Chapter 72
Terdengar Ci Pek Tojin menghela napas dan berkata, "Apakah Cianpwe pernah mendengar nama Kun Mo To (Pulau Kawanan Iblis)?"
"Kun Mo To?" Ci Ti menegaskan dengan melenggak, suaranya juga mengandung nada terkejut.
"Ya, entah sudah beberapa puluh tahun yang lalu cerita tentang Kun Mo To tersiar luas di dunia kangouw," tutur Ci Pek pula.
"Entah mulai kapan dan bagaimana duduk perkaranya, diam-diam Kun Mo To telah mengadakan perjanjian rahasia dengan ketujuh perguruan besar dunia persilatan. Pihak Kun Mo To berjanji tidak akan ikut campur urusan ketujuh perguruan besar, juga tidak akan mengganggu anak muridnya. Sebaliknya, Jitpai (ketujuh perguruan besar) harus berjanji akan mengerjakan sesuatu urusan bagi Kun Mo To, kapan pun dan apa pun itu." Ia menghela napas, lalu menyambung lagi, "Perjanjian rahasia ini turun-temurun diketahui oleh para ketua dan beberapa tokoh terkemuka Jit-toa-muipai kami, yakni Siau-lim, Kun-lun, Kong-tong, Tiam-jong, Gobi, Hoa-san, dan Bu-tong Pai kami. Sudah lama perjanjian rahasia ini berlangsung, tetapi sejauh ini Kun Mo To tidak pernah melaksanakan haknya, baru akhir-akhir ini..." Ia menghela napas lagi, sambungnya, "Kira-kira lebih sebulan yang lalu, mendadak datang kurir pihak Kun Mo To. Kami diminta, bilamana mengetahui ada harta benda keluarga Lamkiong yang dikirim lewat jarak ratusan li di sekitar Bu-tong-san, maka pihak Bu-tong Pai kami diharuskan merampasnya. Kami juga wajib membunuh setiap orang yang mengawal harta benda itu dengan tanda pengenal merak. Adapun harta bendanya boleh terserah kepada kami untuk diatur bagaimana baiknya."
Gemertap sinar mata Ci Ti, katanya, "Meski perusahaan keluarga Lamkiong sudah bersejarah ratusan tahun, selain ada hubungan dengan perusahaan pengawalan, umumnya tidak pernah terdengar ada hubungan lain dengan orang persilatan. Mengapa keluarga Lamkiong bisa bermusuhan dengan pihak Kun Mo To?"
"Kami juga merasa heran," ucap Ci Pek. "Mengingat perjanjian rahasia pihak Kun Mo To dengan Jitpai kami sudah berlangsung sekian lama dan sejauh ini tidak pernah menggunakan haknya, dapat diduga karena mereka memandang hal ini sangat penting dan tidak mau sembarangan menggunakannya. Siapa tahu sekarang mereka justru menggunakan hak ini untuk bertindak terhadap keluarga Lamkiong yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia persilatan... Cuma lantaran pejabat ketua kami juga harus patuh kepada perjanjian leluhur, serta tidak ingin bermusuhan dengan Kun Mo To, dalam keadaan terpaksa kami lantas ditugaskan melakukan tindakan yang tak terpuji ini."
Jing Siong Tojin lantas menyambung, "Bukan cuma Bu-tong Pai kami saja yang bertindak, kuyakin Gobi, Kun-lun, Kong-tong, dan perguruan lain pasti juga berbuat yang sama. Sungguh harus disesalkan, entah ada permusuhan apa antara Kun Mo To dengan keluarga Lamkiong. Biarpun keluarga Lamkiong kaya raya, tapi mana tahan bermusuhan dengan Jitpai?"
Ci Ti duduk termenung tanpa memberi tanggapan, suasana menjadi sunyi.
Mendadak terdengar di bawah pohon yang rimbun sana ada seruan orang tertahan, "Hei, kau..." Tahu-tahu muncul seorang pemuda cakap dengan muka pucat mendekati Bu-tong Su-bok. Serentak Bu-tong Su-bok berbangkit.
Ci Ti juga berseru, "Lamkiong Peng!"
"Hah, Lamkiong Peng!" Ci Pek Tojin bersuara kaget.
Langsung Lamkiong Peng mendekati Ci Pek Tojin, mendadak ia membentak dan melancarkan pukulan. Ci Pek berkelit, lengan bajunya mengebas. Karena dia menyesali perbuatannya, kebasan lengan bajunya hanya digunakan untuk menangkis saja. Tak terduga Lamkiong Peng ternyata tidak tahan oleh tenaga kebasannya, kontan ia roboh terjengkal.
Sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, seorang gadis jelita melayang tiba dan menubruk di atas tubuh Lamkiong Peng sambil menjerit, "Hei, kau..." Segera ia mendongak dan memaki, "Sebenarnya ada permusuhan apa antara keluarga Lamkiong dengan Bu-tong Pai kalian? Kenapa kalian bertindak sekeji ini?"
Bu-tong Su-bok saling pandang dengan gugup dan tak dapat menjawab.
Ci Ti memandang Lamkiong Peng sekejap, katanya, "Jangan kuatir, dia tidak parah. Hanya karena tubuhnya masih lemah dan dirangsang rasa murka, ditambah lagi rasa cemas, gusar, dan lelah, maka mendadak ia jatuh pingsan dan bukan terluka dalam. Asal mengaso dua hari dan makan sedikit obat, tentu akan sembuh."
Perlahan Manjing mengangkat tubuh Lamkiong Peng, ucapnya dengan gemas, "Hm, baru sekarang kutahu wajah asli Bu-tong Pai. Ternyata semuanya cuma manusia rendah dan tidak tahu malu belaka. Tunggulah pembalasanku." Habis berkata, ia lantas melangkah pergi.
Tapi bayangan orang lantas berkelebat, Bu-tong Su-bok telah mengadang di depannya, "Nanti dulu, Nona!"
"Kau mau apa lagi?" bentak Manjing.
Ci Pek menghela napas, "Kami bertindak demikian sesungguhnya juga terpaksa, mohon Nona dapat memahami kesulitan kami."
"Hm, kesulitan apa?" jengek Manjing. "Demi kepentingan pihak sendiri lantas mengadakan perjanjian rahasia dengan kaum iblis dan sembarangan berbuat tanpa menghiraukan kepentingan orang kangouw, sungguh rendah dan memalukan."
Bu-tong Su-bok melongo oleh makian si Nona. Ci Ti berdehem dan mencoba menyela, "Nona..."
"Peduli apa denganmu?" damprat Manjing dengan melotot. "Bagimu, asal ada duit, habis perkara. Apa yang perlu kaukatakan?" Ci Ti melengong juga.
"Nah, kalau kalian mau, boleh silakan cincang saja diriku di sini. Kalau tidak, hendaknya lekas menyingkir dan memberi jalan!" bentak Manjing.
"Maaf, Nona, kami tidak ingin membikin susah Nona, juga tidak dapat membiarkan Nona pergi dari sini. Terpaksa mesti minta Nona suka tinggal sementara di suatu tempat, nanti kalau..."
"Nanti apa?" bentak Manjing sebelum ucapan Koh-tong Tojin selesai. "Barangkali kalian sedang mimpi? Kalian kira nonamu dapat kalian perlakukan sesukanya? Biarpun Bu-tong Su-bok terkenal di dunia kangouw, juga aku Yap Manjing tidak jeri."
Pada saat itulah mendadak seorang tertawa nyaring dan mendengus, "Hm, empat orang tua mengerubut seorang nona cilik, terhitung orang gagah macam apa?"
"Siapa?!" bentak Bu-tong Su-bok dengan kaget.
Segera suara orang itu tertawa pula, "Hihi, jangan takut, Adik Cilik, Tacimu datang membantumu!"
Belum lenyap suaranya, sesosok bayangan orang lantas melayang tiba dari bawah tebing. Diam-diam Bu-tong Su-bok terkesiap oleh ginkang orang yang hebat. Ternyata kedua pendatang seorang lelaki dan seorang perempuan. Yang lelaki gagah tampan, cuma sikapnya rada angkuh; yang perempuan cantik molek mempesona.
"Bwe Kiam Soat!" seru Manjing. Kedua pendatang ini memang Bwe Kiam Soat dan Cian Tong-lai adanya.
Bu-tong Su-bok terkejut. Dengan tertawa genit Kiam Soat berucap, "Adik Cilik, coba beritahukan padaku, apakah beberapa tosu brengsek ini hendak mengerubut dirimu? Biar kuhajar adat kepada mereka."
Manjing menarik muka dan mendengus, "Urusanku tidak perlu kau ikut campur."
"Ahh, masih juga kau bicara segalak ini?" ujar Kiam Soat dengan tertawa. "Kau pondong seorang lelaki sebesar ini, mana bisa kau lawan keempat tosu ini. Kalau aku tidak kebetulan pergoki kejadian ini, bukan mustahil nona jelita seperti dirimu ini akan dikerjai orang." Sembari bicara, ia pun tertawa terkial-kial serupa tangkai bunga bergoyang tertiup angin.
Muka Ci Pek Tojin yang kelam itu tambah gelap, katanya, "Nama kebesaran Nona Bwe sudah lama kami kenal, namun caramu bicara itu hendaknya tahu aturan sedikit di hadapan kami."
"Eh, Tong-lai, coba kaudengar, cara bicara tosu tua ini bukanlah terlampau latah?" tanya Kiam Soat kepada pemuda yang berdiri di sebelahnya.
"Hehe, memang, kukira memang agak terlalu latah," Cian Tong-lai mengangguk seperti orang linglung.
"Bukan urusan kalian, lekas kalian pergi..." jengek Manjing.
"Urusan kami atau bukan, yang pasti akan kuikut campur. Kukira akan lebih baik jika kau pergi saja membawa dia lebih dulu," ujar Kiam Soat dengan tertawa.
"Baik, biar kup pergi," kata Manjing dan segera hendak melangkah.
"Nanti dulu!" bentak Koh-tong Tojin.
"Eh, apa macamnya seorang tosu tua main adang seorang nona cara begini?" segera Bwe Kiam Soat mengejek.
Waktu Bu-tong Su-bok berpaling, ternyata si kakek botak alias Ci Ti entah sudah menghilang ke mana. Koh-tong Tojin berkata pula, "Sudah lama kami dengar ilmu silat Nona meliputi intisari berbagai aliran ternama dan sukar diukur dalamnya. Sekarang Nona bersikap segarang ini terhadap kami, agaknya engkau sengaja hendak pamer kepandaian di sini?"
Serentak Jing Siong dan Tok-go Tojin berputar dan siap di belakang Bwe Kiam Soat, hanya Ci Pek saja dengan muka kelam tetap berdiri di depan lawan. Kiam Soat tersenyum tak acuh, katanya sambil melirik kawannya, "Tong-lai, coba ada orang berani bicara kasar padaku, masa engkau tidak memberi hajar adat kepada mereka?"
Alis Cian Tong-lai tampak menegak, serunya, "Orang beragama bersikap sekasar ini, memang pantas diberi hajar adat!"
"Huh, anak ingusan juga berani bicara tentang hajar adat terhadap Bu-tong Su-bok?" jengek Koh-tong Tojin dengan gusar.
"Bu-tong Su-bok?" melenggak juga Cian Tong-lai.
"Ya, itulah kami berempat!" sahut Koh-tong sambil melolos pedang.
"Hm, memangnya mau apa jika Bu-tong Su-bok?" bentak Cian Tong-lai mendadak, sekali melangkah maju, segera telapak tangannya menabas iga Koh-tong. Sebenarnya antara Bu-tong Pai dan Kun-lun Pai, perguruan Cian Tong-lai, ada hubungan erat, tapi pemuda yang angkuh dan biasanya suka bertindak menuruti watak sendiri ini sekarang tidak menghiraukan hubungan baik segala demi membela si cantik.
"Kurang ajar!" bentak Koh-tong Tojin sambil menggeser ke samping, berbareng pedangnya balas menabas pergelangan tangan Cian Tong-lai. Gerak menghindar yang cepat dan serang balasan yang lihai. Tak terduga Cian Tong-lai lantas mendesak maju malah sambil menghantam lagi, dengan tangan yang lain ia tolak tangan lawan yang berpedang.