Halo!

Han Bu Kong - Chapter 91

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 91

Di buritan sana, di samping tiang layar, terbaring sebaris sangkar besi. Isinya tentu saja kawanan binatang buas yang sudah dilepaskan dari peti; semuanya meraung dan menyeringai ketika melihat manusia.

Seorang lelaki kurus dan pendiam dengan dada baju terbuka berdiri di buritan sambil memegang kemudi. Ada lagi seorang lelaki pendek, kecil, dan agak buntak dengan baju yang dekil, kepala kurapan, serta senantiasa cengar-cengir. Melihat orang ini, timbul rasa jemu dan mual. Kebanyakan pelaut dan nelayan, biarpun kasar dan miskin, rata-rata terlihat sehat dan bersih. Namun, orang ini selain kotor dan menjemukan mukanya, suaranya juga tidak enak didengar.

"Siapa orang ini?" tanya Lamkiong Peng.

"Juru masak," jawab Hong Man-thian.

Lamkiong Peng melengak. Terbayang sayur-mayur yang akan dimakannya selanjutnya adalah hasil olahan orang dekil ini; seketika rasa mualnya bertambah. Ia bergumam, "Kenapa mencari juru masak seperti ini?"

Hong Man-thian tergelak, katanya, "Kau tahu, bukan pekerjaan gampang untuk mendapatkan pelaut. Biarpun orang yang biasa hidup berkecimpung di lautan, siapa yang mau ikut berlayar tanpa batas waktu dengan kapal yang tak dikenalnya?"

"Dan dengan cara bagaimana Cianpwe mendapatkannya?" tanya Lamkiong Peng.

Mendadak Hong Man-thian bersuit pelan. Burung beo piaraannya yang selalu mengikuti ke mana pun ia pergi lantas hinggap di pundaknya.

"Panggil Jitko," kata Hong Man-thian.

Segera beo itu berteriak, "Jitko... Jitko..." Mendadak papan geladak tersingkap, seorang lelaki hitam kekar melompat keluar dari bawah geladak.

Terperanjat juga Lamkiong Peng melihat bentuk orang yang aneh ini. Perawakannya pendek gemuk, pundaknya lebar sehingga bentuknya mirip peti. Punggungnya agak bungkuk dan kepala seakan-akan terselip di antara pundaknya. Namun, gerak-geriknya justru sangat gesit; sekali lompat sudah berada di depan Hong Man-thian. Rupanya yang buruk juga sangat mengejutkan: mulut lebar dengan gigi panjang serupa siung, dan dagunya mencuat ke depan. Kelakuannya pun kasar.

Dengan menundukkan kepala, ia berkata kepada Hong Man-thian, "Apa yang Cukong ingin hamba kerjakan?"

Hong Man-thian terbahak-bahak, katanya kepada Lamkiong Peng, "Bersama dia inilah kami berdua berlayar mengarungi samudra raya dengan sebuah perahu kecil dan akhirnya sampai di daerah Kanglam. Kembalinya sekarang tentu saja kami tidak ingin menderita lagi, kami ganti kapal besar ini. Tapi karena muatan juga bertambah sedemikian banyak, maka kami perlu tenaga pelaut yang cukup banyak."

"Berapa banyak pelaut yang kau bawa?" tanya Lamkiong Peng.

"Belasan orang," jawab Hong Man-thian, "Apakah kau ingin melihat mereka?"

"Ah, tidak," jawab Lamkiong Peng sambil menggeleng. Setelah melihat bentuk "Jitko" yang serupa binatang dan si juru masak yang memualkan itu, ia pikir kebanyakan pelaut yang mau bekerja di kapal ini tentu juga manusia yang tidak sedap dipandang.

Bangun kapal ini sangat kukuh. Cuma ada sebuah tiang layar; sekarang layar sudah berkembang dan tertiup angin. Ada layar buritan yang juga sudah dikembangkan, membuat kapal melaju dengan cepat. Untuk pertama kalinya, Lamkiong Peng merasakan kehidupan berlayar di samudra raya. Lambat laun, terlupalah segala rasa kesalnya, sebaliknya timbul rasa serba baru. Namun, ia juga berharap segera mencapai tempat tujuan agar dapat segera pulang ke Kanglam.

Kebanyakan pelaut yang bekerja di kapal ini memang berwajah bengis. Semuanya memandang Lamkiong Peng dengan sorot mata yang waswas, serupa binatang buas yang sedang mengincar mangsanya. Diam-diam Lamkiong Peng juga waspada, sebaliknya Hong Man-thian seperti tidak mengacuhkan. Setiap pagi pada waktu sang surya baru terbit, Hong Man-thian berdiri di haluan kapal. Selain itu, ia hanya duduk minum arak di dalam kabin; makin jarang ia bicara, terkadang sehari suntuk tidak membuka suara. Selain minum arak sendiri, setiap kali ia pun membujuk Lamkiong Peng ikut minum beberapa cawan arak yang keras itu. Tapi bila melihat si tukang masak kudisan itu membawakan makanan, hati Lamkiong Peng lantas mual; tanpa didorong dengan arak memang sukar menelan makanan itu.

Tukang masak kudisan itu sungguh sangat jorok, terkadang tidak cuci muka sehingga masih belekan. Untungnya, ia memang mahir mengolah makanan yang sangat cocok dengan selera sehingga biarpun menjemukan masih dibiarkan saja. Sepanjang hari tukang masak itu hanya tertawa linglung, segala urusan tak diacuhkannya. Bila melihat Lamkiong Peng, ia suka menyengir, sebaliknya Lamkiong Peng cepat melengos.

Beberapa hari kapal berlayar, laut luas tanpa kelihatan tepinya.

"Apakah masih jauh?" demikian Lamkiong Peng sering bertanya.

"Sabar, setibanya di sana akan kau tahu sendiri," jawab Hong Man-thian dengan dingin.

Makin lama kapal berlayar, air muka orang tua itu pun tambah kelam, arak yang diminum juga tambah banyak. Dengan sendirinya ini agak janggal, sebab umumnya orang yang pulang, semakin dekat rumah sendiri seharusnya semakin senang, kenapa ia justru tambah murung?

Malam ini ombak sangat besar. Lamkiong Peng lebih banyak minum arak dan terkenang kepada ayah-bunda, hatinya merasa kesal. Ia melangkah ke atas geladak dan bersandar di haluan. Dilihatnya bintang bertaburan di langit, suasana sepi, hanya debur ombak yang terdengar. Selagi pikirannya merasa lapang, sekonyong-konyong didengarnya di bawah geladak suara tertawa orang yang khas, menyusul ada suara orang melangkah tiba. Suara tertawa itu dikenalnya sebagai suara si tukang masak kudisan tersebut.

Sesungguhnya Lamkiong Peng tidak suka melihat orang ini. Keningnya berkerenyit dan ia berusaha menggeser ke bagian yang gelap. Waktu berpaling, terlihat dua kelasi menarik si kudisan naik ke atas geladak. Mestinya Lamkiong Peng hendak pergi, namun demi melihat gerak-gerik ketiga orang ini yang rada mencurigakan, tergerak pikiran Lamkiong Peng dan cepat ia bersembunyi di balik kabin.

Kedua kelasi yang kurus dan gesit itu bernama Kim Siong dan seorang lagi, si juru mudi, bernama Tio Cin-tong. Kedua orang ini adalah kelasi yang berpengalaman dan disegani di antara sesama kelasi, maka Lamkiong Peng mengenal mereka. Begitu melompat ke geladak dan memandang sekeliling, dengan pelan Kim Siong lantas mendesis, "Sepi!"

"Coba periksa lagi, apakah juru mudinya kawan sendiri atau bukan?" sahut Tio Cin-tong.

Mereka bicara dengan bahasa sandi kaum bandit. Hal ini menimbulkan kecurigaan Lamkiong Peng. Dilihatnya Kim Siong lantas memeriksa keadaan sekitar geladak; ia sempat lewat di samping tempat sembunyi Lamkiong Peng, lalu melapor kepada kawannya, "Aman, hanya juru mudi berada di kabinnya dan agaknya sedang mengantuk."

Tio Cin-tong mengangguk. Si juru masak kudisan diseretnya ke samping setumpukan barang muatan. Si kudisan kelihatan sempoyongan, mukanya pun pucat.

"Sret!" Tio Cin-tong melolos belati yang terselip pada sepatu bot yang dipakainya. Lalu belati yang mengkilat itu bergerak-gerak di depan hidung si juru masak. Desisnya dengan menyeringai, "Kau ingin mati atau minta hidup?"

"Dengan... dengan sendirinya ingin hidup," jawab si kudisan dengan gagap karena ketakutan.

"Kalau ingin hidup, harus tunduk kepada perintahku," kata Tio Cin-tong. "Terus terang, kami ini adalah tokoh-tokoh yang biasa membunuh orang tanpa berkedip. Jika memang biasa berkecimpung di lautan, tentu pernah kau dengar nama kami. Aku inilah Hai-pa (Singa Laut) Tio-lotoa dari Hai-pa-pang (kawanan bajak singa laut) di sekitar Ciu-san!"

Juru masak itu tampak melengak, jawabnya dengan gemetar, "Ah, tentu... tentu hamba akan menurut."

"Memangnya kau berani membantah?" jengek Tio Cin-tong. Lalu ia mengeluarkan satu bungkusan kertas dan berkata pula, "Nah, besok hendaknya kau masak kuah ayam yang sedap. Separuh isi bungkusan ini masukkan ke dalam kuah dan separuh lagi campurkan pada makanan lain."

"Eh, kuah ayam kan tidak perlu pakai merica," ujar si kudisan dengan lagak seorang ahli masak.

"Sialan," omel Tio Cin-tong. "Ini bukan merica melainkan racun, tahu! Barang siapa makan sedikit saja, dalam sekejap akan mampus dengan mata, hidung, telinga, dan mulut mengeluarkan darah. Maka ingat, jangan kauanggap sebagai gula dan kau makan. Sesudah urusan beres dan tuanmu mendapat rezeki nomplok, tentu kau pun akan kami bagi sedikit. Tapi bila urusan ini sampai bocor, biar kami cencang dirimu lebih dulu dan kami buang ke laut sebagai umpan ikan. Tahu?"

Juru masak itu menjura dan mengiakan berulang kali.

Kim Siong tertawa, katanya, "Menurut pengamatanku selama beberapa hari ini, rezeki ini memang sukar dinilai jumlahnya. Cuma si buntung itu jelas bukan lawan yang empuk, juga si makhluk aneh itu; malahan si bagus itu pun kelihatan bisa sejurus dua."

Tio Cin-tong mendengus, "Hm, kecuali mereka, apakah kau kira Ong Ti, Sun Ciau, dan si juru mudi Li-losam itu adalah orang baik? Kurasa tujuan mereka ikut dalam kapal ini juga tidak bermaksud baik; besar kemungkinan mereka pun sahabat kalangan hitam. Cuma mereka bukan segaris dengan kita, besok kita kerjai mereka sekalian."

Mereka bicara dengan lirih, namun dapat didengar jelas oleh Lamkiong Peng. Diam-diam anak muda itu terkejut dan bersyukur juga, "Untung kudengar tipu muslihat mereka, kalau tidak, bukan mustahil akan dikerjai mereka."

Selagi berpikir, sekonyong-konyong dari sebelah kiri terdengar suara mendesir, sesosok bayangan orang melayang tiba. Langsung pendatang ini mendengus, "Hm, Tio-lotoa, keji amat hatimu, sampai kami bersaudara juga akan kaukerjai?"

Air muka Tio Cin-tong berubah, ia melompat mundur sambil membentak, "Siapa?"

Bayangan orang itu melangkah maju. Tampak wajahnya yang kaku, tangan besar, kaki panjang; dia inilah Li-losam, si juru mudi. Tio Cin-tong dan Kim Siong siap siaga, sebaliknya Li-losam seperti tidak mengacuhkannya, pelan ia melangkah ke sana dan berucap, "Anjing kudisan, serahkan racunnya tadi!"

Juru masak kudisan itu ketakutan dan bersembunyi di tengah tumpukan barang muatan sehingga mirip anjing kudisan memang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment