Chapter 84
Bersamaan dengan itu, sebelah tangan si kakek meraih peti yang dipegang Lamkiong Siang-ju, tangan yang lain juga memukul pundak Lamkiong-hujin, sedangkan kaki kanannya menyampar pula sehingga sebuah kepala kembali melayang kencang ke arah Loh Ih-sian.
Beberapa gerakan itu seakan-akan dilakukannya secara bersamaan.
Sementara itu, Suma Tiong-thian juga kaget ketika mendadak sebuah kepala manusia menyambar ke arahnya, seketika itu ia tidak sempat mengelak. Ia segera mengebas dengan tangan sehingga kepala itu terlempar jauh ke luar ruangan.
Kemudian, ia mendadak teringat bahwa wajah kepala tadi sepertinya sudah dikenalnya, yaitu salah seorang anak buahnya.
Tentu saja hatinya terkesiap, rasanya mual, isi perutnya hampir tumpah keluar.
Ia membentak dan menghantam pula dengan dahsyat.
Sementara itu, Loh Ih-sian menggeser ke samping sehingga kepala manusia tadi menyambar lewat di sampingnya dan "bluk", membentur dinding.
Ketika Lamkiong Siang-ju berusaha mempertahankan petinya, tiba-tiba ia merasakan tenaga dahsyat menyodok tiba-tiba. Ia bertahan sekuat tenaga.
Pada saat yang hampir bersamaan, Lamkiong-hujin lantas menabas, ia membalas dengan memotong pergelangan tangan si kakek.
Sambil tergelak, kakek itu meluncur ke samping. Peti Lamkiong Siang-ju tertolak ke depan karena kehilangan keseimbangan. Pada saat itu pula, Suma Tiong-thian menghantam dan tepat mengenai peti. "Brak!" Seketika peti jatuh terbuka dan isinya pun berhamburan.
Diam-diam Lamkiong Peng terkejut. Sekaligus kakek itu menggunakan tangan dan kakinya untuk menyerang empat orang dengan cara yang berbeda. Kungfunya sungguh sangat lihai. Mengapa selama ini tidak terdengar asal-usul seorang tokoh kosen seperti ini? Si hwesio tua itu tersenyum dan berkata, "Tenaga dalam Lamkiong Sicu sungguh hebat, pukulan Lamkiong-hujin juga sangat gesit. Sejujurnya, kalian sudah terhitung lumayan."
"Mengenai Sicu yang ini..." Ia melirik Suma Tiong-thian sekejap, lalu menyambung, "Dia tidak lebih seperti anak yang baru masuk sekolah dasar. Jika ingin maju, masih harus belajar lebih giat lagi."
"Dan bagaimana dengan diriku?" tanya Loh Ih-sian sambil melompat maju dan menyerang hwesio itu.
"Akulah pengujinya, jangan salah sasaran!" seru si kakek kelimis itu sambil mengadang di depan Loh Ih-sian. Tangannya terangkat, ia langsung mencolok kedua mata Loh Ih-sian.
Dalam keadaan seperti itu, Loh Ih-sian tidak sempat menarik kembali pukulannya untuk menangkis. Tak terduga, mendadak ia mendongak sedikit, ia membuka mulutnya lebar-lebar, hendak menggigit jari lawan.
Tentu saja kakek kelimis itu terkesiap dan cepat-cepat menarik kembali tangannya.
"Haha, boleh juga! Dengan cara menggigit ini sudah terhitung lulusan kelas menengah," seru si hwesio.
"Huh, jurus serangan macam apa ini?" cibir si kakek kelimis. "Oh, belum pernah kaulihat? Hehe, tampaknya engkau perlu banyak menambah pengalaman," ejek Loh Ih-sian.
Sambil bicara, kedua orang itu sudah saling menyerang lagi. Hanya dalam sekejap saja, belasan jurus sudah berlalu.
Meski cara bertempur Loh Ih-sian tampak serabutan, tetapi serangannya justru sangat berbahaya. Si kakek kelimis sama sekali tidak mampu mengatasinya.
Suma Tiong-thian sampai ternganga menyaksikan pertarungan mereka.
"Tak disangka, di dunia persilatan saat ini masih ada beberapa jagoan lumayan seperti ini. Bilamana harus kubinasakan mereka, sungguh rasanya tidak tega," ucap tojin berjubah biru itu.
Mendadak Lamkiong Peng mendengus, "Hmm, jika setiap penghuni Kun-mo-to hanya punya kepandaian seperti mereka ini, maka ketakutan orang kangouw terhadap kawanan iblis dari pulau hantu itu sebenarnya agak berlebihan."
"Eh, kau tahu kami datang dari Kun-mo-to, anak muda?" tanya tojin itu dengan mata melotot.
"Lahiriahnya bajik, hati ternyata kejam dan keji, ucapan licin, kungfu tidak lemah, usia pun rata-rata sudah mendekati waktunya masuk peti mati; orang begini jika tidak datang dari Kun-mo-to, masakan mungkin datang dari tempat lain?" cibir Lamkiong Peng.
"Hahaha, bagus!" seru tojin berjubah biru dengan terbahak-bahak. "Anak muda memang lebih cepat berpikir..." Belum sempat ucapannya berlanjut, Lamkiong Peng telah mengambil sebatang pedang di lantai, lalu langsung menusuk.
Tojin itu tidak mengelak, melainkan hanya mengebaskan lengan jubahnya. Seketika, pedang terbelit oleh lengan jubahnya yang longgar itu.
Tak terduga, pedang Lamkiong Peng yang terlihat keras itu, sebenarnya hanya serangan pancingan belaka. Mendadak, ujung pedang bergetar dan menyambar ke samping, lalu secepat kilat menusuk lagi dari arah lain.
Lengan jubah tojin itu membelit tempat kosong. Tahu-tahu, ujung pedang lawan menyambar lagi ke tenggorokannya. Sungguh tak terpikir olehnya bahwa anak muda belia ini menguasai ilmu pedang sehebat ini.
Cepat ia menyurut mundur dua tiga langkah.
Hwesio tua itu berkerut kening. Nyata ia terkesiap, lalu berkata, "Aha, Sicu cilik ini sungguh anak berbakat. Apabila kau mau ikut kami ke lautan sana, dijamin dalam waktu sepuluh tahun pasti akan menonjol dan menjadi jagoan dunia kangouw."
"Huh, Lamkiong Peng adalah seorang lelaki sejati, mati pun tidak sudi berkomplot dengan kawanan iblis," seru Lamkiong Peng.
"Lamkiong Peng!" hwesio itu menegas, "Jadi dirimu inilah putra sulung Lamkiong San-ceng sekarang ini?"
"Betul!" teriak Lamkiong Peng. Bersamaan dengan itu, pedang menyabet sambil menggeser ke samping.
Hwesio tua itu mengelak dengan ringan, katanya, "Lamkiong Sicu, rasanya paderi tua ini menjadi terpikat oleh bakat putramu ini dan ingin memboyong segenap anggota keluarga Lamkiong ke pulau itu untuk menikmati hidup bahagia bersama. Namun bila Sicu sendiri berkeras pada pendirianmu, kami juga tidak boleh membiarkan harta benda ini digunakan sebagai dana kejahatan kawanan tua bangka di Cu-sin-to itu, apalagi kalau putramu yang berbakat ini sampai diperalat oleh mereka, tentu urusan akan tambah runyam. Maka, terpaksa hari ini kami harus melanggar pantangan membunuh."
Tiba-tiba pikiran Lamkiong Siang-ju tergerak, serunya cepat, "Jite dan Anak Peng, berhenti dulu semuanya!"
Lamkiong Peng segera melompat mundur.
Sedangkan Loh Ih-sian melancarkan pukulan dahsyat untuk memaksa mundur kakek kelimis itu. Setelah itu, ia pun melompat ke samping Lamkiong Siang-ju sambil berkata, "Toako, jangan kau percaya kepada ocehan hwesio ini. Penghuni Kun-mo-to kebanyakan adalah manusia jahat dan orang buangan, sebaliknya penghuni Cu-sin-to adalah kaum kesatria dunia persilatan yang mengasingkan diri. Tidak perlu bicara urusan lain, melulu nama Kun-mo dan Cu-sin saja sudah merupakan pembedaan yang menyolok. Urusan sekarang sudah telanjur begini, biarlah kita hadapi kawanan iblis ini sekuat tenaga."
Segera Suma Tiong-thian menyatakan setuju, "Betul, gempur saja!"
Segera Lamkiong Siang-ju berkata pula, "Antara keluarga Lamkiong sudah ada perjanjian dengan Cu-sin-to yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Tentang siapa baik dan siapa jahat, bukan urusan kita, yang jelas tidak mungkin kurusak perjanjian leluhur yang sudah ada. Urusan hari ini biarlah kuselesaikan langsung dengan Taysu saja."
"Jika begitu, jadi Sicu bermaksud menantang bertarung denganku satu lawan satu?" tanya si hwesio dengan sinar mata berbinar.
"Begitulah maksudku," jawab Siang-ju.
"Dan bagaimana pula jika hasil pertandingan kita sudah jelas?" tanya si hwesio tua.
"Bila aku kalah, maka segala urusan keluarga Lamkiong kuserahkan kepada semua kehendakmu," jawab Siang-ju dengan tegas dan mantap.
Loh Ih-sian dan yang lain yakin ilmu silat hwesio tua itu pasti sangat tinggi dan sulit diukur, tetapi mereka pun tahu watak Lamkiong Siang-ju yang pendiam dan cermat. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang tidak yakin berhasil, sebab itulah meski merasa ragu, namun tidak ada yang bersuara.
Hwesio tua itu tersenyum, katanya sambil mengerling ke arah kedua kawannya, "Sebenarnya aku tidak keberatan atas tantangan Lamkiong Sicu ini, hanya sayang, kedua kawanku ini jelas tidak dapat meluluskan."
Serentak yang berjubah biru dan kakek kelimis itu berseru, "Ya, tidak!" Loh Ih-sian dan yang lain menjadi heran. Jelas pertarungan ini menguntungkan pihak mereka, mengapa kedua orang ini menolak dengan tegas?
Lamkiong Siang-ju tertawa, "Haha, rupanya tidak meleset dugaanku..."
"Dugaan apa?" tanya si hwesio.
Tawa Lamkiong Siang-ju terhenti, ucapnya perlahan, "Orang bilang Tek-ih Hujin mahir ilmu rias yang tiada bandingannya di dunia ini. Setelah bertemu sekarang, memang harus kupuji, ternyata bukan hanya sekadar nama belaka. Hanya sayang, betapa cermat tindakanmu, tetap melupakan sesuatu."
Hati semua orang tergetar dan heran atas ucapan Siang-ju ini.
Perlahan hwesio itu menjawab, "Melupakan apa?"
"Meski Hujin bicara dengan alim serupa seorang paderi saleh, tetapi engkau lupa bahwa seorang hwesio harus menjalani pembaptisan dengan kepala diselimuti api dupa. Engkau tidak membawa tasbih pula. Meski memakai kasa (jubah kaum hwesio), tetapi kaki memakai sandal orang awam. Yang lebih kentara lagi adalah wajah Hujin yang dibuat kereng, namun kerlingan matamu tidak berubah. Mana mungkin seorang paderi saleh selalu main mata?"
Hwesio tua itu terdiam sejenak. Mendadak ia tertawa terbahak-bahak, katanya, "Ah, rupanya aku terlalu menilai rendah kecerdasan kalian, sebab itulah aku telah bertindak ceroboh. Sungguh hebat juga dapat kau lihat samaranku. Tadi aku pun tidak seharusnya menggunakan "Gema Irama Iblis dan Tari Pembetot Sukma" sehingga dapat kau terka Tek-ih Hujin pasti berada di sekitar sini. Yang lebih tidak pantas lagi adalah aku menyamar sebagai hwesio, padahal di dunia ini mana ada hwesio yang punya mata jeli sepertiku?"
Ketika semua orang memandangnya, meski wajahnya terlihat kereng, namun kerlingan matanya memang jalang.
Mau tak mau, semua orang terkejut. Di samping memuji kemahiran penyamaran Tek-ih Hujin yang luar biasa, bersamaan dengan itu juga mengagumi ketajaman mata Lamkiong Siang-ju. Orang lain tidak tahu samarannya, tetapi dia ternyata dapat mengetahui bahwa hwesio tua ini adalah samaran Tek-ih Hujin.