Chapter 75
Sementara itu, kedua Ciok bersaudara sempat mengalihkan perhatian untuk melayani dua orang berkedok yang membawa golok.
"Hm, rupanya kedua saudara Li dari Thay-hing-san," ejek Ciok-loji.
Salah seorang berbaju hitam dan berkedok itu membalas mendengus. "Hm, tajam amat mata Ciok-loji!"
Mendadak ia menarik kedoknya dan bergelak, "Haha, baiklah, biar kuperlihatkan wajah asli Tuan Besar Li!" Kakak kedua dari Li bersaudara ini bernama Li Thi-hai, berjuluk *Hoa-to* atau Golok Kembangan. Adiknya, *Soat-to* Li Hui-hai, si Golok Salju, juga membuang kain kedoknya sambil berteriak, "Nah, setelah kalian melihat dengan jelas wajah kami, bolehlah kalian mengadu kepada Raja Akhirat!" Kedua Li bersaudara ini sama-sama berkepala besar, bermata melotot, dan bercambang dengan perawakan tinggi besar.
Namun, golok mereka adalah senjata ringan dan gesit. Keempat golok segera bekerja sama dengan rapat; cahaya perak berhamburan serupa salju. Serentak Ciok-loji berdua terserang dengan gencar. Tanpa bicara, kedua Ciok bersaudara melayani lawan dengan sama tangkasnya.
Diam-diam Lamkiong Peng membatin, "Sekaligus tokoh Bulim kelas tinggi ini membanjiri Lamkiong San-ceng. Jangan-jangan Ayah telah mengumpulkan harta benda hasil penjualan berbagai cabang perusahaan ke sini. Entah apa maksud tujuan Ayah dengan tindakannya ini?" Angin meniup semakin kencang, hujan pun tambah lebat. Di kegelapan hutan sana mendadak meluncur pula tiga larik cahaya terang, lalu bunga api bertebaran di udara. Menyusul di sekeliling, bergema suara teriakan dan bentakan diselingi suara nyaring beradunya senjata. Seketika air muka semua orang berubah.
"Tampaknya sebelah sana kedatangan penyatron lagi," desis Ciok-loji kepada saudaranya.
"Antara Yim Ong-hong dan Cin Luan-ih biasanya ada satu, tentu ada dua. Selama ini keduanya hampir tidak pernah berpisah. Jika sekarang Yim Ong-hong berada di sini, dengan sendirinya Cin Luan-ih juga sudah ikut datang," kata Ciok-lotoa.
Yim Ong-hong terbahak-bahak, katanya, "Biar kukatakan terus terang, segenap kawan kalangan hitam dari 13 provinsi sudah datang semua ke Lamkiong San-ceng ini. Apa kalian mesti jual nyawa percuma bagi Lamkiong Sian-ju?" Habis bicara, cambuknya bekerja lebih kencang. Ia menyabat kian kemari sehingga kedua Ciok bersaudara agak kerepotan.
Lamkiong Peng tambah gelisah. Ia pikir Ayah tidak mahir ilmu silat; jika kawanan penyatron ini sampai berhasil menyerbu ke dalam rumah, entah bagaimana akibatnya nanti. Karena cemasnya, mendadak ia bersuit dan melompat tinggi ke atas. Kedua tangannya meraih, secepat kilat ujung cambuk Yim Ong-hong terpegang olehnya.
Dengan sendirinya Yim Ong-hong menahan cambuknya dengan kuat sambil berseru kaget, "Gaya Si-liong, murid Ci-hau!"
Kedua Ciok bersaudara saling pandang sekejap sambil berucap, "Ternyata benar Lamkiong Peng adanya!" Dalam pada itu, Lamkiong Peng juga telah melayang turun ke tanah dan menarik sekuatnya sehingga cambuk Yim Ong-hong terbetot lurus. Kedua orang saling tarik dengan kuat, keempat kaki mereka sampai amblas ke dalam tanah.
Di tengah hujan angin yang lebat, suara suitan semakin ramai dan juga tambah dekat. Di udara muncul bunga api berhamburan. Pada saat itulah sekonyong-konyong sesosok bayangan orang muncul dari dalam hutan. Dengan dua-tiga kali lompatan, langsung bayangan ini menerjang ke sini.
"Aha, bagus!" seru Ciok-lotoa dengan girang.
"Tiam-jong-yan juga datang!" seru Yim Ong-hong kaget sehingga tenaganya mengendur. Pada saat yang sama, Lamkiong Peng terus membentak sambil membetot sekuatnya sehingga cambuk lawan kena dirampasnya.
Bayangan yang menerjang tiba itu, Tiam-jong Yan, si Walet dari Tiam-jong, mendengus, "Hm, Yim Ong-hong ternyata benar berada di sini. Dan siapakah sahabat ini?"
"Dia inilah Lamkiong Peng," kata Ciok-loji.
"Apa betul?" Tiam-jong Yan menegas.
"Gaya Sin-liong, tidak mungkin salah," ujar Ciok-loji.
Diam-diam Lamkiong Peng merasa lega karena akhirnya identitas dirinya dapat dikenali mereka. Ia memberi hormat dan berkata, "Atas kebaikan hadirin yang sudi membela Lamkiong San-ceng, di sini Lamkiong Peng mengucapkan terima kasih. Harap kalian bertahan sementara di sini, biar kujenguk dulu Ayahku."
Selagi dia hendak pergi, siapa tahu bayangan orang lantas berkelebat, tahu-tahu Tiam-jong Yan mengadang lagi di depannya.
Lamkiong Peng tercengang, "Apakah Anda belum percaya bahwa aku inilah Lamkiong Peng?"
Dengan dingin Tiam-jong Yan menjawab, "Justru lantaran Anda Lamkiong Peng, maka terlebih tidak boleh masuk ke sana."
"Meng... mengapa begitu?" tanya Lamkiong Peng dengan tercengang.
"Tiada gunanya banyak bertanya, lekas mundur ke sana!" seru Tiam-jong Yan, sebelah tangannya lantas menolak ke depan.
Yim Ong-hong tergelak, "Haha, kukira Tiam-jong-pai kalian juga tidak bermaksud baik..." Belum lenyap suaranya, kedua telapak tangan Tiam-jong-pai menghantam sekaligus; yang kiri memukul Lamkiong Peng, yang kanan menghantam Yim Ong-hong sekuatnya. Terpaksa Yim Ong-hong menarik kembali serangannya kepada Lamkiong Peng, cambuknya berganti arah di tengah jalan dan menyabat iga Tiam-jong Yan.
Kesempatan itu digunakan oleh Lamkiong Peng untuk menarik diri. Dengan cepat ia hendak melompat ke arah perkampungan. Tak terduga Yim Ong-hong dan Tiam-jong Yan kembali merintanginya.
"Tiam-jong Yan," bentak Lamkiong Peng, "percuma engkau dikenal sebagai tokoh perguruan ternama. Apakah sekarang kau pun menjadi bandit yang tamak harta?"
"Hm, siapa yang menghendaki hartamu?" ejek Tiam-jong Yan.
"Jika begitu, mengapa kau ganggu rezeki kami?" tukas Yim Ong-hong.
"Dan mengapa kau pun merintangi jalanku?" bentak Lamkiong Peng murka.
Muka Tiam-jong Yan tampak masam, ia tidak menjawab, tapi serangannya tambah dahsyat. Di sebelah sana, kedua Ciok bersaudara yang menandingi kedua Li bersaudara tampak sudah mulai unggul, sedangkan suara suitan dan bentakan di tengah hutan sana semakin mendekat, malahan sering diselingi suara jeritan ngeri; jelas ada orang terluka dan binasa. Hanya di perkampungan yang terletak di kedalaman hutan sana tetap kelam tanpa terdengar sesuatu suara.
Sekonyong-konyong terdengar orang menjerit di samping. Permainan golok Li Hui-hai menjadi kacau, pedang Ciok-loji telah menusuk bahu kirinya, darah memuncrat membasahi baju Ciok-loji.
Li Thi-hai terkejut, serunya, "He, Jite, apakah parah lukamu?"
Li Hui-hai menggertak gigi, ia menerjang maju lagi, serangannya tambah kalap. Mendadak kakinya menendang sehingga sebuah golok baja Ciok-lotoa terlepas dari pegangan. Li Thi-hai meraung sambil menebas sehingga lengan kiri terluka panjang, pedang Ciok-loji juga membalik dan melukai lengan kanan Li Thi-hai. Dalam sekejap keempat orang sama-sama terluka dan berlumuran darah, namun semuanya pantang mundur, tetap bertempur dengan sengit.
"Hm, jika kalian bertiga bukan tamak terhadap harta, untuk apa kalian mengadu jiwa bagi Lamkiong Sian-ju?" bentak Yim Ong-hong. "Dan bila kalian benar membela Lamkiong-san-ceng kami, mengapa kalian..."