Halo!

Han Bu Kong - Chapter 73

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 73

Kohtong terkejut, cepat ia melompat mundur dan membentak, "Apakah kau murid Kun-lun-pai?"

"Kalau murid Kun-lun-pai, lantas mau apa?" jawab Cian Tong-lai sambil melancarkan pukulan tiga kali di tengah berkelebatnya sinar pedang lawan.

"Bagus, serangan hebat!" seru Kiam-soat memuji. "Apabila ditambah lagi jurus Sam-kun-ce-hoat (tiga pasukan menyerang bersama), tosu brengsek ini pasti akan kelabakan." Kiranya dalam waktu beberapa hari yang singkat ini, demi merebut hati si cantik, tanpa pikir panjang Cian Tong-lai telah memberitahukan kepadanya segenap intisari kungfu Kun-lun-pai.

"Hm, boleh coba!" jengek Kohtong Tojin sambil berputar. Secepat kilat pedangnya juga menusuk tiga kali, tapi saking cepatnya seakan-akan hanya satu jurus saja.

"Bu-tong-kiam-hoat yang hebat!" puji Kiam-soat.

"Tapi coba rasakan jurus Sam-kun-ce-hoat orang!" Di tengah tertawa nyaringnya, dilihatnya Cian Tong-lai melompat ke atas, sebelah kaki menendang pergelangan tangan lawan yang memegang pedang.

Ketika Kohtong Tojin menarik pedangnya, tahu-tahu tangan Cian Tong-lai menerobos masuk di bawah cahaya pedang dan menusuk hiat-to maut pada pelipisnya.

Mendadak Kohtong Tojin menarik pedang ke samping, segera Cian Tong-lai menerobos maju dan menusuk Ki-bun dan Ciang-tai-hiat di dadanya.

Cepat Kohtong memutar pedangnya untuk menebas, tapi Cian Tong-lai lantas melompat ke samping dan menghantam iga lawan. Dengan terkejut Kohtong mengelak, menyusul pedang menusuk lagi. Tak terduga, kedua tangan Cian Tong-lai lantas mengatup dan tepat menjepit batang pedangnya dengan kuat.

Dalam kaget dan gusarnya, Kohtong menarik sekuat tenaga. Akan tetapi, pedang serasa melengket di tangan lawan dan sukar terlepas.

"Hehe, bagaimana? Aku tidak berdusta, bukan?" terdengar Bwe Kiam-soat berucap dengan tertawa.

Cian Tong-lai tampak senang, bentaknya mendadak, "Lepas!" Tahu-tahu pedang Kohtong Tojin tergetar mencelat. Cepat Kohtong melompat juga ke atas untuk meraih kembali pedangnya. Pada saat yang sama, Jing-siong Tojin telah memburu maju, kontan pedang menebas pergelangan tangan Cian Tong-lai. Tok-go Tojin juga tidak tinggal diam, berbarengan ia pun menusuk iga kiri musuh.

"Hm, tidak tahu malu..." jengek Bwe Kiam-soat.

Mendadak dirasakan angin tajam menyambar tiba, pedang Kohtong Tojin telah menebasnya dengan cepat. Tapi Bwe Kiam-soat tidak berkelit atau mengegos, tentu saja Kohtong bergirang. Tak terduga, mendadak Bwe Kiam-soat menyurut mundur, pedang Kohtong menyambar lewat dan mengenai dinding karang, "trang!", lelatu api memercik dan membuat tangan Kohtong kesemutan sendiri.

Di antara Bubok, meski masing-masing mempunyai kungfu andalan, tapi bicara tentang ginkang dan kiam-hoat, tiada yang dapat menandingi Kohtong. Sekarang dia ternyata tidak sanggup melawan Cian Tong-lai, juga tidak mampu mengalahkan Bwe Kiam-soat, tentu saja ia malu dan gusar. Sedikit bergeser, sebelah kakinya menendang dada Kiam-soat.

"Hm, apakah ini pun jurus serangan seorang tojin?" jengek Kiam-soat sambil menghindar ke samping.

Di sebelah sana, Jing-siong dan Tok-go berdua telah mengurung Cian Tong-lai di tengah sinar pedang mereka. Ilmu pedang Liang-hoat mereka dapat bekerja sama dengan sangat rapat; meski sangat lihai, kungfu Cian Tong-lai juga rada kerepotan.

Sementara itu, Ci-pek Tojin berdiri menghadapi Yap Manjing. Ia juga gengsi; asal Manjing tidak bergerak, ia pun tidak mau turun tangan.

"Apa benar kau larang aku pergi?" tanya Manjing.

"Urusan menyangkut nama baik perguruan kami, terpaksa aku bertindak demikian," jawab Ci-pek.

Manjing menunduk memandang Lamkiong Peng sekejap. Muka anak muda itu kelihatan pucat dan mata terpejam, napasnya sangat lemah. Ia khawatir dan mendongkol pula, tapi juga tak berdaya. Terpaksa ia berkata, "Bila aku bersumpah takkan menyiarkan kejadian yang kulihat ini, tentu aku boleh pergi, bukan?"

Ci-pek Tojin berpikir sejenak, tiba-tiba dilihatnya si-sute-nya sudah diatasi Bwe Kiam-soat. Pikirannya berubah, katanya segera, "Nona berasal dari perguruan ternama, tentu saja dapat kupercayai janjimu." Mendadak ia menyingkir ke samping dan memberi tanda, "Silakan!"

Manjing jadi melongo karena urusan berakhir semudah ini, tapi mengingat keselamatan Lamkiong Peng, tanpa bicara lagi segera ia angkat kaki.

Dalam pada itu, dengan mengancam hiat-to maut punggung Kohtong Tojin, segera Bwe Kiam-soat berseru, "Nah, ketiga totiang dapat berhenti! Barang siapa sembarangan bergerak lagi, terpaksa ku..." Sampai di sini, sekilas dilihatnya Yap Manjing sedang melangkah pergi dan melompat terjun ke bawah tebing. Tapi lantaran keadaannya juga sangat lemah, mendadak terdengar jeritan Manjing yang jatuh di bawah.

Tanpa pikir panjang, Kiam-soat mendorong Kohtong dan ikut melayang turun ke bawah. Cepat Ci-pek bertiga membangunkan Kohtong yang terluka itu. Sedangkan Cian Tong-lai segera menyusul Bwe Kiam-soat ke bawah tebing, serunya, "Nona Bwe, kita pun dapat pergi saja." Rupanya berhubungan selama beberapa hari ini di antara mereka sudah tambah akrab, Cian Tong-lai jadi semakin terpikat.

Dilihatnya Bwe Kiam-soat sudah berada di samping Yap Manjing dan ingin menariknya bangun, tapi Manjing sedang mendengus, "Tidak perlu, aku dapat berdiri sendiri."

Cian Tong-lai memburu maju, jengeknya, "Hm, sungguh orang yang tidak tahu budi. Baru saja kita membebaskan dia dari kesukaran, sekarang dia tidak tahu terima kasih lagi."

Meski jatuh terduduk karena melompat dari ketinggian, namun Lamkiong Peng masih tetap dalam rangkulannya. Sekarang Manjing lantas melompat bangun dan menjawab, "Hm, memangnya kalian yang membebaskanku dari kepungan musuh?"

"Ya, kau sendiri yang tinggal pergi," ujar Kiam-soat dengan tertawa. "Eh, adik cilik, kau mau ke mana?"

"Aku pergi ke mana, apa sangkut pautnya denganmu?" jengek Manjing.

"Siapa yang peduli," sela Cian Tong-lai dengan gemas sambil menarik lengan baju Bwe Kiam-soat. "Jika dia tidak tahu diri, marilah kita pergi saja."

Tapi Bwe Kiam-soat tidak menghiraukannya, katanya pula kepada Manjing, "Adik cilik, kau menggendong seorang sakit, tenagamu lemah. Di sekitar sini juga sukar mencari tempat penginapan, hanya seorang diri ke mana kau mau pergi?"

Manjing menjadi ragu juga; tubuh sendiri memang lemah, tidak membawa biaya pula, apalagi tidak kelihatan rumah penduduk di sekitar situ. Jika tidak mendapat pertolongan, sungguh keadaan Lamkiong Peng memang mengkhawatirkan. Sejenak kemudian barulah ia menjawab, "Habis, bagaimana?"

"Marilah kita meneruskan perjalanan bersama dan menyembuhkan penyakitnya dahulu," kata Kiam-soat.

"Kau mau pergi bersama mereka?" seru Cian Tong-lai. "Bukankah kita akan pergi bersama?"

"Berdasarkan apa kau ikut campur urusanku?" jengek Kiam-soat mendadak.

"Bukankah... segala apa sudah kuberitahukan padamu, mengapa kau..."

"Semua itu kau lakukan dengan sukarela. Apakah pernah kujanjikan sesuatu kepadamu?" jawab Kiam-soat dengan ketus.

Cian Tong-lai melongo, mendadak ia berteriak, "Tapi... tapi engkau tak dapat pergi... jangan tinggalkan aku..." Segera ia menubruk maju dan bermaksud merangkul Bwe Kiam-soat.

Sambil berkerenyit kening, Kiam-soat membentak, "Lelaki hina!" Kontan sebelah tangannya menghantam. Sama sekali Cian Tong-lai tidak mengelak dan menghindar, "plak", pukulan itu tepat jatuh mengenai dadanya dan mencelat jauh ke sana, roboh dan pingsan seketika.

Kiam-soat mencibir, katanya kepada Manjing, "Marilah kita pergi!" Manjing hanya menoleh sekejap, akhirnya ikut pergi tanpa bicara. Diam-diam Manjing membatin, "Pantas setiap orang bilang dia berdarah dingin, tingkah lakunya memang keji dan dingin. Tapi... terhadap Lamkiong Peng tampaknya dia tidak dingin."

Dalam pada itu, terdengar Bwe Kiam-soat lagi berkata, "Ada sementara lelaki di dunia ini memang menggemaskan, asalkan kau beri sedikit kebaikan, dia lantas ingin menarik keuntungan darimu. Untung sekarang, bilamana terjadi belasan tahun lalu, hm, jiwa orang she Cian itu tentu sudah melayang."

Lamkiong Peng berbaring di tempat tidur dan tampak berguling-guling dengan keringat memenuhi dahinya. Ia sedang bermimpi buruk; seperti beratus senjata menghunjam kepalanya, seperti api hendak membakarnya, serupa setan iblis yang tak terhitung jumlahnya hendak mengerubutnya. Mendadak ia berteriak dan bangun. Waktu ia membuka mata, mana ada api, senjata, dan setan segala. Di bawah cahaya lampu hanya kelihatan dua raut wajah cantik molek yang sedang memandangnya dengan cemas.

Setelah menenangkan diri, ia pandang Bwe Kiam-soat dengan tercengang, katanya, "Engkau... engkau berada di sini?"

Kiam-soat tersenyum manis, sebaliknya Manjing menunduk sedih, perlahan ia meninggalkan kamar Lamkiong Peng kembali ke kamar sendiri. Sungguh kusut pikirannya, sampai jauh malam ia tidak dapat tidur. Pikirnya, "Yang dicintainya ialah Bwe Kiam-soat, untuk apa kubikin susah sendiri dengan menyelipkan diri di tengah mereka?"

Setelah dipikir lagi pulang pergi, akhirnya ia menghela napas, ia membuka daun jendela dan bergumam, "Aku pergi saja, semoga kalian hidup bahagia selamanya dan aku pun..." Tak tertahan menitiklah air matanya.

Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama Bwe Kiam-soat juga sedang termenung-menung di kamarnya. Ia pun sedang memikirkan nasibnya dan berkeluh kesah, "Wahai Bwe Kiam-soat, mengapa engkau menjadi lupa daratan seperti ini? Masa kau lupa pada usiamu yang sudah tidak muda lagi, dirimu pun berlumuran dosa, mana setimpal dirimu baginya."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment