Chapter 67
Saat Lamkiong Peng mendekat, lelaki itu segera mengadangnya dengan membentangkan tangan dan berucap, "Tempat ini dilarang..." Belum lanjut ucapannya, sekali dorong, Lamkiong Peng membuatnya sempoyongan dan hampir jatuh terjengkang.
Meski Lamkiong Peng baru sembuh dari sakitnya, tenaganya tentu berbeda dari orang biasa. Apalagi dalam keadaan mendongkol, tenaganya cukup kuat untuk membuat orang itu jatuh.
Waktu ia mendorong daun pintu dan terbuka, seketika detak jantungnya hampir berhenti demi mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar.
Cahaya surya pagi menembus masuk melalui celah jendela yang tertutup rapat, sehingga di remang-remang lantai kamar terlihat bergelimpangan belasan mayat.
Segera dikenali oleh Lamkiong Peng bahwa mereka adalah kawanan lelaki berbaju hitam yang berdandan ringkas dan kekar. Sekarang, semuanya sudah tergeletak tak bernyawa. Kematian kawanan lelaki kekar ini ternyata tidak serupa.
Seorang yang brewok dengan mata melotot mencengkeram kusen jendela sehingga jari-jarinya amblas ke dalam kayu; ia mati dengan setengah bersandar di dinding. Pada dadanya yang bidang tertancap miring sehelai panji merah. Tangkai panji yang terbuat dari besi itu hampir ambles seluruhnya ke dalam dada, darah pun membasahi bajunya yang hitam.
Seorang lagi yang beralis tebal dan bermulut besar rebah telentang dengan wajah beringas penuh rasa ngeri. Tangannya menggenggam cawan arak yang sudah pecah, dadanya juga tertancap panji merah. Begitu pula dengan beberapa kawannya yang lain; ada yang mati duduk di kursi, ada yang binasa bersandar di kaki meja, ada yang bajunya tidak rapi, bahkan ada yang telanjang kaki—tampaknya ia ingin lari, tetapi belum sempat keluar sudah roboh binasa.
Cara kematian orang-orang itu tidak sama, tetapi penyebab kematian mereka ternyata sama, yaitu dada yang tertancap oleh panji merah pengenal yang mereka bawa sendiri. Sekali serang, mereka binasa. Dari sikap orang-orang yang mati ini, agaknya mereka belum sempat mengeluarkan senjata dan membalas menyerang; tahu-tahu mereka sudah terbunuh.
Perlahan, Lamkiong Peng memandangi mayat-mayat itu satu per satu; aliran darahnya sendiri serasa membeku. Ia mengenali kawanan lelaki berbaju hitam ini sebagai anak buah Suma Tiong-thian dari Angki-piaukiok. Padahal, para jago pengawal dari panji merah ini biasanya terkenal berkungfu tinggi dan disegani. Namun sekarang, belasan jago pengawal ini tergeletak menjadi mayat di hotel kecil ini. Kematiannya pun tampak mengerikan; sungguh kejadian yang sukar dibayangkan.
Siapakah yang berani merecoki Angki-piaukiok pimpinan Suma Tiong-thian yang terkenal dengan julukan "Angcian-cin-tiongcu" (panji merah dan tombak baja menggetarkan daratan tengah) itu? Siapa pula yang mempunyai kepandaian setinggi ini, tanpa bergebrak dapat membinasakan jago sebanyak ini?
Setelah menenangkan diri, Lamkiong Peng mencoba masuk ke dalam kamar. Dilihatnya di belakang kelambu juga tergeletak sesosok mayat. Agaknya orang ini ingin lari atau bersembunyi, tetapi akhirnya terpantek mati juga. Orang ini pun mati tertancap gagang bendera pada dadanya.
Lamkiong Peng berjongkok dan mengangkat mayat itu. Mendadak hatinya tergetar; dirasakannya tubuh orang itu masih hangat. Ia mencoba mengurut hiat-to orang itu, ternyata hiat-tonya tidak tertutup, juga tidak ada tanda keracunan. Sungguh sukar dimengerti mengapa orang ini bisa terbunuh begitu saja tanpa membalas menyerang. Apakah lawannya begitu lihai sehingga satu gebrak pun tidak mampu ditangkis?
Selagi Lamkiong Peng merasa sangsi dan ngeri, tiba-tiba mayat yang dipegangnya bergetar sedikit. Tentu saja Lamkiong Peng sangat girang. Perlahan ia bertanya, "Kuatkan dirimu, Kawan!"
Orang itu membuka matanya sedikit, ucapnya dengan lemah, "Sia... siapa kau?"
"Aku Lamkiong Peng, sahabat perusahaan piaukiok kalian. Siapa yang mencelakai kalian, harap katakan..."
Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, segera muka orang itu berkerut dan bergumam lemah, "Lamkiong Peng... Lamkiong... habis... ha..."
"Habis apa maksudmu?" seru Lamkiong Peng terkejut. Dilihatnya pandangan orang itu menatap ujung ruangan dengan kaku. Belum sempat kata "habis" terucapkan dengan jelas, kepalanya lantas miring ke samping dan tak dapat bicara lagi untuk selamanya.
Lamkiong Peng menghela napas. Ia mencoba menoleh ke arah sana; dilihatnya ujung ruangan itu kosong tanpa benda apa pun. Waktu ia mengawasi lebih lanjut, baru dirasakan tempat itu sebelumnya pernah digunakan untuk menaruh barang semacam peti, tetapi sekarang sudah hilang.
"Perampokan!" demikian kesimpulan yang dapat ditarik Lamkiong Peng setelah melihat keadaan ini, namun peristiwa ini cukup misterius dan mengerikan. Lamkiong Peng tidak tahu ucapan orang tadi, apakah mungkin urusan ini ada hubungannya dengan keluarga Lamkiong?
Waktu ia berpaling, dilihatnya Yap Manjing juga sudah berdiri di belakangnya dan tampak sedang termenung.
"Lamkiong... habis..." demikian Manjing bergumam, mendadak ia bertanya kepada Lamkiong Peng, "Apakah Angki-piaukiok sering mengantar harta benda milik keluargamu?"
"Ya," jawab Lamkiong Peng sambil mengangguk.
"Jika begitu, barang kawalan mereka kali ini mungkin juga harta milik keluarga Lamkiong kalian. Sebab itulah tadi dia menyebut nama keluargamu dan merasa malu untuk menjelaskannya."
Lamkiong Peng berpikir sejenak, akhirnya menghela napas panjang.
"Apa yang kau sesalkan?" tanya Manjing.
"Meski sedikit harta benda keluarga Lamkiong dirampok, jumlah sekian tentu juga tidak ada artinya bagi kekayaan keluargamu."
"Mana aku menyesal?" ujar Lamkiong Peng. "Aku hanya merasa bodoh karena memikirkan urusan yang cukup jelas ini dengan ruwet."
Pada saat itulah, mendadak di luar bergema suara anjing yang menyalak. Suaranya galak dan berbeda dengan anjing biasa. Menyusul cahaya emas berkelebat, seekor anjing berbulu kuning emas mulus dengan tubuh panjang serupa busur, mata menerawang terang, kuping kecil, dan moncong panjang—sekilas pandang serupa seekor kuda kecil—dengan langkah cepat anjing emas itu lari ke dalam kamar.
Anjing galak ini bukan cuma suara menyalaknya saja, gerak-geriknya juga tidak sama dengan anjing umumnya. Pada lehernya penuh dihiasi mutiara dan rantai emas. Hidungnya mengendus-endus ke sana-sini, sikapnya buas.
Seorang berbaju hitam dengan mata elang dan hidung betet, tangan memegang rantai emas yang mengalung di leher anjing kuning itu, ikut masuk ke dalam kamar. Mungkin orang itu adalah pawang anjing kuning emas tersebut.
Di luar terdengar suara ribut orang banyak. Ada yang sedang bicara, "Tak disangka detektif ulung dari Saiho, 'Kim-sian-loh' (budak si Dewa Emas), hari ini bisa berada di Sunyang. Dengan kehadirannya, peristiwa perampokan yang terjadi ini pasti akan terbongkar dengan segera."
Dalam pada itu, si baju hitam alias Kim-sian-loh memandang Lamkiong Peng dan Yap Manjing sekejap dengan kening berkerut, lalu ia menoleh dan bertanya, "Juragan Lim, sebelum kutiba, kenapa kau perbolehkan sembarang orang masuk ke sini?"
Juragan hotel yang berdiri di luar tampak gugup, jawabnya takut, "O, ini... ini..."
Kim-sian-loh mendengus kurang senang. Melihat anjing kuning emas itu sangat menarik, sungguh Yap Manjing ingin mengelusnya. Siapa tahu, belum lagi tangannya menyentuh, mendadak anjing itu menggerang dengan bulu emas menegak.
"Lekas mundur, Anak Perempuan! Apakah kau ingin mampus?!" seru si baju hitam alias Kim-sian-loh.
Alis Manjing menegak, segera ia hendak mengumbar rasa gemasnya, tetapi Lamkiong Peng lantas menarik lengan bajunya sehingga makian yang hampir dilontarkan tertelan kembali. Dilihatnya Kim-sian-loh sedang berjongkok dan mengelus punggung anjingnya sambil berkata, "Jangan marah, mereka tidak berani menyentuhmu lagi!" Sikapnya itu serupa budak terhadap tuannya.
Segera orang itu berdiri dan membentak, "Siapa kalian? Untuk apa lagi berdiri di sini?"
"Aku mau berdiri di sini, peduli apa dengan kau?" jawab Manjing dengan ketus.
"Hm, sungguh anak perempuan yang tidak tahu diri," jengkel Kim-sian-loh. "Apakah kau tahu siapa aku? Berani kau mengganggu tugasku?"
"Huh, memangnya kau kira aku tidak tahu siapa dirimu? Paling-paling kau cuma budak seekor anjing saja," ejek Manjing.
Ia bicara lantang tanpa tedeng aling-aling. Setiap orang yang berada di luar kamar mendengar, keruan semua orang merasa khawatir baginya. Kiranya anjing berbulu kuning emas itu diberi nama "Kim-sian" atau Dewa Emas; seekor anjing yang sangat cekatan dan juga sangat galak. Jago persilatan umumnya sukar menahan tubrukannya yang kuat.
Yang paling hebat adalah daya ciumnya. Segala perkara pembunuhan, asalkan anjing ini dibawa ke tempat kejadian tepat pada waktunya, dengan sedikit bau yang tertinggal di situ anjing ini sanggup mengusut dan mengejar ke mana larinya atau tempat sembunyi penjahat. Sudah sekian tahun entah berapa perkara yang telah dibongkar berkat ketajaman indra penciuman anjing berbulu emas ini.
Pemilik anjing yang berbaju hitam itu juga ikut terkenal karena anjingnya sehingga diberi julukan Kim-sian-loh atau Budak Dewa, dan jadilah dia detektif terkenal di beberapa provinsi daerah utara. Meski dia jaya berkat anjingnya, bahkan mengaku Kim-sian-loh, tapi dia justru pantang orang menyinggung hal ini.
Sekarang, tanpa tedeng aling-aling, Yap Manjing mengejek boroknya itu. Seketika ia naik darah, segera ia berteriak, "Mana orangnya, tangkap perempuan kurang ajar ini!"
Manjing mendengus, "Hm, seharusnya anjing budak manusia, tapi ada manusia justru mau menjadi budak anjing... Hmk!"
Dengan sikap menantang, ia tatap empat petugas yang membawa borgol yang menerjang masuk itu sambil membentak, "Jika kalian berani maju lagi selangkah, segera akan kubinasakan!"
Kim-sian-loh menjadi gusar, diam-diam ia mengendurkan rantai yang dipegangnya dan mendengus, "Apa betul begitu lihai kau?"
Cepat Lamkiong Peng mengadang di depan Manjing dan berkata, "Nanti dulu!" Melihat pemuda yang mengadang di depan ini meski bermuka agak kurus, namun sikapnya gagah dan anggun, tanpa terasa Kim-sian-loh menyurut mundur.