Halo!

Han Bu Kong - Chapter 94

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 94

Setelah mendengar suara Li-losam yang melengking nyaring dan kepandaiannya menjinakkan harimau, hati Lamkiong Peng tergerak. Tiba-tiba ia teringat akan seseorang dan berseru, "Hah, Tek-ih Hujin!"

Li-losam terbahak-bahak, "Haha, bagus, kau pun mengenali diriku!" Sembari bicara, ia terus berpaling ke sana. Waktu ia menoleh kembali, tahu-tahu mukanya yang dingin dan kaku serupa orang mati itu mendadak berubah menjadi wajah yang cantik molek, wajah Tek-ih Hujin yang mempesona.

Diam-diam Lamkiong Peng merasa menyesal, "Pantas dia dapat menaruh racun pada ikan segar dan pandai menundukkan harimau, kiranya dia samaran Tek-ih Hujin. Sekarang aku jatuh di tangan orang ini, entah bagaimana nasibku nanti."

Tek-ih Hujin lantas mendekati Hong Man-thian. Perlahan ia meraba mukanya dan berkata dengan tertawa, "Hong-lotaucu, sudah lama aku merindukan dirimu. Cara bagaimana akan kuperlakukan dirimu sekarang, apakah dapat kau terka?" Mendadak ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan menyambung, "Apa kau tahu apa isi botol ini?"

Hong Man-thian memejamkan mata dan tidak menggubrisnya. Tek-ih Hujin mengerling genit, ucapnya dengan terkekeh, "Hihi, biar kuberitahukan, isi botol ini adalah obat perangsang lelaki yang paling kuat. Barang siapa menciumnya sedikit saja, seketika nafsu berahi akan berkobar. Apakah kau mau menciumnya?"

Waktu menyamar tadi, mukanya kelihatan kaku dan dingin, tapi sekarang setiap kali bicara, wajahnya tampak sangat mempesona dan menggiurkan. Gayanya itu membuat Tio Cin-tong dan yang lain terkesima. Namun, Hong Man-thian tetap diam saja.

Tek-ih Hujin lantas menyodorkan botol kecil itu dan berkata, "Eh, coba endus sedikit. Sesudah mencium bubuk ini, meski sekujur badan tidak dapat berkutik, rasanya tentu luar biasa. Kujamin engkau pasti tidak pernah mengalami perasaan demikian..."

Lamkiong Peng yang belum berpengalaman tidak tahu apa yang bakal terjadi. Ia memandang ke sana dan melihat botol kecil yang dipegang Tek-ih Hujin semakin mendekati hidung Hong Man-thian. Dengan mata terpejam, Hong Man-thian tetap tidak menghiraukannya, namun apa daya, ia sama sekali tidak dapat bergerak.

Pada saat itulah mendadak seseorang menjerit. Harimau juga meraung kaget karena jeritan itu. Serentak Tek-ih Hujin berpaling sehingga botol yang dipegangnya sedikit miring dan isinya tertuang setitik lalu terbawa angin. Kiranya si juru masak kudisan itulah yang menjerit. Waktu Tek-ih Hujin berpaling, dengan tergegap ia berkata, "Ken... kenapa engkau berubah menjadi orang perempuan? Apakah engkau dewa yang dapat berubah wujud?"

Tek-ih Hujin tersenyum senang, "Kau lihat aku cakap tidak?"

"Ya, cakap... cakap sekali!" jawab si kudisan dengan menyengir.

"Mendingan kau pun dapat membedakan orang cakap dan tidak," ujar Tek-ih Hujin dengan senang. "Baiklah, lekas pergi membuatkan beberapa macam makanan enak, sebentar boleh kau pandang diriku lebih lama."

Si kudisan tertawa dan berlari pergi. Tek-ih Hujin membetulkan rambutnya, katanya pula dengan tertawa, "Hong-lotaucu, coba kau lihat, seorang linglung saja mengetahui aku..."

Belum lanjut ucapannya, sekilas diketahuinya seorang kelasi kekar di sebelahnya sedang menatapnya dengan sorot mata merah beringas serupa binatang buas yang sedang mengincar mangsanya. Ia terkejut dan menegur, "Kau mau apa?"

Tubuh lelaki itu tampak gemetar, muka merah beringas. Mendadak ia merentangkan kedua tangan terus menubruk maju. Karena tidak disangka-sangka, tubuh Tek-ih Hujin terpeluk dengan erat. Dengan kalap lelaki itu berteriak, "Kuharap... kuminta engkau... aku tidak tahan..."

Kiranya karena isi botol tadi sedikit tertuang dan terbawa angin, lalu terisap oleh kelasi itu. Obat itu adalah obat perangsang yang sangat keras, seketika mengobarkan nafsu birahinya sehingga membuatnya beringas dan lupa daratan. Sama sekali tak terpikir oleh Tek-ih Hujin bahwa kelasi itu berani merangkulnya. Seketika ia terpeluk erat, dirasakan badan orang itu panas seperti dibakar.

Pada dasarnya perangai Tek-ih Hujin memang cabul; dia tidak marah, sebaliknya malah tertawa sambil mengomel, "Orang mampus..." "Bluk", akhirnya dia roboh tertindih lelaki kalap itu.

Mendadak Tio Cin-tong menubruk maju, sekali menikam dengan belatinya, kontan punggung kelasi itu tertembus. Ia membentak, "Berani kurang ajar terhadap Hujin!" Lelaki itu meraung keras, tubuh membalik, dan binasa.

Muka Tek-ih Hujin tampak merah, cepat ia melompat bangun, omelnya, "Siapa suruh kau bunuh dia?"

Tio Cin-tong melongo, tapi Tek-ih Hujin lantas berkata pula, "Ah, kutahu, tentunya engkau cemburu!" Mendadak sebelah tangannya menampar hingga Tio Cin-tong jatuh terguling.

Dengan muka kereng, Tek-ih Hujin menyapu pandang sekejap ke arah para kelasi, bentaknya dengan bengis, "Nah, inilah contohnya! Asalkan kalian bekerja dengan baik dan menurut perintah, tentu akan kuberi imbalan yang setimpal. Cuma, siapa pun tidak boleh cemburu, tahu?" Lalu ia mendekati Tio Cin-tong dan menjulurkan tangan. Muka Tio Cin-tong tampak pucat dan melongo bingung. Tak terduga Tek-ih Hujin hanya meraba perlahan pada mukanya yang digampar tadi, mendadak ia berkata dengan tertawa, "Lemparkan keparat itu ke laut, pergilah pegang kemudi, kerjalah baik-baik, tahu?"

Seperti mendapat pengampunan, cepat Tio Cin-tong mengiakan dan berlari pergi. Semua kejadian itu disaksikan oleh Lamkiong Peng. Ia hanya geleng kepala, ia merasa bila orang jatuh dalam cengkeraman perempuan seperti ini, sungguh lebih baik mati daripada hidup.

Dilihatnya si juru masak kudisan telah muncul kembali dengan membawa enam macam hidangan, bau sedapnya sungguh menusuk hidung. "Biarlah di sini juga kita makan siang, sembari maksud ingin kulihat permainan si tua bangka she Hong itu," kata Tek-ih Hujin.

Dengan cepat para kelasi lantas mengatur meja kursi. Tek-ih Hujin menuang secawan arak dan dibawa ke depan Hong Man-thian, katanya, "Sedap tidak baunya?" Lalu ia mendekati Lamkiong Peng dan si makhluk aneh, serta mengiming-imingi arak itu di depan hidung mereka.

Makhluk aneh Jitko menyeringai, mata pun melotot. Tek-ih Hujin memperlihatkan botol kecil tadi, katanya pula dengan tertawa, "Jangan kuatir, saat ini pendirianku sudah berubah, biar kalian merasakan dulu siksaan orang kelaparan dan kehausan, habis itu baru merasakan betapa celakanya orang yang dirangsang nafsu birahi." Mendadak ia memberi tanda kepada Tio Cin-tong, katanya, "Ikat dulu kemudinya, marilah kita minum bersama untuk merayakan kemenangan ini!"

Kecuali Lamkiong Peng bertiga, yang berada di atas kapal kini tersisa tujuh orang saja, jadi tepat untuk memenuhi satu meja. Kawanan anggota Hai-pa-pang meski biasanya sangat garang, tapi menghadapi Tek-ih Hujin, mereka benar-benar mati kutu dan juga kebat-kebit. Yang paling senang jelas adalah Tek-ih Hujin sendiri; bahwa musuh utama selama hidupnya kini dapat ditawan, sungguh hal ini harus dirayakan.

Ia angkat cawan arak dan berseru, "Wahai Hong Man-thian, betapa gagahnya engkau dahulu ketika membakar Banceng kami dan aku terusir hingga tiada tempat berteduh. Dua bulan yang lalu, di Lamkiong-san-ceng hampir juga jiwaku melayang di tanganmu, tapi sekarang di mana kegagahanmu?"

Sembari berolok-olok, tidak lupa pula menenggak arak. Dia memang ayu, setelah minum arak wajahnya semakin menggiurkan. Kawanan berandal Hai-pa-pang semua masih takut-takut, sesudah minum secawan arak, mereka bertambah tabah dan segera makan minum tanpa pantang lagi. Si juru masak kudisan sibuk naik turun membawakan hidangan dan menambah arak, namun lirikan matanya tidak pernah melepaskan gerak-gerik Tek-ih Hujin.

Tiba-tiba Tek-ih Hujin berbangkit dan mendekati Lamkiong Peng, sambil mengamati anak muda itu ia bertanya, "Adik cilik, berapa usiamu tahun ini?"

Lamkiong Peng diam saja.

Tek-ih Hujin tertawa, katanya pula, "Ai, kenapa malu-malu bicara dengan Taci, bila..."

Belum lanjut ucapannya, mendadak terdengar suara gemerincing, mangkuk piring sama tumpah, ketujuh lelaki itu sama roboh terjungkal, semuanya mabuk serupa orang mampus. "Huh, manusia tak berguna, baru dua-tiga cawan sudah menggeletak," omel Tek-ih Hujin.

Tak terduga mendadak ia pun mengeluh, "Celaka!" Cepat ia melompat ke samping si juru masak, segera ia cengkeram pergelangan tangannya. "Ada... ada apa?" tanya si kudisan dengan melongo.

"Budak kurang ajar!" bentak Tek-ih Hujin. "Kau berani menaruh racun dalam arak, lekas serahkan obat penawarnya, kalau tidak..."

"Hehehehe!" tiba-tiba si kudisan terkekeh. "Akhirnya kau tahu juga! Cuma, semuanya sudah terlambat."

Dia menirukan ucapan Tek-ih Hujin tadi, tentu saja air muka Tek-ih Hujin alias si nyonya senang menjadi pucat seketika. Semangat Lamkiong Peng dan Hong Man-thian sama terbangkit juga melihat kejadian itu.

Terdengar si kudisan lagi tertawa, katanya, "Obat ini kuterima dari kalian, sekarang kugunakan untuk kalian, ini kan adil dan pas?" Di tengah tertawa juru masak itu, Tek-ih Hujin segera roboh terkulai. "Hehe, nyonya senang ternyata tidak lama senangnya," si kudisan berolok-olok pula, kelakuannya tetap angin-anginan.

Diam-diam Lamkiong Peng merasa menyesal, sungguh sukar dinilai dari lahiriahnya, tak terduga orang yang bermuka jelek dan kelihatan bodoh ini ternyata juga memiliki kecerdasan. Kecuali dia, rasanya juga jarang ada orang yang sanggup mengelabui mata Tek-ih Hujin.

Dengan langkahnya yang lamban, si juru masak kudisan lantas mendekati Lamkiong Peng bertiga dan membuka tali pengikatnya. Tapi karena hiat-to mereka masih tertutup sehingga belum dapat bergerak. "Budi besar tidak berani balas dengan ucapan terima kasih, untuk selanjutnya masih diharapkan bantuan Anda untuk membuka hiat-to kami," ucap Hong Man-thian dengan sungkan.

"Hiat-to apa maksudmu?" si kudisan bertanya dengan ketolol-tololan.

"Ai, jika Anda sengaja menyembunyikan kepandaian, terpaksa aku pun tak dapat memaksa," ujar Man-thian dengan pasrah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment