Chapter 83
Semua orang sama melongo.
"Semuanya mati dengan urat nadi terputus," tutur Lamkiong Peng.
"Dada mereka terasa masih hangat, jelas baru saja mati, tapi sudah kuperiksa dan tidak tampak bayangan seorang pun." Semua orang saling pandang dengan tercengang. Bahwa di ruangan depan berkumpul tokoh kelas tinggi sebanyak ini dan tidak seorang pun mendengar sesuatu, tahu-tahu orang di belakang sudah terbunuh, sungguh kejadian yang mengerikan.
Perlahan Kongsun Yan membuka matanya dan berucap dengan lemah, "Sudah... sudah terlambat, kawanan... kawanan iblis sudah datang..." Mendadak matanya mendelik, napasnya tersumbat, lalu ia meninggal dunia.
Angin masih menderu, hujan tetap lebat. Di tengah suasana yang tegang itu, perasaan semua orang sama tertekan.
Lamkiong Hujin menggunakan sapu tangannya untuk membalut luka di lengan Lamkiong Peng, katanya perlahan, "Coba angkat tanganmu, Nak, apakah uratmu terluka?" Lamkiong Peng menggerakkan tangannya dan menjawab, "Tidak apa-apa." Dalam pada itu, terdengar pula derap kaki kuda yang ramai dalam kegelapan. Kedengarannya tidak cuma satu atau dua penunggang saja.
"Suma-heng," tanya Lamkiong Siang-ju, "yang datang itu mungkin anak buahmu?" Suma Tiong-thian berlari ke depan. Dilihatnya empat ekor kuda berlari datang dengan cepat di bawah hujan lebat.
Waktu diamati, ternyata tidak ada seorang penunggang pun. Hanya kuda yang terakhir terikat miring sebuah panji merah yang berkibar tertiup angin. Mendadak panji itu jatuh ke tanah dan terinjak kuda sehingga sukar dikenali lagi.
Tergetar hati Suma Tiong-thian dan ia menyurut mundur, gumamnya, "Wah, habis... habis sudah..."
"Apakah para saudaramu di luar perkampungan sana juga mengalami sesuatu?" tanya Lamkiong Siang-ju.
"Ada kuda tanpa penunggangnya, dengan sendirinya lebih banyak celaka daripada selamatnya," ucap Suma Tiong-thian. Mendadak ia berteriak lantang, "Wahai kawanan tikus Kun-mo-to! Jika berani, ayolah keluar untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Kenapa main sembunyi dan menyergap? Terhitung orang gagah macam apa kalian?" Sambil berteriak, ia menjemput tombaknya yang terlempar ke undakan batu tadi, lalu berlari dengan tombak terhunus.
Mendadak dari kegelapan hutan sana melayang keluar tiga gulung bayangan hitam. Cepat tombak Suma Tiong-thian menyampuk dan menusuk; kedua bayangan hitam terpukul jatuh, bayangan ketiga tertusuk oleh ujung tombak.
Lamkiong Siang-ju memburu maju dan berseru, "Sabar dulu, Suma-heng, jangan terburu nafsu dan terpancing muslihat musuh!" Tanpa terasa Suma Tiong-thian diseret kembali ke dalam ruangan. Waktu ia memeriksa ujung tombaknya, ternyata yang tertusuk di situ adalah sebuah kepala manusia dan segera dikenali sebagai anak buah sendiri.
Keruan air muka Suma Tiong-thian berubah hebat. Tangannya terasa lemas dan tombak terjatuh ke lantai.
"Sungguh keji kawanan iblis Kun-mo-to," geram Loh Ih-sian. "Toako, dengan kemampuan kita, memangnya kita tidak dapat menerjang keluar?"
"Jite," kata Lamkiong Siang-ju, "musuh dalam keadaan gelap dan kita di pihak terang. Betapapun, kita sudah berada dalam posisi yang lemah. Jika kita tidak sabar dan menghadapi persoalan dengan tenang, bisa jadi urusan akan runyam."
"Tapi... tapi kalau mesti menunggu dan menunggu lagi, sampai kapan baru akan berakhir?" Dengan beringas Suma Tiong-thian berseru, "Aku lebih suka menerjang ke kegelapan sana dan bertempur mati-matian daripada menunggu dengan tersiksa seperti ini!" Lamkiong Peng juga memandang sang ayah dengan semangat menyala; anak muda ini pun ingin bertempur saja daripada menunggu secara tidak menentu.
Perlahan Lamkiong Siang-ju menghela napas, "Soal mati atau hidup adalah urusan kecil, tapi menepati janji adalah soal lebih besar. Sejak dulu hingga kini keluarga Lamkiong tidak pernah berbuat sesuatu yang melanggar janji. Meski sekarang keluarga Lamkiong kita menghadapi keruntuhan, tetap tidak boleh melanggar janji. Apapun juga kita harus menunggu kedatangan utusan Cu-sin-tian dan menyerah-terimakan harta benda ini. Kalau tidak, mati pun aku tidak tenteram."
Pada saat itulah, tiba-tiba di bawah hujan terdengar suara gemersik, suara orang berjalan yang semakin mendekat. Seketika hati semua orang menjadi tegang. Sekali lompat, Loh Ih-sian menuju ke depan pintu.
Di atas undak-undakan akhirnya muncul tiga sosok bayangan orang, selangkah demi selangkah naik ke atas. Kedatangannya seperti tidak bermaksud jahat.
"Siapa itu?" bentak Loh Ih-sian.
Tiba-tiba orang yang di tengah berdehem perlahan. Dalam kegelapan kelihatan kepalanya yang gundul kelimis, seperti seorang hwesio. Sekali mengangkat kaki, tahu-tahu ia sudah di depan Loh Ih-sian. Keruan Ih-sian terkejut.
Terdengar pendatang itu berkata, "Paderi tua tidak sering berkecimpung di dunia kang-ouw. Umpama kuberitahukan namaku pun, Sicu takkan kenal."
Waktu Loh Ih-sian memandang ke sana, dilihatnya sekujur badan orang itu basah kuyup, jenggot dan alisnya sama putih, sikapnya kereng berwibawa. Tanpa terasa timbul rasa hormat dan segan pada diri Loh Ih-sian. Kedua orang lain juga menyusul naik ke atas undakan; seorang memakai tudung sebangsa caping dan mantel ijuk, tangan memegang sebuah karung goni yang basah. Karena tudungnya yang lebar, wajahnya tidak terlihat jelas. Orang ketiga berjubah biru, ternyata seorang tojin. Meski dandanan ketiga orang ini tidak sama, semuanya sudah berusia lanjut.
"Dalam keadaan tidak biasa ini, entah ada keperluan apa kunjungan kalian bertiga?" tegur Loh Ih-sian.
Hwesio pertama memberi salam dengan tersenyum, jawabnya, "Kedatangan kami justru menyangkut kejadian di Lamkiong-san-ceng ini. Apabila Sicu tidak keberatan, biarlah kututurkan setelah berada di dalam."
Loh Ih-sian agak ragu, tapi ketiga orang itu lantas melangkah ke dalam ruangan. Tergerak hati Lamkiong Peng, pikirnya, "Kepungan di luar perkampungan cukup ketat, entah cara bagaimana ketiga orang ini dapat masuk ke sini dengan leluasa?" Waktu ia melirik sang ayah, orang tua itu kelihatan tetap tenang saja, maka ia pun tidak khawatir lagi.
Begitu masuk ke dalam dan melihat mayat yang bergelimpangan itu, si hwesio lantas berkata, "Ai, hanya persoalan sedikit harta benda dan harus jatuh korban jiwa sebanyak ini, apakah para Sicu tidak merasa berdosa?"
"Kejadian ini bukanlah kehendak kami dan terjadi karena terpaksa. Biarlah kelak akan kami mengadakan selamatan bagi arwah para korban ini," kata Lamkiong Siang-ju.
"Jika benar Sicu mempunyai nazar begini, hal ini menandakan Sicu masih mempunyai nurani yang baik," kata si hwesio. "Tapi akan lebih baik lagi bilamana Sicu sudi mendermakan barang-barang yang mengakibatkan bencana ini untuk amal bagi anak cucumu."
Air muka semua orang berubah. Baru sekarang kelihatan belang maksud tujuan kedatangan ketiga orang ini. Dengan tenang Lamkiong Siang-ju menjawab, "Meski Caihe ada maksud demikian, cuma sayang, harta benda ini sudah bukan milikku lagi."
"Ah, masa? Harta benda ini masih berada di tempat Sicu, kenapa bukan lagi milikmu?" kata si hwesio dengan tersenyum.
Mendadak Suma Tiong-thian membentak, "Umpama benar miliknya, jika tidak didermakan padamu, memangnya akan kaupaksa?"
Si hwesio tua tetap tersenyum tanpa gusar, jawabnya sambil tergelak, "Haha, bila para Sicu tidak sudi beramal, maka urusan di sini pun tidak ada sangkut-pautnya dengan kami."
"Memangnya apa sangkut-pautnya urusan ini dengan kalian?" bentak Suma Tiong-thian dengan gusar. "Lekas kalian enyah dari sini!"
"Eeh, Sicu ini ternyata seorang pemberang?" seru si tojin berjubah biru dengan tertawa. "Wah, air muka Sicu kelihatan gelap, ini tanda tidak baik. Hendaknya jangan suka marah, kalau tidak, pasti akan mengalami malapetaka. Ingat dan camkan!"
Saking gusarnya, Suma Tiong-thian tidak sanggup bersuara, hanya dadanya yang tampak naik turun. Si kakek bermantel ijuk lantas mendekati Suma Tiong-thian. Mendadak ia menyingkap tudungnya dan mendengus, "Hm, apakah kau tidak percaya ucapannya?"
"Memang tidak..." Belum lanjut perkataan Suma Tiong-thian, mendadak dilihatnya wajah orang itu. Ternyata muka orang tua ini luar biasa menyeramkan. Bagian di atas hidung penuh goresan bekas luka serupa semangka yang diiris kian kemari, rambut dan alisnya juga terkerik licin, kedua matanya bersinar galak. Wajahnya sangat menakutkan. Semua orang terkesiap menyaksikan wajah yang seram ini.
Si kakek tertawa, "Haha, jangan takut. Biar mukaku jelek, tapi hatiku sangat baik, seorang pedagang sejati. Jika mereka datang dengan bertangan kosong untuk menderma, kedatanganku justru membawa barang dagangan dan ingin jual-beli secara adil."
"Memangnya barang dagangan apa yang kaubawa? Bolehkah diperlihatkan kepada hadirin di sini?" ujar Lamkiong Siang-ju dengan tersenyum.
"Wah, tampaknya Lamkiong-cengcu juga seorang pedagang," kata kakek itu sembari menuang semua isi karungnya. Ternyata isinya adalah kepala manusia yang sudah terguyur air hujan sehingga putih pucat.
"Semua barangku ini masih segar dan baru, sebuah kepala bertukar dengan sebuah peti. Jual-beli ini tentu cukup adil, bukan?"
"Satu kepala tukar sebuah peti, hm, jual-beli ini memang pantas, cuma kukira barang daganganmu sudah tidak segar lagi," jengek Siang-ju.
"Oo, apakah kau minta barang yang lebih segar?" tanya si kakek.
Mendadak Lamkiong Siang-ju melompat ke sana dan mengangkat sebuah peti, serunya, "Jika sekarang juga kupotong kepalamu sendiri, maka peti ini akan kutukar."
"Eh, jadi atau tidak bisnis kita? Kenapa Cengcu mesti mengincar jiwaku?" sahut si kakek dengan tertawa sambil melangkah maju. Selagi semua orang melongo, mendadak sebelah kaki si kakek menyambar sebuah kepala manusia yang dituangnya dari karung tadi, langsung kepala itu menyambar ke muka Suma Tiong-thian.