Chapter 92
Belum sempat si juru masak menjawab, mendadak Tio Cin-tong membentak, "Kau serahkan nyawamu!" Sekali belati terangkat, ia segera hendak menerjang maju.
"Nanti dulu," seru Li-losam mendadak. "Rupanya engkau tidak tahu maksudku. Kuminta racun ini tidaklah berniat jahat. Hendaknya ingat, si buntung itu tokoh macam apa, mana mungkin dia dapat dibereskan hanya dengan sebungkus racun begini? Jika ketahuan, engkau bisa mati konyol. Lekas lemparkan racun itu ke dalam laut, biarlah kuatur rencana lain untuk membereskan mereka."
Tio Cin-tong urung menyerang, tetapi mulutnya tetap garang, "Hm, kau ini siapa? Aku Hai-pa Tio-lotoa harus tunduk padamu?"
"Hm, jadi kau tidak mengenalku?" jengek Li-losam. Mendadak ia melangkah maju lagi dan mendesiskan dua-tiga kata dengan lirih.
Seketika air muka Tio Cin-tong berubah, badannya gemetar, dan "trang", belati pun jatuh. Ia berucap dengan terputus-putus, "Hah... engkau... mengapa..."
"Tidak perlu banyak omong, lekas kembali ke kamarmu dan tidur saja. Tiba saatnya tentu akan kuberitahukan padamu," ujar Li-losam. "Hai-pa-pang kalian telah bekerja dengan susah payah, tentu takkan kubikin rugi kalian."
Terpaksa Tio Cin-tong mengiakan dan melangkah pergi sambil menarik Kim Siong. Si juru masak kudisan juga mau ikut pergi dengan takut-takut. Mendadak Li-losam mencengkeram lengannya sambil membentak, "Kurang ajar! Kau berani berlagak dungu di depan tuanmu? Serahkan nyawamu!" Berbarengan dengan itu, sebelah tangannya terus menghantam kepala orang tersebut.
Lamkiong Peng menjadi heran, apakah mungkin si kudisan ini adalah samaran seorang tokoh persilatan? Dilihatnya juru masak itu ketakutan hingga terkulai lemas di lantai. Pukulan Li-losam tampaknya segera akan membuat batok kepalanya hancur, tetapi ia masih diam saja. Tak terduga, pukulan Li-losam itu mendadak berhenti setengah jalan. Ia hanya menepuk pelan pundak si kudisan dan berkata, "Jangan takut, aku hanya mencoba dirimu saja. Nah, pergilah sekarang!"
Apa yang diperbuat dan apa yang dibicarakannya, air mukanya tidak pernah berubah, tetap kaku dan dingin. Habis bicara, ia lantas kembali ke tempat kemudi. Si kudisan lantas merambat turun ke bawah geladak, sinar matanya melirik sekejap ke tempat sembunyi Lamkiong Peng seperti tidak sengaja.
Melihat sekeliling tiada orang lagi, perlahan Lamkiong Peng menyelinap kembali ke kamarnya. Namun, baru saja ia menarik pintu kamar, tiba-tiba diketahuinya dalam kegelapan sepasang mata mencorong sedang menatapnya. Orang itu sepertinya sudah sejak tadi menunggunya di balik pintu. Lamkiong Peng terkejut, segera ia siap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi setelah diamati, kiranya dia bukan lain daripada si makhluk aneh yang dipanggil "Jitko" itu. Jitko menyengir sehingga kelihatan barisan giginya yang putih panjang serupa taring itu, lalu melangkah pergi.
Kejut dan heran Lamkiong Peng. Ia berpikir, apakah makhluk aneh ini pun mendengar percakapan orang-orang tadi? Mengapa dia tidak bertindak sesuatu? Ia lantas masuk ke dalam kabin dan mencari Hong Man-thian. Dilihatnya orang tua itu asyik minum arak di bawah cahaya lampu yang sudah redup. Kedua orang cacat ini seakan-akan tidak tidur dan juga tidak makan nasi; dia seperti dilahirkan melulu untuk minum arak saja.
Tanpa menoleh, ia menegur Lamkiong Peng, "Belum tidur? Apa mau minum dua cawan?"
"Sekarang Cianpwe boleh minum sepuasnya, selanjutnya mungkin tidak dapat minum lagi," kata Lamkiong Peng.
Hong Man-thian tertawa, "Masa di dunia ini ada sesuatu urusan yang dapat membuatku tidak minum arak? Wah, rasanya aku jadi ingin tahu apa urusannya?" Habis bicara, ia menenggak lagi satu cawan.
"Apakah Cianpwe tahu kelasi kapalmu ini adalah kawanan bajak yang biasa main bunuh dan rampok?" kata Lamkiong Peng, lalu diceritakannya apa yang dilihat dan didengar tadi.
Siapa sangka, Hong Man-thian tetap tenang saja. Dengan kening berkerut, Lamkiong Peng berkata pula, "Meski wanpwe juga tidak mengkhawatirkan gangguan penjahat itu, tapi setelah kutahu maksud jahat mereka, sedikit banyak harus mengawasi gerak-gerik mereka."
"Memangnya kau kira aku tidak tahu?" jawab Hong Man-thian dengan tergelak. "Sejak mereka menginjak kapal ini, segera kutahu mereka tiada seorang pun yang orang baik. Hanya si kudisan yang kelihatan linglung itu bukanlah sekomplotan mereka, sebab itulah kusuruh si kudisan menjadi juru masak. Namun aku tetap mengawasi gerak-gerik mereka. Untuk menjaga segala kemungkinan, di dalam arak sudah kutaruh obat penawar segala macam racun, makanya setiap kali makan kusuruh kau minum dua-tiga cawan untuk berjaga bilamana diracun. Apabila mereka berani main kekerasan, haha, itu berarti mereka mencari mampus sendiri. Kau lihat sepanjang hari aku selalu minum arak, apa kau kira aku bisa mabuk?"
Diam-diam Lamkiong Peng menghela napas, ucapnya, "Kehebatan Cianpwe sungguh sukar dibandingi siapa pun..."
Hong Man-thian tertawa bangga, lalu berkata pula, "Sebenarnya aku cuma tua keladi dan dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Bila usiamu juga setingkat diriku, tentu akan kau rasakan segala tipu muslihat di dunia ini tidak lebih hanya begini-begini saja. Cuma Li-losam itu tampaknya memang seorang tokoh yang tidak boleh diremehkan, entah dia berasal dari orang macam apa?"
"Orang ini pasti mempunyai asal-usul tertentu, tapi di depan Locianpwe masakah dia mampu berbuat sesuka hatinya?" ujar Lamkiong Peng.
"Tidak peduli bagaimana asal-usulnya, yang jelas dia menyuruh orang she Tio jangan menaruh racun dalam makanan, hal ini menandakan dia cukup cerdik," ujar Hong Man-thian. "Padahal betapa hebatnya racun atau obat bius, di mana pun dia campurkan, jika tidak kuketahui, hal ini kan berarti sia-sia hidupku selama sekian puluh tahun di dunia ini."
"Apakah Cianpwe tidak ingin membongkar tipu muslihat mereka?" tanya Lamkiong Peng.
"Jika kubongkar rencana keji mereka dan membunuh mereka, lalu siapa yang akan menjadi kuli di kapal ini?" Hong Man-thian tergelak. "Kawanan penjahat ini memang sial bertemu dengan diriku."
Mendadak hati Lamkiong Peng tergerak, tanyanya, "Apakah mungkin Cianpwe hendak menggunakan mereka untuk memenuhi daftar belanja yang terakhir itu?"
"Memang begitulah," ujar Hong Man-thian dengan tertawa. "Sudah kuduga ada orang akan mengantarkan dirinya sendiri, maka aku pun tidak perlu repot mencari-cari orang. Setiba di sana, haha..." Mendadak ia berhenti tertawa dan menenggak arak lagi.
Lamkiong Peng hanya menggelengkan kepala saja. Dirasakannya orang tua ini selain mengagumkan, juga menakutkan. Dilihatnya alis orang tua itu berkerut rapat, serupa menanggung urusan yang membuatnya masgul, maka arak terus ditenggaknya secawan demi secawan.
Mendadak ia berpaling dan berkata pula kepada Lamkiong Peng, "Selama hidupku hanya ada suatu penyesalan, apakah kau tahu urusan apa?" Lamkiong Peng menggeleng dan menjawab tidak tahu.
"Brak", mendadak Hong Man-thian menggebrak cawan arak di atas meja, lalu berkata, "Urusan yang membuatku menyesal selama hidup ini adalah minum arak tidak pernah mabuk. Biarpun kuminum sepanjang hari, pikiranku tetap jernih. Sungguh aku sangat menyesal mengapa bisa terjadi begini."
"Minum tidak pernah mabuk, itu tandanya takaran minum Locianpwe yang luar biasa, masa dibuat menyesal malah?" ujar Lamkiong Peng.
Kembali Hong Man-thian menenggak tiga cawan pula, lalu berkata, "Manusia minum arak sebenarnya untuk menghilangkan rasa kesal. Orang yang takaran minumnya kurang kuat, cukup sedikit minum saja sudah melupakan semua kesedihan, dan inilah yang dicari. Orang yang kuat takaran minumnya, sudah banyak arak yang diminum dan tetap tidak mabuk, selain makan waktu juga makan biaya, hal ini kan tidak menguntungkan. Jika serupa diriku, selamanya minum tanpa mabuk, jelas ini kemalangan besar dan terlebih harus disesalkan."
Uraian orang tua ini sungguh tidak dimengerti oleh Lamkiong Peng. Ia tertawa dan berkata, "Selama hidup Locianpwe gagah perkasa, namamu termasyhur di seluruh jagat. Sesudah tua pun tirakat di Cu-sin-tian, tempat yang serupa sorgaloka bagi pandangan setiap orang persilatan, semua ini sukar dibandingi orang lain, mengapa Locianpwe justru menggunakan arak untuk menghapus rasa kesal?"
"Cu-sin-tian..." Hong Man-thian bergumam dengan terkesima. Mendadak ia memberi tanda, "Aku sudah dikawani oleh arak, boleh kau pergi tidur saja."
Sungguh Lamkiong Peng tetap tidak mengerti mengapa orang tua itu selalu murung. Esok paginya ia naik ke atas geladak, dilihatnya Tio Cin-tong, Kim Siong, dan Li-losam masih tetap bertugas seperti biasa. Dengan sendirinya ia pun berlagak tidak tahu apa-apa, cuma diam-diam ia pun merasa iba bagi nasib malang beberapa orang ini. Selama beberapa hari terakhir ini Hong Man-thian juga tampak pendiam, hanya cara minum araknya bertambah banyak. Melihat orang tua itu semakin lama semakin lesu, hati Lamkiong Peng juga ikut tertekan dan lesu serupa binatang buas di dalam kurungan itu.
Maklumlah, di tengah lautan makanan dan air minum adalah benda paling berharga. Dengan sendirinya tidak ada ransum yang cukup bagi kawanan binatang itu, ditambah lagi ombak besar yang mengombang-ambingkan kapal. Betapapun kawanan binatang itu pun mabuk sehingga binatang yang biasanya buas dan garang tersiksa hingga lemas dan lesu, sama sekali kehilangan kegarangannya, sampai suara meraung pun jarang terdengar. Memandangi Hong Man-thian dan memandang pula kawanan binatang buas itu, tanpa terasa Lamkiong Peng menghela napas.
Layar mengembang, kapal terus melaju di tengah lautan yang tiada kelihatan ujung pangkalnya. Li-losam dengan wajahnya yang kaku itu duduk di pinggir kapal dan sedang memancing ikan. Menjelang magrib, Hong Man-thian juga membawa buli-buli arak dan bersandar di tiang layar untuk menyaksikan orang memancing.
"Masa ikan laut juga mau dipancing?" tanya Lamkiong Peng dengan tertawa.
"Asal ada umpan, ikan di mana pun dapat dipancing," ujar Hong Man-thian.