Halo!

Han Bu Kong - Chapter 88

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 88

"Tontonan menarik sih masih ada," ujar Hong Man-thian.

"Untuk itu hendaknya kalian jangan turun tangan dulu, turutlah kepada caraku."

Dalam pada itu, keempat lelaki tadi setelah berkumpul dan berunding, lalu mereka melangkah maju. Seorang di antaranya yang kurus kecil tapi bermata tajam segera berseru, "Di mana pemilik iringan kereta ini? Harap tampil untuk bicara."

Orangnya kecil, tapi suaranya besar. Hong Man-thian berlagak bingung dan memandang kian kemari, tanyanya, "Eh, di mana orang yang bicara itu?"

Hong Man-thian sengaja berkerut kening, katanya, "Ai, rasanya kita belum saling kenal, entah ada petunjuk apa Anda mengajak bicara padaku?"

Si kurus terbahak, "Haha, supaya kau tahu, aku inilah Jiuyap (angin musim rontok menyapu daun) Toh Siau-giok dari Lok-yap-ceng..."

"Haha, Lok-yap-ceng (Perkampungan Daun Rontok), tampaknya nama yang baik juga," seru Hong Man-thian. "Ketiga orang ini, yang satu adalah Oh-taihiap yang terkenal dengan ilmu goloknya dari Hun-cui-koan dan..."

"Untuk apa banyak omong dengan dia!" sela seorang temannya yang bersuara lantang tadi.

"Ayolah sahabat, terus terang saja kita buka kartu, memangnya perlu apa kau berlagak bodoh. Tinggalkan keretamu dengan seluruh isinya dan jiwa kalian akan diampuni."

Hong Man-thian mengelus janggut dan pura-pura kaget, "Hah, kukira kalian datang untuk ikut minum arak bersamaku, tak tahunya kalian mengincar harta benda juga?"

"O, barangkali engkau ini penggemar sajak," si jangkung menyeringai. "Baiklah, biar aku Thi Toa-kan membawakan sajak bagimu, nah dengarkan: Gunung ini aku yang buka, hutan ini aku yang tanam. Jika ingin lalu di sini, bayar dulu uang jalan. Ingat, jangan coba-coba bilang tidak, senjata kami tidak kenal ampun."

Mendadak ia mengayunkan kepalan dan menghantam kepala salah seekor kuda. Kontan kepala kuda pecah; belum lagi sempat meringkik, kuda itu sudah roboh binasa.

Lamkiong Siang-ju dan lain-lain tetap tenang saja. Sebaliknya, Toh Siau-giok dan begundalnya sama berseri kaget, "Wah, tangan hebat!"

Thi Toa-kan tertawa, katanya, "Nah, dapat kalian pahami tidak akan sajakku?"

Hong Man-thian berlagak terkejut, "Wah, kusangka kalian adalah kaum pelancong yang iseng, siapa tahu kalian ini kaum bandit dan perampok..." Diam-diam ia mengedipi Lamkiong Peng, lalu berteriak, "Ai celaka, ada bandit! Ayolah lekas kemari pengawalku, hajarlah bandit ini!"

Lamkiong Peng merasa geli, segera ia tampil ke muka. Semula Thi Toa-kan dan begundalnya melongo juga, tapi ketika diketahui yang muncul cuma seorang anak muda belia, hati mereka menjadi tabah. Dengan tertawa Thi Toa-kan berseru, "Haha, apakah ini jago pengawalmu? Eh, Toa piauthau yang terhormat, engkau dari Piaukiok mana? Setelah kenal nama kami, masakah kau berani main kayu lagi dengan kami?"

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu Lamkiong Peng melompat maju dan *plok*, pipinya telah tergampar dengan tepat. Keruan Thi Toa-kan melongo, teriaknya murka, "Binatang..." Baru saja bersuara, pipi sebelah lain juga kena gamparan keras. Ia tergetar mundur dengan mulut berdarah. Sambil mengusap darah, segera ia hendak menerjang maju.

Tapi Toh Siau-giok keburu menarik bajunya dan mendesis, "Sabar dulu!" Lalu ia berkata kepada Lamkiong Peng, "Eh, lihai benar kungfu saudara muda ini. Siapakah namamu dan murid dari perguruan mana?"

"Aku murid Sin-Hong, Lamkiong Peng adanya!" seru anak muda itu lantang.

Thi Toa-kan, Toh Siau-giok, Oh Cin si jago golok, dan seorang lagi berbaju hitam bernama Tio Hiong-to berjuluk Im-yang-poh (Si Kampak), saling pandang dengan air muka berubah. Seru Toh Siau-giok, "Hah, Anda inikah Lamkiong Peng?"

Lamkiong Peng hanya mendengus saja tanpa bicara lagi. Hendaknya maklum, sejak pertarungan sengit di restoran Koai-cip-lau dan menerjang Huiceng tempat Wi-Ki dahulu, nama Lamkiong Peng lantas tersiar luas di kangouw dan disegani.

Keruan keempat orang itu sama gentar. Thi Toa-kan menyingkir ke samping dan memanggil seorang anak buahnya, mendadak dijambretnya leher baju orang itu dan didamperatnya, "Inikah hasil selidikanmu? Kau bilang pengawal iringan kereta ini cuma orang tua yang cacat dan reyot, mengapa bisa mendadak muncul seorang Lamkiong Peng?"

Anak buahnya ketakutan, "Hah, dia... dia Lamkiong Peng?"

Kontan Thi Toa-kan menjotosnya sehingga mencelat. Segera keempat orang itu berunding apa yang harus dilakukan selanjutnya. Tio Hiong-to mendesis, "Kabarnya Lamkiong Peng ini sangat lihai, tapi kita sudah telanjur datang, masa harus pulang dengan tangan hampa. Biarpun hebat, dua kepalan takkan mampu melawan empat tangan, kalau kita maju sekaligus, masa kita perlu takut padanya?"

"Betul," sambut Oh Cin, "betapapun kita berempat harus mengujinya dulu."

Setelah sepakat, segera mereka maju lagi bersama, cuma sikap mereka sudah tidak segalak tadi. Toh Siau-giok mendahului bicara, "Jika iringan kereta ini dikawal oleh Lamkiong-kongcu, mestinya kami akan segera angkat kaki dari sini. Cuma, hehe, ketiga sahabatku ini justru ingin belajar kenal dulu sejurus dua dengan Lamkiong-kongcu, sedikitnya agar menambah pengalaman kami." Dia memang licik, semua tanggung jawab ia limpahkan atas diri ketiga kawannya.

Lamkiong Peng mendengus, "Ayolah, silakan mana dulu yang akan maju!"

Toh Siau-giok menyurut mundur, Thi Toa-kan bertiga juga saling pandang dengan ragu. Mereka hanya berani main kerubut, untuk satu lawan satu mereka jeri. Terlebih Thi Toa-kan yang habis merasakan digampar, betapapun ia tidak berani maju sendirian.

Terdengar Toh Siau-giok berucap di samping, "Ketiga saudara jangan berebut turun tangan, masa di antara saudara sendiri perlu rendah hati?"

Muka Oh Cin tampak merah, mendadak ia berpaling dan menjengek, "Aneh juga, kenapa mendadak Toh-heng seperti tidak berkepentingan lagi akan urusan ini?"

"Aku memang tidak ingin berebut duluan dengan kalian, jika Oh-heng juga sangsi, silakan mundur saja menonton di samping," sahut Toh Siau-giok.

Oh Cin menjadi gusar, "Hm, memangnya kau kira aku jeri? Apa halangannya kau maju untuk belajar kenal dengan dia?" ucap Oh Cin. Segera ia melangkah maju sambil melolos golok.

Mendadak Hong Man-thian berseru sambil menggoyangkan tangannya, "Eh, jangan! Nanti dulu!"

Oh Cin melongo dan bertanya, "Ada apa lagi?"

"Lamkiong-piauthau," kata Hong Man-thian, "hendaknya urusan ini jangan sampai terjadi perkelahian."

Lamkiong Peng melongo heran juga. Hong Man-thian lantas menyambung, "Sebab kalau perkelahian ini terjadi, serentak kawanan orang gagah ini pasti akan main kerubut. Jika terjadi demikian, wah, aku si tua bangka ini pasti akan celaka. Padahal kuminta engkau menjadi pengawalku justru berharap cukup dengan namamu dapatlah barang kirimanku ini sampai di tempat tujuan dengan aman. Sekarang gelagatnya ternyata kurang menguntungkan, rasanya lebih baik kukorbankan sedikit harta bendaku saja, yang penting aman dan selamat."

"Hm, ternyata kau pun bisa berpikir panjang," jengek Oh Cin. "Jika kau mau kompromi, baiklah akan kudamaikan bagimu."

Si dogol Thi Toa-kan juga lantas membusungkan dada dan berseru, "Mendingan kau dapat melihat gelagat, kalau tidak, hmm..."

Diam-diam Lamkiong Peng merasa geli dan mengundurkan diri. Hong Man-thian lantas berkata pula, "Sangkar besi di atas kereta tidak digembok, bilamana kalian mau, silakan ambil saja, asalkan jangan dikuras habis, tapi sisakan yang pantas untuk hari tuaku."

Meski Lamkiong Peng dan lain-lain tahu tingkah orang tua ini pasti menarik, tapi sejauh ini belum diketahui apa sebenarnya maksudnya. Sebaliknya, Thi Toa-kan dan lain-lain sangat girang. Segera mereka memberi tanda kepada anak buahnya dan siap hendak membongkar peti.

Mendadak Tio Hiong-to berteriak, "Nanti dulu!"

"Ada apa?" tanya Oh Cin kurang senang.

"Biarpun saudara sekandung, utang-piutang juga harus dihitung dengan betul," kata Tio Hiong-to. "Tampaknya rezeki hari ini tidaklah sedikit. Meski di antara kita sudah kenal baik, perlu juga segala sesuatu diatur secara jelas. Peti-peti ini berukuran yang sama, isinya juga tidak seragam. Bilamana antara kita cuma ambil begitu saja, bisa kacau dan tidak adil."

"Betul," sambut Oh Cin, "tadi pihak kami turun tangan dahulu, dengan sendirinya hak utama berada padaku. Mengenai Toh-heng, jika dia sudah rela menonton saja di samping, dengan sendirinya ia pun melepaskan haknya."

Seketika orang Lok-yap-ceng menjadi gempar, segera ada yang melolos senjata dan siap tempur. Tapi Toh Siau-giok memberi tanda kepada anak buahnya itu supaya tenang. Rupanya dia sudah menduga di balik urusan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. Umpama betul persoalannya semudah ini, dia pun sudah siap sedia untuk merobohkan lawan. Di antara keempat pentolan bengal ini memang Toh Siau-giok yang paling licik dan licin, selain kungfunya lebih tinggi juga lebih pandai menggunakan otak.

Tio Hiong-to lantas menarik muka dan mendengus, "Hm, bilakah Oh-heng pernah turun tangan? Thi-beng, apakah kau lihat?"

"Kalau bicara turun tangan, kukira akulah yang paling dulu," ujar Thi Toa-kan. Teringat pada dua gamparan yang dirasakannya tadi, tanpa terasa mukanya menjadi merah.

Tentu saja Oh Cin kurang senang, goloknya bergerak, serunya, "Habis, bagaimana cara membaginya menurut pendapat kalian?"

"Dengan sendirinya pihak Thian-tai-ce kami berhak mengambil dulu," seru Thi Toa-kan sambil membusungkan dada. Dia memang tinggi besar, sekali membusung mendadak perawakannya bertambah satu kepala lebih tinggi daripada orang lain.

"Hm, kalau bicara tentang tubuh, dengan sendirinya Thi-heng lebih gede, cuma sayang tubuh gede terkadang juga tiada gunanya," ejek Tio Hiong-to.

"Kurang ajar! Kau bilang apa?" bentak Thi Toa-kan.

Oh Cin juga mengangkat goloknya dan berseru, "Apa pun, engkau tidak berhak ambil dulu."

Tio Hiong-to melirik Toh Siau-giok sekejap, lalu berkata, "Kukira biarkan Toh-heng saja yang membagi rata rezeki ini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment