Chapter 70
Di samping Ciok Tim yang berwajah kaku, berdiri pula Yim Hong Peng yang tampak bersikap santai. Ia berdehem lalu berucap, "Anda ini mungkin ialah Thiki yang termasyhur itu? Cayhe Yim Hong Peng."
"Yim Hong Peng? Ah, bagus sekali. Tak disangka dapat bertemu dengan Yim Taihiap di sini," kata Suma Tiong Thian.
Sekilas dilihatnya jauh di belakang mereka berdiri lagi dua orang serupa budak yang mengikuti majikannya. Jelas dikenalnya kedua orang ini adalah si Elang Hijau dan si Elang Kuning dari Jit-Eng-Tong, gembong perusahaan pengawalan yang termasyhur dahulu.
Dengan girang Suma Tiong Thian mendekati mereka sambil menyapa, "Wi-heng dan Leng-heng, masa kalian sudah pangling padaku?" Siapa sangka, si Elang Kuning Wi Leng Thian dan Elang Hijau Leng Gin Thian hanya saling pandang sekejap seolah sama sekali tidak mengenalnya; mereka tetap berdiri diam dan kaku.
Suma Tiong Thian jadi melongo sendiri. Katanya pula dengan mendongkol, "Hah, meski Ang-Ki-Piaukiok dan Jit-Eng-Tong perusahaan sejenis, namun jalan yang ditempuh memang tidak sama. Tak disangka begini sempit jalan pikiran kalian." Leng Gin Thian dan Wi Leng Thian tetap diam saja seperti tidak mendengar.
Yim Hong Peng dan Kwe Giok He saling pandang sekejap dengan sorot mata mengandung senyuman puas, sedangkan Ciok Tim kelihatan merasa kasihan kepada kedua jago pengawal tua itu.
Perlahan Giok He lantas menarik ujung baju Suma Tiong Thian dan berbisik kepadanya, "Suma Cianpwee, ada sementara orang takkan menjadi soal dijadikan kawan atau tidak... Eh, betapa gagah anjing ini, tentu inilah Kin Sian yang termasyhur itu?" Kim Sian Loh memberi hormat dan menjawab, "Betul, saya Kim Sian Loh. Apabila Nyonya ada keperluan..."
"Oya, hampir lupa kuberitahukan padamu," seru Suma Tiong Thian mendadak, "Peng-ji juga berada di sini!"
"Gote Lamkiong Peng maksud Cianpwee?" tanya Giok He.
"Betul," jawab Suma Tiong Thian. Waktu ia berpaling, kabut tadi sudah mulai menipis, namun di halaman sana kosong sepi, tiada seorang pun.
"Peng-ji! Peng-ji!" cepat Suma Tiong Thian berteriak.
"Mungkin dia sudah pergi," ujar Giok He dengan tersenyum.
"Pergi?" heran Suma Tiong Thian. "Akhir-akhir ini entah mengapa, bila melihat diriku dan Samte, dia lantas menyingkir jauh. Padahal... ai, umpama dia berbuat suatu kesalahan, antara sesama saudara seperguruan tentu juga akan kami maafkan."
Giok He merandek sejenak, lalu menyambung lagi dengan menyesal, "Anak ini... pintar lagi cekatan, semuanya baik. Kuharap kelak dia dapat melakukan suatu pekerjaan besar, siapa sangka... Ai!"
"Memangnya dia kenapa?" tanya Suma Tiong Thian melengak.
"Betapapun dia masih muda belia, hanya lantaran seorang perempuan bejat, dia tidak sayang bermusuhan dengan orang banyak," tutur Giok He. "Demi membela Bwe-Leng-Hiat, dia telah membunuh Hui-Goan Wi Loenghing."
"Hah, apa betul?" teriak Suma Tiong Thian terkejut dan gusar.
Giok He tidak menjawab melainkan menunduk dan menghela napas. Yim Hong Peng juga menggeleng, ucapnya, "Maklum anak muda!"
Dengan geram Suma Tiong Thian bergumam, "Keluarga Lamkiong sendiri sedang gawat dan dia masih berbuat demikian..." Mendadak ia berpaling dan bertanya, "Apakah kau tahu perempuan she Bwe itu telah memperalat kemala tanda pengenal Peng-ji untuk menarik harta benda dari berbagai cabang perusahaan Lamkiong di sekitar Se-an?"
Giok He melirik Yim Hong Peng sekejap, lalu berucap dengan lagak terkejut, "Apa betul?"
"Berpuluh laksa tail perak memangnya bukan urusan besar bagi keluarga Lamkiong, tapi sekarang..." Ia memandang ke depan dan menghela napas panjang.
Gemerlap sinar mata Giok He, katanya, "Apakah keluarga Lamkiong mengalami sesuatu?"
"Ya, sesuatu yang luar biasa. Bisa-bisa bangkrut..." gumam si kakek.
Mendadak terlihat seorang lelaki berbaju hitam berlari masuk dengan membawa sehelai panji merah, rambut semerawut, napas terengah-engah. Begitu masuk, segera ia berlutut dan menyembah sambil melapor, "Wah celaka, Ciongpiauthau!"
"Ada apa?" tanya Suma Tiong Thian dengan bengis.
Orang itu melapor pula, "Beberapa cabang perusahaan keluarga Lamkiong di Buwi, Tioya, Kolong, Engting, dan Lanciu, semuanya telah dilelang menjadi seratus lima puluh tail perak, semuanya diringkas menjadi batu permata. Selagi diangkut sampai di Thayan, lantas... lantas..."
"Lantas bagaimana?" bentak Suma Tiong Thian.
"Lantas dirampok orang tanpa meninggalkan bekas," sambung orang itu. "Kecuali hamba yang merintis jalan di depan, saudara yang lain seluruhnya... seluruhnya telah terbunuh oleh panji merahnya sendiri. Melihat gelagatnya, tiada seorang pun di antaranya sempat membela diri."
Belum habis ucapannya, tahu-tahu Suma Tiong Thian berteriak terus roboh terkulai, jatuh pingsan. Wajah Giok He dan Yim Hong Peng tampak menampilkan rasa kejut juga, seperti sama sekali tidak tahu-menahu atas urusan perampokan ini.
Dari Sunyang lewat Pekho sampai di Ansia, sepanjang jalan hanya ladang luas, jarang kampung, dan sedikit penduduk. Waktu senja, di sebuah dusun kecil di luar kota Ansia yang tenang, asap dapur mengepul sana-sini, nyata sudah dekat waktu makan malam.
Beberapa orang lelaki dengan baju robek dan telanjang kaki tampak berdiri di depan satu-satunya penjaja makanan di dusun ini, sedang membeli kacang goreng dengan satu duit, atau membeli siopia dengan dua duit sebiji, tiga duit dapat membeli secawan arak putih, empat duit dapat membeli setahil daging rebus. Lalu menongkrong di atas bangku panjang dan menikmati makanan itu sambil minum arak serta mengobrol ke timur dan ke barat.
Mendadak salah seorang itu melongo dan mendesis sambil memandang ke depan sana, "Lihat, alangkah cakapnya sepasang muda-mudi ini. Wah Juragan, tampaknya daganganmu akan laris!"
Penjaja makanan itu menoleh, terlihat dari ujung jalan sana melangkah tiba sepasang muda-mudi. Meski kelihatan letih akibat perjalanan jauh, namun sikapnya tetap gagah dan anggun. Penjual makanan yang sudah ompong itu tertawa dan berkata, "Ah, mana orang sudi jajan di tempat seperti ini..."
Tak terduga, tahu-tahu kedua muda-mudi itu langsung menuju ke tempatnya. Si gadis berbaju hijau yang cantik itu lantas mengeluarkan empat duit dan berkata, "Beli siopia dua biji."
Dengan gugup kakek penjual makanan itu membungkuskan dua siopia. Sambil menerima bungkusan siopia, si nona bertanya, "Sudah dekat Ansia bukan?"
Serentak beberapa orang menjawab, "Ya, sudah dekat di depan!" Gadis jelita itu mengucapkan terima kasih dan melanjutkan perjalanan bersama si pemuda.
Sambil berjalan, si nona membagi siopia kepada pemuda itu, katanya, "Lekas dimakan, biarpun penganan udik juga perlu untuk menambah tenagamu agar dapat menempuh perjalanan lebih jauh. Setiba di Ansia dapatlah kita mengambil dua ekor kuda di cabang perusahaanmu, juga perlu tambah sangu."
"Beberapa hari ini syukur bersamamu, kalau... kalau tidak..." gumam si pemuda dengan gegetun.
Si nona menatapnya dengan sinar mata menerawang terang serupa kerlip lampu di kejauhan. Tidak lama kemudian mereka sudah memasuki kota Ansia yang telah bermandikan cahaya. Mereka coba mencari cabang perusahaan keluarga Lamkiong. Akan tetapi, seorang di tepi jalan yang ditanya memperlihatkan rasa heran.
"Kalian mencari toko milik keluarga Lamkiong?" jawab orang itu. "Di kota ini sebenarnya ada sebuah toko hasil bumi milik keluarga Lamkiong yang terkenal, tapi beberapa hari yang lalu toko itu telah dioperkan kepada orang lain, semua pegawainya juga telah dibubarkan. Kejadian ini memang sangat mengherankan penduduk di sini."
Bagi Lamkiong Peng, bukan cuma heran saja, tapi juga gelisah dan cemas karena tidak tahu apa yang telah terjadi. Si nona berbaju hijau, Yap Manjing, juga melongo, tapi segera ia tertawa dan berkata, "Ah, untuk apa diherankan? Bisa jadi Tuhan besar Lamkiong kita mendadak tidak mau berdagang lagi dan ingin pensiun saja di rumah."
Tanpa pikir ia ajak Lamkiong Peng meneruskan perjalanan keluar kota. Hati Lamkiong Peng penuh diliputi tanda tanya, "Sesungguhnya apa yang telah terjadi?" Ia tidak dapat menerka, juga sukar mendapat penjelasan.
Hawa malam mulai dingin, waktu ia menengadah, tertampak bayangan lereng gunung memanjang di depan. Itulah lereng Gunung Butong, di sana pula terletak pusat ilmu silat perguruan ternama, Butong Pai yang termasyhur. Sementara itu, mereka sudah berada di kaki gunung dengan pepohonan yang rimbun.
"Tentu engkau sudah lelah, biarlah kita mengaso saja di sini," kata Manjing.
Mereka lantas mencari suatu tempat teduh dan duduk. Untuk sejenak suasana terasa sunyi senyap, tiba-tiba terdengar perut Lamkiong Peng berkeruyukan.
Manjing tertawa, "Hah, kau lapar lagi!" Segera ia merogoh saku dan mengeluarkan sisa sepotong siopia, katanya pula, "Ini, makanlah!"
Lamkiong Peng terharu, katanya dengan kerongkongan serasa tersumbat, "Engkau sendiri..."
"Baiklah, kutahu engkau takkan mau makan sendiri," ucap Manjing dengan tersenyum sambil merobek siopia itu menjadi dua dan separuh diberikan kepada Lamkiong Peng.
Sambil makan siopia, Lamkiong Peng merasa penganan ini jauh lebih lezat daripada makanan apa pun. Jika bukan dalam keadaan begini dan penganan pemberian kekasih, mana dapat dirasakan nikmatnya siopia itu.
Dengan tersenyum Manjing berucap, "Pantas kakek botak itu kemaruk harta, kiranya uang memang memegang peranan sedemikian penting dalam kehidupan manusia... Eh, menurut pendapatmu, apakah perampokan itu dilakukan olehnya?"
"Hanya tenaga satu orang saja mana dapat membunuh kawanan jago pengawal Ang-Ki-Piaukiok itu?" ujar Lamkiong Peng.
"Jika begitu, mengapa mendadak ia kabur tanpa sebab?"
"Ya, aku pun tidak mengerti," jawab si anak muda.