Halo!

Han Bu Kong - Chapter 90

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 90

Menyaksikan kejadian ngeri itu, Lamkiong Peng merasa mual, tetapi darahnya bergolak. Meski ia tahu orang-orang itu adalah penjahat yang tak terampunkan, ia tidak tega menyaksikan mereka dijadikan umpan binatang buas.

Ia memburu ke depan Hong Man-thian dan berseru, "Sudahlah, berhenti!" Ia membuka semua pintu sangkar besi itu. Hong Man-thian melengak, tapi mendadak ia mendongak dan tertawa keras. Begitu hebat suara tawanya sehingga kawanan binatang itu terpengaruh seperti kena sihir dan berhenti mengganyang mangsanya.

Di dalam sangkar besi masih ada belasan orang yang belum mati dan meronta-ronta. Begitu mendengar suara lengking tawa Hong Man-thian, serentak mereka tersadar, lalu merangkak dan menerobos keluar. Thi Toa tampak buntung lengan kanannya akibat digigit singa. Thio Hiong-to sekujur tubuhnya berlumuran darah dan terluka parah. Sementara itu, Oh Cin sudah hancur lebur dirobek cakar harimau dan sebagian tubuhnya telah menjadi isi perut binatang buas itu. Dalam sekejap, orang-orang yang beruntung masih hidup itu segera melarikan diri. Diam-diam, Toh Siau-giok juga bersyukur tidak menjadi mangsa kawanan binatang dan lekas-lekas pergi.

Serentak Hong Man-thian beraksi dengan tongkatnya. Ia mengetuk tubuh binatang-binatang itu, lalu mencengkeram kuduknya dan melemparkannya kembali ke dalam peti. Hanya sebentar saja, berpuluh ekor singa, harimau, dan serigala telah dibekuk dan dimasukkan ke dalam peti. Puluhan ular berbisa pun digiring kembali ke dalam peti. Suasana menjadi tenang kembali. Jika tidak ada bekas darah dan ceceran daging, siapa pun tidak akan tahu baru saja terjadi peristiwa mengerikan.

"Nah, setelah kenyang makan darah dan daging orang jahat, tentu kalian dapat meringkuk dan puasa belasan hari lagi," ucap Man-thian sambil tertawa.

"Beginikah caramu memberi makan kawanan binatang?" tanya Lamkiong Peng.

"Kawanan penjahat itu digunakan sebagai umpan binatang buas, bukankah cukup adil dan setimpal bagi perbuatan mereka?" jawab Hong Man-thian tertawa. Seketika Lamkiong Peng melongo dan tidak dapat bicara lagi.

Loh Ih-sian menghela napas, "Sungguh tak terpikir olehku di dalam petimu itu tersimpan barang hidup. Anehnya, mengapa kawanan binatang itu sedemikian menurut dan mau mendekam diam di dalam peti? Kalau tidak melihat sendiri, sungguh sukar untuk dipercaya."

"Kalau diceritakan sebenarnya juga tidak perlu diherankan," tutur Hong Man-thian. "Caraku mengendalikan kawanan binatang ini tiada ubahnya seperti ilmu *tiamhiat*. Pada bagian tertentu tiap binatang juga ada titik lemah. Asalkan kaukuasai tempat dan waktunya secara tepat, sekali ketuk mereka takkan berdaya dan akan tunduk padamu."

Selagi mereka asyik bicara tentang cara mengatasi binatang buas, Lamkiong Peng sibuk menggali liang untuk mengubur sisa tubuh manusia yang berserakan. Tidak lama kemudian, kawanan kuda yang sempat jatuh kelengar karena suara suitan Hong Man-thian mulai sadar kembali, sementara yang lain mati ketakutan. Iringan kereta lantas melanjutkan perjalanan; perasaan semua orang menjadi tertekan dan jarang ada yang bicara.

Dua hari kemudian, sampailah mereka di semenanjung Sam-bun-wan. Sejauh mata memandang, tampaklah air laut yang biru dan beriak. Sejak zaman kuno, perdagangan Tiongkok melalui laut telah terbuka luas. Semenanjung Sam-bun-wan ini adalah pelabuhan perdagangan yang menjadi pangkalan besar bagi pedagang di wilayah Ciatkang, Kangsoh, dan Anhui. Sebab itulah kota pelabuhan ini sangat ramai.

Menjelang magrib, jalanan kota penuh dengan orang berlalu-lalang. Kebanyakan adalah kaum nelayan yang berbau amis serta pelaut berbaju pendek dan berbadan kekar, dengan dada terbuka dan lengan telanjang. Mereka masuk ke kota untuk mencari hiburan, makan, minum, dan bermain perempuan. Suasana kota pelabuhan ini terasa serba baru bagi Lamkiong Peng; ia berdiri di luar hotel memandangi keramaian itu.

Hong Man-thian sendiri asyik minum arak. Mendadak ia mengeluarkan sehelai kertas panjang dan membentangkannya di atas meja. Kertas itu penuh dengan tulisan yang tidak rapi; ada yang gaya tulisannya indah, ada yang seperti cakar ayam. Baris pertama berbunyi: Timbel 300 kati, air raksa 100 kati. Baris berikutnya: Benang 100 kati, besi seribu kati. Lalu tertulis berbagai jenis barang keperluan lain. Rupanya itu adalah daftar belanja. Anehnya, kebanyakan barang yang tertulis bukanlah keperluan sehari-hari.

Bagian terakhir yang paling aneh tertulis: Harimau satu ekor, singa jantan-betina sepasang, ular berbisa 120 ekor, serigala dan macan tutul masing-masing dua ekor. Waktu Lamkiong Peng dan yang lain ikut membaca daftar itu, semuanya terheran-heran. Entah apa yang akan diperbuat oleh tokoh-tokoh kosen yang berdiam di pulau misterius Cu-sin-to dengan barang belanjaan yang luar biasa ini. Yang paling membingungkan adalah baris terakhir yang terbaca oleh Lamkiong Peng: Orang jahat sepuluh.

"Masa orang jahat terhitung juga sebagai barang belanjaan? Apa gunanya dan akan dibeli di mana?" tanyanya heran.

"Nanti tentu kautahu sendiri," ujar Hong Man-thian dengan senyum aneh; senyum misterius yang juga mengandung rasa duka. Lamkiong Peng tidak dapat menerka maksudnya dan tidak bertanya lebih lanjut.

Habis makan dan minum, Hong Man-thian keluar untuk belanja, tetapi pulangnya tidak membawa barang apa pun. Malamnya, ia memesan satu meja penuh santapan pilihan. Sambil makan dan minum, ia mengajak mengobrol bermacam-macam urusan. Ia memang pandai bercerita sehingga orang lain lupa akan lelah dan kantuk, serta lupa bertanya kapan dan di mana ia akan berlayar.

Tanpa terasa perjamuan berlangsung hingga hampir tengah malam. Tiba-tiba Hong Man-thian menuangkan arak bagi Lamkiong Peng dan tiga orang lainnya, lalu mengangkat cawan dan berucap, "Betapa lama berkumpul akhirnya harus berpisah juga. Di dunia ini memang tidak ada pesta yang tidak bubar. Bahwa sekali ini Hong Man-thian dapat berkunjung ke Kanglam dan bertemu dengan para sahabat, sungguh kejadian yang menggembirakan. Cuma sayang tidak dapat berkumpul lebih lama. Waktu berpisah sudah tiba, marilah kita habiskan secawan ini dan segera kumohon diri."

Semua orang menyangka barang belanjaannya belum lengkap dan ia akan tinggal beberapa hari lagi. Siapa tahu ia mendadak mengucapkan kata perpisahan. Tentu saja semua orang terkesiap. Lamkiong-hujin memandang putra kesayangan dengan perasaan berat, "Kenapa Hong-taihiap mendadak hendak berangkat di tengah malam buta? Apakah tidak menunggu sampai..." Belum selesai bicara, mendadak kepalanya terasa pening dan ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Bahkan Loh Ih-sian dan yang lain serentak merasa kepala pusing dan mata berkunang-kunang. Bumi seperti berputar dan langit terasa akan ambruk. Segala benda serasa berputar seperti kitiran. Lamkiong-hujin terkejut, serunya khawatir, "Anak Peng..." Ia bangkit hendak mendekati Lamkiong Peng, tapi baru melangkah, ia langsung jatuh terkulai. Lamkiong Peng juga tidak tahan oleh rasa pusing; samar-samar dilihatnya sorot mata ibu kesayangannya yang penuh kekhawatiran, tapi ia pun tidak berdaya dan tidak ingat apa-apa lagi.

Entah berapa lama berselang, samar-samar Lamkiong Peng merasa berada di sebuah pulau yang indah dengan tetumbuhan menghijau permai. Banyak buah-buahan aneh, bahkan bumi penuh berserakan batu permata. Di kejauhan ada sebuah istana megah dengan undak-undakan batu kemala dan tiang emas. Di depan istana tampak bergerombol orang mondar-mandir seperti malaikat di sorgaloka. Bahkan mendadak dilihatnya ayah dan bundanya juga berada di tengah orang banyak itu. Saking girangnya, ia memburu ke sana. Tapi tahu-tahu kakinya menginjak tempat kosong; di bawah ternyata jurang yang tertutup mega. Ia menjerit kaget dan berusaha melompat sekuat tenaga. Waktu membuka mata, dirasakannya keringat membasahi tubuhnya; ternyata itu hanya mimpi buruk.

Ia berpaling, tampak dirinya berbaring di dalam ruang yang kosong. Hanya ada sebuah tempat tidur, sebuah meja, dan dua kursi. Di ketinggian ada sebuah jendela kecil dengan bintang gemerlap di angkasa luar. Rupanya ia telah tertidur sehari semalam. Ia mencoba menenangkan diri dan bangkit, dirasakan lantai bergoyang-goyang dan terdengar suara gemercak air di sekeliling. Tiba-tiba disadarinya ia berada di dalam sebuah kapal yang terombang-ambing di tengah laut.

Kiranya dalam keadaan tidak sadar, ia telah jauh meninggalkan ayah-bundanya, tanah kelahirannya, kampung halaman, dan orang yang dikenalnya. Kini jaraknya entah sudah sejauh apa, sedetik demi sedetik semakin jauh terpisah. Pedih rasa hatinya; apakah akan tamat begini saja kehidupannya? Padahal budi kebaikan orang tua dan guru belum lagi dibalasnya, masih banyak amal bakti yang perlu dilaksanakannya. Setelah termenung sekian lama, mendadak ia mengepal tinjunya dan bergumam, "Tidak, aku masih harus pulang ke sana, harus!"

Mendadak seseorang tertawa dan berkata sambil mendorong pintu kamar, "Haha, bagus! Tekadmu harus dipuji." Kelihatan Hong Man-thian muncul dengan membawa poci arak; langkahnya agak sempoyongan, jelas ia terlalu banyak menenggak arak. "Mari keluar," kata Hong Man-thian kemudian.

Ketika Lamkiong Peng ikut ke geladak kapal, tampak jauh di ufuk timur sudah ada cahaya remang-remang; hanya sebentar saja subuh pun tiba. Pemandangan terlihat indah, tapi keadaan di atas geladak kapal morat-marit penuh tertimbun berbagai macam barang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment