Halo!

Han Bu Kong - Chapter 71

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 71

Saat Manjing hendak bicara lagi, mendadak Lamkiong Peng menarik tangannya dan mendesis, "Ssst, jangan bersuara!" Terdengarlah suara orang tertawa berkumandang dari atas lereng. Seseorang tertawa sambil berkata, "Jika tidak ada urusan penting, mana berani aku sembarangan mengganggu ketenangan keempat totiang?"

Air muka Manjing berubah. Ia berbisik, "Coba dengarkan, suara siapa ini?"

Tanpa pikir panjang, Lamkiong Peng menjawab, "Siapa lagi, jelas si tua gila uang itu!" Logat kampung aslinya dari Provinsi Soasai memang sukar dilupakan oleh siapa pun yang pernah mendengar suaranya.

"Mengapa ia pun berada di sini?"

"Sssst!" desis Lamkiong Peng.

Rupanya orang-orang itu sudah makin dekat. Terdengar suara seseorang berucap dengan nada berat, "Ada urusan, harap lekas bicara."

"Sepanjang jalan kukuntit di belakang Totiang selama dua hari. Tujuanku justru ingin mencari suatu tempat bicara yang terahasia," kata Ci Ti alias si Gila Uang.

Agaknya lawan bicaranya melenggak, lalu berkata, "Bagaimana kalau kita bicara di atas tebing sana?"

"Bagus sekali," seru Ci Ti.

Lamkiong Peng terkesiap. Segera terdengar suara angin mendesir; beberapa orang itu telah melompat ke atas.

Ternyata keempat orang itu berdiri tepat di suatu tebing yang mencuat di depan tempat sembunyi Lamkiong Peng dan Yap Manjing. Karena mereka berada di bawah pohon dan terhalang oleh akar tumbuhan yang rimbun, maka mereka dapat melihat pihak lawan, namun lawan tidak dapat melihat mereka.

Tampak jelas empat tojin berjubah hijau dan berkaos kaki putih. Rambut mereka disanggul tinggi di atas kepala, pedang tergantung di pinggang, dan di punggung masing-masing menggendong sebuah bungkusan kuning.

Usia mereka rata-rata sudah lebih dari 50 tahun. Sikapnya kereng dan berwibawa; jelas mereka bukan orang sembarangan.

Seorang di antaranya berwajah kelam dan berjenggot sehingga sikapnya tampak lebih gagah. Dengan berkerut kening, ia lantas berkata, "Nah, apa yang ingin Sicu bicarakan, sekarang dapatlah kaukatakan saja."

"Silakan duduk, silakan duduk dulu," ujar si kakek botak alias Ci Ti, lalu ia mendahului duduk bersila.

"Selama ini kami tidak suka bergurau dengan siapa pun," ujar tojin bermuka kelam itu.

Mendadak si botak juga bicara dengan serius, "Tempo sama dengan uang, aku pun tidak pernah membuang-buang waktu untuk bergurau." Keempat tojin saling pandang sekejap, lalu ikut duduk bersila.

Seorang tojin lain yang berwajah dingin meraba tangkai pedang dan berucap, "Sesungguhnya apa yang hendak dibicarakan Sicu?"

Ci Ti memandang cuaca sekejap, lalu berkata, "Saat ini seperti sudah tengah malam, bukan?"

Selagi tojin bermuka kelam mendengus dongkol, segera Ci Ti menyambung, "Tengah malam kemarin..." Baru selesai bicara demikian, serentak air muka keempat tojin itu berubah hebat. Mereka berteriak, "Apa katamu?" Berbareng, mereka pun meraba pedang masing-masing.

Selagi Lamkiong Peng terkesiap, terdengar Ci Ti terbahak dan berkata pula, "Tengah malam kemarin, ketika keempat totiang memperlihatkan ketangkasan kalian, mungkin tak pernah tersangka ada orang menonton permainan kalian di samping."

Ia merandek sejenak. Tanpa menunggu jawaban, ia meneruskan, "Tapi sebelumnya juga tidak kuduga bahwa kawanan perampok berkedok yang turun tangan keji itu tak lain tak bukan adalah jago Butong-pai yang terkenal dan dipandang sebagai pimpinan dunia persilatan. Bahkan tidak ada yang menyangka hal itu bisa dilakukan oleh Butong Subok (Empat Pohon dari Butong) yang merupakan para tetua andalan Butong-pai."

Mendengar ini, jantung Manjing hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Dirasakannya tangan Lamkiong Peng yang memegangnya juga bergetar. Bahwa kawanan tojin Butong-pai bisa menjadi perampok, sungguh berita yang amat mengejutkan.

Baru selesai Ci Ti berucap, serentak terdengar suara bentakan. Bayangan orang berkelebat, sinar pedang pun menyambar. Dalam sekejap, Butong Subok telah mengepung Ci Ti di tengah; ujung pedang mereka mengancam leher kakek botak itu.

Namun, kakek botak yang aneh alias si mata duitan itu tetap duduk bersila di tempatnya tanpa bergerak. Sikapnya tetap tenang. Katanya, "Lebih baik kalian tetap duduk saja. Memangnya kalian sangka urusan ini dapat diselesaikan dengan main senjata?"

Si tojin bermuka kelam membentak, "Omong kosong! Sembarangan memfitnah orang! Masa kau kira Butong Subok tidak mampu membinasakan kakek sialan macam dirimu ini?"

Ci Ti mendengus, "Memfitnah? Hm, numpang tanya, bungkusan apa yang kalian panggul itu?"

Ujung pedang yang mengancam leher si kakek tampak bergetar, air muka Butong Subok juga berubah hebat.

"Hah, keempat totiang adalah orang cerdik dan pintar. Coba pikir saja, hanya aku sendiri, kalau tidak ada bala bantuan yang telah kuatur, masa kuberani sembarangan merecoki Butong Subok yang termasyhur ini?" ejek si kakek botak.

"Pendek kata, apabila malam ini kalian mencederai diriku, maka dalam waktu lima hari saja setiap orang Bulim pasti akan tahu bahwa keempat tokoh Butong-pai yang ternama dan disegani sesungguhnya tidak lain adalah perampok belaka."

"Meski tersiar juga tidak ada orang mau percaya, pada hakikatnya di sini tidak ada orang lain lagi," jengek si tojin muka kelam.

"Kalau tidak ada api, dari mana datangnya asap? Sesuatu kejadian tentu ada sebabnya. Apakah ada orang lain yang tahu atau tidak, perlu kukatakan lagi bahwa sebelum kudatang kemari sudah kuatur segala kemungkinannya. Maka menurut pendapatku, akan lebih baik jika kalian meletakkan senjata saja dan coba bicara lagi."

Benar juga, perlahan keempat pedang yang mengancam itu lantas diturunkan.

"Nah, silakan duduk, segala apa kan dapat dirundingkan secara baik. Aku si Gila Uang juga bukan manusia tak tahu malu," ucap si kakek.

Tidak ada pilihan lain, perlahan Butong Subok duduk kembali dengan air muka agak merah. Nyata, biarpun kungfu mereka cukup mengejutkan, namun pengalaman kangouw mereka terlalu dangkal.

Segera si kakek mata duitan berkata pula, "Sudah lama kudengar orang bilang Butong Subok adalah tokoh saleh dan tinggi agamanya. Kalau tidak menyaksikan sendiri, sungguh aku pun tidak percaya kalian dapat berbuat demikian. Agaknya kalian baru pertama kali ini berbuat sehingga sangat tegang. Kalau tidak, dengan ketajaman mata telinga kalian, tentu dapat mengetahui penonton yang tak diundang serupa diriku ini."

Butong Subok tertegun dan tidak dapat menjawab.

Ci Ti tersenyum. Katanya pula, "Karena kalian baru pertama kali berbuat, sungguh aku tidak mau merusak nama baik yang kalian pupuk dengan susah payah selama ini. Asal saja kalian menerima dua syaratku, selamanya akan kurahasiakan kejadian ini."

Si tojin bermuka kelam adalah kepala Butong Subok, namanya Cipek Tojin, si Cemara Ungu. Dengan kening berkerut, ia berkata, "Apa syaratmu?"

"Urusan ini sebenarnya tidak sulit, asalkan..."

Belum si kakek botak menyelesaikan ucapannya, mendadak Cipek Tojin memotong, "Urusan apa pun, asal sanggup kulakukan pasti akan kami terima. Tapi entah cara bagaimana akan kaujamin bahwa seterusnya kau pasti akan menutupi rapat urusan ini dan takkan disiarkan!"

Ci Ti berpikir sejenak. Katanya kemudian, "Tentang ini..." Mendadak ia bangkit, telapak tangan kiri melindungi dada, telapak tangan kanan terangkat ke depan. Jari besar dan jari telunjuk membuat lingkaran, sisa ketiga jari lainnya terjulur miring ke depan. Sedikit ia menarik napas, serentak tubuhnya memanjang lebih setengah kaki, lalu berucap, "Nah, apa yang kukatakan tentunya dapat kalian percaya, bukan?"

Lamkiong Peng dan Yap Manjing sama terkesiap, hampir berteriak. Sungguh mereka tidak menduga si kakek botak yang semula kelihatan loyo dan mata duitan itu mendadak bisa berubah gagah perkasa.

Butong Subok juga kaget. Cipek Tojin lantas bertanya, "Apakah Cianpwe ini salah seorang tokoh ajaib yang termasyhur di dunia kangouw pada 30 tahun yang lalu dan konon sudah lama mengasingkan diri, Hong Tun Sam Yu adanya?"

Ci Ti alias si mata duitan hanya tersenyum saja. Dalam sekejap, ia sudah kelihatan lagi keadaannya yang konyol tadi.

Cipek Tojin menghela napas. Katanya, "Jika benar Cianpwe adalah tokoh Hong Tun Sam Yu yang dahulu pernah menumpas kawanan iblis, apa pula yang perlu kukatakan? Cianpwe ingin memberi petunjuk apa, terpaksa kami hanya menurut saja."

Nyata keempat tojin andalan Butong-pai yang namanya disegani serupa ketuanya, Kongtiok Tojin, kini ternyata juga jeri terhadap Hong Tun Sam Yu yang biasanya jarang muncul di dunia persilatan itu. Maka dapat dibayangkan betapa jayanya ketiga Hong Tun Sam Yu ketika masih aktif dulu.

Manjing saling pandang sekejap dengan Lamkiong Peng dengan heran.

Terdengar Ci Ti berkata perlahan, "Nah, dengarkan pertama, hendaknya kalian serahkan bungkusan yang kalian panggul itu kepadaku."

Butong Subok melenggak dan saling pandang dengan serba susah. Akhirnya Cipek Tojin menghela napas, pedang dimasukkan kembali ke sarungnya, bungkusan yang dipanggulnya ditanggalkan. Dengan hormat ketiga kawannya, Jing Tiong, Tokgo, dan Kohtong Tojin juga menirukan perbuatan Cipek.

"Keempat bungkusan itu diikat menjadi satu," kata Ci Ti.

Segera Butong Subok membuka bungkusan mereka. Tampaklah cahaya mengkilat menyilaukan mata; ternyata isi keempat bungkusan itu adalah batu permata yang tak ternilai jumlahnya. Sejenak kemudian, isi keempat bungkusan itu telah diringkas menjadi satu.

Ci Ti menerima satu kantungan besar itu lalu berkata, "Harta benda ini adalah milik keluarga Lamkiong yang diserahkan dalam pengawalan Ang-ki-piaukiok, bukan?"

Bergetar tangan Lamkiong Peng. Dilihatnya mata Ci Ti menampilkan cahaya yang aneh, lalu berkata pula, "Dan urusan kedua, ingin kutanya, sesungguhnya lantaran apa kalian berempat rela mengorbankan nama baik untuk merampas harta benda ini?"

Air muka Butong Subok berubah hebat. Cipek Tojin menyapu pandang sekitarnya; suasana malam sunyi, hanya angin mendesir dingin.

"Selain aku, kukira tiada orang lain lagi," kata Ci Ti.

Lamkiong Peng menggenggam tangan Manjing; tangan kedua orang itu terasa sedingin es.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment