Halo!

Han Bu Kong - Chapter 76

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 76

"Merintangiku ke sana?" Lamkiong Peng juga berteriak.

Namun, Tiam Jong Yan dan kedua Ciok bersaudara tetap bertempur tanpa bicara. Air hujan mengguyur darah dan menggenangi jalan yang becek. Mendadak terdengar suara bentakan dan jeritan. Sesosok bayangan terguling keluar dari kegelapan hutan dengan luka di dada. Sekilas pandang, Tiam Jong Yan segera menendang sehingga orang itu terpental.

"Wah, celaka, si Harimau Gila Tio Kang terjungkal!" teriak Li Thi-hai.

"Hm, jika tidak lekas mundur, tiada satu pun di antara kalian dapat pergi dengan selamat," jengek Ciok-loji.

Belum lenyap suaranya, kembali sesosok bayangan menerjang keluar dari kegelapan hutan sambil menjerit. Ia langsung menerjang ke depan Li Thi-hai. Pedang yang dipegangnya lantas menebas, tetapi ia sendiri keburu menyemburkan darah segar, matanya mendelik, dan ia segera roboh terjungkal. Agaknya, orang ini binasa terkena pukulan kuat.

"Celaka, Go sute terbunuh!" teriak Ciok-lotoa. Selagi ia hendak memeriksa kawannya, mendadak dua kali tebasan golok Li Hui-hai membuatnya melompat mundur.

"Hm, sahabat Hek-to dari 13 provinsi sudah berkumpul di sini. Tiam Jong Pai kalian hari ini mungkin akan tertumpas seluruhnya," jengek Li Thi-hai.

"Kentut busuk!" bentak Ciok-loji murka sekaligus melancarkan lima kali tusukan.

Tergerak hati Lamkiong Peng; ia tidak mau terlibat lebih lama lagi dalam pertempuran yang tidak keruan juntrungannya ini. Mendadak ia mendesak mundur Tiam Jong Yan. Kebetulan waktu itu cambuk Yim Ong Hong juga menyambar. Selagi Tiam Jong Yan kerepotan menghindari serangan dua jurusan, kesempatan ini segera digunakan Lamkiong Peng untuk melompat ke arah perkampungan.

Baru saja tubuh Lamkiong Peng meluncur ke depan, Ciok-lotoa membentak, sebelah potlot bajanya disambitkan. Ketika mendengar desing angin tajam menyambar dari belakang, tanpa menoleh Lamkiong Peng melompat sekuatnya ke depan sambil mengebaskan sebelah tangan ke belakang. Potlot baja lawan pun terjatuh ke tanah.

Li Hui-hai menjadi kalap. Selagi Ciok-loji menebas dengan pedangnya, ia tidak menghindar. Sebaliknya, goloknya langsung menebas pundak Ciok-lotoa hingga darah memuncrat. Sambil meraung kesakitan, Ciok-lotoa menubruk maju. Kontan kedua golok Li Hui-hai menikam hingga menembus perut Ciok-lotoa, tapi kedua tangan Ciok-lotoa yang kuat juga mencekik leher Li Hui-hai. Sebelum Li Hui-hai sempat meronta, tahu-tahu matanya mendelik dan tulang kerongkongannya patah. Darah pun mengucur dari mulutnya dan ia binasa seketika.

Kejut dan gusar, Ciok-loji sambil meraung kalap menusukkan pedangnya ke iga Li Thi-hai hingga menembus ke iga sebelahnya. Tentu saja Li Thi-hai tidak tinggal diam; goloknya juga membacok sehingga lengan kanan Ciok-loji terpenggal.

"Serahkan nyawamu!" teriaknya parau. Belum lenyap suaranya, pukulan Ciok-loji tepat mengenai dada Li Thi-hai. Kontan Li Thi-hai memuntahkan darah dan goloknya jatuh ke tanah. Lengan kanan Ciok-loji pun buntung sebatas pangkal pundak, namun dia tidak merasakan sakit, seolah lengan kutung itu bukan miliknya. Menyusul kakinya menendang ke selangkangan Li Thi-hai. Terdengarlah jeritan Li Thi-hai, tubuhnya mencelat dan jatuh ke dalam hutan; jelas nyawanya pun amblas. Kedua tokoh kalangan hitam itu binasa dalam sekejap.

Ciok-loji sempoyongan, tersembul senyuman pedih pada ujung mulutnya, gumamnya, "Lotoa, sudah kubalaskan sakit hatimu..." Belum lanjut ucapannya, ia pun jatuh tak sadarkan diri.

Karena tersambar oleh cambuk Yim Ong Hong, Tiam Jong Yan juga kesakitan. Sekilas pandang dilihatnya kedua Ciok bersaudara telah menggeletak. Tentu saja ia terkesiap, diam-diam ia berkeluh, "Ai, habislah semuanya!" Waktu ia memandang ke sana, dilihatnya Yim Ong Hong sedang berjongkok kesakitan terkena tendangannya tadi.

"Kau bilang sahabat kalangan hitam dari 13 provinsi hampir semuanya berkumpul di sini, apakah benar tujuan kalian adalah harta benda keluarga Lamkiong ini?" bentak Tiam Jong Yan.

Meski kesakitan, Yim Ong Hong tetap tenang, jawabnya, "Habis, untuk apa para kawan berkumpul di sini jika bukan lantaran ada rezeki?"

Tiba-tiba timbul akal keji Tiam Jong Yan, katanya, "Setelah mendapatkan bagian rezeki itu, apakah kalian segera angkat kaki dari sini?"

"Sesudah berhasil, tentu saja kami akan pergi. Untuk apa berdiam di sini? Hah, orang pintar seperti Tiam Jong Yan mengapa mengajukan pertanyaan begini?" sahut Yim Ong Hong tertawa.

Mendadak Tiam Jong Yan alias Kongsun Yan meluncurkan tiga larik sinar ke udara. Terdengar letusan disertai bunga api yang bertebaran memenuhi angkasa. Tergerak hati Yim Ong Hong, ia tahu orang itu sedang memanggil kawannya, segera ia pun bersuit memberi tanda. Dalam sekejap, terdengarlah suara teriakan di dalam hutan yang menyerukan untuk berhenti bertempur.

Segera sesosok bayangan tinggi besar melompat keluar dari kegelapan hutan sambil berseru, "Bagaimana, Yim-lotoa?" Orang ini berambut ubanan semua, suaranya lantang, namun keadaannya kelihatan runyam. Bajunya tidak teratur, berlepotan darah dan air hujan; ia pun bersenjata cambuk.

"Tiam Jong Yan lepas tangan!" jawab Yim Ong Hong.

Cin Luan-ih tertawa puas, tapi ketika melihat mayat kedua Li bersaudara, ia pun terkejut. Sementara itu, bayangan orang-orang berbondong-bondong melayang keluar pula dari dalam hutan. Sebagian besar melompat ke belakang Hongpian, sebagian kecil—empat orang tojin dan tiga pemuda berpedang—mendekati Kongsun Yan.

Terkesiap juga Kongsun Yan melihat sisa kawannya itu. Tidak terkecuali kawannya juga kaget melihat keadaan medan tempur. Salah seorang tojin berjenggot berseru, "Hah, Ciok toako dan Ciok-jiko..." Kiranya di antara ketujuh belas jago Tiam Jong Pai yang datang ini, ada sembilan orang yang terbunuh.

"Sudahlah..." ucap Kongsun Yan dengan menghela napas.

"Sudahlah bagaimana? Apa maksudmu?" tanya si tojin berjanggut hitam yang bergelar Thian-go Tojin.

"Biarkan mereka lewat ke sana," ucap Kongsun Yan perlahan.

"Jiko, mana boleh..." Belum lagi Thian-go bicara lebih lanjut, mendadak Kongsun Yan memberi tanda, "Jangan banyak bicara, biarkan mereka lewat!"

Thian-go Tojin mengepal erat kedua tinjunya, suatu tanda tidak rela atas kebijaksanaan sang Suheng. Serentak belasan orang melayang ke arah perkampungan sana. Kongsun Yan lantas mendesis, "Agaknya Samte tidak tahu maksudku. Hari ini kawanan penyatron yang datang tidaklah sedikit. Untuk menghemat tenaga, apa salahnya kita biarkan mereka langsung menuju ke sana? Tentu mereka akan disambut golongan lain yang sudah menunggu di sana. Kita tunggu saja di sini. Apakah mungkin kita akan membiarkan harta benda diboyong mereka begitu saja?"

Thian-go melongo, ia menyimpan kembali pedangnya dan mengangguk, katanya, "Ya, perhitungan Jiko memang harus dipuji."

Kongsun Yan memandang para anak murid Tiam Jong yang hadir, ucapnya pula dengan menyesal, "Kalian tahu, demi memenuhi janji dengan kaum iblis pada berpuluh tahun yang lalu oleh leluhur kita, bilamana sekarang kita dapat membendung musuh dan mempertahankan diri, sudahlah lumayan. Yang kuharap, asalkan harta benda itu tidak sampai diangkut pergi, untuk itu biarpun jiwaku harus melayang juga kurela. Ciangbun Suheng sudah... Ai, selanjutnya hanya Samsute saja yang harus memikul tugas mengembangkan Tiam Jong Pai kita."

Thian-go Tojin menunduk terharu, anak murid Tiam Jong Pai yang lain pun sama prihatin menghadapi tugas selanjutnya yang berat. Angin mendesir, hujan masih turun dengan lebatnya, membuyarkan darah yang memenuhi tanah di situ.

Malam tambah larut, di bawah hujan Lamkiong Peng terus berlari dengan cepat. Hanya sebentar saja bayangan rumah megah di depan sudah kelihatan. Terbangkit semangat Lamkiong Peng; berbagai tanda tanya dalam benaknya sejenak lagi akan menjadi jelas. Namun, hatinya tetap diliputi ketegangan. Secepat terbang, Lamkiong Peng melompati undak-undakan rumah yang panjangnya lebih dari 20 tingkat itu. Tempat ini sudah dikenalnya dengan baik sejak kecil; begitu kaki menyentuh undakan batu yang dingin itu, timbul juga perasaan hangat dalam lubuk hatinya.

Tak terduga pada saat itu juga mendadak dari dalam rumah bergema suara bentakan perlahan, "Kembali!"

Tiga bintik perak serentak menyambar; dua titik perak di depan, satu titik di belakang. Akan tetapi, ketika hampir mendekati sasaran, titik perak terakhir itu mendadak meluncur lebih cepat dan mendahului yang lain. Keruan Lamkiong Peng terkejut, cepat ia mengelak; terdengar suara desing tajam menyambar lewat di samping telinga, berbareng itu ia melompat ke atas sehingga kedua titik senjata rahasia yang lain pun luput mengenainya. Waktu ia hinggap kembali di lantai, suasana dalam rumah lantas sunyi senyap seperti tidak pernah terjadi sesuatu.

Cemas hati Lamkiong Peng memikirkan kedua orang tua, segera ia berteriak, "Siapa yang berada di dalam? Ini Lamkiong Peng sudah pulang!"

Belum lenyap suaranya, terdengarlah orang berseru di dalam, "Ah, kiranya anak Peng adanya!"

Sesosok bayangan secepat terbang melayang keluar. Belum lagi Lamkiong Peng sempat menghindar, tahu-tahu bayangan orang itu sudah memegang pundaknya. Sekuatnya Lamkiong Peng meronta, tapi sukar terlepas. Sekilas pandang dilihatnya rambut orang itu semrawut, namun kedua matanya terang dan bersinar welas asih. Siapa lagi kalau bukan sang ibu. Sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya bahwa sang ibu mempunyai kungfu setinggi itu. Selagi ia melongo, sang ibu telah merangkulnya dengan erat sambil berseru, "O, anakku, engkau sudah pulang, sungguh sangat kebetulan!"

Kasih sayang ibunda sungguh menghibur hati Lamkiong Peng yang cemas, lapar, lelah, dan curiga. Di tengah ruangan besar yang suram itu hanya diterangi sebuah lentera kecil yang hampir padam tertiup angin ketika pintu mendadak terbuka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment