Halo!

Han Bu Kong - Chapter 86

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 86

"Hah, barangkali setelah kau masuk Co-sin-tian, pikiranmu menjadi kurang waras. Hm, apakah kalian memang sudah bosan hidup dan tidak mau minta obat penawar kepadanya?" ejek si buntung.

Bu-tau-ong dan Hek-sim-khek sama melongo. Seru mereka, "Apa artinya?"

"Hah, rupanya kalian belum tahu," seru si buntung dengan tertawa. "Baik, ingin kutanya padamu, apakah sebelumnya kalian telah mencium obat penawar?"

Kedua orang itu sama terkesiap dan tidak dapat bicara.

"Haha, kalian mengira ucapannya tadi hanya untuk menggertak pihak Lamkiong-cengcu saja dan tidak benar telah menebarkan kabut berbisa. Soalnya, kalian memang tidak tahu kapan dia menyebarkan racun, begitu bukan?" Muka Hek-sim-khek tampak pucat, wajah Bu-tau-ong pun semakin beringas.

"Huh, jangan kalian percaya kepada ocehannya," kata Tek-ih Hujin dengan tertawa, namun suaranya agak gemetar. Serentak Bu-tau-ong berputar tubuh. Hek-sim-khek lantas menegur, "Jadi benar kau gunakan racun?" Bu-tau-ong juga lantas melangkah maju sambil menjulurkan tangan.

"Serahkan obat penawarnya!"

Si buntung kelihatan tertawa senang. Ia bersandar tak acuh di atas peti, katanya, "Obat penawar tulen. Setelah dicium, kontan akan bersin tujuh kali. Harus kau coba dulu, jangan sampai tertipu."

Tek-ih Hujin menyurut mundur, ucapnya gugup, "Jangan... jangan kau percaya, dia bohong!"

"Jika tidak serahkan obat penawar, akan kucincang dirimu, dagingmu akan kumakan bersama arak," bentak Bu-tau-ong bengis.

"Kulitnya putih halus, dagingnya tentu empuk, rasanya pasti enak," tukas Hek-sim-khek.

"Cuma sayang, tentu agak berbau langu," ujar si buntung dengan tertawa.

Dalam pada itu, Tek-ih Hujin masih terus menyurut mundur, ucapnya, "Baik, akan... akan kuberi." Ia meraba bajunya, tapi mendadak tangannya terangkat. Berpuluh titik perak tajam serentak berhamburan, ia sendiri segera melayang keluar melalui jendela.

Cepat lengan baju Hek-sim-khek mengebas, kedua tangan Bu-tau-ong juga menghantam dari jauh sehingga senjata rahasia lawan dibikin rontok. Tanpa berhenti, mereka terus mengejar sambil membentak, "Lari ke mana!"

Pada saat itu juga, dari luar menyambar masuk setitik cahaya tajam menuju ke arah Lamkiong Peng. Selagi anak muda itu hendak menangkap senjata rahasia tersebut, sekonyong-konyong tangannya terasa kesemutan. "Tring", cahaya perak itu mencelat jauh ke sana.

Entah sejak kapan si buntung bermata satu sudah berada di sampingnya. Jarinya mengetuk perlahan tangan Lamkiong Peng, tongkat yang menyangga ketiaknya membentur senjata rahasia musuh hingga mencelat. Meski tubuhnya tinggi besar, namun gerak-geriknya ternyata sangat gesit. Lamkiong Peng melongo sendiri.

Dengan tak acuh, si buntung melangkah ke sana dan bersandar pula di peti, katanya, "Permainan itu tidak boleh disentuh."

"Tidak boleh disentuh?" Lamkiong Peng menegas.

Si mata satu tertawa, katanya, "Meski nona besar itu tidak betul-betul menyebarkan kabut berbisa tanpa wujud itu, tapi senjata rahasianya memang benar-benar berbisa jahat dan tidak boleh disentuh. Kakiku ini justru korban senjata rahasia miliknya pada waktu Baoceng terbakar dulu, hampir saja jiwaku ikut melayang. Sampai akhirnya bahkan harus dipotong."

Semua orang sama terkejut. Si mata satu menyeringai, ucapnya pula, "Ah, di dunia ini mana ada racun tanpa bau dan tiada wujud? Kalau ada, bukankah nona besar itu dapat malang melintang di dunia ini tanpa tandingan?"

Sinar matanya menyapa pandang wajah semua orang yang kelihatan bingung itu. Ia menuturkan pula, "Kabut pembetot sukma hanya semacam asap berbisa yang tipis dan dapat terlihat oleh mata. Racun ini sudah pernah kuratakan. Apa yang kukatakan tadi tidak lebih hanya untuk mengadu domba antara mereka sendiri supaya anjing menggigit anjing, biar nona besar itu merasakan betapa kejamnya kedua kawannya sendiri. Haha, mana mungkin dapat diberikannya obat penawar yang dapat membuat orang bersin tujuh kali? Cuma, nona besar itu juga bukan seteru yang mudah ditandingi, akhirnya Bu-tau-ong juga takkan menarik sesuatu keuntungan, bisa jadi kedua pihak akan sama-sama konyol."

Suma Tiong-thian berseru senang, "Haha, hampir saja aku tertipu olehnya."

Si mata satu memandangnya sekejap, ejeknya, "Orang yang tidak takut mati tak mungkin tertipu olehnya."

"Memangnya engkau sendiri tidak takut mati?" tanya Suma Tiong-thian.

"Siapa bilang aku tidak takut mati? Orang yang tidak takut mati tentu orang tolol."

Mendadak Suma Tiong-thian menunduk, gumamnya, "Tapi jelas engkau tidak takut mati. Kalau takut, mustahil engkau mau menerjang Baoceng di tengah malam buta sendirian dan membakar beratus binatang buas serta membinasakan Hokkun..."

"Ah, itu cuma perbuatan ugal-ugalku pada waktu muda," ujar si mata satu dengan tertawa. "Manusia makin tua makin licik. Hari ini aku juga tidak mau bergebrak dengan orang, terpaksa menggunakan akal licik untuk mengadu domba mereka sendiri."

Dengan tersenyum Lamkiong Siang-ju berucap, "Meski sudah lama kutahu kungfu Anda mahatinggi, tapi tak pernah terpikir Cianpwe ini ialah Hong Manthian, Hong-taihiap. Terlebih tidak menyangka setelah pertemuan Wi-tan dahulu, Hong-taihiap lantas menghilang sekian lamanya dan ternyata masih sehat walafiat."

"Haha, sesudah pertemuan Wi-san, orang kangouw lama mengira kawanan makhluk tua itu sudah mampus semua dan cuma tersisa Sin-liong dan Tanhong berdua. Tidak ada yang tahu bahwa kawanan tua bangka itu masih banyak yang hidup di dunia fana ini, cuma kebanyakan sudah mengasingkan diri ke Cu-sin-to dan Kun-moto. Bicara sesungguhnya, keadaannya tidak banyak bedanya dengan mati."

"Hah, jadi Hong-taihiap inilah yang terkenal di dunia persilatan sebagai Mohiamkuncu (Si Jantan Petualang) Tiangkun (Si Ksatria Suka Tertawa)?" tanya Lamkiong Peng.

Hong Man-thian menengadah dan tergelak, "Ah, itu hanya sebutan yang sembarangan diberikan oleh kawan kangouw. Mana aku dapat disebut sebagai Kuncu segala, kalau Siaujin (orang rendah) sih lebih tepat."

Dalam pada itu, hujan sudah reda. Cahaya remang subuh sudah kelihatan di luar. Lamkiong-hujin mengeluarkan seguci arak dan seperangkat baju kering; arak untuk Hong Man-thian, dan baju diberikan kepada Lamkiong Peng yang basah kuyup itu. Suasana yang diliputi ketegangan tadi kini berubah menjadi sepi dan haru akan perpisahan.

Hong Man-thian dan Loh Ih-sian duduk berhadapan tanpa bicara dan asyik menenggak arak. Hanya sekejap saja seguci arak sudah dihabiskan mereka berdua.

"Sungguh kuat takaran minummu," seru Hong Man-thian sambil menepuk bahu Loh Ih-sian.

Sambil bergelak tertawa Loh Ih-sian menjawab, "Kekuatanmu minum arak juga sangat hebat. Sungguh aku tidak mengerti mengapa engkau sengaja tinggal menyepi di Cu-sin-to, padahal alangkah senangnya jika tinggal di dunia fana sini, kan bisa lebih banyak minum arak beberapa guci lagi."

Hong Man-thian menengadah dengan termangu-mangu, gumamnya, "Alangkah senangnya minum arak... Hah, tidak ada pesta yang tidak bubar. Sekarang sudah terang tanah, sudah waktunya berangkat! Untuk ini kiranya perlu bantuan beberapa kereta Suma-taihiap di luar sana."

"Untuk mengantar keberangkatan anak Peng keluar lautan, biarlah kami antar beberapa jauhnya. Jika tidak keberatan, sudilah Suma-heng tinggal dulu di sini sampai datangnya penghuni baru perkampungan ini."

Suma Tiong-thian mengangguk setuju, katanya, "Jangan khawatir, Lamkiong-heng, meski sudah tua bangka, sedikit urusan ini tentu dapat kubereskan."

"Biar kudatangkan kereta di luar sana," seru Loh Ih-sian sambil melompat pergi.

"Akan kubantu, Jicek," seru Lamkiong Peng terus ikut lari keluar.

Kedua orang berlari menuju ke luar perkampungan. Ter tampak sepanjang jalan senjata berserakan, di tengah hutan, di semak belukar, mayat bergelimpangan. Darah sudah bersih terguyur air hujan. Tidak jauh di sebelah sana beberapa ekor kuda tanpa bertuan sedang asyik makan rumput yang segar.

Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian baru saja sampai di depan hutan, mendadak di tengah semak-semak sana berkumandang suara rintihan orang. Keduanya saling pandang sekejap terus melompat maju, terlihat dua batang pohon babak-belur serupa habis dipahat dan dibacok oleh senjata tajam. Tetumbuhan di sekitar pohon juga bekas terinjak-injak.

Dengan hati-hati kedua orang melangkah ke depan. Mendadak terdengar suara tertawa seram, dua sosok bayangan orang muncul dari balik semak-semak pohon sana.

"Siapa?" bentak Lamkiong Peng.

Tapi segera dapat mereka kenali kedua orang ini ternyata Bu-tau-ong dan Hek-sim-khek. Pakaian kedua orang ini kelihatan morat-marit penuh rumput, seperti berguling-guling dari sana, sedang muka, hidung, mulut, dan telinga berlepotan darah, mata mendelik kalap. Betapa tabah Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian, merasa ngeri juga melihat keadaan kedua orang itu.

"Hehe, obat penawar... mana obat penawar..." Bu-sim-ong terkekeh, kedua tangan terpentang dan segera menubruk maju. Lamkiong Peng kaget dan menyurut mundur. Tak terduga baru saja Bu-sim-ong melangkah, segera jatuh terguling.

Hek-sim-khek juga membentak, "Ganti nyawaku!"

Belum lenyap suaranya, dia juga terjungkal, tapi tangannya sempat terangkat. Selarik sinar hitam gilap lantas menyambar ke arah Lamkiong Peng. Serangan sebelum ajalnya ternyata sangat lihai. Cepat Lamkiong Peng menggeser ke samping, terdengar suara mendesing menyambar lewat di tepi telinganya. Cahaya hitam gilap itu masih terus melayang ke sana dan menumbuk batang pohon. Kiranya benda itu sebuah kotak kecil.

Untuk sejenak Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian siap siaga. Setelah sekian lama kedua orang itu tidak berkutik lagi, barulah mereka mendekati. Ternyata keduanya sudah mati dengan mata mendelik.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment