Chapter 85
Di tengah tawa yang merdu, perlahan tangan si hwesio mengusap dan menarik wajahnya sendiri. Begitu tangannya dibuka, hwesio tua yang saleh itu telah berubah menjadi seorang perempuan setengah baya yang sangat cantik mempesona.
"Setelah jejak Hujin ketahuan, kenapa tidak lekas pergi saja? Memangnya perlu mengalirkan darah di sini?" tanya Siang-ju.
Tek-ih Hujin mengerling genit, ucapnya, "Kami bertiga melawan kalian berlima memang terasa kalah kuat, cuma sayang, betapapun cerdiknya Lamkiong-cengcu, kau tetap melupakan sesuatu." Suaranya kini telah berubah menjadi halus dan merdu.
"Melupakan apa?" tanya Siang-ju.
Tek-ih Hujin tertawa terkikik, "Kau lupa bahwa selain mahir merias dan mengubah suara, Tek-ih Hujin masih menguasai sejenis kepandaian yang tidak ada bandingannya di dunia..." Hati Lamkiong Siang-ju tergerak, serunya mendadak, "Hah, menggunakan racun maksudmu?"
"Betul, kembali dapat kau terka dengan jitu," ujar Tek-ih Hujin.
"Cuma sayang kini sudah terlambat." Serentak Lamkiong Siang-ju menyurut mundur sambil membentak, "Lekas tahan napas!"
"Sudah kukatakan terlambat, masa engkau tak percaya?" ujar Tek-ih Hujin sambil tertawa. "Saat ini kalian sudah mengisap hawa racun yang tak berwujud dan tak berbau. Dalam setengah jam, kalian akan mati dengan tubuh membusuk. Apa gunanya sekarang kalian menahan napas? Selama hidupku senantiasa 'tek-ih' (senang). Jika aku tidak senang, tak mungkin orang kangouw memberi julukan Tek-ih Hujin kepadaku." Ia meraba rambut pada pelipisnya, lalu berucap pula dengan tersenyum manis, "Jika saat ini kalian mengaku salah dan mau menurut kepadaku, bisa jadi akan kuberi ampun dan menawarkan obat penawar racun yang kalian isap. Kalau tidak, selang setengah jam lagi, biarpun tabib sakti Hoa To lahir kembali, ia tidak akan mampu menyelamatkan kalian."
Wajah Lamkiong Siang-ju tampak pucat, ia mendamprat, "Huh, ngaco! Betapapun kau putar lidah, tetap takkan kupercaya."
Tek-ih Hujin tertawa senang, "Hihi, meski mulutmu keras, padahal dalam hatimu sudah percaya, betul tidak? Soalnya engkau tentu sudah pernah mendengar cerita orang kangouw bahwa kabut wangi pencabut nyawa milik Tek-ih Hujin tidak berbau dan tidak berwujud. Kalau tidak segera minum obat penawar, dalam jarak seluas tiga tombak, baik manusia maupun hewan, asalkan kecipratan setitik saja kabut beracun itu, tidak ada yang dapat hidup lebih dari satu jam."
"Cuma sayang kabut ini tak dapat mencapai jarak jauh. Dengan susah payah aku menyaru sebagai hwesio tua dan menuju ke sini di bawah hujan. Tujuanku adalah membuat kalian tidak berjaga-jaga. Dengan begitu, aku dapat masuk ke ruangan ini dengan leluasa dan meracuni kalian dengan mudah." Ia bicara sambil berlenggak-lenggok dan main mata dengan genit.
Tiba-tiba pikiran Lamkiong Peng melayang-layang, tanpa terasa teringat olehnya sosok Kwe Giok Ge. Diam-diam ia membatin, "Mengapa perempuan yang berhati keji dan jahat justru berbentuk cantik molek?" Pada saat itulah terdengar Loh-ih-sian membentak, "Perempuan keji, biar aku mengadu jiwa denganmu!" Serentak Suma Tiong-thian juga menjemput kembali tombaknya. Namun, si kakek kelimis dan tojin berjubah biru lantas mengadang di depan mereka.
Tek-ih Hujin mendengus, "Hm, kalian tidak lekas minta ampun padaku, memangnya kalian tidak ingin hidup lagi?" Seketika Suma Tiong-thian merandek, sebab mendadak teringat olehnya anak-istri dan keluarganya.
"Aku memang sudah bosan hidup!" teriak Loh Ih-sian, berbareng ia menghantam dengan kalap.
"Kau sendiri bosan hidup, apakah orang lain juga bosan hidup?" ucap Tek-ih Hujin.
Seketika Loh Ih-sian melengak dan berhenti menyerang. Waktu ia memandang ke sana, Suma Tiong-thian kelihatan lesu, sedangkan Lamkiong Siang-ju tampak sedih. Lamkiong-hujin memandang putra kesayangannya dengan cemas. Loh Ih-sian terharu, pikirnya, "Aku sendiri sebatangkara, dengan sendirinya mati hidup tidak menjadi soal bagiku. Tapi orang lain berumah tangga dan anak istri lengkap bahagia, mana mereka bisa meniru diriku dan menyuruh mereka mati begitu saja?" Maklumlah, lantaran wataknya yang mudah tersinggung, dia putus asa dan mengasingkan diri selama 20 tahun, dengan segala daya upaya berusaha mengumpulkan uang, sebaliknya pribadinya sama sekali tidak terawat. Sekarang hatinya menjadi dingin dan ia berdiri termangu tanpa bicara.
Tiba-tiba Lamkiong Peng berseru, "Cara bagaimana kau bikin susah toako kami? Ke mana perginya sekarang?"
Tek-ih Hujin tersenyum, "Asalkan kau turut perkataanku, urusan toakomu tentu akan kuberitahukan padamu. Sekarang hari sudah hampir pagi, racun yang kalian minum sudah hampir bekerja. Kalian tidak berani bertempur dan juga tidak mau menyerah, apakah memang ingin menanti ajal saja di sini?"
"Hm, jangan kau gembira dulu, segala macam racun di dunia ini pasti ada obat penawarnya," jengek Lamkiong Siang-ju.
Mendadak Tek-ih Hujin tertawa, "Ah, tidak perlu kau bicara lagi, kutahu maksudmu hanya ingin memancing supaya kuberi tahu seluk-beluk racun ini. Terus terang kukatakan, racunku ini di dunia hanya dipunyai dua keluarga saja, atau dengan lain perkataan cuma dua tempat ini saja yang mempunyai obat penawar. Salah satu tempat itu justru jauh terletak di luar perbatasan utara sana. Biarpun sekarang engkau dapat terbang ke sana, juga tidak akan keburu lagi."
Hati Lamkiong Peng tergerak. Didengarnya sang ibu sedang berkata, "Habis cara bagaimana baru dapat kau beri..." Belum lanjut ucapannya, "Kekk", mendadak seekor burung beo menerobos masuk melalui jendela dan hinggap di atas sebuah peti. Burung itu mengguncangkan sayap untuk merontokkan air hujan yang membasahi bulunya, kemudian bersuara panjang satu kali. Meski kecil burungnya, tapi tampak gagah.
"Aha, sudah datang!" mendadak Lamkiong Siang-ju berseru girang.
Burung beo itu melayang dan hinggap di pundak Siang-ju serta menirukan ucapannya, "Sudah datang..."
Benar saja, segera terdengar suara langkah orang di undakan batu. Sesosok bayangan tinggi besar lantas muncul di depan pintu. Orang yang berperawakan raksasa ini memakai baju satin yang sangat mewah, tapi caranya memakai justru tidak teratur. Dari tujuh buah kancing, hanya dirapatkan tiga buah saja sehingga dadanya terbuka dan memperlihatkan dada yang bidang dengan bulu hitam lebat. Rambut orang ini juga semerawut tak teratur, kedua alisnya sangat tebal, mata kiri tertutup oleh sebuah kedok mata sehingga menambah keseraman mata kanannya. Tangan kirinya tampak melambai lurus dan lengan kanan menyangga pada sebuah tongkat hitam, sementara kaki kanannya buntung sebatas dengkul. Sorot matanya yang tajam itu sekarang sedang menyapu pandang keadaan sekelilingnya.
Tergetar hati Tek-ih Hujin melihat kemunculan orang aneh ini. Burung beo tadi segera terbang dan hinggap di pundak si buntung kaki dan bermata satu ini.
Lamkiong Siang-ju memberi hormat dan berseru, "Sudah lama kami menunggu, silakan masuk."
Perlahan orang aneh itu mengangguk, katanya sambil memandang Lamkiong Peng, "Inikah putra kesayanganmu? Haha, bagus, memang hebat!"
Diam-diam Tek-ih Hujin menyurut mundur ke sudut yang agak gelap, sedang si tojin berjubah biru dan si kakek berdiri dengan air muka prihatin memandangi pendatang yang aneh ini.
Seperti tak acuh, si buntung tersenyum, katanya, "Sudahlah, tidak perlu bertempur lagi, kabut racunmu sama sekali takkan mempan terhadapku."
Tek-ih Hujin terkesiap. Belum lagi ia bertindak, tongkat lelaki buntung itu mengetuk lantai, perlahan ia melangkah masuk, katanya, "Bagus, peti-peti ini sudah siap..."
Burung beo tadi menirukan, "Bagus... bagus..."
Si tojin berjubah biru dan si kakek kurus saling memberi tanda, berbareng mereka hendak menubruk maju. Tanpa berpaling, lelaki buntung itu mendadak membentak, "Jangan bergerak!" Seketika kedua orang itu urung bertindak.
Dengan tak acuh, lelaki buntung itu membalik tubuh, lalu berkata, "Aha, sekian tahun tidak bertemu, mengapa kalian masih suka main sergap begini?"
Tojin berjubah biru terkekeh, "Ah, masakah main sergap? Maksud kami hanya ingin menyapa kepada kenalan lama saja!"
"Bagus, bagus..." ucap si buntung sambil membelai bulu burung beo yang hitam legam itu. "Rupanya kalian berdua juga berhasil menemukan Kun-mo-to dan kedatanganmu sekarang hendak memusuhiku, bukan?"
Mendadak si kakek menyela, "Betul!" Sinar matanya menerjang terang dan siap tempur. Namun, si buntung hanya memandangnya sekejap dengan hambar, ia berkata ke arah lain, "Lamkiong-cengcu, jika putramu sudah datang, peti juga sudah siap. Bila ada arak, harap sediakan dua guci. Habis minum segera berangkat!"
"Hm, kutahu kami tidak kaupandang sebelah mata," jengek si kakek mendadak. "Tapi bila peti-peti ini hendak kaubawa pergi, sedikitnya harus kaulangkahi dulu mayatku."
Dengan terkekeh si tojin berjubah biru lantas menyambung, "Meski kungfu kami bukan tandinganmu, tapi jika dua lawan satu, jelas engkau takkan menarik keuntungan. Apalagi, hehe, bukan mustahil keluarga Lamkiong akan berdiri di pihak kami."
Si buntung bermata satu itu berucap, "Bagus, boleh kalian coba saja nanti... Hehe, dan nona besar itu, jika obat penawar tidak kauberikan, apakah kaukira dapat keluar dari Lamkiong-san-ceng dengan hidup?"
Air muka Tek-ih Hujin berubah, katanya dengan tersenyum genit, "Eh, jika engkau melarangku pergi, biarlah kutemanimu di sini."
"Haha, bagus, Bu-tau-ong, Hek-sim-khek, coba kalian bekuk dia, akan kuberi rasa enak padanya," seru si buntung.
Suma Tiong-thian terkesiap mendengar nama-nama yang disebut itu. Kiranya kedua orang ini adalah "Bu-ok" atau dua manusia jahat tak berhati yang terkenal berpuluh tahun lampau. Pantas kungfu mereka tinggi dan tindak-tanduknya keji. Lamkiong Peng belum luas pengalaman kangouw, tak diketahuinya asal-usul Bu-ok yang ditakuti beberapa puluh tahun yang lalu ini.
Si kakek kurus, Bu-tau-ong atau Si Kakak Tanpa Kepala, tertawa terkekeh, ucapnya, "Hehe, kau minta kami membekuk dia?..."