Chapter 69
"Betul," jawab Suma Tiongthian sambil memandang si nona, "dan nona inikah Khong-jiok Huicu yang termasyhur itu?" Manjing hanya menggeleng sambil tersenyum.
Pada saat itulah terdengar seorang lelaki berbaju panjang menuding keluar sambil berseru, "Itu dia sudah pergi! Sudah pergi! Sudah pergi! Ai, sungguh keji caranya menyerang." Belum habis ucapannya, Suma Tiongthian dan Yap Manjing segera memburu ke arah yang ditunjuk.
Gemerlap sinar mata lelaki berbaju panjang ini dengan senyuman licik, diam-diam ia hendak menyusup pergi dari kerumunan orang banyak.
Tak terduga, mendadak Lamkiong Peng sudah mengadang di depannya sambil menegur, "Hm, apakah sahabat mau pergi begitu saja?" Terkejut juga orang itu.
"Selamanya kita tidak kenal dan juga tidak bermusuhan, mengapa kau serang diriku dengan senjata rahasia?" tanya pula Lamkiong Peng. Perlahan ia memperlihatkan saputangan yang dipegangnya; pada saputangan itu ada sebatang senjata rahasia berbentuk aneh, seperti jarum, tajam kedua ujungnya, dan bercahaya hitam mengilap.
"Am-gi (senjata rahasia) sekeji ini, kalau bukan terhadap musuh besar, mana boleh digunakannya?" kata Lamkiong Peng lagi.
"Kau... kau bilang apa? Aku sama sekali tidak paham," ujar orang itu dengan muka pucat. Berbarengan dengan itu, kedua tangannya terus menyodok ke dada Lamkiong Peng.
"Hm," Lamkiong Peng mendengus sambil berkelit. Orang itu menganggap lawan cuma seorang pemuda lemah, segera ia mendesak maju dan menghantam lagi.
Tak terduga, belum lagi hantamannya dilontarkan, tahu-tahu kuduk bajunya dicengkeram orang dari belakang. Keruan ia terkejut. Sekilas melirik, dilihatnya Suma Tiongthian berdiri di belakangnya dengan muka kereng dan membentak, "Kaum tikus celurut, berani main gila di depanku!" Sekali angkat, kontan orang itu dilemparkan jauh ke sana.
Diam-diam Lamkiong Peng menggeleng kepala, pikirnya, "Sudah lanjut usia orang ini, mengapa perangainya masih keras begini? Bilamana orang ini terbanting mati, kepada siapa lagi akan dikorek keterangan pembunuhan di sini?" Pada saat itulah mendadak bayangan orang berkelabat lagi; orang yang dilemparkan Suma Tiongthian itu telah dilempar kembali ke sini.
Cepat Suma Tiongthian menangkapnya kembali. Waktu ia mengawasi, ternyata Yap Manjing telah berdiri di depannya dengan tersenyum.
"Hebat amat ginkang nona. Jangan-jangan murid Tan Hong Siancu?" kata si kakek.
Manjing tersenyum, "Sungguh tajam pandangan Locianpwe, Wanpwe memang murid Tan Hong adanya."
"Hahaha, memang sudah kuduga. Kecuali anak murid Tan Hong Siancu, siapa pula yang dapat mendidik murid dengan ginkang setinggi ini," seru Suma Tiongthian dengan tertawa. "Haha, sungguh menyenangkan, anak muda memang selalu melampaui angkatan tua, inilah kemajuan zaman." Perlahan ia melemparkan tawanannya ke tanah; dilihatnya muka orang itu sudah pucat pasi.
Lamkiong Peng memburu maju dan menegur, "Sesungguhnya sebab apa sahabat menyerangku? Siapa yang menyuruhmu? Asalkan mengaku terus terang, tentu takkan kubikin susah padamu." Orang itu menghela napas, dipandangnya sekeliling, mendadak sinar matanya menampilkan rasa takut, lalu tutup mulut tanpa berucap sepatah pun.
Dengan kikuk Kim Sianloh melangkah maju, katanya, "Hamba mempunyai cara untuk membikin dia mengaku terus terang, entah bolehkah kucoba?"
Suma Tiongthian mendengus, "Orang ini pasti tidak ada sangkut paut dengan perkara perampokan ini, hal ini tidak perlu kau ributkan. Betapa bodohnya kaum penjahat di dunia, tentu juga tidak mau berdiam di sini setelah berbuat kejahatan. Mengenai urusan lain, hm, kukira tidak perlu Kim Pohtau ikut campur, aku sendiri mempunyai cara untuk mengorek keterangannya." Kim Sianloh mengiakan dan mengundurkan diri dengan kikuk.
Suma Tiongthian menjengek, mendadak mencengkeram tulang lemas pundak orang itu, lalu bertanya dengan suara tertahan, "Atas suruhan siapa, lekas mengaku!" Kontan butiran keringat merembes di dahi orang itu, namun dia tetap tutup mulut tanpa bersuara apa pun. Waktu Suma Tiongthian memperkeras remasannya, tak tertahan lagi orang itu merintih kesakitan, namun tetap tidak mau bicara.
"Aku tidak terluka, jika dia tidak mau mengaku, biarkan saja," ujar Lamkiong Peng.
"Hiantit tidak tahu, keluarga Lamkiong kalian saat ini sedang menghadapi ujian berat. Bahwa orang ini sengaja menyerang dirimu secara gelap, jelas pasti ada dalangnya di belakang layar, mana boleh disudahi begini saja?"
"Ujian berat apa?" tanya Lamkiong Peng.
Suma Tiongthian menghela napas sedih, tuturnya, "Urusan ini agak panjang untuk diceritakan, untung Hiantit sudah akan pulang ke rumah... Ai, tiba saatnya tentu engkau akan tahu sendiri." Lamkiong Peng tambah bingung dan entah apa yang terjadi dengan keluarganya.
Ia menunduk dan termenung. Mendadak dilihatnya kabut tipis mengambang dari permukaan bumi, hanya sekejap saja sudah menyelubungi telapak kaki orang banyak. Tergerak hatinya, waktu ia menengadah, sang surya terang benderang di langit, cepat ia membentak, "Lekas mundur, kabut berbisa!" Segera ia mendahului menyurut keluar.
Suma Tiongthian melengong bingung, tanyanya, "Ada apa?" Tanpa terasa remasannya mengendur, kesempatan itu segera digunakan orang itu untuk meronta sekuatnya, lalu berguling ke sana dan menghilang di balik kabut. Seketika terjadi kekacauan, segera Suma Tiongthian mengejar sambil membentak, "Hendak lari ke mana!" Cepat Lamkiong Peng berseru pula, "Lekas pergi dari sini!"
Tanpa pikir, Yap Manjing menahan pundak Lamkiong Peng, terus melompat ke atas wuwungan. Waktu memandang ke sana, orang tadi agaknya sudah mencampurkan diri di tengah kerumunan orang banyak. Janggut panjang Suma Tiongthian berkibar, ia pun menyelinap kian kemari di tengah orang banyak untuk mencari.
Kim Sianloh lantas menarik rantai emas, namun anjing yang terantai itu seperti tidak mau tunduk lagi pada perintahnya, melainkan terus mengikuti di belakang Suma Tiongthian sambil menggonggong perlahan.
"Kau tinggal di sini, biar kubantu Suma Locianpwe membekuk kembali orang tadi," pesan Manjing kepada Lamkiong Peng.
"Tidak perlu lagi," ujar anak muda itu. "Tentang asal-usul orang itu sudah kuketahui. Yang tak tersangka adalah dalam waktu sehari dua hari saja orang-orang ini sudah dapat memupuk kekuatan seluas ini."
"Orang siapa maksudmu?" tanya Manjing dengan bingung. Dilihatnya air muka Lamkiong Peng mendadak berubah dan berseru, "Wah, celaka!" Segera ia membalik tubuh dan berlari ke sana. Karena badan masih lemah, hampir saja ia jatuh terserimpet.
Cepat Manjing memburu maju untuk memegangnya sambil bertanya, "Hendak ke mana kau? Ai, ada sementara urusan mengapa tidak kaukatakan terus terang padaku?"
"Sesungguhnya aku sendiri tidak tahu sampai di mana perkembangan urusan ini... Ai, saat ini sungguh kuharap bisa tumbuh sayap untuk terbang pulang ke rumah," demikian ucap Lamkiong Peng dengan sedih. Tiba-tiba timbul semacam firasat yang tidak enak, seperti berbagai macam malapetaka akan menimpa keluarga Lamkiong, terutama bila teringat kepada gerombolan "honghiang" (dupa mengambang di tengah hujan angin) yang begitu luas pengaruhnya, sungguh tambah besar rasa kuatirnya.
"Apakah engkau mau pulang?" tanya Manjing dengan hampa.
"Ya, dan engkau..." jawab Lamkiong Peng ragu.
"Apakah perlu kutemanimu?" Meneropong sinar mata si nona.
Lamkiong Peng mengangguk dengan pikiran kusut; selain sedih terhadap urusan yang dihadapi keluarganya, kini bertambah lagi dengan keruwetan benang cinta.
"Jika begitu, marilah kita lekas berangkat," seru Manjing girang. Segera ia menarik anak muda itu dan diajak berlari pergi. Asalkan berada bersama Lamkiong Peng, urusan lain sama sekali tidak terpikir lagi olehnya.
Kabut makin tebal, orang banyak menjadi kacau dan akhirnya bubar. Dengan muka masam dan mengepal tinjunya, Suma Tiongthian mengentak kaki dengan geram. Tentu saja ia dongkol dan juga heran. Waktu ia berpaling, dilihatnya Kim Sianloh masih berdiri di belakang dan sedang memandangnya dengan bingung. Anjing berbulu emas si Dewa Emas juga mendekam di samping kakinya dengan jinak.
Ia menghela napas perlahan dan mengelus kepala anjing itu, katanya, "Dunia kangouw memang banyak gelombang badai, apakah engkau tidak ingin pensiun saja, Kim Pohtau?"
Kim Sianloh menunduk dan menjawab dengan tergagap, "Wanpwee..."
"Kukira anjing ini pun sudah waktunya kaupulangkan," kata Suma Tiongthian pula.
"Tapi sudah belasan tahun Kim Sian ikut padaku, sungguh aku... aku tidak..."
"Di dunia ini tidak ada perjamuan yang tidak bubar," ujar Suma Tiongthian dengan gegetun. "Apalagi, tentunya kau tahu majikannya saat ini jauh lebih memerlukan dia daripada dirimu." Kim Sianloh berdiri termangu dengan termenung.
Tiba-tiba dari balik kabut sana muncul lima sosok bayangan. Seorang lantas menegur dengan suara lembut, "Suma Cianpwe, apakah engkau masih kenal padaku?" Waktu Suma Tiongthian memandang ke sana, tertampaklah seorang nyonya cantik berbaju merah dan bermata jeli sedang melangkah tiba dengan lemah gemulai. Dengan girang ia menjawab, "Hah, biarpun tua mataku belum lagi rabun, masakah tidak kenal lagi padamu? Wah, bagus sekali. Ternyata Ciokheng juga datang. Eh, di mana Liong Hui, mengapa dia malah tidak ikut kemari?"
Kiranya nyonya cantik itu ialah Kwee Giok He. Dengan menyesal ia berkata pula, "Ai, aku pun sedang mencarinya kian kemari, tapi tidak... ai, salahku juga, mungkin aku berbuat sesuatu yang membikin marah dia, kalau tidak, entah mengapa dia..." Mendadak senyumnya lenyap dan berubah menjadi sangat sedih.
Kening Suma Tiongthian berkerenyit, katanya, "Dan di manakah So-so? Mungkinkah dia ikut bersama Liong Hui?" Giok He mengangguk perlahan.
"Ah, anak ini..." gumam Suma Tiongthian.