Halo!

Han Bu Kong - Chapter 68

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 68

Semula dia bermaksud melepaskan anjingnya, tetapi sekarang dia tidak berani sembarangan bertindak lagi. Dia membentak, "Siapa kau? Apakah kau pun..."

Lamkiong Peng tersenyum dan memotong, "Sudah lama kudengar Anda seorang detektif ulung, masa orang baik atau jahat saja tidak dapat kau bedakan?"

"Kalian sembarangan berada di tempat pembunuhan dan pencurian, dapatkah kalian terhindar dari prasangka?" ujar Kim Sian-loh.

"Jika begitu, jadi Kim Pohtau menganggap kami ikut tersangkut dalam perkara ini? Memangnya kami berdiam di sini untuk menunggu ditangkap oleh Kim Pohtau?" jawab Lamkiong Peng.

Kim Sian-loh mendengus, "Saat ini belum dapat dipastikan, tapi sebentar lagi segala sesuatunya tentu akan ketahuan dengan jelas." Segera ia mengendurkan pegangannya dan menepuk anjingnya, katanya, "Kim-loji, bikin repot padamu lagi."

Begitu rantai dilepaskan, anjing si dewa emas itu segera melompat ke depan. Hanya sekejap saja dia telah mengitari empat ruangan, lalu menyalak tiga kali dan melompat ke bawah kaki Lamkiong Peng dan Yap Manjing sambil mengendus beberapa kali. Habis itu, mendadak ia melompat pergi lagi. Kembali ia mengitari ruangan itu dengan cepat, kemudian berlari menyusuri kaki dinding, makin lari makin lambat.

Semula Kim Sian-loh merasa bangga dan penuh keyakinan akan kemampuan anjingnya, tapi ketika anjing itu mengitari ruangan untuk kedua kalinya, tampaklah rasa gelisah dan heran. Setiap kali anjing itu mengitar lagi, rasa heran dan cemasnya juga bertambah sampai butiran keringat menghiasi dahinya.

Tanpa terasa, ia pun ikut mengitari rumah sambil bergumam, "He, masa belum kautemukan sesuatu, Loji... masa tidak..."

Manjing tertawa dingin dengan sikap mengejek. Mendadak terlihat anjing itu melangkah keluar. Serentak perhatian semua orang yang berdiri di luar pintu terpusat kepada anjing dan memberi jalan kepadanya.

Kim Sian-loh menghela napas lega. Ia yakin anjingnya telah menemukan petunjuk baru. Ia melirik Lamkiong Peng dan Yap Manjing, katanya, "Awasi mereka berdua, jangan sampai kabur." Lalu ia mengikuti anjing itu keluar.

"Jika benar dia dapat menemukan pembunuhnya, aku justru sangat berterima kasih padanya," ucap Lamkiong Peng perlahan.

"Mari kita ikut ke sana," ajak Manjing.

"Mau ke mana?" bentak empat opas yang memegang rantai sambil mengadang dengan borgolnya.

Tapi sekali tangan Manjing bergerak, terdengarlah suara gemerincing yang nyaring. Borgol dan pentungan yang dipegang keempat opas itu jatuh ke lantai. Keruan saja beberapa opas itu terperanjat. Belum pernah mereka melihat kungfu selihai ini. Mereka melongo menyaksikan Manjing dan rekannya melangkah keluar tanpa berani mencegahnya lagi.

Sementara itu, anjing emas Kim Sian-loh sudah sampai di halaman. Sesudah mengitar sebentar, mendadak ia melompat melintasi pagar tembok. Tanpa ayal, Kim Sian-loh ikut melintasi pagar tembok itu. Dilihatnya anjingnya sedang menyalak ke kamar yang terletak di halaman.

Sikap Kim Sian-loh menjadi tegang. Segera ia membentak, "Siapa yang tinggal di sini?" Orang banyak sudah membanjir ke dalam halaman. Mendengar bentakannya, semua orang memandang ke belakang, tampak Lamkiong Peng dan Manjing sedang mendatangi.

"Jadi kalian berdua yang tinggal di sini?" bentak Kim Sian-loh pula.

"Mau apa jika kami tinggal di sini?" jawab Manjing ketus.

"Jika begitu, jadi kalian ini penjahat yang merampok dan juga pembunuhnya," teriak Kim Sian-loh.

Suasana menjadi panik seketika. Pemilik hotel lantas menyingkir dengan ketakutan; semua orang menjauhi Manjing dan rekannya.

"Kau harus bertanggung jawab atas ucapanmu," ejek Lamkiong Peng.

"Selama belasan tahun, entah berapa banyak yang telah kuringkus dan tidak ada satu pun yang keliru tangkap. Maka, lebih baik kalian menyerah saja." Lamkiong Peng melirik sekejap anjing yang sedang menggonggong itu. Tiba-tiba teringat olehnya si kakek misterius yang tamak harta itu. Tanpa terasa air mukanya berubah. Ia memburu maju dan mendorong pintu kamar. Ternyata kamar sudah kosong, tidak ada bayangan si kakek.

Kim Sian-loh terbahak-bahak, "Haha, meski begundalmu sudah minggat, asal kubekuk kalian mustahil jejaknya takkan ketahuan." Segera ia mengeluarkan senjata tombak berantai yang melilit di pinggangnya. Sekali menyentak, tombak itu mengeluarkan suara gemerincing. Perlahan ia mendekati Lamkiong Peng dan membentak, "Ayolah, lekas menyerah saja untuk dibekuk!" Para penonton menyingkir ketakutan, pemilik hotel bahkan sudah kabur.

Dengan kening berkerut, Lamkiong Peng berkata, "Sebelum terang duduk perkaranya, masakah kau..."

"Dengan hidung Kim Sian, mustahil urusan bisa salah," kata Kim Sian-loh.

Begitu tombak berantai bergerak, ia langsung menyabet kepala Lamkiong Peng. Khawatir anak muda yang baru sembuh dari sakitnya itu belum kuat, cepat Manjing memburu maju sambil membentak. Tak terduga, dari belakang terdengar angin menyambar tiba-tiba. Rupanya si anjing bulu emas yang sejak tadi hanya menyalak kini telah menubruk ke arahnya dengan buas. Anjing ini bertubuh tinggi besar. Setelah berdiri tegak dengan taring menyeringai, ia hendak menggigit leher Manjing.

Keruan semua orang menjerit khawatir. Tampaknya dalam sekejap, anak perempuan yang cantik molek ini akan menjadi mangsa anjing buas. Namun, Manjing sempat mengelak dan dengan gesit menggeser ke samping. Tak terduga, anjing itu memang sangat tangkas. Sekali luput menubruk, ia segera membalik dan menerkam pula. Manjing terkejut; diam-diam ia mengakui kelihaian anjing yang tidak kalah dibandingkan jago silat biasa ini. Dia memang tidak ingin melukai anjing itu. Ia justru sayang kepada binatang cerdik ini.

Hanya sebelah tangannya menebas dan tepat mengenai kuduk anjing itu sambil berseru kepada Lamkiong Peng, "Lekas kau mundur saja!" Dilihatnya Lamkiong Peng cukup tangkas menghadapi tombak berantai Kim Sian-loh meski kesehatannya belum pulih seluruhnya. Dengan gerakan lincah, ia menghindar kian kemari sehingga tombak lawan sukar menyentuhnya.

Semua orang tercengang melihat ketangkasan kedua muda-mudi ini. Tampaknya mereka memang benar penjahat yang merampok dan membunuh, kalau tidak, masakah menguasai kungfu setinggi ini? Tapi ketika untuk kedua kalinya anjing itu hendak menerkam Yap Manjing lagi, tanpa terasa mereka menjerit khawatir pula.

"Binatang!" bentak Manjing sambil menebas. Namun, anjing itu tidak kurang gesitnya; ia sempat menghindar, mendekam di tanah, dan siap menubruk maju lagi.

Pada saat itulah terdengar suara gemuruh dari luar. Berpuluh petugas bersenjata berlari masuk. Kening Lamkiong Peng berkerut. Ia menghindari sekali serangan Kim Sian-loh, lalu membentak, "Jika engkau tidak segera berhenti dan bikin jelas dulu persoalannya, jangan menyesal bila aku..."

Belum habis ucapannya, mendadak seseorang membentak, "Berhenti semua!" Menggelegar suara bentakannya. Menyusul angin tajam menyambar dari udara, sebatang tombak dengan ujung terikat sehelai panji merah meluncur tiba dan "crat", tombak menancap di halaman.

Kim Sian-loh terkejut dan melompat mundur. Terdengarlah suara seorang tua menegur dari jauh, "Kim Pohtau, apakah penjahatnya sudah kau temukan?" Begitu lenyap suaranya, muncul seorang kakek berambut ubanan dan berpakaian perlente, dahi lebar, dan mulut besar.

"Hah, Suma Lopiauthau datang! Urusan menjadi mudah diselesaikan," seru Kim Sian-loh girang. Ia menuding Lamkiong Peng dan rekannya, "Penjahatnya berada di sini."

"Kau bilang dia penjahatnya?" tanya si kakek dengan dahi berkerut, jelas ia kurang senang.

"Betul, selain kedua muda-mudi ini, ada lagi begundalnya..."

"Tutup mulut!" bentak si kakek sebelum Kim Sian-loh berucap lebih lanjut.

Kim Sian-loh tercengang dan menyurut mundur. Sebaliknya, si kakek lantas menyongsong ke depan Lamkiong Peng, sapanya dengan menyesal, "Aku datang terlambat sehingga Hiantit (keponakan baik) mendapat perlakuan tidak pantas. Harap dimaafkan."

Lamkiong Peng tertawa sambil memberi hormat, jawabnya, "Tak disangka hari ini Paman pun datang kemari."

Si kakek, alias Suma Tiong-thian, menarik tangan Lamkiong Peng dan berkata kepada Kim Sian-loh, "Kim Pohtau, coba kemari." Dengan bingung, Kim Sian-loh mendekati mereka.

"Kau bilang dia ini penjahatnya?" tanya si kakek. Detektif yang biasanya sangat angkuh ini sekarang melongo oleh sikap kakek yang garang ini. Seketika ia tidak dapat menjawab.

"Sungguh aku merasa khawatir dengan caramu memecahkan setiap perkara jika begini cara kerjamu," kata Suma Tiong-thian.

Kim Sian-loh memandang anjing kesayangannya sekejap. Sekarang anjing ini juga tampak jinak setelah berhadapan dengan si kakek perlente.

"Wanpe sebenarnya juga tidak percaya, kenyataannya..."

"Hm, kenyataan apa?" jengek si kakek memotong, "Memangnya kau tahu siapa dia?" Ia merandek sejenak, lalu menyambung dengan pandangan tajam, "Dia tak lain tak bukan adalah putra kesayangan keluarga Lamkiong yang termasyhur, murid sanjungan Putliong, namanya Lamkiong Peng."

Keterangan ini membuat muka Kim Sian-loh berubah pucat. Ia memandang Lamkiong Peng dengan melongo. Lamkiong Peng tersenyum, katanya, "Sebenarnya urusan ini..."

Belum lanjut ucapnya, sekonyong-konyong selarik sinar hitam menyambar dari kerumunan orang banyak. Cepat Lamkiong Peng mengelak. Si kakek pun membentak dan menghantam. Sinar hitam itu terpental ke samping, berbareng ia terus memburu ke sana. Manjing tidak bersuara, segera ia melayang ke tengah kerumunan orang banyak, tempat menyambarnya senjata rahasia. Hampir bersamaan, ia dan Suma Tiong-thian tiba di situ. Anjing si dewa emas juga menguntit di belakang si kakek. Namun, tiada seorang pun yang pantas dicurigai; agaknya penyergap itu sudah menyelinap pergi.

"Apakah Locianpwe ini Thiki Suma-Locianpwe?" sapa Manjing dengan tersenyum.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment