang yang bercerita selalu memperingatkan padaku agar selama hidup hanya boleh meneruskan kisah ini satu kali dan kepada seorang saja. Selama hidupku telah berkelana menjelajahi dunia, namun kedua tempat itu tetap tidak dapat kutemukan. Sekarang aku pergi dan cerita ini kusampaikan kepadamu dan Manjing. Tentu saja kalian tidak boleh sembarangan menceritakan lagi kepada orang lain. Jika kalian ada jodoh, mungkin sekali kalian akan mampu menemukan kedua tempat misterius itu untuk menyelesaikan cita-citaku yang belum terlaksana.*
Sekaligus Lamkiong Peng membaca habis surat ini, lalu ia memejamkan mata. Dalam benaknya terbayang dua lukisan; yang satu istana megah serupa kediaman malaikat dewata, dan tempat yang lain adalah sebuah pulau dengan gunung di kejauhan yang diliputi kabut tebal, suasana seram dengan binatang buas dan makhluk berbisa.
Melihat anak muda itu termangu-mangu dengan air muka yang berubah-ubah, Yap Manjing merasa heran, tegurnya, "Sudah selesai kau baca?"
Terkejut Lamkiong Peng dan tersadar dari lamunannya, jawabnya sambil menyembunyikan surat itu di punggung, "O, sudah habis kubaca."
"Hm, memangnya kau kira aku ingin tahu isi surat gurumu?" ejek Manjing. "Aku cuma ingin tanya, apakah ketiga pesan gurumu itu ada sangkut pautnya dengan diriku?"
Lamkiong Peng berdeham pelan, jawabnya dengan tergagap, "O, tentang ini... ini..." Dengan sendirinya ia rikuh untuk menjelaskan bahwa bukan cuma ada sangkut pautnya, tapi justru sangat berkepentingan.
Alis Manjing menegak, katanya pula, "Baiklah, jika tidak ada sangkut pautnya denganku, biarlah aku pergi saja."
"Nona Yap..."
"Ada apa lagi?"
"Ini... ini..." Lamkiong Peng menjadi bingung. Meski sang guru memberi pesan, tapi urusan ini mana bisa dilakukannya begitu saja.
Dalam pada itu, Yap Manjing telah melangkah melewatinya dan mendadak merampas surat itu sambil mengomel, "Gurumu menyuruh kau baca surat ini bersamaku, kenapa engkau cuma membaca sendiri? Sebaiknya kulaksanakan pesan beliau..."
Sembari bicara, ia terus membaca isi surat itu. Seketika mukanya yang dingin itu berubah merah sambil mendekap mulut dengan suara agak gemetar, "O, kau..."
Lamkiong Peng juga serba salah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tiba-tiba Manjing menjerit terus berlari ke depan. Tapi baru beberapa langkah, sekonyong-konyong di tengah malam yang sunyi timbul suara yang aneh—suara gemeresak serupa hutan bambu tertiup angin yang datang mendekat.
Baik Lamkiong Peng maupun Yap Manjing sama terkejut. Serentak si nona melompat kembali ke samping Lamkiong Peng sambil bertanya, "Apakah ini?"
Suara gemeresak itu sungguh sangat mengerikan. Lamkiong Peng juga bingung dan coba memandang ke arah Ban Tat. Orang tua itu kelihatan pucat dan sedang menatap ke depan dengan kedua tangan merogoh saku seperti hendak mengambil sesuatu. Jarang jago tua ini memperlihatkan rasa prihatin seperti ini.
Lamkiong Peng sendiri juga terkesiap, namun ia coba menghibur Manjing, "Tak apa-apa, jangan khawatir..."
Belum habis ucapannya, dari depan sudah muncul sesosok bayangan orang yang berjalan mundur. Agaknya di depannya terjadi sesuatu yang mengerikan sehingga membuatnya tidak berani membalik tubuh dan lari. Suara gemeresak itu semakin keras, sebaliknya langkah mundur orang ini tambah lambat, agaknya kakinya menjadi lemas saking ketakutan.
"Sahabat..." baru saja Lamkiong Peng hendak menegur, sekonyong-konyong orang ini menjerit kaget sambil membalik tubuh.