Halo!

Han Bu Kong - Chapter 82

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 82

Pada saat itulah, tiba-tiba dari kegelapan hutan itu muncul sesosok bayangan sambil membentak dan langsung menerjang. Sekali raih, ia berhasil merangkul tubuh Koh Ih-hong yang hampir roboh itu.

Pendatang ini bertubuh tinggi besar dan berbaju mentereng, wajahnya penuh berewok pendek kaku serupa bulu landak.

Ternyata, ia adalah Liong Hui.

"He, Toako..........." seru Lamkiong Peng setelah mengenali pria itu.

"Apakah orang ini Liong Hui?" tanya Lamkiong Siang-ju dengan melengak.

"Betul," jawab Lamkiong Peng. Segera ia berseru pula, "Toako, Siaute Lamkiong Peng berada di sini!" Siapa sangka, air muka Liong Hui tidak memperlihatkan perasaan apa pun, seperti orang linglung saja. Sambil merangkul Koh Ih-hong, segera ia membentangkan kelima jarinya untuk mencakar wajah Lamkiong Siang-ju.

Baru saja Lamkiong Siang-ju merunduk ke bawah, segera Liong Hui menendang lagi.

Meski ganas serangannya, namun sebenarnya banyak lubang kelemahannya.

Namun, Lamkiong Siang-ju tidak ingin melukainya. Ia melompat mundur untuk menghindari tendangan lawan.

Tak terduga, mendadak Liong Hui menurunkan Koh Ih-hong, lalu membentak, "Biarlah aku mengadu jiwa dengan kawanan bangsat kalian ini!" Sekali tendang, ia membuat seorang penari terjungkal. Menyusul itu, sebelah tangannya menghantam Lamkiong Siang-ju dengan dahsyat.

"He, Toako, ken...kenapa kau...!" jerit Lamkiong Peng terkejut. Tiba-tiba pundaknya terasa dingin. Kiranya ia telah terserempet pedang Kongsun Yan sehingga tergores luka.

"Layani saja lawanmu dengan tekun, biar kuselesaikan urusan Suhengmu ini," kata Lamkiong Siang-ju.

Tanpa menghiraukan lukanya sendiri, Lamkiong Peng berseru khawatir, "Ayah, apakah Toako terpengaruh juga oleh obat?" "Tampaknya memang begitu," kata Lamkiong Siang-ju.

"Sungguh rendah Tiam-jong-pai, pakai obat bius segala!" teriak Lamkiong Peng dengan murka. Mendadak ia menjepit batang pedang Kongsun Yan yang menyambar tiba. Sekali tekuk, pedang lawan lantas patah. Sebelah kakinya menendang seorang jago pedang Tiam-jong-pai.

Menyusul itu, pedang yang patah itu membalik dan digunakan untuk menusuk lawan.

Jago pedang menjerit dan jatuh terguling. Dengan tangan memegang dada, ia bergulingan di lantai yang penuh pecahan mangkuk dan piring; sekujur badannya berlumuran darah, akibatnya ia tak sadarkan diri.

"Keji amat!" geram Kongsun Yan.

Selagi dia hendak menyerang pula dengan pedang yang patah, tak disangka Lamkiong-hujin telah berhasil mengebas hiat-to keempat penari. Saat itu, ia sedang melompat tiba. Sekali tepuk pelan, Ciang-tai-hiat di punggung Kongsun Yan tertotok.

Pada saat itu juga, pedang yang patah yang dirampas Lamkiong Peng ditusukkan pula ke bahu Kongsun Yan. Terdengar jeritan, darah pun mengucur.

"Jisuheng . . . " seru Thian-go khawatir.

Dengan darah tumpah, Kongsun Yan berseru, "Samte, le...lekas pergi!" Habis berkata, ia pun jatuh terguling.

Tiba-tiba dalam kegelapan itu berkumandang suara kuda lari. Segera seorang berteriak dari kejauhan.

"Lamkiong-cengcu, Lamkiong-heng, saudaramu Suma Tiong-thian datang terlambat!" Hanya sekejap saja seekor kuda sudah mendekat. Thi Cian Ang-ki Suma Tiong-thian, si jago tua dengan tombak besi dan panji merah, memutar tombaknya di bawah hujan. Langsung ia larikan kudanya ke atas undak-undakan sambil berteriak pula, "Jangan khawatir, Lamkiong-heng, inilah Suma Tiong-thian!"

Begitu tombak bergerak, secepat kilat ia menusuk Liong Hui.

Sekilas pandang, Lamkiong Peng melihat kuda jago tua itu akan menginjak tubuh Koh Ih-hong yang menggeletak di undakan batu itu.

Ia berteriak khawatir dan melompat maju sambil mendorong dengan kuat sehingga lari kuda tertolak ke samping.

Liong Hui membentak gusar. Sekali raih, ujung tombak berhasil dipegangnya.

Baru sekarang Suma Tiong-thian dapat melihat jelas siapa orang yang diserangnya tadi. Serunya, "Hei, Liong... Liong-taihiap..."

Pada saat itu, tiba-tiba dari hutan di sana berkumandang suara orang tertawa seram. Keempat jalur cahaya api serentak padam, suara musik juga lantas lenyap.

Angin dan hujan kembali menderu lebat. Bumi raya menjadi gelap gulita, dan hampir-hampir tidak kelihatan jari sendiri.

Pada saat itulah terdengar Lamkiong-hujin menjerit kaget, serta bentakan Liong Hui. Mendadak Liong Hui menarik sekuatnya sehingga Suma Tiong-thian terseret jatuh ke bawah kuda. Bersamaan itu, Liong Hui juga berguling dan mengangkat Koh Ih-hong, terus dibawa lari ke tengah kegelapan itu.

Lamkiong Peng tercengang.

Sementara itu, Thian-go Tojin melancarkan dua-tiga kali tusukan untuk mendesak mundur Loh Ih-sian. Lalu ia mendobrak daun jendela dan melompat pergi.

Khawatir di luar musuh akan menyergapnya, Loh Ih-sian tidak mengejarnya.

Suma Tiong-thian ternyata sangat tangkas meski sudah berusia lanjut. Sekali lompat, ia berusaha menahan kudanya yang menjadi liar dan memberontak masuk ke dalam ruangan. Terdengar suara gemuruh, tumpukan peti diterjang roboh.

Isi peti berserakan, semuanya berupa batu permata yang berkilauan dalam kegelapan.

Selagi Suma Tiong-thian hendak mengatasi kudanya, sekonyong-konyong sinar tajam menyambar dari luar. Seorang jago pedang Tiam-jong-pai menyambitkan pedangnya. Jago tua itu cepat mengelak, pedang menyambar lewat dan menancap di perut kuda.

Tentu saja kuda itu kesakitan dan semakin liar, terus memberontak keluar seperti kesetanan.

Jago pedang Tiam-jong-pai tadi tertendang jatuh. Belum sempat merangkak bangun, kontan ia terinjak mati oleh lari kuda yang kesetanan itu.

Habis menginjak orang, kuda itu pun keserimpet dan jatuh terjungkal ke bawah undak-undakan sambil meringkik, lalu tidak bergerak lagi.

Suma Tiong-thian terkesima, kehilangan kuda kesayangannya.

Lamkiong Peng berteriak, "Toako...!" Akan tetapi, Lamkiong Siang-ju lantas membujuknya, "Tenang, anak Peng. Tampaknya kedua orang itu kehilangan kesadarannya, dan saat ini entah sudah lari ke mana. Bukan mustahil..." Meski tidak melanjutkan ucapannya, namun dapat diduga ia pasti akan mengatakan bahwa keselamatan Liong Hui dan Koh Ih-hong sukar diramalkan.

Lamkiong Peng tertegun sejenak. Mendadak ia menjadi beringas. Diseretnya Kongsun Yan bangun, bentaknya, "Coba katakan, dengan obat bius apa Tiam-jong-pai kalian mengerjai Toako kami sehingga dia lupa daratan?" Selain sang guru, orang yang paling dikasihi dan dihormatinya ialah Liong Hui. Dengan sendirinya, hatinya sekarang sangat sedih dan gusar.

Ujung mulut Kongsun Yan berlumuran darah. Setengah potong pedang masih menancap di bahunya, keadaannya payah. Ucapnya lemah, "Orang Tiam-jong-pai tidak pernah menggunakan obat bius."

"Omong kosong! Jika bukan perbuatan Tiam-jong-pai kalian, habis siapa?" teriak Lamkiong Peng. Kongsun Yan memejamkan mata dan tidak menanggapi.

"Sabar, anak Peng," ucap Lamkiong Siang-ju. "Kuyakin Tiam-jong-pai memang bukan orang yang suka menggunakan obat bius. Apa yang diperbuatnya ini tentu karena terpaksa. Juga, memakai perempuan cantik untuk memikat musuh, cara ini pun pasti tidak sudi dilakukan Tiam-jong-pai. Seharusnya kau katakan terus terang apa yang terjadi. Kalau tidak, peristiwa hari ini telah disaksikan orang banyak. Betapa pun kalian menyangkal, juga sukar membuat orang percaya."

Kongsun Yan tersenyum sedih, ucapnya, "Di mana Samsuteku Thian-go?" Loh Ih-sian menjawab, "Meski Tiam-jong-pai kalian memusuhi kami, tetapi kami tidak bertindak kejam. Thio-go sudah kami lepaskan."

Kongsun Yan terdiam sejenak. Akhirnya ia menghela napas dan bertutur, "Bilamana kalian ingin keluar dari perkampungan ini dengan selamat, kukira teramat sulit."

"Apa maksudmu?" tanya Lamkiong Siang-ju.

"Kalau kalian ingin hidup, hendaknya kau serahkan harta bendamu ini kepada mereka, kalau tidak..." "Memangnya kaum iblis Kun-mo-to sudah tiba?" tanya Lamkiong Siang-ju.

"Betul," Kongsun Yan mengangguk. "Agaknya Kun-mo-to terlalu meremehkan Lamkiong-sanceng kalian. Mereka tidak mengirim jago kelas tinggi melainkan hanya seorang pelayan rendahan saja dengan kawanan gadis dan binatang buas itu. Katanya hendak membantu Tiam-jong-pai kami menduduki perkampungan ini. Siapa sangka, Lamkiong-cengcu suami-istri yang selama ini dikenal sebagai orang awam ternyata menguasai kungfu setinggi ini. Sekarang pihak mereka untuk sementara menghentikan serangan, tentu sedang menyiapkan langkah selanjutnya yang lebih lihai." Bicara sampai di sini, napasnya tampak tersengal dan seperti tidak tahan lagi.

Lamkiong Siang-ju tampak sedih, ucapnya, "Terima kasih atas keterus-terangan Totiang. Bilamana tidak menolak, padaku tersedia obat luka."

"Tiada gunanya," ucap Kongsun Yan dengan tersenyum pedih. "Urat nadiku sudah tergetar putus oleh pukulan Nyonya, ditambah lagi tusukan pedang Lamkiong-kongcu tadi... Namun semua itu tidaklah menjadikan aku dendam kepada kalian. Aku hanya memohon, bilamana mungkin, kelak semoga kalian dapat membantu Suteku membangun kembali Tiam-jong-pai kami..." Sampai di sini, suaranya hampir tak terdengar lagi, napas pun semakin lemah.

Tiba-tiba hati Lamkiong Peng tergerak. Serunya, "Jika benar kawanan iblis dari Kun-mo-to tadi harus menyusun kekuatan untuk menyerang lagi, saat ini kepungan tentu agak longgar. Kesempatan ini dapat kita gunakan untuk menerjang keluar daripada menunggu ajal di sini."

"Betul," timpal Loh Ih-sian. "Setelah menerjang keluar, dapat kita berusaha mengadakan kontak dengan utusan dari Cu-sin-tian..."

"Usul yang baik," kata Suma Tiong-thian.

"Saat ini di luar ada belasan orang kawanku dan..." "Belasan Piauthau kawan Suma-cianpwe sekarang juga sedang beristirahat di ruangan belakang. Biar kupanggil mereka keluar," kata Lamkiong Peng tiba-tiba sambil lari ke belakang.

"Apakah Toako dan Toaso masih ingin berbenah sesuatu lagi?" tanya Loh Ih-sian.

"Selanjutnya kami tidak akan punya kediaman tetap lagi, mau berbenah apa pula?" ujar Lamkiong-hujin sambil menghela napas.

Selagi Loh Ih-sian hendak bicara pula, mendadak terdengar suara kaget Lamkiong Peng yang berlari keluar.

"Ada apa?" tanya Lamkiong Siang-ju. "Semua... mati semua..." ucap Lamkiong Peng dengan gugup.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment