Chapter 64
Dengan kening berkerut, Lamkiong Peng ikut berputar ke sana-sini dan tetap mengadang di depannya.
"Hm, tampaknya serupa putra keluarga hartawan," ejek Ih Hong kemudian. "Cuma sayang, dalam sakumu juga tidak banyak isinya."
"Memangnya pada baju orang tua ini banyak isinya?" tanya Manjing.
"Yang kontan memang tidak ada, tapi *gin bio* (sejenis cek) tidak sedikit yang dibawanya. Namun, yang kuminta juga bukan *gin bio* melainkan..." Belum habis ucapan Ih Hong, mendadak si kakek botak membalik tubuh terus berlari.
"Memangnya dapat kau lari!" jengek Ih Hong.
Ucapannya sangat manjur. Mendadak si kakek botak alias Lo-lo-si berhenti berlari dan menyurut mundur dengan takut. Kiranya di depannya kembali mengadang beberapa ekor ular hijau.
"Nah, Nona Cilik, tidak perlu banyak omong lagi. Kecuali putra keluarga hartawan Lamkiong di daerah Kanglam, di dunia *kangouw* tidak ada orang lain yang lebih kaya daripada Lo-lo-si ini. Kenapa kalian berdua suka ikut campur urusan? Untung aku yang kalian hadapi, jika bertemu setan ganas Song Cing, bisa celaka kalian."
"Cayhe sendiri ialah Lamkiong Peng," tiba-tiba Lamkiong Peng memperkenalkan diri.
Keruan Ih Hong melengak. Mendadak ia melangkah maju, sebelah tangannya terus menghantam dada Lamkiong Peng. Serangan ini di luar dugaan siapa pun dan dilakukan secepat kilat. Terlihat lengan bajunya yang longgar itu berkibar, tahu-tahu telapak tangannya sudah dekat dengan dada sasarannya.
Lamkiong Peng membentak perlahan, telapak tangannya berjaga di depan dada, sementara jari tangan kanan membalas menutuk *Kik-ti-hiat* bagian iga lawan. Serangan ini sekaligus juga untuk berjaga diri. Inilah salah satu jurus andalan perguruannya yang disebut *Ciamciau* (empat jurus naga bersembunyi) yang biasanya jarang diperlihatkan jika tidak terdesak.
Tak tersangka, belum lagi saling beradu tangan, serentak Ih Hong melompat mundur. Katanya dengan geram, "Ternyata benar murid Sin-liong dan putra Lamkiong. Bagus, Lo-lo-si, keenakan bagimu hari ini."
Sekali ia memberi tanda, segera bergema pula suara sempritan, lalu ramailah suara mendesis. Kawanan ular hijau yang berputar-putar di depan garis kuning itu serentak melejit ke dalam lengan baju kawanan pengemis.
"Nanti dulu, Ih Pangcu," seru Lamkiong Peng.
"Setelah kalah bertarung, dengan sendirinya harus angkat kaki," kata Ih Hong. "Meski kawanan setan kelaparan biasanya suka meminta-minta secara paksa, tapi selamanya juga memegang janji. Bahkan ular hijau yang dibunuh tua bangka itu juga tidak perlu kutuntut ganti rugi lagi."
Gerak-gerik kawanan pengemis berbadan halus ini benar-benar serupa setan. Hanya sekejap saja mereka sudah menghilang.
Yap Manjing tertawa, katanya, "Meski kawanan pengemis ini suka berlagak setan dan main gertak, tapi kelakuan mereka pun tidak terlalu jahat."
Lamkiong Peng sendiri sedang berpikir, "Kawanan pengemis ini pasti ada hubungan erat dengan Suhu. Kalau tidak, masakah hanya bergebrak satu kali saja lantas mengenali asal-usul perguruanku?"
"Meski *Go-kui-pang* (gerombolan setan lapar) ini tidak menentu baik jahatnya, tapi sasaran yang mereka incar biasanya pasti manusia kaya yang tidak berhati baik," ujar Ban Tat sambil menatap kakek botak tadi.
Kakek itu ternyata sedang memandang Lamkiong Peng dengan terkesima, tampaknya kagum dan juga iri. Mendadak ia menjura kepada anak muda itu. Cepat Lamkiong Peng membalas hormat, katanya kemudian, "Ah, hanya urusan kecil begini, buat apa Lotiang (Bapak) memberi hormat sebesar ini?"
"Ya memang urusan kecil, mestinya aku tidak perlu banyak adat, penghormatan sekadar saja sudah cukup," kata kakek botak itu. "Tapi yang kau selamatkan adalah harta bendaku dan bukan menolong jiwaku, sebab itulah penghormatanku harus kuberikan dengan sepenuhnya."
Yap Manjing dan Lamkiong Peng saling pandang dengan bingung. Si botak lantas menyambung, "Keluarga Lamkiong kaya raya menjagoi dunia. Jika engkau benar Lamkiong Kongcu, pasti engkau lebih kaya daripada aku. Sebab itulah penghormatanku ini juga harus kulakukan dengan sebesar-besarnya."
"O, apakah penghormatanmu ini ditujukan kepada uangnya?" ujar Manjing.
"Memang betul, malahan penghormatanku ini juga ditujukan kepada ayahnya yang kaya itu," ujar si kakek botak.
Lamkiong Peng melongo oleh uraian orang yang luar biasa ini.
"Jadi yang kau hormati adalah kekayaan seseorang? Bagimu uang di atas segalanya, begitu bukan?" tanya Manjing.
Dengan serius si kakek botak menjawab, "Benda apa pun di dunia ini tidak ada yang lebih penting daripada uang. Di dunia ini tidak ada yang berharga selain sepotong uang perak. Dengan sendirinya dua potong uang perak akan lebih berharga lagi, dan yang lebih berharga daripada dua potong uang perak adalah tiga..."
"Tiga potong uang perak, begitu bukan?" tukas Manjing. Mendadak ia menepuk pundak Lamkiong Peng dan tertawa geli.
"Jika begitu, tentu engkau ini sangat kaya. Rupanya Yukai itu memang tidak salah lihat," kata Ban Tat dengan tertawa.
Air muka si kakek botak berubah seketika, sahutnya sambil merangkul erat karung goni yang dibawanya, "O, tidak, tidak! Mana aku punya duit..." Karena gugupnya, tanpa terasa ia bicara dengan logat kampungnya.
Lamkiong Peng menahan rasa gelinya dan berkata, "Lotiang ternyata tahu cara menyayangi duit, sungguh aku sangat kagum..."
"Saat ini orang yang meminta duit padamu sudah pergi, tentu kau pun boleh pergi saja," sela Manjing. Tiba-tiba teringat kepada urusan sendiri, perlahan ia berkata pula, "Dan aku pun akan pergi."
Ban Tat berdehem, "Setelah bertemu dengan Kongcu dan ternyata tidak berkurang suatu apa pun, sungguh aku sangat gembira. Segera aku akan menuju ke Kwangwa. Entah Kongcu akan pergi ke mana?"
"Aku..." tiba-tiba timbul rasa kesepian dalam hati Lamkiong Peng, "Aku ingin pulang ke rumah dulu, kemudian..." ia memandang jauh ke depan dengan hampa.
"Jika begitu..." sela Manjing tidak melanjutkan ucapannya. Dia masih memegang surat tinggalan Putliong; sesungguhnya dia sangat berharap sepatah kata dari Lamkiong Peng saja dan dia rela mendampingi anak muda itu selamanya. Akan tetapi, hati Lamkiong Peng terasa pedih dan tidak sanggup berucap.
Diam-diam Ban Tat menghela napas, katanya, "Jika Nona Yap tidak ada urusan, apa salahnya berangkat ke Kanglam bersama Lamkiong Kongcu. Semoga kalian menjaga diri dengan baik, kumohon diri dulu." Ia memberi hormat terus melangkah pergi.
"Tik Yang keracunan dan menjadi gila, ke mana perginya juga tidak jelas. Apakah engkau tidak mau ikut mencarinya bersamaku?" tanya Lamkiong Peng.
Seketika Ban Tat berhenti dan berpaling kembali. Tiba-tiba si kakek botak berkata, "Tik Yang yang kau maksudkan itu apakah seorang pemuda berpedang dan keracunan parah itu?"
"Betul," jawab Ban Tat dengan girang.
"Dia sudah ditolong Yan-pek (arwah cantik) Ih Lo dari kawanan setan lapar itu serta dikirim ke Kwangwa," tutur kakek botak itu. "Untung mendadak ia muncul mengganggu, kalau tidak, mana bisa kulari sampai di sini. Tampaknya Ih-jinio itu rada menaksir padanya dan tentu takkan menyusahkannya. Kukira kalian tidak perlu khawatir baginya."
Lamkiong Peng menghela napas lega, tanyanya, "Dan entah perempuan macam apakah Ih-jinio yang berjuluk arwah cantik itu?"
"Orang baik tentu akan selamat. Setiba di Kwangwa nanti tentu akan kucari jejak Tik Kongcu," kata Ban Tat. "Menurut pandanganku, Ih-jinio pasti bukan orang jahat, apalagi dia menaksir Tik Kongcu. Kalau tidak, mustahil dia mau pulang ke Kwangwa secepat itu. Setiba di sana tentu dia akan berdaya sebisanya untuk menolong Tik Kongcu. Kalian tahu, ketulusan hati dan kemurnian cinta terkadang menimbulkan kekuatan yang sukar dibayangkan."
"Kemurnian cinta terkadang menimbulkan kekuatan yang sukar dibayangkan," ucapan ini terus menyelimuti benak Yap Manjing.
Waktu ia mengangkat kepala, dilihatnya Ban Tat sudah pergi jauh. Sekian lama Yap Manjing berdiri terkesima, dilihatnya muka Lamkiong Peng rada pucat dan diam saja. Mendadak si nona menghentakkan kaki dan melengos. Ditunggunya sekian lama dan Lamkiong Peng tetap tidak bicara apa pun padanya, akhirnya gadis yang berhati keras ini pun melangkah pergi.
Dengan terkesima, Lamkiong Peng memandangi bayangan si nona. Ucapan Ban Tat tadi pun berkecamuk dalam benaknya. Samar-samar muncul berbagai bayangan orang; tiba-tiba dirasakan sebagai bayangan Bwe Kiam Soat, tapi dirasakan pula seperti bayangan Yap Manjing. Kelelahan dan kelaparan selama beberapa hari, pertentangan batin, dan kusut memikirkan cinta, semua itu memeras tenaga dan pikirannya. Mendadak dirasakan tangan dan kaki lemas, seperti menginjak tempat kosong, terus roboh.
Si kakek botak menjerit kaget.
Yap Manjing sedang melangkah ke sana, melangkah lambat. Demi mendengar suara jeritan itu, tanpa terasa ia berpaling. Ketika diketahuinya Lamkiong Peng tergeletak di tanah, secepat terbang ia berlari kembali. Kekuatan apa pun di dunia ini tidak dapat mencegahnya untuk tidak menghiraukan anak muda itu.
Di ufuk timur sudah mulai remang-remang terang, hawa sejuk. Sebuah kereta berkabin tampak dilarikan menuju ke Sunyang dari kota Se-an. Kakek aneh yang berdandan nyentrik dan botak kelimis itu setengah berbaring di depan kabin sambil tetap merangkul erat karung goni yang dibawanya. Dari dalam kereta terkadang ada suara rintihan dan keluhan sedih dua orang.
Tiba-tiba si kakek botak mengetuk dinding kabin dan berseru, "Hei, Nona Cilik, apakah kau bawa uang perak!?"
"Bawa," jawab suara orang perempuan dengan marah dari dalam kereta.
Dengan sungguh-sungguh si kakek berkata pula, "Ke mana pun pergi, duit tidak boleh kekurangan." Ia tersenyum puas, lalu memejamkan mata dan mengantuk.
Setiba di Sunyang, hari sudah gelap, lampu sudah dinyalakan sana-sini. Mendadak si kakek membuka mata dan mengetuk dinding kabin lagi sembari bertanya, "Hei, Nona Cilik, banyak tidak uang yang kau bawa?"
"Cukup banyak," jengek suara di dalam kereta.