Chapter 80
"Apa pun juga, hari ini kita dapat berkumpul kembali, hal ini harus kita rayakan," kata Lamkiong Hujin.
"Biarlah kuolah dua-tiga macam hidangan untuk teman minum arak kalian. Dengan hadirnya Loh-loji dan anak Peng di sini, paling tidak perasaanku akan lebih longgar."
"Ah, masa mesti bikin repot Samoay sendiri," ujar Loh Ih-sian.
"Apa boleh buat, kan semua kaum hamba di sini sudah dilepas," kata Lamkiong Hujin.
Lalu, Lamkiong Siang-ju membuka hiat-to para lelaki yang terluka karena membela perkampungannya tadi disertai permintaan maaf, kemudian mereka disilakan istirahat di belakang. Selesai mengatur, makanan sederhana pun sudah dihidangkan. Namun, belum lagi tiga cawan arak habis terminum, mendadak Loh Ih-sian berdiri dan membentak, "Siapa itu di luar?"
Di tengah kegelapan malam yang masih hujan lebat, terdengar suara gemersak ramai di undak-undakan. Sekali Lamkiong Siang-ju menolak dari jauh, terbentanglah daun pintu, tetapi di luar tidak kelihatan sesuatu. Air muka Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-sian sama-sama berubah. Tiba-tiba, angin bertiup membawa semacam bau amis yang aneh. Kebetulan Lamkiong Hujin datang membawakan sepiring ang-sio-bak. Sekilas pandang, terlihat dalam kegelapan di luar ada dua titik cahaya. Tanpa terasa ia menjerit, "Hah, ular!"
"Prang!" piring yang dipegangnya jatuh dan pecah berantakan. Terlihat kedua titik cahaya hijau itu bergoyang-goyang dan semakin dekat. Selagi Lamkiong Peng hendak bertindak, mendadak Loh Ih-sian mencegahnya sambil mendesis, "Nanti dulu!" Sekali ia menyembur, seutas benang perak terpancar ke arah kedua titik cahaya hijau. Di tengah desir angin yang berbau amis, tercium pula bau arak. Kiranya Loh Ih-sian telah menggunakan tenaga dalam untuk menekan arak yang diminumnya sehingga terpancar keluar serupa panah arak. Sungguh hebat sekali semprotan panah arak itu; seketika kedua titik cahaya hijau itu padam.
Dengan kening berkerenyit, Lamkiong Siang-ju berucap, "Sejak Ban-siu-sanceng (perkampungan seribu binatang) terbakar, di dunia persilatan sudah langka ahli yang mahir mengendalikan ular dan binatang liar. Kedatangan ular ini sungguh agak aneh."
Belum habis terpikir, tiba-tiba bergema suara musik di kejauhan. Segera kedua titik cahaya hijau muncul lagi, bergoyang-goyang mengikuti irama musik dan meninggi ke atas. Berubah air muka Lamkiong Siang-ju; diraihnya poci arak di atas meja dan disiramkan ke sana. Seutas air mancur lantas tersebar sampai di depan pintu. Segera ia menjemput pula lentera tembaga dan berjongkok untuk menyulut. "Buss", api lantas menyala dan berkobar mengikuti jalur arak. Di bawah cahaya api, tampak di atas undak-undakan luar sana seekor ular hijau sebesar lengan sedang menegak leher dengan lidahnya yang terjulur sembari menyurut mundur.
Loh Ih-sian berteriak kaget dan menyingkir ke pojok. "Hah, Loh-loji juga takut ular?" ujar Lamkiong Hujin dengan tersenyum. Baru sekarang Lamkiong Peng tahu sebabnya kakek botak ini ketakutan terhadap kawanan setan dari Kwan-gwa dulu; rupanya bukan orangnya yang ditakuti, melainkan ular piaraan mereka.
Dengan cepat api yang menyala dari alkohol itu padam, suara musik tadi bertambah melengking. Cepat Lamkiong Hujin juga turun tangan; dua titik cahaya perak menyambar ke depan. Cahaya hijau seketika padam, ular pun terguling ke bawah undak-undakan. Mendadak suara musik berubah keras, menyusul lantas terdengar suara harimau meraung, seekor macan kumbang melompat ke atas.
"Binatang!" bentak Lamkiong Peng sambil memapak ke depan. Harimau itu sedang menubruk dari atas, sekali berkelit Lamkiong Peng mengelak ke samping, menyusul sebelah tangannya lantas menghantam kepala binatang itu. "Prak", tanpa ampun kepala macan hancur, darah memuncrat, kepala binatang buas itu luluh dan binasa. Sekalian kaki Lamkiong Peng mendepak, bangkai harimau ditendangnya ke bawah undak-undakan sana.
"Sungguh hebat, itulah murid Sin-liong mahasakti!" puji Loh Ih-sian sambil bertepuk tangan tertawa.
Mendadak suara musik berganti nada lagi. Suara musik ringan hilang, sebagai gantinya adalah suara alat musik berat, yaitu tambur dan gembreng ditabuh bertalu-talu. Di tengah hujan angin, empat sosok bayangan tinggi besar tampak muncul dari kegelapan dan serentak melompat ke atas undak-undakan. Ternyata keempatnya adalah kingkong yang bertenaga raksasa. Di bawah cahaya remang, bulu keempat ekor kingkong yang berwarna kuning emas itu membentangkan kedua lengan dengan mulut ternganga serta mengeluarkan suara garang diselingi suara gemuruh menepuk dada; buas dan mengerikan.
"Lekas kembali, anak Peng," seru Lamkiong Siang-ju. Namun, Lamkiong Peng tetap berdiri menghadapi keempat ekor kingkong itu. Tiba-tiba bergema suara orang di dalam kegelapan hutan, "Lamkiong Siang-ju, untuk apa kau bertahan di situ? Jika tidak lekas angkat kaki, sebentar lagi bila binatang sakti membanjir tiba, kematian kalian pun takkan terkubur."
Suaranya kecil melengking, berkumandang jelas di tengah suara genderang yang ramai. "Omong kosong!" bentak Lamkiong Peng, berbareng kedua tangannya lantas memukul langsung kepada kedua ekor kingkong yang di tengah. Sambil meraung aneh, kedua ekor kingkong itu terguling ke bawah undak-undakan, tapi segera mereka melompat bangun dan menerjang maju lagi sambil menyeringai sehingga kelihatan barisan giginya yang menakutkan. Dalam pada itu, kedua ekor kingkong yang lain segera menubruk maju dari kanan-kiri. Namun, secara gesit Lamkiong Peng melompat ke samping. Kedua ekor kingkong yang terguling tadi sudah menerjang tiba dan mengerubuti Lamkiong Peng. Makin gencar suara tambur ditabuh, makin kalap keempat ekor kingkong itu menerjang musuh.
Melihat putranya kewalahan dikerubuti keempat ekor kingkong itu, Lamkiong Siang-ju tidak tinggal diam; dari samping ia pun menghantam. Kontan salah seekor kingkong itu terpukul jatuh, tapi dengan cepat merangkak bangun dan menerjang maju lagi. Mendadak Loh Ih-sian mendekap bibir dan bersuit sekerasnya. Begitu keras suara suitannya sehingga irama tambur menjadi kacau; seketika cara bertempur keempat ekor kingkong itu pun tidak teratur lagi.
Kesempatan itu digunakan Lamkiong Siang-ju untuk menghantam lagi. "Blang", dada salah seekor kingkong itu tertonjok. Sungguh dahsyat pukulan ini; kontan kingkong tumpah darah dan terguling ke bawah undak-undakan. Loh Ih-sian masih terus bersuit. Mendadak ia pun menghantam dua tangan sekaligus; salah seekor kingkong itu mendoyong ke belakang, tapi segera kaki Loh Ih-sian mengait dan "bluk", kingkong itu jatuh terjengkang. Tanpa ayal, Loh Ih-sian memegang kedua kaki kingkong sambil menggertak. Sekali angkat, tubuh kingkong sebesar manusia itu terus diputar dua-tiga kali, lalu dilemparkan hingga jatuh jauh di hutan sana.
Semangat Lamkiong Peng tambah terbangkit; kembali ia menghantam dan menendang sehingga seekor kingkong mencelat. Sekarang suara tambur itu bergema lagi, namun sisa seekor kingkong itu rupanya tahu gelagat dan tidak berani bertempur lagi, segera ngacir pergi. Loh Ih-sian bergelak tertawa puas dan memuji, "Sungguh kungfu hebat, murid Sin-liong memang lain daripada yang lain."
Dalam pada itu, Lamkiong Siang-ju sedang berseru lantang ke sana, "Dengarkan para kawan, harta benda di Lamkiong-sanceng saat ini berada di sini. Apabila kalian mengincarnya, silakan mengambilnya menurut kemampuan kalian. Kenapa mesti main sembunyi dalam kegelapan hutan dan menyuruh kawanan binatang yang tak berarti ini untuk membikin malu kalian sendiri?"
Suara tambur mulai mereda, sebagai gantinya suara musik halus tadi kembali bergema, lembut dan ulem. Waktu angin meniup lagi, bau amis tadi sudah hilang, sebaliknya malah mengandung bau harum sayup-sayup aneh yang membuat perasaan tergelitik dan membangkitkan nafsu. Mendadak di tengah hutan yang gelap, menyala empat cahaya lampu yang menyilaukan mata. Di pekarangan di depan undak-undakan batu seluas dua-tiga tombak itu, tiba-tiba muncul enam orang gadis berbaju sutra putih tipis dan berkerudung topi bunga serta mulai menari mengikuti irama musik. Hujan masih turun; hanya sekejap saja baju tipis keenam gadis jelita itu sudah basah kuyup sehingga hampir tembus pandang garis tubuh mereka yang menggiurkan.
Makin lama makin asyik bunyi musiknya dan makin panas tariannya. Kening Lamkiong Peng berkerenyit, ia melengos ke arah lain. Alis Lamkiong Siang-ju juga menegak, katanya, "Jite, apakah kau ingat cara memengaruhi lawan dengan kemaksiatan dan menggertak dengan kekerasan seperti ini biasanya digunakan tokoh kangouw dari mana?"
"Apakah maksud Toako hendak mengatakan kebiasaan majikan perempuan dari Ban-siu-sanceng, yaitu Tek-ih-huicu (si nyonya senang)?" jawab Loh Ih-sian.
"Sesudah kebakaran yang menimpa Banceng, sudah lama Tek-ih-huicu menghilang dan tiada kabar beritanya," kata Lamkiong Siang-ju. "Bahwa sekarang dia muncul kembali, nyata caranya sudah tidak selihai dulu lagi, namun gayanya masih tidak berubah."
"Ya, memang sudah berpuluh tahun tidak ada kabar tentang Tek-ih-huicu, apakah mungkin iblis perempuan yang menyendiri ini dahulu juga pernah mendidik murid?"
Tengah bicara, suara musik tadi tambah gencar, gaya menari keenam gadis berbaju sutra itu pun semakin menghanyutkan. Di antara gerak-geriknya, seperti sengaja dan seperti tidak sengaja selalu menonjolkan bagian tubuh yang seharusnya dirahasiakan, lirikan matanya juga memikat. Cahaya lampu juga tambah remang; dari kegelapan hutan sana lantas muncul empat gadis lagi dengan menggotong sebuah joli kecil beratap. Waktu joli berhenti dan tabir tersingkap, kedua gadis jelita di depan lantas membentang dua buah payung, maka turunlah dari joli seorang nona berbaju warna lembayung dengan potongan tubuh yang ramping. Cantik sekali nona ini tampaknya, tapi mukanya justru dialingi sebuah kipas bambu.
"Joli kecil dan baju ungu, semua ini adalah ciri pengenal Tek-ih-huicu dahulu. Jangan-jangan memang betul Tek-ih-huicu telah muncul lagi di dunia kangouw?" gumam Lamkiong Siang-ju.