Chapter 74
"Dia sudah sembuh, dia juga sudah didampingi seorang gadis jelita yang pantas baginya, untuk apa lagi kau tinggal di sini?" Ia menghela napas dan bangkit, lalu bergumam, "Biarlah aku pergi saja. Kalau aku tidak pergi sekarang, bisa jadi sebentar lagi aku tidak sanggup pergi." Dengan sedih ia membuka daun jendela, dengan perasaan berat ia memandang ke arah kamar Lamkiong Peng, dan bergumam pelan, "Aku pergi saja, jangan kau sesalkan diriku, semua ini demi kebaikanmu. Padahal... masa aku tidak ingin mendampingimu selamanya?" Tanpa terasa air matanya berderai. Dengan mengeraskan hati, akhirnya ia melompat keluar jendela dan meninggalkan hotel.
Tidak ada yang tahu bahwa hampir pada saat yang sama, di kamarnya, Lamkiong Peng juga sedang bingung memikirkan kedua gadis itu. Selama dua tiga hari ini ia berbaring sakit di tempat tidur; ia sedih akan malapetaka yang menimpa keluarganya, sekaligus murung memikirkan persoalan diri sendiri yang terlibat di tengah cinta kasih dua gadis itu.
Ia berpikir keluarganya sedang menghadapi ujian berat dan masa depannya sukar diramalkan. Bagaimanapun, ia tidak ingin menyusahkan kedua gadis itu. Akhirnya, ia pun mengambil keputusan untuk pergi demi kebahagiaan mereka. Ia ingin pulang ke Kanglam untuk menjenguk orang tua dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Beberapa hari kemudian, di suatu malam yang pekat dengan hujan angin, sebuah pintu gapura megah berdiri tegak dalam kegelapan. Di balik gapura itu terdapat jalan panjang berliku yang diapit oleh pepohonan yang bergoyang tertiup angin. Guntur menggelegar dan cahaya kilat berkelebat. Sesosok bayangan tampak berhenti, agak ragu untuk meneruskan langkah. Sekujur badannya basah kuyup, bajunya tak teratur, dan rambutnya semerawut, mencucurkan air, entah air hujan atau air keringat. Kening orang itu berkerut, ia menyapu pandang sekeliling dengan sinar matanya yang tajam.
Nyata sekali, dia adalah Lamkiong Peng. Malam ini ia pulang ke rumah, disambut oleh hujan angin yang keras. Kepulangannya membawa tanda tanya yang belum terjawab, yang membuatnya gelisah dan cemas. Sepanjang jalan dari utara sampai ke selatan, segenap cabang perusahaan keluarga Lamkiong ternyata sudah ditutup seluruhnya; hal ini membuatnya bingung dan kesusahan sepanjang perjalanan. Maklumlah, selama ini ke mana pun ia pergi, ia tidak pernah kekurangan sesuatu. Namun sekarang ia tidak punya apa-apa; ia tidak membawa uang, bahkan untuk makan saja harus menjual baju. Syukurlah sekarang ia sudah tiba di rumah sendiri.
Ia membusungkan dada dan mengusap air yang membasahi mukanya, lalu melangkah lagi ke depan. Mendadak, dari balik pohon di tepi jalan, ada orang yang membentak, "Berhenti!" Di bawah sinar kilat, dua sosok bayangan melompat keluar dari kanan kiri jalan.
Lamkiong Peng berhenti dengan terkejut. Dilihatnya dua lelaki berbaju hitam dan memakai kedok; yang seorang bersenjata pedang dan yang lain memakai sepasang senjata potlot baja. Keduanya mengadang di depan dan menegur, "Sahabat, berani menerobos ke dalam Lamkiong Sanceng di tengah malam buta begini, apakah engkau sudah tidak sayang lagi pada nyawamu?" Segera orang yang berpedang itu menusuk leher Lamkiong Peng. Serangannya cepat, jurusnya lihai, sekali serang segera hendak merenggut nyawa.
Lamkiong Peng tertegun, cepat ia berkelit sambil membentak, "Berhenti dulu! Apakah kalian tidak kenal siapa diriku?"
Orang yang bersenjata potlot baja segera menutuk dua titik saraf (hiat-to) di dada lawan sambil membentak, "Tidak peduli siapa pun, selama 30 hari ini dilarang masuk ke sini!" Lamkiong Peng melompat mundur dan berseru pula, "Berhenti dulu, aku inilah Lamkiong Peng!"
Orang itu merandek sejenak, mendadak ia tertawa keras dan berkata, "Haha, Lamkiong Peng? Dari mana datangnya Lamkiong Peng sebanyak ini? Termasuk kau, sudah ada empat orang memalsukan nama Lamkiong Peng untuk masuk ke sini." Sembari bicara, pedangnya menyerang pula tiga kali sekaligus.
Mau tak mau gusar juga Lamkiong Peng, teriaknya, "Jika kalian tidak percaya, terpaksa harus kuterobos secara paksa." Sekali menghantam, ia mendesak mundur orang berpedang itu.
"Saat ini Lamkiong Sanceng sudah berada di bawah lindungan 17 tokoh terkemuka, biarpun setinggi langit kepandaianmu, jangan harap akan memasuki perkampungan ini!" teriak orang bersenjata potlot. Berbarengan dengan itu, potlot bajanya lantas menutuk. Serangan orang ini sangat lihai, setiap tempat yang diarahkan selalu bagian yang mematikan.
Terdengar angin berdesir, kembali tiga sosok bayangan melayang tiba. Sekilas melirik, lelaki berpedang lantas berseru, "Ciok-loji, kedatangan musuh lain lagi, lekas kau hadapi mereka!" Lelaki berpotlot yang disebut Ciok-loji itu mengerutkan kening, katanya, "Ketiga pendatang ini tampaknya tidak lemah, lekas kau lepaskan isyarat tanda bahaya saja."
"Hm, jika malam ini kita tidak mampu mempertahankan pos penjagaan kita ini, selanjutnya apakah kita punya muka untuk menemui orang?" jengek lelaki berpedang. Mendadak tangannya bergerak, tiga larik sinar perak langsung menyambar ketiga sosok bayangan yang melayang tiba di bawah hujan itu.
Ciok-loji tertegun sejenak, segera ia pun menubruk ke sana. Dilihatnya seorang di antaranya mengayun tangan, kontan ketiga larik sinar perak tergetar balik. Cepat Ciok-loji memukul, angin pukulan menyambar, ketiga senjata rahasia itu dapat dipukulnya jatuh.
"Siapa sahabat yang menerobos Lamkiong Sanceng di tengah malam buta ini, lekas mundur kembali!" bentaknya. Dilihatnya ketiga sosok bayangan itu berseragam sama, baju hitam dan memakai kedok; kedua orang kanan kiri bersenjata golok, yang di tengah bertangan kosong, di bawah kain kedoknya kelihatan jenggotnya yang putih.
Ketiga orang itu mendengus, serentak mereka mengerubut maju. Kedua potlot baja Ciok-loji bekerja cepat, serentak ia menutuk dada ketiga penyusup. Si kakek berjenggot memberi tanda berhenti kepada kawannya, lalu berseru, "Apakah sahabat yang mengadang ini kedua saudara keluarga Ciok dari Tiamjongpai?"
"Kalau betul, mau apa?" jawab Ciok-loji bengis.
"Lekas mundur, kalau tidak, jangan menyesal jika kami tidak sungkan lagi."
"Hm, aku justru ingin coba-coba kepandaian jago Tiam-jong," jengek si kakek.
Kedua orang berkedok dan bergolok itu segera menyurut mundur dan si kakek pun perang tanding dengan Ciok-loji. Senjata si kakek berkedok ini adalah cambuk panjang berwarna hitam. Hanya sekali dua serangan saja, Ciok-loji sudah terkurung di tengah bayangan cambuk yang dahsyat.
"Yim Ong-hong!" seru Ciok-loji terkesiap.
"Betul," kata si kakek berkedok dengan tertawa. "Haha, tak disangka setelah mengasingkan diri 20 tahun, masih ada kawan dunia persilatan (bulim) yang kenal diriku."
Lelaki berpedang itu juga terperanjat. Ia sudah kerepotan melawan Lamkiong Peng, kini diketahui pula si kakek berkedok ini adalah bandit termasyhur pada 20 tahun yang lalu; tentu saja ia tambah khawatir. Segera ia merogoh saku dan melemparkan sesuatu ke udara. Selarik cahaya meluncur dan meletus di atas, seketika tersebarkan bunga api sebagai hujan.
Lamkiong Peng juga curiga karena kedua orang itu merintanginya mati-matian. Apabila benar mereka melindungi perkampungannya, mengapa jejak mereka dirahasiakan dan main sembunyi? Jelas karena asal-usul mereka tidak boleh diketahui orang lain. Jika Yim Ong-hong yang sudah menghilang 20 tahun ini muncul, apa maksud tujuan kedatangannya?
Dalam pada itu, terdengar Ciok-loji kembali berseru, "Yim Ong-hong, kau berani melanggar sumpahmu sendiri dan kini mengacau lagi di dunia persilatan (kangouw), apakah kau tidak takut Hongyu akan mencarimu?"
"Hahaha, sudah belasan tahun jejak Hongyu tidak kelihatan di dunia kangouw, mungkin ketiga tua bangka itu sudah mampus semua, maka sumpahku dengan sendirinya juga batal," jawab Yim Ong-hong dengan tertawa. "Baru-baru ini kudengar di sini ada berjuta tahil perak, tanpa terasa hatiku tergelitik. Anehnya, Tiamkiat yang termasyhur mengapa sudi menjadi penjaga rumah orang? Apakah barang kali kalian juga mengincar harta berjuta tahil ini?"
"Hm, jika kau pun mengincar harta benda yang berada di sini, sama halnya kau sedang mimpi," jengek Ciok-loji. Ia terus berjaga dengan rapat, meski cambuk Yim Ong-hong menyerang dengan gencar, ia belum juga mampu dirobohkan.
"Menyingkir!" bentak Lamkiong Peng mendadak. Sekali hantam, ia mendesak mundur pengadangnya. Tentu saja kedua Ciok bersaudara tercengang. Juga Yim Ong-hong melenggak, teriaknya, "He, anak muda, apa maksudmu ini? Jika perkampungan ini berhasil diserbu, tentu engkau akan mendapat bagian yang menarik, lekas bereskan Ciok-lotoa dulu!"
Sesudah menyebarkan bunga api tadi, bala bantuan belum juga datang. Diam-diam Ciok-lotoa yang berpedang itu menjadi gelisah, cepat ia menanggapi ucapan Yim Ong-hong, "Jangan percaya ocehannya, sahabat muda! Orang ini adalah bandit yang terkenal kejam, caranya merampok terkenal main sapu bersih tanpa kenal ampun. Mana mungkin dia membagi rezeki padamu? Jika kau bantu kami menggempurnya mundur, mungkin engkau akan mendapat ongkos yang layak."
Diam-diam Lamkiong Peng mendongkol. Sudah dirinya disangka sebagai penjahat, sekarang harta benda keluarganya menjadi incaran pula. Meski ia meragukan tingkah laku kedua Ciok bersaudara, orang tersebut memang mempertahankan keselamatan perkampungannya; jelas mereka kawan dan bukan lawan. Sebaliknya, komplotan Yim Ong-hong ini jelas adalah penyusup yang mengincar harta keluarganya. Segera ia melancarkan pukulan dahsyat sehingga cambuk Yim Ong-hong sama sekali tidak berdaya menembus pertahanannya.
Tentu saja Yim Ong-hong terkejut oleh ketangkasan anak muda itu; hanya dengan bertangan kosong, ternyata mampu melawan cambuknya yang lihai.