Halo!

Han Bu Kong - Chapter 89

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 89

"Kepandaian Toh Heng paling tinggi, anggota Lok Yap Ceng juga paling banyak. Kupercaya dia pasti tidak akan menang sendiri dan merugikan orang lain." Rupanya, ia merasa pihak sendiri tidak sanggup menghadapi pihak lain, maka ia segera mengubah haluan dan ingin mencari kawan.

Diam-diam, Toh Siau Giok mengawasi air muka Lamkiong Peng dan kawan-kawan. Dilihatnya anak muda itu tetap tenang. Sorot matanya menampilkan rasa geli. Tergerak hatinya, dengan tertawa ia berkata, "Ah, soal harta bagiku tidak kupikirkan lagi, silakan kalian bertiga membagi sendiri." Selesai berkata, ia lantas memberi tanda agar anak buahnya menyingkir mundur.

Meski penasaran, terpaksa anak buahnya menurut.

Selagi Thi Toa Kan dan kawan-kawan melongo, tiba-tiba Hong Man Thian berseru lagi dengan tertawa, "Ai, sudah kukatakan silakan bagi saja sendiri, tapi kalian ternyata sungkan. Jika begitu, aku punya akal baik, mungkin dapat kalian setujui."

Tio Hiong To khawatir pihaknya akan dikerubut oleh Oh Cin dan Thi Toa Kan, segera ia mendahului menyatakan setuju, "Bagus, jika Losiansing mau turun tangan dengan bijaksana, kupercaya caramu membagi pasti adil." Oh Cin dan Thi Toa Kan saling pandang sekejap. Dalam hati mereka juga berpikir sama seperti Tio Hiong To, maka tiada jalan lain kecuali mengangguk setuju.

"Kalian tahu, orang tua semacam aku ini paling takut melihat darah bercucuran. Sebab itulah kurela menyerahkan sebagian harta bendaku ini, yang penting semuanya berjalan aman dan lancar. Cuma, kalian harus berjanji juga, setelah mendapatkan pesangon yang layak, jangan lagi cari perkara. Kalau tidak..." mendadak Hong Man Thian menarik muka dan menyambung, "Kalian sudah menyaksikan sendiri kepandaian jago pengawalku. Bilamana ia tidak mau turut lagi kepada perkataanku, tentu kalian tahu sendiri akibatnya."

Mau tak mau ketiga orang itu merasa ngeri, terutama Thi Toa Kan yang sudah kena hajaran Lamkiong Peng tadi. Cepat Tio Hiong To mendahului menanggapi, "Baik, asal saja caramu adil, kami pasti setuju."

"Haha, tentu saja adil," kata Hong Man Thian. "Kalian adalah kesatria kaum Lok Lian; makin gagah makin mengagumkan, makin banyak tangan kalian berlumuran darah makin dipuja. Maka sekarang kuingin tahu dulu, siapa kiranya di antara kalian yang paling gagah perkasa. Asalkan setiap orang dapat menceritakan suatu kejadian nyata dari hasil karyanya yang paling gagah perkasa, maka ia berhak mengambil dulu isi petiku ini. Tapi jika perbuatan yang pernah dilakukannya kurang gemilang, terpaksa harus disilakan menyingkir ke pinggir."

Selesai berucap, mendadak tongkatnya terjulur, sebuah peti di luar sangkar dicungkit dan diraih ke depannya, lalu ia berkata pula, "Nah, ingin kutambahkan lagi, peti yang semakin dekat denganku isinya juga semakin berharga. Maka nanti bilamana di antara kalian harus berebut, terpaksa kalian harus menggunakan kepandaian sejati masing-masing untuk memperoleh peti ini."

Semula orang-orang itu ragu oleh cara aneh yang diuraikan Hong Man Thian, tapi kemudian saat peti dibuka dan isinya ternyata penuh batu permata yang sukar dinilai, seketika mata mereka menjadi merah dan lupa daratan. Maklum, kebanyakan manusia tamak jika urusannya sudah menyangkut harta; tujuan menghalalkan cara dan tidak kenal malu lagi. Segera mereka berebut untuk menceritakan perbuatannya yang gagah perkasa.

Sambil menepuk dada, Thi Toa Kan berteriak, "Pernah pada suatu malam di kota Limhai, sekaligus kulakukan tujuh perkara besar! Kusikat habis setiap orang yang memergokiku dan melawan, kubunuh semuanya sehingga mata golokku pun tumpul. Kejadian ini cukup diketahui siapa pun sehingga tidak perlu kuberi bukti atau saksi. Nah, apakah perbuatanku itu bukan sesuatu yang gagah perkasa?" Habis berkata, ia bergelak tertawa bangga.

Oh Cin tidak mau kalah, segera ia menyambung, "Huh, hanya begitu saja belum masuk hitungan. Pernah pada suatu hari, di luar kota Thaisun, di tengah siang hari bolong sekaligus kukerjai berpuluh anak perempuan yang sedang berziarah ke Gan Tang San, semuanya kusikat..." Begitulah mereka seperti khawatir ketinggalan, satu per satu menuturkan "karya besar" masing-masing. Bahkan karena takut tidak dipercaya, mereka berani memberi bukti dan mengajukan saksi. Seketika, apa yang didengar Lamkiong Peng dan kawan-kawan adalah kisah kejahatan yang meliputi perampokan, pembunuhan, dan sebagainya yang membuat darah meluap. Setiap perbuatannya yang "gemilang" itu pantas dijatuhi hukuman penggal kepala sepuluh kali.

Toh Siau Giok tetap mengikuti semua kejadian itu secara diam-diam. Makin dipandang, makin dirasakan urusan ini tidak biasa. Tadi ketika tongkat Hong Man Thian mengait peti, sudah dapat didengarnya suara logam; jelas bukan sembarang tongkat. Apalagi cara kakek yang kelihatan reyot itu menentukan pemberian isi peti juga patut diragukan. Makin dipikir makin ngeri hati Toh Siau Giok, tanpa terasa ia pun menyurut mundur lebih jauh.

Anak buah Lok Yap Ceng mestinya penasaran karena orang lain bakal mendapat rezeki nomplok, tapi pihaknya justru diperintahkan mundur. Namun, biasanya mereka sangat tunduk kepada kebijaksanaan sang Cengcu, maka terpaksa mereka ikut mundur sesuai perintah Toh Siau Giok. Dan begitulah, setelah gembong Lok Lim itu semua menguraikan perbuatan gagah masing-masing, kemudian mereka lantas bersiap-siap di sekeliling Hong Man Thian.

"Bagus, bagus, kalian ternyata sama gagah perkasa," seru Hong Man Thian. "Sekarang bolehlah kalian siap sedia. Sekali kuberi tanda dengan tepukan tangan, bolehlah kalian buka dulu peti dalam sangkar yang sudah terbuka itu." Perlahan ia lantas mengangkat tangannya. Jantung semua orang berdebar menantikan beradunya telapak tangannya; semuanya melotot dan siap tempur.

"Plok!" Begitu tangan Hong Man Thian menepuk, beramai-ramai orang-orang itu lantas menyerbu seperti segerombolan binatang buas menerkam mangsanya. Ada yang menubruk peti besar-kecil di atas kereta, ada yang membuka peti di dalam berbagai sangkar besi itu.

Melihat kelakuan orang-orang biadab itu, sebenarnya Lamkiong Peng dan Loh Ih Sian sudah tidak tahan lagi rasa gemasnya. Sedangkan Lamkiong Siang Ju dan istrinya tetap tenang saja; mereka yakin tokoh kosen angkatan tua seperti Hong Man Thian ini pasti mempunyai maksud tujuan yang di luar dugaan.

Dalam pada itu, berpuluh orang itu sebagian besar telah menyerbu peti di dalam sangkar besi tanpa pikir akibatnya. Mendadak Hong Man Thian membentak, "Tutup pintu sangkar!" Serentak Lamkiong Siang Ju berempat bergerak cepat. Hanya sekejap saja, berpuluh pintu sangkar besi itu sudah ditutup rapat. Kawanan berandal itu sedang lupa daratan karena ingin merebut rezeki, tentu saja mereka tidak memperhatikan kejadian lain. Ketika mereka menyadari apa yang terjadi, mereka hanya bisa mengeluh, namun semuanya sudah terlambat.

Mendadak Hong Man Thian mendekap bibir dan bersuit keras. Makin lama makin melengking suitannya sehingga telinga orang terasa pekak. Lamkiong Siang Ju berempat saja tergetar jantungnya, apalagi kawanan berandal itu; sebagian sudah kelenger, ada yang sanggup bertahan juga tidak urung muka pucat dan gigi gemertuk. Toh Siau Giok yang berdiri agak jauh pun merasa lemas kakinya, ingin lari pun tidak mampu.

Di tengah suara suitan dahsyat itu, satu-dua tutup peti besar di antara puluhan peti itu perlahan mulai terbuka. Sekonyong-konyong terdengar raungan yang menggetarkan; seekor singa perlahan menongol dari dalam peti besar itu. Menyusul terdengar pula suara harimau meraung, suara serigala, beruang, dan sebagainya. Suara berbagai binatang buas itu serasa mengguncang bumi dan menggetarkan sukma. Sebagian binatang buas itu muncul dari peti di sangkar besi sana, dari sangkar besi sini menongol kawanan ular berpuluh ekor banyaknya. Tadi kawanan berandal itu menyerbu serupa binatang buas kelaparan, sekarang mereka sendiri yang menjadi mangsa kawanan binatang buas yang benar-benar kelaparan itu. Seketika darah berhamburan dan daging beterbangan, sungguh adegan yang mengerikan.

Pada saat itulah, dari kejauhan melayang tiba beberapa sosok bayangan orang. Begitu mendengar suara suitan dahsyat itu, serentak mereka berhenti. Seorang di antaranya bertubuh ramping dan gemulai, dia itulah Kwe Giok He. Di kanan-kirinya dua orang lelaki; yang seorang adalah Yim Hong Peng yang gagah dan yang lain adalah Ciok Tim yang bermuka pucat. Di belakang mereka mengikuti empat orang tua; mereka adalah empat di antara Kangeng atau tujuh elang dari daerah Kanglam.

"Suara suitan siapa itu, begitu lihai!" tanya Giok He dengan kening berkerenyit.

"Kalau tidak salah duga, rasanya seperti suara Hong Man Thian yang dahulu seorang diri menerjang dan membakar Banceng. Itulah Iwekang Bohgioksiu (suitan penghancur batu pualam) yang maha lihai," ujar si elang hitam sambil mendekap telinganya.

"Masakah tokoh tua itu belum mati?" tanya Giok He.

"Konon dahulu dengan lwekangnya yang maha ampuh Bohgioksiau itu, ia dapat menundukkan kawanan binatang buas sehingga Banceng dapat dibobolnya," tutur Yim Hong Peng.

"Jika makhluk tua she Hong itu berada di situ, tampaknya kedatangan kita ini hanya sia-sia belaka. Marilah kita pergi saja," ajak Giok He sambil menarik tangan Yim Hong Peng.

Dengan sendirinya tingkah laku Giok He itu tidak terlepas dari pengawasan Ciok Tim. Air mukanya tampak kelam, entah gusar entah sedih, tapi akhirnya ia ikut juga di belakang Giok He dengan kepala menunduk. Mereka berlari pergi secepat datangnya tadi.

Ketujuh orang ini datang dan pergi lagi; dengan sendirinya hal ini tidak diketahui oleh orang-orang yang berada di sana. Sementara itu, suitan Hong Man Thian sudah mereda, namun suara raungan binatang buas belum lagi lenyap, apalagi ditambah dengan suara kawanan binatang buas itu sedang mengganyang mangsanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment