Halo!

Han Bu Kong - Chapter 78

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 78

Rupanya dia mempunyai alasannya, yaitu dia menyadari keluarga Lamkiong yang termasyhur ini akhirnya akan runtuh, akan bangkrut. Ayahmu tidak tega membuatku sengsara di kemudian hari, juga tidak tega melahirkan anak yang nasibnya akan menderita. Begitu dewasa, wajib membayar utang bagi leluhurnya. "Tapi ibumu ternyata tidak gentar menghadapi semua itu," tiba-tiba Lamkiong Siang-ju menyambung, "dia juga tidak takut kepada kehidupan miskin."

Dalam semalam dia menggendongku ke Thian-san untuk mencari obat penawar.

"Maka sejak itu kami tidak pernah berpisah lagi," tukas Nyonya Lamkiong sambil menggelendot di tubuh sang suami.

"Kemudian, setelah kaulahir, kami bertekad akan membuat bahagia hidupmu. Kami tidak ingin kau belajar ilmu silat, maka kami tidak pernah mengajarkan kungfu padamu. Siapa tahu watak pembawaanmu justru gemar ilmu silat, kami tidak tega pula melawan kehendakmu. Maka, kami mengirim dirimu kepada Liong Po-si. O, Nak, sungguh kami telah membikin susah padamu karena selama ini selalu kami rahasiakan semua ini." Habis bertutur, Nyonya Lamkiong menangis tersedu.

Sambil membelai rambut putranya, Lamkiong Siang-ju bertutur lagi, "Sebenarnya kuharapkan utusan Cu-sin-tian takkan datang secepat ini. Sebab itulah kami pun tidak menghendaki pernikahanmu. Siapa tahu kali ini, agaknya mereka sudah memperhitungkan kekayaan keluarga Lamkiong takkan terdapat sisa lagi. Maka, tanpa menunggu kau kawin dan melahirkan anak, mereka segera menyampaikan pesan agar selekasnya menyelesaikan pengiriman harta benda kita. Untuk itu, dirimu ditunjuk yang harus melaksanakan tugas. Nak, kau tahu semua ini untuk memenuhi sumpah kakek moyangmu, meski... meski ayah-bunda sangat sayang padamu, tapi... tapi apa yang dapat kami lakukan lagi?" Sampai di sini, berderailah air matanya.

Mendadak Lamkiong Peng membusungkan dada dan berseru tegas, "Ayah dan Ibu, urusan utang keluarga Lamkiong kita dengan sendirinya harus kita tuntaskan..." "Tapi kau, Nak..." Nyonya Lamkiong tidak sanggup meneruskan lagi.

"Anak pasti akan pulang kembali," seru Lamkiong Peng tegas. "Betapa misteriusnya Cu-sin-tian itu, aku bersumpah akan pulang ke sini untuk mendampingi Ayah dan Ibu. Biarpun di sana ada dinding tembaga dan tembok baja, juga takkan mampu mengurungku. Apalagi jika para penghuni di sana berjuluk Para Dewa, masak mereka memaksa orang berbuat tidak bakti kepada orang tua?"

"Tapi... tapi kali ini lain daripada biasanya," ujar Lamkiong Siang-ju dengan sedih. "Akhir-akhir ini orang dari Kun-mo-to justru muncul lagi di dunia kangouw. Bahkan, mereka bertekad merintangi kita mengirim harta ke Cu-sin-tian."

Baru sekarang Lamkiong Peng menyadari duduk perkara. "Pantas, dengan janji rahasia mereka memaksa berbagai golongan orang Bu-lim untuk bersama-sama merampas harta kiriman keluarga Lamkiong."

Lamkiong Siang-ju menghela napas, "Sekarang anak murid Tiam-jong yang datang itu masih berkumpul di luar perkampungan sana sebab mereka gagal merampas harta benda yang tidak sedikit ini. Kelihatan mereka seperti berjaga, sebenarnya mereka mengawasi supaya kita tidak dapat mengirim keluar harta benda yang tidak sedikit ini. Selama beberapa hari ini entah berapa kali telah terjadi pertempuran sengit di perkampungan kita ini dan banyak mengalirkan darah. Ah, harta, selain membawa sengsara bagi keluarga Lamkiong kita, apa pula yang kita dapatkan? Anakku, jika engkau dilahirkan di keluarga miskin, tentu takkan kaurasakan penderitaan seperti sekarang ini."

Di luar, hujan nusih turun dengan lebatnya. Mendadak di luar jendela ada orang menghela napas panjang, "Ah, aku salah!" Lamkiong Peng terkejut, bentaknya, "Siapa itu?" Segera Lamkiong Siang-ju pun melompat ke depan jendela dan membuka daun jendela. Tapi sebelum orang tua itu bertindak lebih lanjut, suara orang tadi telah menegur, "Lotoa, apa sudah pangling padaku?"

"Hah, Loh Ih-sian!" seru Nyonya Lamkiong sambil memburu maju. Lamkiong Siang-ju juga berseru kaget, "He, Jite, kiranya engkau?" Waktu Lamkiong Peng mengawasi, tampak di luar jendela berdiri seorang tua berkepala botak. Segera dikenali kakek aneh bernama Ci Ti alias "mata duitan" itu. Sungguh tak disangka olehnya bahwa kakek yang mata duitan ini adalah "Jite" atau saudara kedua sang ayah. Seketika ia jadi melongo. Dilihatnya kakek botak itu langsung melompat masuk dan berhadapan dengan sang ayah.

"Jite," ucap Lamkiong Siang-ju sambil memegangi pundak Ci Ti. "Sekian lama tidak bertemu, mengapa... mengapa engkau berubah begini?"

Ci Ti termenung-menung seperti orang linglung. Tiba-tiba ia bergumam, "Aku salah, aku salah!"

"Ah, urusan yang sudah lalu, untuk apa kaupikirkan lagi!" ucap Nyonya Lamkiong dengan sedih. "Aku dan Toako tidak menyalahkanmu, sebaliknya malah merasa... merasa bersalah padamu."

"Tidak, aku salah," seru Ci Ti mendadak sambil berlutut di depan Lamkiong Siang-ju dan mencucurkan air mata. "Toako, kuminta maaf..."

"Lekas bangun, Jite," kata Lamkiong Siang-ju sambil menarik si kakek botak.

"Tidak. Selama urusannya tidak kukatakan, mati pun aku tidak mau berdiri lagi," kata Ci Ti. "Soal ini sudah dua puluh tahun menekan hatiku. Pada waktu itu, kusangka Samoay (adik ketiga) silau pada kekayaan keluarga Lamkiong, maka aku ditinggalkan untuk menikah denganmu. Aku tidak tahu bahwa sebelum berkenalan denganku, dia sudah mencintaimu. Tidak kuduga bahwa dia menikah denganmu bukan lantaran kemaruk pada kekayaanmu; dia justru rela ikut sengsara bersamamu. Sebaliknya, aku... aku malah tinggal pergi tanpa pamit, bahkan kudatangkan serombongan musuh untuk merecoki kalian..."

"Ah, Jite, aku dan Samoay kan tidak berhalangan apa pun. Untuk apa mengangkat lagi urusan lampau dan buat apa engkau menista diri sendiri?" ujar Lamkiong Siang-ju dengan menyesal.

"Tidak boleh tidak, aku harus mengutuk diriku sendiri. Dengan begitu barulah hatiku bisa agak tenteram," kata Ci Ti. "Selama puluhan tahun ini, siang dan malam kukutuki kalian. Seperti orang gila aku mencari harta benda, kecuali merampok dan mencuri. Hampir dengan segala jalan aku berusaha mengumpulkan harta benda. Aku pun mengasingkan diri, hidup hemat dan melarat. Orang-orang menganggap aku orang gila, tidak ada yang tahu bahwa aku sengaja bersumpah akan mengumpulkan harta benda yang lebih banyak daripada kekayaan keluarga Lamkiong, akan tetapi..." Mendadak ia melemparkan karung yang dibawanya dan berteriak pula, "Ini! Biarpun kukumpulkan harta benda berjuta-juta tahil, lalu apa gunanya? Baru sekarang kutahu betapa besarnya harta benda tetap tidak dapat membeli cinta yang murni. Biarpun kekayaan berlimpah, tetap tak dapat mengurangi derita seseorang. Baru sekarang kusadar, Toako, aku... aku salah padamu, harap engkau sudi memberi ampun."

"Sudah kaudengar ceritaku tadi?" tanya Lamkiong Siang-ju dengan rawan.

Ci Ti mengangguk. Cepat Lamkiong Siang-ju membangunkan Ci Ti dan berkata, "Apa pun juga, hari ini kita bertiga telah berkumpul kembali di sini, sungguh menggembirakan dan bahagia." Ia tertawa cerah, lalu berpaling dan berkata pula, "Anak Peng, lekas beri hormat kepada Paman. Inilah Loh Ih-sian, Paman Loh yang dahulu terkenal sebagai Sinengthi-ciang (si pelari cepat tanpa bayangan, kepala tembaga dan pukulan besi)."

Lekas Lamkiong Peng melangkah maju dan memberi hormat. Loh Ih-sian mengusap air matanya, katanya dengan tertawa, "Nak, tentu tak kausangka kakek yang mata duitan ini adalah Pamanmu." Nyonya Lamkiong juga terharu, ucapnya dengan tersendat, "Sungguh tak terduga akhirnya kita berkumpul lagi, tak nyana sekarang engkau suka berdandan secara begini. Ah, masa... masa engkau begitu miskin sehingga baju pun tidak mampu beli?"

"Aku bukan miskin, tapi terlampau kikir," ujar Loh Ih-sian dengan tertawa. "Meski dalam karungku terisi berjuta tahil perak, tapi satu tahil pun kusayang menggunakannya."

"Kutahu apa yang kaulakukan ini adalah lantaran dia (maksudnya sang istri)," kata Lamkiong Siang-ju dengan gegetun.

"Ah, engkau memang..." "Cih, sudah sama tua, untuk apa bicara kejadian dulu di depan anak," omel Nyonya Lamkiong dengan agak jengah.

Meski hati ketiga orang tua ini diliputi rasa sedih dan haru, tapi juga merasa gembira karena dapat berkumpul kembali. Sesaat itu mereka seakan-akan berada pada dua puluh tahun yang lalu. Pada saat itulah mendadak terdengar orang membentak di luar. Serentak tiga batang panah bersuara menyambar masuk lewat jendela dan "cret!", sama menancap di atas peti yang bertumpuk di tengah ruangan itu.

"Haha, bagus! Tak disangka ada kawanan bandit berani menyatroni rumah Toako sekarang," kata Loh Ih-sian dengan tergelak.

"Tenaga pemanah ini tampaknya tidak lemah. Entah orang gagah dari mana?" kata Lamkiong Siang-ju dengan tertawa. Segera terdengar seorang berteriak di luar, "Yim Ong-hong dan Cin Lun-ih bersama para orang gagah dari ke-18 gunung datang untuk meminta sedikit biaya kepada Lamkiong Cengcu. Harap Lamkiong Cengcu memberi kebijaksanaan akan menerima dengan hormat atau menolak secara tegas?"

"Kenapa Hongpian muncul kembali?" ucap Lamkiong Siang-ju dengan kening berkerenyit.

"Tampaknya Hongpian belum tahu siapa yang tinggal di sini," ujar Loh Ih-sian sambil membusungkan dada. Seketika perawakannya seakan-akan tumbuh lebih tegap. Lalu sambungnya, "Siaute belum lagi tua, bagaimana dengan Toako?"

"Masa kau kira Toako sudah tua?" sahut Lamkiong Siang-ju.

"Haha, bagus!" Loh Ih-sian tergelak tertawa sambil menepuk pinggang sehingga terdengar bunyi genta. "Sekarang juga?"

"Ya, tunggu kapan lagi?" jawab Siang-ju.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment