Chapter 66
Ia tertunduk dan melamun cukup lama.
Dalam pada itu, si kakek botak alias Ci Ti sudah kenyang makan. Ia mengulet karena kemalasan dan memandang Yap Manjing sekejap, lalu berucap hambar, "Nona cilik, kuberi nasihat padamu, janganlah suka mengusut pikiran orang lain. Dengan begitu, tentu engkau akan jauh dari kekesalan." Manjing juga sedang termenung. Ketika ia mengangkat kepala, dilihatnya si kakek telah melangkah ke halaman dalam.
Tiba-tiba dari luar masuk belasan lelaki berbaju ringkas dan bersenjata golok. Seorang lelaki kekar lain dengan punggung menyandang sehelai panji warna merah, memanggul sebuah peti kayu masuk ke halaman sana.
Langkah beberapa orang itu tampak gesit dan cekatan. Sorot mata orang terakhir itu pun bercahaya tajam; ia melirik sekejap kepada si kakek botak, lalu masuk ke pintu bulat yang membatasi halaman itu.
Sinar mata si kakek mendadak menerawang terang. Dengan tersenyum ia bergumam, "Angki-piaukok (perusahaan pengawalan panji merah)..." lalu ia menguap dan berkata pula, "Ai, makan banyak membuat kantuk, lebih baik tidur saja." Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Setelah termenung sekian lama, akhirnya Lamkiong Peng juga bangkit dan masuk ke kamar.
Manjing merasa kesepian. Dipandangnya pintu kamar Lamkiong Peng dan pintu kamar si kakek. Ia menghela napas, lalu melangkah perlahan ke halaman.
Suasana sunyi, cahaya lampu sudah padam.
Entah berapa lama Manjing berdiri di halaman, dari kejauhan terdengar suara kentongan menandakan sudah lewat tengah malam.
Selagi perasaannya diliputi rasa kekosongan, tiba-tiba dari balik wuwungan rumah ada orang tertawa perlahan. Seorang mendesis, "Untuk apa berdiri termenung di tengah malam?" Manjing terkejut, "Siapa!" bentaknya dengan suara tertahan sambil melompat ke atas rumah.
Dilihatnya sesosok bayangan secepat terbang melayang ke kegelapan sana. Sungguh sangat mengejutkan kecepatan orang itu.
"Berhenti!" bentak pula Manjing sembari memburu ke sana.
Akan tetapi, meski ginkangnya juga sangat tinggi, ternyata tetap tidak dapat menyusul orang tersebut. Ia terus memburu dan mencari di sekitar situ, namun bayangan orang sudah menghilang.
Lamkiong Peng sedang duduk terpekur di atas tempat tidur. Ia berusaha menenangkan pikiran, tapi rasanya kusut dan sukar diatasi.
Ia tidak tahu Yap Manjing melamun di halaman dan tidak tahu nona itu melompat keluar untuk memburu seseorang.
Entah sudah berapa lama, ketika pikiran Lamkiong Peng melayang-layang tak menentu, tiba-tiba didengarnya suara seperti daun jatuh di luar jendela. Cepat ia melompat bangun dan membuka daun jendela.
Di tengah keremangan malam, dilihatnya Yap Manjing berdiri di luar dengan rambut kusut.
"Engkau belum tidur?" tanya Manjing dengan pandangan sayu.
Lamkiong Peng menggeleng, tanyanya, "Apakah Nona Yap melihat sesuatu?" "Baru saja kulihat seorang Ya-heng-jin (orang pejalan malam), telah kususul dia, tapi tidak dapat menemukannya," tutur si nona.
"Sungguh hebat orang itu, dengan ginkang nona saja tidak sanggup menyusulnya," kata Lamkiong Peng dengan terkesiap.
Muka Manjing menjadi merah, ucapnya, "Ya, tak terduga di tempat ini juga terdapat tokoh selihai ini. Anehnya, kedatangan orang itu seperti tidak bermaksud baik, tapi juga tidak berniat jahat. Sungguh sukar dimengerti dia kawan atau lawan dan apa maksud kedatangannya?" "Mungkin dia memang tidak bermaksud jahat, kalau tidak, kenapa dia tidak berbuat sesuatu?" ujar Lamkiong Peng.
Walaupun mulutnya bicara demikian, dalam hati ia menyesal juga. Ia tahu banyak orang kangouw sekarang memusuhinya. Hanya karena membela Bwe Kiam Soat sehingga mendatangkan banyak persoalan ruwet ini. Ia sendiri tidak sanggup memberikan penjelasan mengapa ia bertindak demikian.
"Fajar hampir tiba, silakan nona masuk saja ke dalam," kata Lamkiong Peng kemudian.
Mereka tidak tidur lagi melainkan menuju ke ruangan tengah. Keduanya duduk berhadapan, seketika tidak tahu apa yang perlu dibicarakan.
Terdengar suara ayam berkokok di kejauhan, ufuk timur sudah mulai remang-remang dan membangkitkan berbagai kebisingan di dunia ini.
Mendadak si kakek botak alias Ci Ti yang gila uang itu melongok keluar pintu kamar. Dengan matanya yang masih sepat, ia menegur, "Eh, kalian sungguh iseng, ternyata mengobrol sepanjang malam. Haha, dasar orang muda!"
Tiba-tiba seorang muncul pula dari balik pintu sana dengan mata yang masih belekan, kiranya si pelayan. Dengan tertawa ia menyapa, "Selamat pagi!" Buru-buru ia mengambilkan air teh, lalu berkata, "Maaf, rekening Tuan tamu..." Mendengar urusan rekening hotel, si kakek botak segera menghilang lagi di balik pintu kamarnya.
Lamkiong Peng tersenyum, katanya, "Tidak menjadi soal, boleh hitung saja seluruhnya." Dengan tertawa cerah si pelayan menjawab, "Sebenarnya juga tidak banyak. Cuma Tuan besar itu makan minum terlalu banyak, maka seluruhnya menjadi 93 tail lebih..."
Jumlah ini sebenarnya tidak sedikit, tapi bagi pandangan Lamkiong Peng tentu saja tidak berarti. Namun, segera teringat olehnya bahwa dirinya sekarang tidak membawa sepeser pun. Bagaimana ia akan mampu membayar rekening hotel dan makan minum sebanyak itu?
Terpaksa ia berpaling dan berkata dengan tertawa kepada Manjing, "Dapatkah Nona Yap membayarkan dahulu?" Tapi Yap Manjing lantas tersenyum, jawabnya, "Selamanya aku jarang membawa uang." Baru sekarang Lamkiong Peng melengong, dilihatnya mata si pelayan menatapnya dengan rasa sangsi.
Terpikir pula oleh Lamkiong Peng bahwa dirinya sekarang sudah tidak membawa benda berharga apa pun. Terpaksa ia berkata kepada pelayan, "Coba ambilkan alat tulis, biar kubikin secarik surat dan segera dapat kau pergi ambil uang." Meski dengan ogah-ogahan, terpaksa si pelayan mengiakan. Selagi dia hendak melangkah pergi, sekonyong-konyong pintu si kakek botak terbuka lagi. Kelihatan dia melongok keluar sambil berkata, "Jangan kuatir, Pelayan, memangnya kau tahu siapa Kongcuya ini? Jangankan cuma sekian puluh tail perak, biarpun sekian ribu laksa tail, cukup dengan secarik bon saja, Kongcuya ini dapat menarik dengan kontan."
Dengan sendirinya si pelayan kurang percaya, ia melirik Lamkiong Peng dengan sangsi.
Si kakek botak alias Ci Ti atau si "gila uang" itu terbahak, serunya, "Supaya kau tahu, biar kujelaskan, dia tak lain tak bukan ialah Lamkiong Kongcu, keluarga hartawan Lamkiong dari Kanglam!" Seketika air muka si pelayan berubah.
Diam-diam Lamkiong Peng menggelengkan kepala, pikirnya, "Ai, dasar manusia rendah, asal mendengar nama..." Tak terduga, mendadak si pelayan bergelak tertawa, habis itu ia lantas menarik muka dan mengejek, "Hm, meski banyak juga kulihat orang yang menipu makan minum, tapi tidak pernah kulihat perbuatan sebusuk dan sebodoh seperti ini, masa..."
"Kau bilang apa?" bentak Manjing dengan mendelik.
Si pelayan menyurut mundur setindak, tapi lantas mengejek pula, "Hm, masa tidak kalian ketahui bahwa berpuluh kota di sekitar daerah ini, di mana terdapat cabang perusahaan keluarga Lamkiong, hanya dalam waktu beberapa hari terakhir ini seluruhnya telah dipindahtangankan kepada orang lain. Segenap bekas pegawai perusahaan Lamkiong itu sudah dibubarkan dan telah mencari jalan hidup sendiri-sendiri. Tapi ternyata ada orang berani lagi mengaku sebagai Lamkiong Kongcu yang maha kaya raya itu, hm..." Begitulah pelayan itu mengakhiri ucapannya sambil mendengus berulang dengan tangan bertolak pinggang dan mata mendelik.
Dengan sendirinya keterangan ini membuat Lamkiong Peng melongo, Yap Manjing juga merasa bingung. Perubahan yang mengejutkan ini sungguh luar biasa, sukar untuk dipercaya hal ini bisa terjadi mendadak begitu. Masakah keluarga Lamkiong yang maha kaya raya itu sampai menjualkan berpuluh cabang perusahaannya dengan tergesa-gesa begitu? Dan mengapa bisa terjadi pula dalam waktu sesingkat itu? Sungguh sukar diduga mengapa sungai yang membeku itu dapat cair dalam sekejap. Ucapan si pelayan tadi juga didengar oleh si kakek botak yang berdiri di samping pintu, ia pun melongo heran.
Mungkin baru pertama kali ini selama hidup Lamkiong Peng mengalami kekikukan seperti sekarang. Selagi merasa bingung cara bagaimana menghadapi sikap si pelayan yang tidak sungkan itu, sekonyong-konyong dari halaman dalam berkumandang suara ribut-ribut.
"Wah... celaka! ... celaka! ..." demikian terdengar teriakan ramai orang banyak.
Pelayan tadi terkejut, cepat ia berlari ke sana dan lupa mengurus Lamkiong Peng lagi. Mendadak Lamkiong Peng teringat kepada keluhan singkat yang didengarnya serta bayangan yang dikejar Yap Manjing itu. "Jangan-jangan terjadi sesuatu pembunuhan di halaman sebelah semalam?" Demikian timbul rasa curiganya.
Karena ingatan itu, serentak ia melangkah ke halaman sana disusul oleh Yap Manjing. Dalam keadaan demikian, mereka tidak mempedulikan lagi gerak-gerik si kakek botak.
Di halaman sebelah sudah berkerumun orang banyak, ada orang berteriak kaget dan berlari masuk keluar.
"Sungguh aneh, mengapa semalam tidak terdengar suara apa pun?" demikian ada orang berkata. Segera ada yang menanggapi, "Anehnya hal ini bisa terjadi atas orang Angkipiaukiok yang termashur. Entah orang lihai macam apa sehingga berani merecoki panji merah yang disegani itu?" Suara ribut dan komentar orang yang kaget itu membuat hati Lamkiong Peng tidak tenteram karena belum tahu duduk perkaranya.
Sesudah dekat, dilihatnya di pintu bulat yang membatasi halaman ini terpancang panji merah yang berkibar tertiup angin. Semula disangkanya panji ini adalah panji pengenal Angki-piaukiok, tapi setelah diperhatikan, kiranya merah panji ini karena lumuran darah. Di tengah warna merah darah itu bersemu biru-hitam, sehingga membuat orang merasa ngeri.
Ia masuk ke halaman situ, suasana dalam hiruk-pikuk, tapi ruangan kamar sana sunyi senyap. Seorang lelaki berbaju panjang, tampaknya seperti kasir atau kuasa hotel, berdiri di luar pintu kamar yang tertutup rapat.