Halo!

Han Bu Kong - Chapter 93

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 93

Belum lenyap suaranya, mendadak Li-losam menarik tali pancing. Benar saja, seekor ikan kakap terkena kailnya. "Aha, bagus, ikan ini pasti sangat lezat, cuma sayang di sini tidak ada ahli masak serupa ibumu," kata Hong Man-thian dengan menyesal.

Menyinggung ibunya, Lamkiong Peng menjadi sedih, tapi segera ia tertawa cerah dan berucap, "Rasanya caraku memasak pun lumayan."

"Apa betul?" Hong Man-thian menegas dengan girang.

"Tentu saja betul," jawab Lamkiong Peng. Untuk menyenangkan hati orang tua ini, ia membawa ikan hasil kailan Li-losam itu ke dapur. Hendaklah maklum, kepandaian memasak pun memerlukan kungfu yang khas, antara lain cara memotong, teknik penggunaan bahan, api, dan rempah-rempahnya; semuanya memerlukan kepandaian khusus. Bakat Lamkiong Peng memang tinggi. Selain ilmu silat dan kesusastraan, ia pun cukup menguasai seni memasak.

Tidak seberapa lama, seporsi ang-sio-hi sudah dibawa keluar. Ternyata masakannya sangat hebat; baik warna, aroma, maupun rasanya memenuhi selera Hong Man-thian. Sembari memakan ang-sio-hi, ia berulang kali menenggak arak. Hanya sebentar saja, seekor ikan sudah tersisa kepala dan ekornya.

"Kenapa kau sendiri tidak makan ang-sio-hi buatan sendiri?" Setelah kenyang, Hong Man-thian baru teringat kepada Lamkiong Peng yang sejak tadi hanya menyaksikan.

Dengan tersenyum, Lamkiong Peng menyumpit ekor ikan. Ekor ang-sio-hi biasanya kering dan rasanya seperti keripik; dengan nikmatnya anak muda itu mengunyahnya. Ia gembira melihat Hong Man-thian makan dengan lahap. Saat menoleh, Hong Man-thian melihat si makhluk aneh, Jitko, berdiri di samping dengan jakun yang naik turun. Tampaknya ia hampir mengiler. Sambil tertawa, Hong Man-thian berseru, "Apakah kau pun ingin makan? Ambil saja kepalanya!"

Tanpa disuruh dua kali, Jitko segera menyambar kepala ikan tersebut, lalu dijejalkan ke dalam mulut. Ia mengunyah kulit bersama tulangnya dengan sangat rakus, serupa binatang buas.

"Haha, ibunya ahli masak, anaknya juga lumayan..." Selagi Hong Man-thian berseru memuji, mendadak suaranya berubah serak dan matanya melotot. Ia meraung, "Wah, celaka!" Tangannya langsung mencengkeram ke arah Lamkiong Peng.

Karena bingung, Lamkiong Peng diam saja, tetapi gerakan Hong Man-thian itu ternyata bukan menyerang, melainkan merampas sisa tulang ikan yang masih ada di tangan anak muda itu.

"Bangsat, aku terjebak olehmu!" bentak Hong Man-thian dengan beringas. Ia langsung menyambitkan tulang ikan yang dirampasnya itu ke arah Li-losam yang memegang pancing di pinggir kapal.

Namun, Li-losam sempat mengelak dengan cepat. Hong Man-thian lantas berteriak, "Makanan beracun! Lekas binasakan kawanan bangsat ini!"

Serentak ia melompat bangun sambil memutar tongkatnya. Tanpa ayal, si makhluk aneh Jitko segera bertindak. Ia meraung seperti binatang buas dan menerkam salah seorang anggota Hai-pa-pang. Korban yang nyalinya pecah itu tidak sempat menghindar; kesepuluh jari Jitko mencengkeram ulu hatinya, lalu ia menjerit seketika sebelum tewas. Saat Jitko menarik tangannya, isi perut orang itu dirogoh keluar dan langsung dilahapnya seperti binatang buas. Dengan mata yang beringas dan muka berlumuran darah, sambil tertawa aneh, ia menerkam korban lain.

Seorang anggota Hai-pa-pang yang ketakutan setengah mati hendak kabur, namun belum lagi lenyap suara tawa Jitko, tiba-tiba kedua mata makhluk itu mendelik dan ia jatuh terjengkang dengan darah mengucur dari mulutnya.

Lamkiong Peng sempat membinasakan seorang lelaki dengan sekali hantam, lalu bergebrak dengan Kim Siong. Namun, baru satu-dua gebrakan, kepalanya tiba-tiba terasa pening. Diam-diam ia mengeluh celaka. Karena tidak ingin jatuh ke tangan kawanan bandit ini, ia segera bergerak hendak terjun ke laut.

Tio Cin-tong dengan sigap menarik ikat pinggangnya sambil menyeringai, "Huh, memangnya kau ingin mati dengan enak?"

Di sebelah sana, secepat terbang Hong Man-thian menubruk Li-losam. Melihat betapa lihai orang tua itu, Li-losam merasa takut. Ia tidak berani melawan dan melompat mundur sambil mengejek, "Hm, tua bangka, masakah engkau tidak segera roboh?"

Namun, gerakan Hong Man-thian terlampau cepat. Sekali raih, baju Li-losam sempat dipegangnya. Saking kagetnya, Li-losam meronta sekuat tenaga hingga bajunya robek. Tanpa pikir panjang, Li-losam terjun ke dalam laut untuk menyelamatkan diri.

Serentak Hong Man-thian membalikkan tubuh dan tongkatnya menyambar seorang lelaki bertubuh kekar. Orang itu bermaksud menangkis, tetapi ia keburu dicengkeram oleh Hong Man-thian, diangkat, lalu dilemparkan hingga terbanting di geladak. Ia hanya sempat meraung sebelum kepalanya pecah dan otaknya berhamburan.

Tanpa henti, Hong Man-thian menubruk Kim Siong. Ia menyadari dirinya keracunan, maka niatnya adalah membinasakan segenap penjahat di atas kapal. Namun, racun yang masuk ke tubuhnya teramat banyak. Obat bius ini berbeda dari yang lain; biarpun ia memiliki lwekang tinggi, ia tetap tidak tahan. Matanya berkunang-kunang, bayangan Tio Cin-tong mulai berlipat menjadi empat dan terus bertambah, melayang-layang di sekitarnya.

Ia tahu tidak sanggup bertahan lebih lama. Sungguh celaka, seorang gagah perkasa harus jatuh di tangan orang pengecut. Mendadak ia meraung sambil melemparkan tongkatnya, lalu roboh terkapar. Serangan terakhir ini menggunakan segenap sisa tenaganya, sehingga dampaknya dahsyat. Ketika tongkat itu menyambar, Kim Siong melongo karena nyalinya pecah. Keruan saja dadanya ditembus oleh tongkat baja tersebut hingga terpantek di lantai kapal.

Semua ini terjadi dalam sekejap. Kelasi kapal yang selamat menjadi ketakutan dan gemetar. Yang tersisa tanpa cedera hanya si juru masak yang sedang sibuk di dapur. Ketika mendengar keributan di geladak dan jeritan ngeri, ia buru-buru naik ke atas untuk melihat keadaan.

Dalam pada itu, Lamkiong Peng, Hong Man-thian, dan Jitko sudah roboh terkapar. Hanya burung beo yang terbang kian kemari sambil menjerit, "Lucu... haha, lucu..."

Dengan basah kuyup, Li-losam merangkak ke atas kapal. Setelah memandang sekeliling, ia berucap, "Mendingan, cuma mati empat. Lemparkan mereka ke laut, cuci bersih papan geladak, esok akan kubereskan mereka bertiga." Meski baru saja mengalami kejadian itu, ia tetap tenang. Ia menotok beberapa kali pada tubuh Lamkiong Peng, Hong Man-thian, dan Jitko, lalu mengikat mereka dengan tali yang sangat ketat sebelum pergi.

Tio Cin-tong dan kawan-kawannya sangat kagum atas keberhasilan tipu muslihat Li-losam. Mereka segera membersihkan lantai geladak. Rupanya tadi Li-losam menggunakan obat bius yang paling keras pada umpan pancing. Ikan yang dikailnya itu telah memakan umpan beracun tersebut. Karena Hong Man-thian melihat sendiri ikan itu baru ditangkap dan diolah sendiri oleh Lamkiong Peng, ia tidak menaruh curiga sedikit pun. Ia tidak menyangka ikan yang dianggapnya bersih justru telah diracuni dengan obat bius yang tidak bisa dimusnahkan oleh penawar biasa. Akhirnya, tokoh yang tidak ada bandingannya itu diringkus tanpa daya.

Ketika hari sudah pagi, Li-losam bangun dari tidurnya. Ia menyuruh anak buahnya menyiram Hong Man-thian dan kawan-kawannya dengan air dingin hingga mereka siuman.

Lamkiong Peng merasakan cahaya matahari menyilaukan mata, namun tubuhnya sama sekali tidak dapat berkutik. Terdengar Li-losam mendengus, "Hm, hanya dengan sedikit perangkap saja kalian lantas terjebak. Rupanya hanya begini saja kelihaian kalian."

Saat Lamkiong Peng memandang ke sana, terlihat Hong Man-thian dan Jitko juga terikat erat. Li-losam memegang cambuk panjang dan menuding hidung Hong Man-thian, "Eh, Hong Man-thian, apa pula yang akan kaukatakan? Konon kungfumu maha lihai, kenapa sekarang kau pun mati kutu dan jatuh dalam cengkeramanku?"

Meski sudah siuman, Hong Man-thian tidak membuka mata. Kini, mendadak ia mendengus, "Hm, aku memang sudah bosan hidup. Mau dibunuh atau disembelih, terserah kepadamu."

"Sudah berpuluh tahun kutunggu kesempatan ini. Baru sekarang kau jatuh ke tanganku. Bila kubiarkan kau mati dengan enak, rasanya aku berdosa terhadap diriku sendiri." Suara Li-losam yang tadinya serak mendadak berubah tajam dan nyaring.

Seketika Hong Man-thian terbelalak, mukanya berubah pucat, dan berseru, "Hah, kiranya..."

"Haha, bagus, akhirnya kau mengenali diriku, cuma sudah terlambat!" seru Li-losam sambil tergelak. Berbarengan dengan itu, cambuknya menggeletar di udara.

Mendadak Lamkiong Peng mendengar suara raungan harimau. Kiranya di belakangnya terdapat kurungan harimau, namun karena bunyi cambuk Li-losam, harimau itu lantas mendekam dan tidak berani bertingkah lagi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment