Halo!

Han Bu Kong - Chapter 65

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 65

Si Kakek melirik kusir kereta sekejap dan berpesan, "Carilah hotel paling besar, sebaiknya hotel yang merangkap restoran." Pasar malam di Kota Sunyang sangat ramai.

Setiba di hotel, dengan lagak tuan besar, si kakek memerintahkan kusir dibantu pelayan hotel untuk menggotong Lamkiong Peng ke dalam kamar. Manjing turun dari kereta dengan lesu.

"Nona cilik, berikan lima tail perak dulu untuk sewa kereta," kata kakek botak.

Kusir kereta sangat senang; ia pikir sekali ini tip yang akan diterimanya cukup untuk minum arak sepuasnya. Siapa sangka, setelah si kakek menerima kepingan perak lima tail dari Yap Manjing dan baru saja menyodorkannya kepada si kusir, ia mendadak menariknya kembali sembari berkata, "Berikan kembaliannya dua tail dahulu."

Dengan berseri-seri, si kakek botak masuk ke hotel. Dua tail perak uang kembalian tadi diberikan kepada pelayan seraya berkata, "Siapkan semeja makan seharga sepuluh tail perak, harus disuguhkan sekaligus!"

Bukan kepalang gembira si pelayan; ia pikir biarpun pakaian tamunya serupa pengemis, ternyata persen yang diberikan tidak sedikit. Dengan ucapan terima kasih, pelayan lantas menyanggupinya.

Dengan lagak tuan besar, si botak masuk ke ruangan restoran. Dengan karung goni yang tetap dirangkulnya, ia memilih sebuah meja besar dan duduk di situ. Pelayan sibuk mengantarkan teh panas dan memberikan handuk wangi. Tidak lama kemudian, santapan semeja penuh pun selesai disiapkan. Dengan tawa yang dibuat-buat, si pelayan menyapa, "Apakah Tuan ingin minum arak?"

Si kakek menarik muka, ucapnya ketus, "Minum arak bisa membikin runyam urusan. Kalau mabuk, biarpun badan digerayangi orang juga tidak tahu, kan rugi. Padahal kau tahu, mencari uang tidaklah mudah." Si pelayan melongo, terpaksa ia mengiakan.

"Eh, di mana uang pemberianku tadi?" tanya si kakek mendadak.

"Masih ada," cepat si pelayan menjawab.

"Tukarkan ke mata uang tembaga seluruhnya dan lekas bawa kemari."

Keruan si pelayan melongo. Dua tail perak itu disangkanya tip, tak tahunya cuma titipan untuk menukarkan mata uang. Sambil menggerutu, terpaksa ia melangkah pergi.

Si kakek memandang santapan lezat yang tersedia di depannya dengan menggosok-gosok tangan serupa orang yang baru memenangkan lotre. Bersamaan dengan itu, ia berseru, "Hei, Nona cilik, jika kau perlu menjaga orang sakit, biarlah kumakan sendiri!" Terdengar suara jawaban Manjing tak acuh dari kamar di pojok sana.

"Hm, bilamana keluarga Lamkiong bukan orang kaya, biarpun kau pikat dengan segala macam bujuk rayu juga aku tidak mau menempuh perjalanan bersamamu," demikian si kakek botak bergumam sendiri, lalu ia menaruh karung goni di pangkuannya dan menyikat hidangan yang tersedia. Caranya makan sungguh rakus dengan porsi yang besar; semeja penuh hidangan itu disapu bersih tanpa sisa.

Pada saat itulah pelayan baru kembali dari menukar mata uang. Si kakek menghitung dengan teliti uang itu, akhirnya ia mengambil tiga keping mata uang. Ia ragu sejenak, lalu jari-jarinya mengendur dan dua keping mata uang dijatuhkan kembali. Hanya sisa sebuah mata uang saja yang ditaruh di atas meja seraya berkata dengan berat hati, "Ini untukmu!"

Si pelayan melongo, katanya kemudian dengan mendongkol, "Kukira boleh Tuan simpan untuk dipakai sendiri saja."

Si kakek tertawa senang, "Haha, betul juga, biar kupakai sendiri!"

Sebiji mata uang tembaga itu benar-benar diambilnya kembali, lalu ia mengangkat karung goninya, masuk ke sebuah kamar, dan menutup pintu rapat-rapat. Dengan gemas, si pelayan menuju ke halaman dan mengomel panjang pendek.

***

Di dalam kamar, Manjing sedang memegangi semangkuk air obat yang baru diseduhnya dan disuapkan ke mulut Lamkiong Peng dengan tangan yang agak gemetar. Meski perkenalannya dengan anak muda itu belum lama terjadi, aneh rasanya; sudah timbul semacam perasaan yang sukar dilupakan terhadap pemuda yang berjiwa luhur dan berdarah panas ini.

"Persahabatan harus dipupuk dengan perlahan, cinta justru timbul dalam sekejap," ia jadi teringat ucapan seorang pemikir. Dulu ia pernah mencemoohkan filsafat ini, tapi sekarang baru ia rasakan kebenaran ucapan tersebut.

Ia teringat kepada Koh-ih-hong, Tik Yang, dan juga pendekar muda congkak "Boh-in-jiu" itu. Ia pernah berkumpul dengan mereka di puncak Hoasan yang tinggi dan sepi. Ia kenal watak dan ketahanan mereka. Namun, terhadap Lamkiong Peng, pada pertemuan pertama itu juga langsung timbul rasa sukanya, meski kemudian ia terpaksa meninggalkan Hoasan dengan kenangan indah terhadap anak muda itu.

Ia tidak tahu apa yang terjadi di rumah gubuk di puncak Hoasan itu, serupa halnya ia tidak dapat meraba sebenarnya bagaimana perasaan Lamkiong Peng terhadap dirinya. Sudah tiga hari ia melayani anak muda yang sakit dan tak sadar itu. Ia enggan bicara dan berdekatan dengan orang tua itu, tapi ia pun tidak dapat mencegahnya tinggal bersama di sebuah hotel. Terdengar di kamar sebelah, kakek botak itu asyik menghitung mata uang tembaga. Sudah larut malam ia masih sibuk dengan duit; sungguh kakek yang mata duitan.

Esok paginya, sakit Lamkiong Peng sudah agak sembuh. Petangnya, ia sudah dapat turun dari pembaringan. Memandangi Manjing yang agak letih dan kurus itu, perasaan Lamkiong Peng menjadi tidak enak, ucapnya dengan menyesal, "Aku sakit, engkau yang repot."

"Asalkan kau sembuh, apa pun kukerjakan dengan senang hati," ujar si Nona.

Terharu hati Lamkiong Peng; tak terduga olehnya selama tiga hari ini telah sebanyak ini perubahan sikap Nona itu terhadapnya. Tanpa terasa ia memandangnya lagi sekejap dengan penuh rasa terima kasih.

Ketika melihat Lamkiong Peng muncul di kamarnya, segera si kakek botak yang sedang menghitung uang itu menegur dengan tertawa, "Aha, agaknya sakitmu sudah sembuh!"

"Terima kasih atas perhatian Lotiang," jawab Lamkiong Peng dengan tersenyum.

"Bila aku menjadi dirimu, aku tentu ingin sakit lebih lama lagi," kata si kakek dengan tertawa.

Lamkiong Peng melongo.

Si botak lantas menyambung, "Jika bukan lantaran sakitmu, mana anak dara ini mau mentraktirku makan minum di sini? Bila bukan karena kau sakit, mana Nona ini mau memperlihatkan perhatiannya kepadamu? Maka kalau engkau sakit lebih lama lagi beberapa hari, tentu aku dapat makan enak lebih lama dan kau pun akan mendapat pelayanan lembut. Kita jadi sama-sama gembira, kenapa tidak mau?"

Ia mencerocos terus hingga ludahnya berhamburan, namun setiap katanya memang tepat. Manjing menunduk malu; meski seperti orang sinting, ucapan kakek itu memang kena di hatinya.

Dengan tersenyum Lamkiong Peng berkata, "Jika Lotiang ingin makan minum, setelah aku sehat nanti, tentu akan kutraktir."

"Haha, bagus," seru si kakek. Tapi dengan serius ia menambahkan, "Tapi biarpun kalian telah mentraktir makan padaku, tidak perlu kuterima kasih padamu. Kutahu, sebabnya kalian memperbolehkan aku berada bersama kalian adalah demi keuntungan kalian, tapi aku... haha, boleh juga kugunakan kesempatan baik ini untuk makan minum sepuasnya."

Kata-kata ini kembali kena di hati Lamkiong Peng dan Yap Manjing.

"Tapi kalau Lotiang ada keperluan lain, dapat juga kubantu..."

"Hah, memangnya kaukira aku suka menerima sedekah orang?" jawab si kakek dengan galak.

"Umpama pakaian Lotiang, dapat kubelikan beberapa potong baju..."

"Eh, selamanya kita tidak bermusuhan, kenapa sengaja kau bikin susah padaku?" cepat si kakek menjawab.

Lamkiong Peng jadi melongo, "Bikin susah padamu?"

"Coba kau lihat," si kakek berdiri dan menuding bajunya yang serupa karung itu, "betapa enak bajuku ini, sama sekali tidak perlu kurisaukan kemungkinan akan robek..." Lalu ia menuding kepalanya sendiri yang botak, "Dan ini, kau tahu, demi untuk membuat botak kepalaku ini betapa jerih payahku selama ini. Sekarang aku tidak perlu sibuk merawat rambut, juga tidak perlu mengeluarkan duit untuk memotong. Inilah cara yang paling baik untuk hidup hemat. Tapi sekarang kau mau memberi pakaian baru kepadaku, jika kukenakan baju pemberianmu, tentu setiap saat kuperlu memikirkan baju baru. Itu berarti membuang waktu dan mengurangi kesempatan untuk mencari duit. Bukankah semua itu hanya membikin susah padaku?"

Lamkiong Peng dan Yap Manjing saling pandang sekejap; logika si kakek botak ini sungguh luar biasa, tapi juga membuat mereka sukar membantah.

Si kakek lantas mendengus dan duduk kembali. Sembari makan ia menggerutu pula, "Maka bila kalian ingin kuiringi, selanjutnya jangan bicara lagi tentang hal-hal ini. Hm, jika tidak mengingat keuntungan yang akan kuraih, bisa jadi sudah sejak tadi kutinggal pergi."

Yap Manjing mendengus dan melengos ke arah lain. Sedangkan Lamkiong Peng hanya menghela napas menyesal, katanya, "Masa urusan duit bagi Lotiang sedemikian pentingnya?"

Kakek botak juga menghela napas, "Ai, rasanya sukar bagiku untuk menjelaskan kepada putra hartawan seperti dirimu ini akan betapa pentingnya duit. Tapi bilamana engkau sekali tempo menghadapi kesulitan, tanpa penjelasanku baru kau tahu pentingnya duit."

Tiba-tiba timbul juga perasaan hampa dalam hati Lamkiong Peng. Pikirnya, "Semoga aku juga dapat mencicipi rasanya miskin, tapi alangkah sulitnya untuk membuat aku miskin." Ia tertawa mengejek terhadap diri sendiri.

"Setiap kataku cukup beralasan, memangnya apa yang kau tertawakan?" omel si kakek.

"Yang kutertawai adalah karena sejauh ini belum lagi kuketahui nama Lotiang," jawab Lamkiong Peng.

"Ah, apa artinya nama?" ujar si kakek. "Cukup kausebut diriku Ci Ti saja."

"Ci Ti (gila uang)?" Lamkiong Peng menegas dengan heran, "Tapi yang kutertawai bukan soal ini, Lotiang..."

"Siapa pun tidak berhak mengurus jalan pikiran orang lain," kata si kakek. "Apa yang kau pikirkan tentu juga tidak ada sangkut paut denganku. Bagiku, asalkan tingkah laku dan tutur kata orang cukup baik terhadapku, biarpun dalam hati dia benci kepadaku juga masa bodoh. Apabila setiap hari selalu kupikirkan apa yang dipikirkan orang lain terhadapku, bisa jadi aku akan berubah linglung atau sinting."

Ucapan ini serupa cambuk yang memecut lubuk hati Lamkiong Peng.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment