Chapter 63
Lamkiong Peng melongo, ia mencoba menegur lagi, "Sahabat ini..." Mendadak orang di belakangnya berteriak dan terus bersembunyi di punggungnya, mungkin saking ngerinya sehingga tidak sanggup bersuara.
Saat Manjing memandang ke sana, tampak dari kegelapan membanjir keluar berpuluh-puluh ular hijau berbisa. Kiranya suara gemersak tadi berasal dari kawanan ular ini. Tanpa terasa ia menjerit kaget dan menubruk ke dalam rangkulan Lamkiong Peng.
Mendadak Ban Tat membentak, kedua tangannya bergerak, segera selapis kabut kuning bertebaran dan jatuh lima enam kaki di depan mereka. Suara gemersik tadi mulai mereda. Tampak di belakang kawanan ular itu mengikuti pula serombongan pengemis dengan baju compang-camping dan rambut semrawut. Perawakan kawanan pengemis ini aneh, namun wajah mereka sama-sama kelihatan kelam dan seram. Tahu-tahu mereka muncul dari kegelapan seperti kawanan setan yang membanjir keluar dari neraka.
Yap Manjing merangkul Lamkiong Peng dengan erat. Mendadak ia merasakan tubuh anak muda itu gemetar. Tentu saja ia heran. Sekilas melirik, baru diketahuinya orang botak aneh itu juga telah merangkul pinggang Lamkiong Peng dari belakang. Karena kakek itu gemetar ketakutan, tubuh Lamkiong Peng ikut terguncang.
Ular hijau yang berbentuk jelek dengan sinar mata gemerlap itu sedang merayap di tanah becek. Tampaknya lambat, sebenarnya sangat cepat. Hanya sekejap saja, kawanan ular sudah merayap sampai di depan garis kuning yang ditebarkan oleh Ban Tat. Dengan waswas Ban Tat memandangi kawanan ular yang merayap-rayap itu. Ada yang melingkar dan ada yang mendesis dengan menjulurkan lidahnya yang merah, namun tiada seekor pun yang berani mendekati garis kuning.
Sekilas pandang saja Lamkiong Peng dapat menghitung kawanan pengemis ini terdiri dari tujuh belas orang. Semuanya berwajah bengis, namun di mulut mereka justru sedang memohon, "Kasihan Tuan, sudilah memberi sedikit sedekah dari isi saku Tuan." Suara minta-minta itu terus diulang, seorang disusul yang lain dan terus-menerus oleh ketujuh belas mulut.
Sekonyong-konyong dilihatnya Ban Tat menggeser posisi, agaknya hendak menyembunyikan ekor ular yang dibunuhnya tadi supaya tidak terlihat oleh kawanan pengemis aneh itu. Suara mendengus tadi sudah berhenti, sebaliknya suara mohon kasihan bertambah ramai. Jika tidak melihat wajah kawanan pengemis itu, suara minta-minta mereka sungguh menimbulkan rasa iba. Tapi wajah mereka yang seram penuh nafsu membunuh itu membuat suara minta-minta mereka terasa mengerikan.
Mendadak Ban Tat membentak, "Apakah kawan-kawan ini datang dari 'nerakanya neraka' di Kwangwa?"
Suara minta-minta tadi serentak berhenti, ketujuh belas pasang mata menatap Ban Tat. Seorang pengemis bertubuh jangkung dan kurus kering, tapi matanya bersinar tajam dengan wajah pucat pasi, perlahan melangkah maju. Langkahnya enteng mengambang, seperti setiap saat bisa kabur tertiup angin. Baju compang-camping yang dipakainya sangat longgar sehingga menggembung tertiup angin.
Serupa badan halus saja ia melayang lewat garis kuning itu. Ia tersenyum seram terhadap Ban Tat, lalu berucap, "Kau kenal padaku?"
Biarpun Ban Tat sudah berpengalaman luas, menghadapi pengemis aneh ini timbul juga rasa seramnya. Ia menjawab dengan suara agak gemetar, "Apakah sahabat ini adalah Yukai (kawanan pengemis badan halus) yang tersiar di dunia kangouw itu?"
Pengemis aneh yang serupa badan halus ini mendengus, "Betul, nerakanya neraka, pengemis badan halus, setan jahat, arwah miskin, minta sedekah dengan paksa... Hehe, tampaknya belum pernah kau masuk neraka, dari mana kau kenal kawanan setan jahat seperti kami ini?"
Dia bicara seperti bertembang, lalu disusul suara kawanan pengemis aneh yang menirukan tembangnya sehingga terdengar di tengah malam gelap seakan-akan jeritan setan. Tanpa terasa Ban Tat menyurut mundur, katanya pula, "Yukai biasanya tidak mau minta emas di bawah seribu tail atau perak kurang dari selaksa tail. Padahal kami tidak membawa benda berharga, jangan-jangan sahabat salah alamat minta sedekah pada kami?"
Tergerak juga hati Lamkiong Peng. Ia segera teringat kepada asal-usul kawanan pengemis aneh ini. Pikirnya, "Biasanya kawanan pengemis setan kelaparan ini tidak pernah masuk ke pedalaman sini. Apakah mungkin kedatangan mereka ini hanya karena menyusul seorang tua aneh yang serupa pengemis ini?"
Terdengar pengemis jangkung tadi mendengus, "Yang hendak kami cari tentu saja bukan dirimu, memangnya sengaja kau cari gara-gara kepada kawanan setan?" Mendadak ia melompat ke depan Lamkiong Peng dan menjengek pula, "Anak muda, terlebih jangan cari perkara kepada setan, juga jangan merintangi jalan lalu setan, tentu kau tahu."
"Anda ini Ih Pangcu atau Song Pangcu, Song Cing?" jawab Lamkiong Peng dengan lantang dan tenang, tidak terkejut juga tidak gentar.
Gemerlap sinar mata pengemis jangkung ini, ia tertawa terkekeh, "Meski setan ganas Song Cing tidak hadir, kedatanganku, Ih Hong si arwah rudin, tetap sanggup mengakhiri riwayat seseorang. Jika kau tahu asal-usul kawanan setan di sini, apakah minta dilalap oleh kawanan setan?"
Serentak kawanan pengemis bersorak, "Lalap saja, lalap saja!"
Sementara itu, Yap Manjing sudah menenangkan diri, jengeknya, "Huh, main setan-setanan untuk menakuti orang, sungguh konyol!"
Ih Hong menyeringai, "Hehe, nona manis 18-19 tahun berangkulan dengan pemuda di depan umum dan berani pula usil mulut; di neraka sana juga tidak mau menerima setan perempuan yang tidak tahu malu serupa dirimu."
Muka Manjing menjadi merah, segera ia membentak, "Keparat!" Selagi ia hendak melancarkan pukulan, mendadak Lamkiong Peng menarik lengan bajunya dan mendesis, "Ssst, tahan dulu!"
"Kawanan jembel ini berlagak setan segala dan minta secara paksa, untuk apa banyak bicara dengan mereka?" ujar Manjing dengan mendongkol.
Tapi Lamkiong Peng bicara dengan serius, "Sebagai pengemis, adalah jamak mereka minta-minta. Orang kangouw umumnya suka pakai nama atau julukan yang aneh, bahwa mereka menamai diri sendiri sebagai setan juga bukan suatu kejahatan. Orang tidak bermaksud jahat kepada kita melainkan cuma minta kita memberi jalan padanya, mana boleh kita sembarangan menyerangnya?"
Si arwah rudin Ih Hong mestinya akan mendamprat demi mendengar komentar Lamkiong Peng itu, tetapi ia justru tercengang. Baru sekarang sejak tampil di dunia kangouw ada orang memberi penilaian demikian padanya. Yap Manjing juga tercengang dan tidak jadi bertindak. Entah mengapa, anak perempuan yang dingin dan angkuh ini sekarang berubah lembut.
Sedangkan si kakek botak aneh tadi lantas berseru khawatir, "He, masa... masa akan kaubiarkan kawanan setan kelaparan ini merampas barang seorang kakek rudin seperti diriku ini?"
Lamkiong Peng tersenyum, "Sudah lama kudengar kawanan pengemis badan halus suka berkeliaran di dunia ramai, bilamana minta-minta juga tidak melampaui separuh milik orang. Malahan juga sering merampas yang kaya untuk menolong yang miskin, hal ini sudah lama kukagumi. Tapi sekarang rombongan kalian justru mengejar dan mendesak terhadap seorang tua lemah begini, sungguh membuatku sangat heran." Dia bicara dengan lugas dan terus terang, sedikit pun tidak berlagak.
Ih Hong tertawa, "Haha, tak tersangka anak muda belia seperti kau ini juga tahu sejelas ini mengenai kawanan setan lapar kami." Tertawanya sekarang seperti timbul dari lubuk hati yang bersih sehingga sama sekali tidak berbau setan lagi.
Diam-diam Ban Tat membatin, "Sudah lama kuberitahukan kepadanya tentang kawanan setan lapar ini, tak terduga dia masih ingat sejelas ini."
Terdengar Ih Hong berhenti tertawa dan berkata, "Dan bila kau tahu sejelas ini mengenai kami, tentu kau pun tahu kawanan setan sekali sudah keluar tentu takkan pulang dengan tangan hampa. Maka sebaiknya engkau jangan ikut campur urusan ini." Sekali berkelebat, mendadak ia melompat ke belakang Lamkiong Peng.
"Tolong!" cepat si kakek botak berteriak.
Tapi Lamkiong Peng lantas mengadang di depan Ih Hong, "Apabila Anda bertindak terhadap seorang kakek rudin seperti ini dan mendesaknya, sungguh aku harus menyatakan rasa kecewa kepada nama baik kalian."
Ih Hong berhenti di tempatnya, jengeknya mendadak, "'Kakek rudin'? Hm, kaubilang dia kakek rudin? Jika dia tidak kaya raya melebihi dirimu dan tidak berbudi, masa kawanan setan sampai turun tangan padanya?"
Lamkiong Peng melongo bingung. Si kakek botak lantas berteriak, "Jangan kau percaya kepada ocehannya, mana bisa aku kaya..."
"Orang she Ih," sela Manjing mendadak, "Kau bilang dia kaya raya?"
"Ya," jawab Ih Hong ketus.
"Apa buktinya? Jika salah, lantas bagaimana?" tanya Manjing.
"Kawanan pengemis setan bermata setajam sinar kilat dan tidak pernah salah lihat. Apabila salah lihat, kami rela kelaparan sepuluh tahun dan segera pulang kandang..."
"Betul?" Manjing menegaskan.
"Anak perempuan ingusan, kau tahu apa?" jengek Ih Hong. "Meski Lo-lo-si itu tampaknya rudin, padahal dia kaya raya. Yang kami minta sekarang tidak lebih hanya separuh barang yang berada dalam karungnya itu, yang kami minta kan cukup pantas. Kawanan pengemis setan biasanya tidak suka mengganggu orang miskin, kalau tidak, mana bisa budak ingusan seperti dirimu dibiarkan ikut bicara."
"Hm, kau tahu siapa dia?" jengek Manjing sambil memandang Lamkiong Peng. Ih Hong juga memandang anak muda itu dari kaki ke kepala, lalu ia putar ke kanan dan balik lagi ke kiri.