Halo!

Han Bu Kong - Chapter 77

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 77

Saat Lamkiong Peng masuk ke dalam ruangan, tampak berpuluh peti besar tertimbun di tengah ruangan. Di atas peti-peti tersebut menancap berbagai senjata rahasia.

Pada deretan kursi di sekelilingnya, duduk bersandar beberapa lelaki kekar yang tampak lesu. Bahkan, ada yang terlihat berlumuran darah; napas mereka terengah-engah dan sebagian memejamkan mata seolah tengah menahan sakit. Jelas mereka baru saja mengalami pertempuran sengit.

Di tengah ruangan yang tampak kacau ini, berdiri dengan tenang seorang pria tua berpenampilan perlente. Jenggotnya bergoyang tertiup angin, sikapnya tenang, namun sinar matanya tajam.

"Ayah!" seru Lamkiong Peng sambil bergegas maju dan berlutut di depan orang tua itu. Dia adalah ayah Lamkiong Peng, yaitu Lamkiong Siang-ju.

Orang tua itu menghela napas perlahan dan membelai kepala anak kesayangannya. Cukup lama ia terdiam, tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Dengan penuh kasih sayang, Nyonya Lamkiong menggunakan saputangannya untuk mengusap air hujan dan keringat di kepala Lamkiong Peng. Ia berucap lembut, "Nak, selama ini tentu kau merasa susah. Selanjutnya, mungkin kau akan lebih sengsara lagi." Lamkiong Siang-ju hanya tersenyum getir tanpa suara.

Melihat wajah sang ayah yang muram serta wajah ibunda yang pucat dan kurus, ditambah keadaan rumah yang berantakan, Lamkiong Peng tahu telah terjadi sesuatu yang luar biasa. Ia segera bertanya, "Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa berbagai cabang perusahaan kita kau tutup? Mengapa Tiamjongpai, yang selama ini tidak memiliki sangkut-paut apa pun dengan kita, sekarang ikut mengepung perkampungan kita? Mereka bersikap seolah berjaga, namun tampak tidak berniat baik."

"Selain itu, Kun-mo-to yang sering terdengar di dunia persilatan namun tidak pernah terlihat orangnya, mengapa juga memusuhi kita? Ayah, mohon jelaskan semua itu. Sungguh anak merasa sangat cemas dan gelisah."

"Sabar dulu, Nak. Kenapa kau jadi segopoh ini?" ujar Nyonya Lamkiong. "Sebentar lagi ayahmu tentu akan menjelaskan duduk perkaranya."

Dengan wajah prihatin, Lamkiong Siang-ju melangkah ke luar pintu. Setelah memandang sejenak, ia berbalik dan memberi hormat seraya berkata, "Maaf, jika terpaksa kuperlakukan kalian dengan kurang hormat!"

Selagi semua orang yang duduk lesu itu merasa heran, ada yang berdiri dan bertanya, "Ada... ada apa..." Tiba-tiba bayangan Lamkiong Siang-ju berkelebat dengan cepat. Semua orang yang baru saja berdiri itu roboh terduduk kembali di kursi masing-masing dan tak sadarkan diri. Hanya sesaat kemudian, mereka mulai mendengkur dengan nyenyak.

Melihat ketangkasan sang ayah yang hanya dalam sekejap mampu menutuk titik jalan darah (*hiat-to*) tidur semua orang, Lamkiong Peng terkejut bukan main. "Hah, rupanya Ayah menguasai ilmu silat sehebat ini!"

Ternyata, tidak ada seorang pun di kolong langit yang tahu bahwa bos keluarga Lamkiong yang kaya raya dan termasyhur ini adalah seorang ahli silat mahatinggi yang jarang ada bandingannya, bahkan putra kesayangannya sendiri baru menyadarinya hari ini.

Sementara itu, Lamkiong Siang-ju berdiri menghadap dinding dan berucap dengan suara berat, "Anak Peng, sejak kecil kau hidup berkecukupan. Kau adalah permata hati ayah-bunda; apa pun kesalahanmu, kami tidak pernah marah. Apakah kau tahu apa sebabnya?"

Lamkiong Peng tidak dapat melihat wajah sang ayah, namun pundak pria itu tampak bergetar hebat, menunjukkan emosi yang mendalam. Dengan gugup, ia menjawab, "Anak... anak tidak tahu. Mungkinkah anak telah berbuat kesalahan?"

"Apa yang kukatakan ini menyangkut nasibmu selanjutnya," ucap Lamkiong Siang-ju. "Untuk seterusnya, kau tidak bisa lagi hidup enak seperti sebelumnya. Mungkin kau justru harus hidup menderita dan berani menghadapi ujian berat."

Lamkiong Peng merasa bingung. Dengan suara gemetar, ia bertanya, "Bilamana anak harus menderita demi ayah-bunda, tentu itu pantas. Hanya saja... mengapa Ayah berkata demikian? Sebenarnya ada urusan apakah?"

"Keluarga Lamkiong sangat kaya raya. Apakah kau tahu dari mana datangnya kekayaan sebesar ini?" ucap Lamkiong Siang-ju prihatin.

Lamkiong Peng melongo bingung. "Kakek moyangmu berasal dari keluarga miskin," tutur Lamkiong Siang-ju. "Seperti orang miskin pada umumnya, kakek moyang kita kenyang menjalani penderitaan hidup. Akhirnya, beliau bersumpah ingin menjadi orang kaya. Dengan hemat, beliau mengumpulkan sedikit uang dan ikut berlayar dengan serombongan pelaut."

"Tak terduga, di tengah jalan kapal yang ditumpangi mengalami badai dan terbalik. Kakek moyang kita beruntung mendapatkan sepotong kayu dan terhanyut mengikuti arus hingga terdampar di sebuah pulau yang tak diketahui namanya."

"Dalam keadaan begitu, cita-citanya untuk menjadi kaya buyar serupa mimpi. Saking sedihnya, beliau menangis tergerung-gerung. Tak terduga, pulau karang itu ternyata bukan pulau kosong. Saat merasa putus asa, beliau melihat banyak orang tua berpakaian kuno di tengah pulau. Rupanya, pulau karang itu adalah pulau misterius yang dalam dongeng dunia persilatan disebut Cusiacitian (istananya para dewa)."

Lamkiong Peng kembali melongo. Ayahnya menyambung lagi, "Setelah menemukan kakek moyang, orang-orang tua itu menanyakan asal-usulnya. Setelah diamati dengan teliti, kakek moyang diperbolehkan tinggal di sana. Selama tiga tahun, beliau harus bekerja giat siang malam tanpa kenal lelah."

"Setelah melewati gemblengan selama tiga tahun, mereka membawa kakek moyang ke tepi laut. Ternyata di sana sudah berlabuh sebuah kapal besar yang tertimbun harta benda tak terhitung jumlahnya. Tentu saja kakek moyang terbelalak bingung. Beliau sama sekali tidak menyangka bahwa orang-orang aneh itu memberinya kapal besar beserta isinya."

"Hanya saja, syaratnya kakek moyang harus bersumpah takkan menyiarkan rahasia kekayaan Cusian-tian. Selain itu, beliau diwajibkan mencicil utang yang dibawanya sekapal penuh itu. Rupanya isi kapal itu adalah modal pinjaman untuk memenuhi sumpah kakek moyang yang ingin menjadi orang kaya. Orang-orang di pulau itu hanya membantu memenuhi cita-citanya, dengan syarat keturunan keluarga Lamkiong harus menugaskan putra sulungnya membawa upeti ke pulau Cusian-tian secara turun-temurun."

"Setiap generasi, jumlah antaran itu harus bertambah dua kali lipat. Selama keluarga Lamkiong masih memiliki keturunan, janji bayar utang itu tidak boleh diingkari."

"Sampai pada angkatan kakekmu, jumlah utang yang berlipat itu sudah sulit dihitung. Mendadak, utusan Cusian-tian datang mendesak upeti tersebut. Terpaksa kakekmu mengumpulkan harta dari berbagai tempat dan menugaskan pamanmu untuk mengantarnya. Waktu itu, aku belum menikah, sedangkan pamanmu sudah memiliki seorang anak bayi..."

Baru sekarang Lamkiong Peng mengetahui sejarah keluarganya yang penuh keanehan. Dengan suara gemetar, ia bertanya, "Dan di manakah Paman sekarang? Di mana pula saudara sepupuku?"

Lamkiong Siang-ju menggeleng. "Sehari sebelum berangkat, pamanmu dengan nekat membunuh istri dan anaknya yang masih bayi. Rupanya dia sudah menghitung bahwa satu angkatan lagi, harta keluarga Lamkiong tidak akan cukup untuk memenuhi utang kepada Cusian-tian."

"Pamanmu tidak sampai hati melihat keturunannya menderita, juga tidak ingin aku menikah dan memiliki anak yang akan menanggung nasib serupa. Ia meninggalkan sepucuk surat, lalu berangkat membawa harta itu dan berlayar ke tengah lautan. Sejak saat itu, tidak ada kabar beritanya lagi..."

Hingga titik ini, suara ayahnya terdengar berduka dan tersendat-sendat. Orang luar hanya tahu keluarga Lamkiong kaya raya tiada tara, namun siapa sangka keluarga ini dibangun di atas darah dan air mata.

"Tidak lama setelah pamanmu berangkat, Kakek wafat," lanjut Lamkiong Siang-ju. "Setelah berkabung tiga tahun, aku berkelana mencari jejak pamanmu. Biasanya, setiap kali hendak mengirim upeti, pihak Cusian-tian mengirim utusan membawa petunjuk pelabuhan mana yang harus dituju. Jadi, keluarga kita tidak ada yang tahu di mana letak pulau itu. Meski sudah bertahun-tahun aku berkelana, aku tidak mendapat petunjuk apa pun. Akhirnya aku putus asa, dan pada saat itulah aku bertemu dengan ibumu."

Nyonya Lamkiong mengusap air mata dan memegang tangan suaminya, lalu berucap perlahan, "Biarlah kuteruskan ceritamu. Setelah bertemu dengan ayahmu, kami saling jatuh cinta. Namun, ayahmu senantiasa berusaha menghindariku. Tentu saja aku heran dan sedih. Dalam gusarku, aku memutuskan akan menikah dengan pria lain."

"Pria itu adalah sahabat ayahmu. Siapa sangka, suatu hari ayahmu disergap dan keracunan hebat. Dalam keadaan kritis, ayahmu menceritakan sejarah keluarganya kepadaku. Saat itulah aku baru tahu alasan mengapa ia selalu menghindariku."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment