Halo!

Han Bu Kong - Chapter 81

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 81

Loh Ih-sian tidak menanggapi. Ia tampak prihatin, lalu mendadak membentak, "Siapa itu?" Waktu ia berpaling, di bawah cahaya lampu yang remang, di atas tumpukan peti ternyata sudah bertambah beberapa sosok bayangan orang.

Pada saat itu juga, gadis berbaju ungu mulai melangkah ke atas undakan mengikuti irama musik. Gayanya jauh lebih menggairahkan daripada gadis-gadis yang lain. Serentak belasan gadis jelita tadi mengikuti di belakangnya. Sambil menaiki undakan batu, para gadis itu melepaskan pakaian mereka sepotong demi sepotong sehingga akhirnya telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

Sementara itu, di tengah ruangan pendopo, bayangan orang banyak serentak berputar mengitari tumpukan peti. Seorang yang mengepalai mereka tampak berperawakan kekar, alis tebal, dan mata cekung. Seorang lagi bertubuh jangkung dan berwajah kurus. Kiranya mereka adalah tokoh Tiam-jong-pai, yaitu Kongsun Yan dan Thian-go Tojin.

"Hm, kukira Tiam-jong-pai adalah golongan ternama dan aliran lurus, rupanya juga biasa berbuat secara sembunyi-sembunyi. Tengah malam buta menyusup ke rumah orang, barangkali memang beginilah ajaran Tiam-jong-pai?" ejek Loh Ih-sian.

Thian-go Tojin menjadi gusar. Sedangkan Kongsun Yan tidak menghiraukan ejekan itu. Ia berkata ketus, "Kami hanya ingin bicara dengan Lamkiong-cengcu."

"Melihat perbuatan para Tojin, rasanya tidak ada yang perlu kubicarakan lagi," ujar Lamkiong Siang-ju dengan dingin.

"Creng!" Thian-go Tojin segera melolos pedang.

Kongsun Yan tetap tenang. Katanya, "Apabila Cengcu mau mendengar nasihatku, sebaiknya harta bendamu ini kautitipkan dalam pengawasan kami selama tiga tahun. Sesudah tiga tahun, akan kami kembalikan dalam keadaan utuh tanpa kurang sesuatu..."

"Hehe, anjing kelaparan ingin pinjam bakpau, sungguh menggelikan," ejek Loh Ih-sian.

Kongsun Yan berlagak tidak mendengar. Ia berkata pula, "Atas kehormatan Tiam-jong-pai, kuberani memberi jaminan takkan mengganggu sedikit pun harta bendamu ini."

"Hehe, kehormatan Tiam-jong-pai? Memangnya berapa harganya sekati?" jengek pula Loh Ih-sian.

Thian-go Tojin membentak murka, segera pedang bergerak dan hendak menyerang. Namun, Kongsun Yan keburu mencegahnya. Katanya, "Nanti dulu Samte, dengarkan dulu jawaban Lamkiong-cengcu."

"Kukira Toako juga tidak ada jawaban. Kami justru ingin tahu apa yang dapat diperbuat orang-orang Tiam-jong-pai kalian?" jengek Loh Ih-sian.

Belum lenyap suaranya, segera pedang Thian-go Tojin menusuk. Dengan cepat Loh Ih-sian berkelit. Keduanya lantas saling labrak. Di luar sana, suara musik masih berkumandang. Belasan gadis jelita itu sudah berada di ujung undakan, semuanya telanjang bulat dengan tubuh yang mulus menggiurkan. Gadis jelita berbaju ungu menggoyang-goyangkan kipasnya, setengah menutupi wajahnya meski ia tidak menanggalkan bajunya. Terkadang, ia mengeluarkan suara tertawa genit yang memikat.

"Turun!" bentak Lamkiong Peng.

Namun, kawanan gadis itu tetap menari seperti tidak mendengar. Kerlingan mereka terpusat ke arah Lamkiong Peng seakan-akan ingin menelan bulat-bulat anak muda itu. Melihat goyang pinggul dan gerakan memikat yang terpampang di depan mata itu, tentu saja Lamkiong Peng serba salah. Mana dia sampai hati turun tangan terhadap gadis telanjang begitu?

Dalam pada itu, Thian-go Tojin dan Loh Ih-sian sedang bertempur dengan sengit. Pedang Thian-go berputar cepat dengan tipu serangan yang ganas. Ilmu pedang Tiam-jong-pai memang cepat dan lincah, namun Loh Ih-sian juga tidak kurang lihainya. Dia bergerak lebih cepat daripada sambaran pedang lawan. Sedikit pun senjata lawan tidak mampu menyentuh ujung bajunya; malahan ia seperti sengaja hendak mempermainkan orang dan tidak membalas menyerang, serupa kucing mempermainkan tikus.

Dengan gemas, mendadak pedang Thian-go Tojin menusuk dari arah yang tak terduga. Akan tetapi, mendadak terdengar suara "trang". Kiranya Loh Ih-sian sempat meraih sebuah piring sebagai tameng sehingga tertusuk berantakan oleh pedang Thian-go Tojin. Hidangan dalam piring berhamburan mengotori bajunya. Tentu saja Thian-go Tojin bertambah murka. Sekali depak, ia membuat meja terbalik, mangkuk dan piring pecah berserakan, lampu perunggu di atas meja juga ikut terguling dan padam seketika.

Tapi pada saat itu, cahaya lampu dari dalam hutan sana telah menyorot tiba. Kawanan penari telanjang juga sudah berada di depan ruangan. Lamkiong Siang-ju berkerut kening, ucapnya, "Jite, jangan bergurau lagi, sudah waktunya turun tangan sungguh-sungguh!"

"Baik!" seru Loh Ih-sian. Segera jurus serangannya berubah; sekaligus ia melancarkan dua-tiga kali pukulan sehingga Thian-go Tojin terdesak ke pojok ruangan.

Siang-ju berseru kepada sang istri, "Hujin, boleh kaulayani yang di luar, dan yang di dalam serahkan saja kepadaku."

Dengan sendirinya, Lamkiong Hujin sudah melihat datangnya kawanan penari telanjang itu. Ia sempat bingung menghadapi adegan luar biasa itu. Nona berbaju ungu tadi tampaknya melangkah maju dengan gaya gemulai. Tahu-tahu ia sudah bergeser ke depan Lamkiong Peng. Seketika anak muda itu pun mencium bau harum yang memabukkan, pikirannya serasa melayang.

"Mundur!" cepat ia membentak sembari mengayunkan sebelah tangannya ke depan untuk menghantam titik Koh-cing-hiat di pundak orang.

Tak tersangka, nona cantik itu sama sekali tidak menghindar. Sebaliknya, sambil tertawa genit, ia malah menyongsong maju. Dengan dadanya yang montok, ia menyambut pukulan Lamkiong Peng itu. Cepat Lamkiong Peng menarik kembali pukulannya; betapapun ia tidak dapat menyerang seorang gadis yang tidak melawan.

"Menyingkir, Peng-ji!" seru Lamkiong Hujin.

Tapi baru saja ia bergerak, tahu-tahu empat penari telanjang sudah mengadang di depannya. Empat penari telanjang lainnya lantas mengepung Lamkiong Peng dengan goyang pinggul dan guncangan dada secara merangsang. Saat itu Lamkiong Peng berdiri di depan pintu. Bila ia menyingkir, berarti memberi kesempatan kepada kawanan penari telanjang itu untuk menyerbu ke dalam. Tapi kalau tidak menghindar, tentu dia akan terkurung di tengah gadis telanjang. Betapapun teguh imannya, jika dibuai oleh irama musik yang masyuk dan tarian yang merangsang, tentu tidak tahan akhirnya. Dalam pada itu, keempat penari telanjang itu sudah semakin mendekat. Gaya mereka yang cabul sungguh bisa membuat setiap lelaki lupa daratan.

Di sebelah dalam, pertarungan Thian-go dan Loh Ih-sian juga bertambah seru. Jago pedang Tiam-jong-pai yang lain sudah memegang pedang dan siap tempur. Tiba-tiba Kongsun Yan melolos pedang dan berkata, "Hari ini bukan pertandingan biasa, umpama main keroyok juga bukan soal lagi." Ia memberi tanda dan segera menyerang disusul oleh begundalnya.

Mendadak Loh Ih-sian merasa angin tajam menyambar dari belakang. Tiga pedang serentak menebasnya. Thian-go Tojin juga tidak tinggal diam, berbareng ia pun menyerang.

"Hm, biasanya Tiam-jong-pai tidaklah jahat, mestinya aku tidak suka membikin susah orang. Tapi perbuatan kalian sungguh keterlaluan, terpaksa aku harus bertindak," kata Lamkiong Siang-ju.

Mendadak ia menghantam ke belakang. Angin pukulannya mengempaskan keempat penari telanjang yang mengepung di depan Lamkiong Peng. Meski dia menyerang tanpa berpaling, namun pukulannya cukup telak. Mana kawanan gadis telanjang itu tahan angin pukulannya? Terdengar jeritan kaget, dua di antaranya tergetar jatuh ke bawah undakan batu.

"Harap Ayah menghadapi mereka di sini, biar Anak melayani orang Tiam-jong-pai," seru Lamkiong Peng.

Belum lanjut ucapannya, kembali Lamkiong Siang-ju menghantam lagi satu kali. Si nona berbaju ungu tergetar mundur. Cepat Lamkiong Peng mendesak maju dan menusuk pundak lawan. Namun, kipas si nona mendadak menebas pergelangan tangan Lamkiong Peng. Sekilas tertampaklah wajahnya di bawah cahaya remang. Seketika hati Lamkiong Peng tergetar, serunya, "Hei, kau... kau..."

Sungguh tak tersangka dan tak terduga, nona berbaju ungu ini adalah Suci atau kakak seperguruannya, yaitu Koh-ih-hong alias Ong So-so. Dengan tersenyum manis dan kerlingan genit, kembali Koh Ih-hong memotong lagi dengan kipasnya menurut irama musik.

"He, Sisuci, ken... kenapa engkau menyerangku?" seru Lamkiong Peng.

"Masa engkau tidak... tidak kenal lagi padaku? Di mana Toako sekarang?"

Koh Ih-hong terkekek, "Hehe, siapa kenal padamu? Siapa Toakomu?"

Dalam pada itu, kawanan penari telanjang lantas menerjang maju pula. Dengan tercengang, Lamkiong Peng menyurut mundur ke dalam ruangan. Kening Lamkiong Siang-ju berkerut, serunya, "Gadis ini mungkin sudah terpengaruh oleh obat bius. Boleh kau menyingkir dulu..."

Belum lenyap suaranya, mendadak cahaya pedang berkelebat. Kongsun Yan telah menusuk dari samping. Lamkiong Peng membentak, segera ia menendang pergelangan tangan lawan yang memegang senjata.

Di sebelah sana, Lamkiong Hujin tampaknya juga serba salah menghadapi keempat penari telanjang tadi. Meski ia sendiri juga perempuan, tidak urung mukanya menjadi merah melihat gerak cabul mereka.

"Awas obat bius mereka, Hujin!" seru Lamkiong Siang-ju mendadak.

Terkesiap Lamkiong Hujin. Benar juga, baru saja ia menahan napas, serentak keempat penari telanjang itu menaburkan kabut tipis. Dengan gusar, Lamkiong Hujin mengebaskan lengan bajunya sehingga bubuk putih buyar, sekaligus ia kebut hiat-to tangan lawan.

Di sebelah sana, Loh Ih-sian satu lawan empat dan sedang melancarkan pukulan dahsyat. "Blang! Blang!" Mendadak ia menyikut ke belakang sehingga dua orang lawan menjerit kaget dan pedang terlepas; kedua Tojin itu pun tumpah darah.

Dalam pada itu, Lamkiong Peng telah menandingi Kongsun Yan dan dua pemudi berdandan ringkas. Ia terkejut, khawatir, dan sangsi pula. Ia khawatir mengenai keadaan sang Toako, yaitu Liong Hui, juga sangsi mengapa Koh Ih-hong bisa berubah menjadi begitu.

"Jangan melukai dia, Ayah!" seru Lamkiong Peng mendadak.

Kiranya pada saat itu, Koh Ih-hong kena ditutuk oleh Lamkiong Siang-ju dan sempoyongan terjatuh ke bawah undakan batu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment