Halo!

Han Bu Kong - Chapter 79

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 79

Lamkiong-hujin tertawa, "Bagus, Hau-hoa-leng (genta pembela bunga) kalian masih lengkap, sebaliknya bunga macam diriku ini sudah layu!"

Tiba-tiba orang di luar membentak pula, "Lekas beri jawaban! Bila kami menghitung tiga kali tidak ada keputusan, segera kami menyerbu masuk!"

Loh Ih-sian menanggapi ucapan Lamkiong-hujin, "Ah, kami bersaudara belum lagi tua, masa engkau mengaku sudah layu? Eh, Lo-toa, perintis jalan kan tetap diriku?"

"Baik," kata Siang-ju.

Baru saja kata itu terucapkan, mendadak Loh Ih-sian melompat dan hinggap di atas kedua tangan Lamkiong Siang-ju yang diangkat ke atas. Begitu Siang-ju membentak, "Pergi!" Sekali tolak, kontan tubuh Loh Ih-sian terlempar ke luar secepat terbang.

Terdengarlah suara "blang", daun pintu terpentang, menyusul terdengar gemerinting. Seutas benang emas terbang masuk dari luar, berbareng ada benang emas lain menyambar keluar dari tangan Lamkiong Siang-ju. Kembali terdengar bunyi genta, kedua benang emas terlibat menjadi satu.

Menyusul Siang-ju membentak pula, "Masuk!" Seketika di luar ada orang menjerit dan terdengar suara menderu, tubuh Loh Ih-sian melayang masuk kembali; tangan kiri terbelit oleh benang emas, tangan kanan mencengkeram seorang kakek bertubuh tinggi besar. Segera Loh Ih-sian membanting tawanannya ke lantai. Ternyata yang dibekuknya adalah salah satu di antara Hongpian, yaitu Yim Ong-hong.

Lamkiong Peng terkesima, entah kejut atau kagum. Waktu ia mengamati lebih lanjut, baru diketahuinya bahwa pada ujung kedua utas benang emas itu sama-sama terikat sebuah genta kecil warna emas. Ketika Loh Ih-sian melayang keluar atas tenaga lemparan Lamkiong Siang-ju, segera ia melemparkan genta emas ke dalam. Berbareng itu, genta emas Lamkiong Siang-ju juga dilemparkan keluar. Kedua utas benang emas saling belit dengan kuat. Waktu Siang-ju menarik lagi dengan kuat, sementara itu Loh Ih-sian sempat menerkam ke bawah dan Yim Ong-hong tercengkeram serta diangkat.

Berkat tenaga tarikan Lamkiong Siang-ju, Loh Ih-sian dapat melayang keluar secepat terbang dan melayang masuk kembali dengan sama cepatnya. Biarpun Yim Ong-hong juga bukan jago lemah, tapi dalam keadaan terkejut ia menjadi kelabakan dan tak sempat mengelak.

Dalam pada itu di luar telah terjadi kekacauan, ada suara orang tua berteriak, "Yang di dalam, apakah Hong-tun-sam-yu adanya?"

Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-sian saling pandang dengan tertawa. Waktu itu Yim Ong-hong sudah merangkak bangun, dengan muka pucat dan ketakutan berseru, "Hah, ternyata benar Hong-tun-sam-yu adanya!"

"Sudah sekian tahun tidak bertemu, syukur engkau masih kenal kami bersaudara," ucap Loh Ih-sian.

Yim Ong-hong menghela napas menyesal, ucapnya dengan menunduk, "Sekalipun Caihe tidak kenal lagi kepada kalian bertiga, tapi gaya 'genta emas pencabut nyawa' tadi tidak mungkin kulupakan."

"Haha, genta pencabut nyawa... sungguh tidak terduga permainan yang kami ciptakan untuk bersenda gurau telah dipandang orang persilatan sebagai ilmu sakti," ujar Loh Ih-sian dengan tertawa.

Mendadak ia membentak dengan wajah kereng, "Jika kau ingat juga kepada kami bersaudara, apakah sudah kau lupakan sumpah yang pernah kalian ucapkan di depan kami?"

Yim Ong-hong menjawab dengan takut, "Bilamana kutahu Lamkiong-cengcu tak lain adalah Leng-ih-khek (si baju biru berwajah dingin) dari Hongyu dahulu, betapa besar nyaliku juga tidak berani melanggar Lamkiong-san-ceng satu langkah pun."

"Dan bagaimana setelah kau tahu sekarang?" jengek Loh Ih-sian.

Di luar sana masih gaduh, segera Yim Ong-hong berteriak, "Cin-loji, lekas membawa para saudara kita mengundurkan diri keluar perkampungan, Hong-tun-sam-yu berada di sini!"

Belum lenyap suaranya, Cin Luan-ih telah melompat ke depan pintu, serunya kaget, "Ah, kiranya betul ketiga Taihiap berada di sini, tak terduga kungfu yang kami latih selama berpuluh tahun ini tetap tidak mampu menahan sekali terkam dari udara oleh Loh Tai-hiap."

Di bawah hujan lebat sana mendadak ada orang berteriak, "Huh, Hong-tun-sam-yu apa segala? Jauh-jauh kita sudah datang kemari, masa selalu satu patah kata ini saja kita lantas mundur dengan tangan hampa." Pada saat yang sama serentak belasan bayangan orang lantas menerjang maju.

Mendadak Cin Luan-ih membalik tubuh dan membentak, "Siapa itu yang bicara?"

Segera seorang lelaki pendek kecil dengan sinar mata tajam tampil ke muka. Seorang di sebelah kiri juga menjengek, "Hm, menyuruh kawan sendiri pergi, sedikitnya kau perlu diberi sedikit sangu. Betul tidak, kawan-kawan?" Belasan orang sama mengiakan.

"Ah, kiranya kedua Pek cecu," ucap Yim Ong-hong dengan tertawa sambil mendekati kedua orang itu. "Katakan saja terus terang, sesungguhnya apa yang kalian minta?"

Orang yang di sebelah kiri menjawab, "Dari jauh kami datang kemari, adalah layak bilamana kami minta bagian, sebagai orang tua tentu juga harus memikirkan nasib para saudara kami yang sudah lelah ini."

"Baik, terimalah ini!" seru Yim Ong-hong sambil tertawa, berbareng kedua tangannya menyodok ke depan.

Terdengarlah suara "blang-blang" dua kali, kontan kedua Pek bersaudara menjerit dan muntah darah serta terguling ke bawah undakan sana. "Nah, siapa lagi yang minta bagian rezeki?" jengek Yim Ong-hong kemudian.

Seketika kawanan bandit sana bungkam, hanya suara hujan saja yang terdengar. Belasan orang itu sama berdiri diam, bernapas saja tidak berani terlampau keras.

"Enyah!" bentak Yim Ong-hong.

Buru-buru belasan orang itu ngacir keluar. Hongpian lantas memberi hormat dan mohon diri.

"Sudah lama kita berkenalan, kalian ternyata belum lagi melupakan kami. Meski sekarang kami sedang menghadapi urusan gawat, tapi bilamana kalian perlu bantuan, sedikit banyak masih dapat kuberikan," kata Lamkiong Siang-ju.

"Ah, cengcu tidak menghukum kami saja sudah membuat kami berterima kasih, mana kami berani mengharapkan urusan lain," jawab Yim Ong-hong.

"Jika demikian, karena kami masih ada urusan, biarlah kita sudahi sampai di sini," kata Siang-ju sambil memberi tanda mengantar tamu. Yim Ong-hong dan Cin Luan-ih memberi hormat.

Selagi mereka hendak melangkah pergi, mendadak Loh-ih-sian berkata, "Nanti dulu, ingin kutanya sedikit, ketika kalian datang tadi, tentu kalian telah bertemu dengan anak murid Tiam-jong di depan sana?"

"Ya, anak murid Tiam-jong sudah terluka lebih separuh, kecuali Tiam-jong-yan dan Thian-go berdua, yang masih sanggup bertempur tidak seberapa orang lagi." Habis menutur, kedua orang itu lantas mohon diri dan angkat kaki.

Setelah berada di tengah ruangan, Loh-ih-sian berkata, "Jika kepungan kawanan penyatron sudah menipis, kenapa kesempatan ini tidak digunakan Toako untuk mengangkat peti-peti ini keluar?"

Lamkiong Siang-ju tersenyum pedih, "Para utusan Cu-sin-to sudah datang satu kali, tapi mereka tidak menjelaskan tempat penyerahan harta benda ini. Umpama peti ini kita angkut keluar, lalu harus diantar ke mana?"

Loh-ih-sian tercengang, mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa, "Haha, di mana dan kapan pun, betapa banyak penyatron di sana, memangnya dengan gabungan kita takut takkan mampu menerobosnya?" Sembari bicara, serentak ia guncangkan genta emas yang dipegangnya, suara genta yang nyaring berkumandang jauh di tengah hujan lebat.

Melihat Lamkiong Peng memandangi gentanya dengan terkesima, Loh-ih-sian bertanya, "Nak, apakah dapat kau dengar di mana letak keajaiban bunyi genta ini?" Lamkiong Peng menggeleng dengan tersenyum.

"Genta emas ini sebenarnya adalah benda pusaka keluarga Lamkiong kita," tukas Lamkiong-hujin, "genta ini seluruhnya ada tiga pasang. Satu hal aneh mengenai genta emas ini adalah bila salah satu pasang di antaranya berguncang, kedua pasang yang lain juga akan ikut berbunyi. Gejala ini serupa paduan suara alat musik saja."

Segera ia mengeluarkan sepasang genta emas dan diberikan kepada Lamkiong Peng. Sesudah genta itu dipegang, mendadak Loh-ih-sian mengguncangkan gentanya, seketika genta di tangan Lamkiong Peng juga ikut berbunyi. Tentu saja Lamkiong Peng terheran-heran; dunia ini memang penuh keajaiban, banyak urusan yang sukar dijelaskan dengan akal.

"Ketika kami bertiga masih malang melintang di dunia kang-ouw dahulu, hanya kungfu ibumu yang paling lemah," tutur Lamkiong Siang-ju. "Kami khawatir suatu tempo ibumu akan menghadapi bahaya, maka kubagikan genta emas ini kepada mereka masing-masing satu pasang. Bila ibumu mengalami bahaya, sekali genta berbunyi, segera kedua pasang genta yang kami pegang ini juga akan mengeluarkan suara dan segera pula kami dapat menyusul ke tempatnya untuk memberi bantuan."

"Makanya ayahmu telah memberikan nama yang aneh dan juga enak didengar kepada genta yang serupa ini, yaitu Hau-hoa-leng," sambung Loh Ih-sian dengan tertawa.

"Ah, kisah berpuluh tahun yang lalu buat apa mengungkapnya lagi," ujar Lamkiong-hujin. "Anak Peng, apabila kau mau, biarlah sepasang gentaku ini boleh kuberikan padamu, selanjutnya bila berkelana di dunia kang-ouw..." Mendadak teringat olehnya putra kesayangan sebentar lagi akan menuju ke tempat jauh yang tidak diketahui di mana letaknya, seketika wajahnya yang berseri berubah muram durja.

Lamkiong Siang-ju menghela napas pelahan, "Ya, Nak, bolehlah kau simpan saja sepasang genta ini. Ayah-ibu tidak dapat memberi benda berharga lain, hendaknya kedua pasang genta ini dapat kau simpan dengan baik, kelak..." Bicara urusan kelak, tanpa terasa ia menjadi sedih dan tidak sanggup meneruskan.

Di luar hujan masih lebat, suasana gelap gulita. Memegangi keempat buah genta emas, Lamkiong Peng juga menunduk diam.

Tiba-tiba Loh Ih-sian berkata dan tertawa lantang, "Haha, jika ayah-bundamu sudah menghadiahkan gentanya kepadamu, bila kusimpan gentaku sendiri, bisa jadi akan kau pandang pamanmu ini memang orang kikir. Nak, ambil saja, biar kuberikan sekalian gentaku ini dan simpanlah baik-baik. Kelak bila ketemukan gadis setimpal, bolehlah kaubagi dia sepasang genta ini." Dengan hormat Lamkiong Peng menerima pemberian itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment