Chapter 87
Melihat kotak itu, Loh Ih-sian berucap dengan gegetun, "Ai, Tek-ih Hujin itu memang sangat keji. Kotak racun ini dikatakannya sebagai obat penawar. Betapa licin; Buok takkan menyangka obat yang diserahkan Teh-ih Hujin dalam keadaan terpaksa ini justru adalah racun, dan sekali dicium, maka celakalah mereka." Sebagai seorang jago kawakan, dugaannya ternyata tidak keliru.
Cuma tidak diketahuinya bahwa sebelum Buok mencium racun itu, mereka lebih dulu memaksa Teh-ih Hujin mencium obat tersebut. Setelah menyaksikan tidak terjadi sesuatu, barulah mereka berebut menciumnya.
Karena itulah mereka jadi benar-benar terjebak, sebab sebelumnya Teh-ih Hujin sudah memakai obat penawar. Makanya dia tidak mengalami sesuatu setelah mencium racunnya. Padahal, bubuk racun dalam kotak itu kalau disebarkan dan tertiup angin, sedikitnya akan menimbulkan korban beratus orang, sebab asalkan mencium hawanya saja sudah cukup membuat jiwa melayang.
Apalagi Buok khawatir obat penawar yang mereka endus itu kurang banyak, sehingga mereka mencium sekuat-kuatnya sampai sekotak kecil bubuk racun itu hampir seluruhnya masuk ke rongga dada mereka. Keruan saja jiwa mereka tak tertolong lagi.
Begitulah mereka berguling di tanah dan tersiksa oleh bekerjanya racun, tubuh serasa ditusuk beribu jarum yang tak tertahankan rasa sakitnya.
Mereka menjadi kalap seperti orang gila; batang pohon dicakar sekuatnya, rumput dibetot. Keadaan itulah yang dilihat Lamkiong Peng tadi.
Sedangkan Teh-ih Hujin sempat melarikan diri.
Biarpun Buok memang penjahat yang berlumuran darah tangannya, tidak urung Lamkiong Peng terharu melihat kematian mereka yang mengenaskan itu. Ia mengumpulkan ranting kayu dan rumput kering untuk menutupi mayat mereka, lalu pergi.
Ia menemukan beberapa ekor kuda, lalu dipasang pada kedua kereta kosong di luar perkampungan sana serta dibawa pulang. Tertampak ayah-ibunya dan lain-lain berdiri di depan rumah sedang menunggu. Beramai-ramai semua peti lantas dimuat ke atas kereta.
Suma Tiong-thian mengucapkan selamat jalan kepada semua orang. Ia memegang tangan Lamkiong Peng dan memberi nasihat agar berjaga diri baik-baik, terutama harus awas terhadap perempuan. Rupanya dia belum lupa kepada Kwe Giok-he yang diam-diam berusaha menjatuhkan nama anak muda itu. Lamkiong Peng terkesiap dan tidak paham maksud orang tua itu, tapi mengiakannya dengan terima kasih.
Begitulah 20-an peti termuat dalam dua kereta terus berangkat menuju ke timur. Loh Ih-sian dan Hong Man-thian menumpang bersama satu kereta dan asyik minum arak sepanjang jalan. Sedangkan Lamkiong Siang-ju bersama anak dan istrinya menumpang pada kereta lain; ketiganya tidak banyak bicara sepanjang jalan.
Malamnya mereka sampai di suatu kota dan mendapatkan rumah pondokan. Kereta diparkir di halaman. Hong Man-thian mencari sepotong kapur dan menulis huruf "koan" pada dinding kereta.
"Apakah peti perlu diturunkan?" tanya Loh Ih-sian.
"Dengan huruf 'koan' ini, siapa pula di dunia ini yang berani mengincarnya?" ujar Hong Man-thian dengan tertawa.
Kiranya tulisan "koan" ini adalah tanda tangannya yang dulu pernah mengguncangkan dunia persilatan. Suatu kali dia membantu seorang teman yang harta bendanya dirampok kaum bandit di Thay-hing-san; tanpa susah payah Hong Man-thian berhasil meminta kembali harta yang hilang itu. Beberapa peti harta benda itu ditumpuk di lereng bukit sunyi, peti diberi tanda pengenal huruf "koan", lalu ditinggalkan pulang, kawan pemilik barang disuruh mengambil sendiri ke tempat penimbunan peti.
Begitulah dia berkisah kegagahannya pada masa lampau sehingga menambah semangatnya minum arak. Lamkiong-hujin lantas minta disediakan berbagai jenis arak, ia mencampur sendiri arak yang paling enak, dan ternyata sangat menyocoki selera Hong Man-thian dan Loh Ih-sian sehingga tiada henti-hentinya kedua orang itu memuji. Dan seterusnya setiap persinggahan, Hong Man-thian selalu minum sampai mabuk oleh ramuan arak Lamkiong-hujin yang istimewa itu.
Entah karena ingin menikmati arak enak atau karena ada sebab lain, perjalanan makin hari makin lambat. Anehnya, pada setiap tempat persinggahan, Hong Man-thian pasti keluar sampai setengah harian; pulangnya dia membawa satu kereta penuh muatan, kebanyakan berupa peti besar dan kecil, semuanya tertutup rapat entah apa isinya. Peti yang paling besar serupa peti mati, yang paling kecil juga berukuran dua-tiga kaki panjangnya.
Akhirnya kereta yang dikumpulkan bertambah banyak sehingga merupakan satu iring-iringan. Wilayah timur ini kebanyakan daerah pegunungan dan merupakan sarang penjahat. Dengan sendirinya iring-iringan kereta mereka menimbulkan perhatian orang. Banyak lelaki kekar berkuda mondar-mandir mengawasi konvoi mereka, namun Hong Man-thian anggap seperti tidak tahu saja. Walaupun begitu, kawanan bandit juga heran dan sangsi melihat iringan kereta yang panjang itu ternyata tidak dikawal sebagaimana lazimnya. Karena belum jelas asal-usulnya, seketika pun tidak ada yang berani mendahului turun tangan mengganggunya.
Hari ini rombongan mereka sampai di Tangyang; di depan adalah lereng gunung pertemuan antara pegunungan Hwekeh, Thian-tai, dan Sa-beng-san. Menjelang magrib mereka pun berhenti di rumah pondokan. Hong Man-thian keluar lagi mengitari kota.
Esok paginya, rumah pondokan itu mendadak menjadi riuh ramai didatangi orang banyak. Kiranya kemarin Hong Man-thian telah mendatangi semua pandai besi di kota Tangyang ini dan minta dibuatkan satu-dua buah sangkar besi yang besarnya antara satu tombak, sehingga jumlah seluruhnya lebih dari 20 buah. Dengan sendirinya orang lain tidak tahu apa gunanya sangkar besi sebanyak itu. Tapi Hong Man-thian lantas menyuruh orang memindahkan peti ke dalam sangkar besi, lalu dimuat lagi ke atas kereta dan melanjutkan perjalanan.
Kawanan bandit yang selalu mengintai gerak-gerik konvoi mereka ini menjadi geli. Pikir mereka, "Biarpun harta benda telah kau simpan di dalam sangkar besi, memangnya kami tidak dapat merampas sekalian bersama sangkarnya?" Karena itu, mereka menertawakan kebodohan pemilik barang ini, hati mereka jadi mantap dan malam ini juga berniat turun tangan.
Setelah lewat beberapa kampung lagi, di depan adalah lereng pegunungan; penunggang kuda yang wira-wiri mengikuti iringan kereta mereka bertambah banyak, semuanya bertampang jahat menakutkan. Tentu saja para kusir kereta jadi ketakutan; diam-diam mereka bersepakat bila mana kawanan bandit datang, mereka akan menyelamatkan diri lebih dulu.
Lamkiong Siang-ju dan lain-lain juga tidak tahu untuk apa Hong Man-thian membeli sangkar besi besar sebanyak itu, akhirnya mereka coba minta keterangan kepadanya.
Hong Man-thian tertawa, tuturnya, ''Dulu terjadi sebuah lelucon, begini ceritanya. Seorang membawa galah bambu masuk ke kota. Baik bambu melintang maupun menegak, tetap sukar memasuki gerbang kota. Setelah berkutak-kutek sekian lamanya, akhirnya orang itu melemparkan galah bambu ke dalam kota melalui atas tembok benteng. Seorang di tepi jalan terbahak-bahak geli, katanya, 'Bodoh amat orang ini, kenapa galah bambu itu tidak dipatahkan menjadi dua atau tiga potong? Dengan begitu kan leluasa pergi ke mana pun'."
Loh Ih-sian melongo, ia pun tidak paham arti lelucon itu, katanya, "Kenapa dia tidak meluruskan bambunya dan menerobos masuk ke kota?"
"Jika dia masuk kota begitu saja, kan bukan lagi lelucon namanya," ujar Hong Man-thian dengan tergelak. Lamkiong Peng juga tertawa geli.
Maka Hong Man-thian melanjutkan, "Jika kawanan penjahat melihat kusimpan peti harta benda di dalam sangkar besi, tentu mereka akan tertawa akan kebodohanku serupa orang yang membawa galah bambu itu. Kan sangkar besi dapat juga diangkut sekalian biarpun peti tersimpan di dalamnya. Mereka lupa bahwa orang yang membawa galah bambu itu mendadak bisa membawa galahnya masuk ke kota dengan lurus begitu saja; untuk ini, kawanan bandit itu tentu tak bisa tertawa lagi."
Loh Ih-sian meraba kepalanya yang botak, "Memangnya apa gunanya sangkar besi sebanyak ini?"
"Jika kuceritakan apa gunanya, tentu juga bukan lelucon lagi," kata Hong Man-thian.
Mendadak burung beo yang selalu hinggap di pundak Hong Man-thian itu ikut bersuara, "Lelucon... lelucon..." Pada saat itulah sekonyong-konyong tiga anak panah mendenging memecah angkasa sunyi. Kembali burung beo itu berteriak, "Lelucon datang... lelucon datang..."
Lamkiong Siang-ju tidak heran, ia memang sudah menduga akan kejadian demikian. Ia cuma mengatur rombongan kereta menjadi satu lingkaran; para kusir sama menyingkir ketakutan. Terdengar dari kanan-kiri suara derap kaki kuda yang ramai, debu mengepul, serentak muncul berpuluh penunggang kuda.
Dari arah timur dipimpin seorang bermuka hitam dan berjenggot pendek, kelihatan gagah perkasa, segera ia berteriak, "Inilah Thian-lai-thian (setengah bukit melayang turun dari langit) berada di sini, para saudara siap!" Sambil bersuara, ia terus melompat ke atas dan berdiri di atas pelana kudanya dengan gagah.
Segera kawanan penunggang kuda dari beberapa penjuru itu sama berhenti di sekeliling lelaki kekar itu. Dari rombongan sana tampil lagi tiga penunggang kuda yang gagah; mereka melompat turun dari kudanya dan berkumpul untuk berunding.
"Hah, rupanya beberapa rombongan bandit ini sudah saling kenal. Semula kukira mereka akan saling cakar-cakaran, agaknya tontonan menarik ini tidak jadi muncul," ucap Loh Ih-sian dengan tertawa.