Chapter 95
"Mana hamba tahu hiat-to apa segala, tapi kalau Loyacu mau memberi petunjuk, mungkin bisa kucoba," kata si kudisan.
Hong Man-thian berpikir, jika orang memang sengaja berlagak bodoh, apa salahnya ia mengatakan cara membuka hiat-to yang harus dilakukan. Maka, dengan perlahan ia lantas menguraikan bagian mana yang harus dipijat dan ditutuk. Juru masak yang kotor itu menuruti petunjuk tersebut dan meraba-raba tubuh Lamkiong Peng. Walaupun begitu, diperlukan sekian lama sampai akhirnya anak muda itu dapat dibebaskan dari kelumpuhannya.
Hidung Lamkiong Peng tercium bau busuk kudis di tubuh orang itu; rasanya ia ingin muntah. Untunglah, segera ia merasa dirinya sudah dapat bergerak. Tanpa tunggu lagi, ia melompat bangun sehingga si kudisan tertumbuk sempoyongan. Cepat Lamkiong Peng membuka hiat-to Hong Man-thian yang tertutuk. Begitu melompat bangun, Man-thian lantas menjura kepada si kudisan.
"Ah, Loyacu jangan banyak adat," ujar si juru masak dengan gugup.
"Yang kuhormati bukan karena jiwaku kau selamatkan, tapi karena engkau telah membebaskan diriku dari hinaan dan aniaya musuh," ujar Hong Man-thian.
Tiba-tiba terlihat Jitko sedang menyeret salah seorang kelasi tadi ke tepi kapal.
"He, akan kauapakan dia?" tegur Lamkiong Peng.
"Buang saja ke laut untuk umpan ikan," jawab Jitko.
"Nanti dulu," kata Lamkiong Peng. "Apa pun juga, kita tidak sampai diperlakukan melampaui batas. Biarlah jiwa mereka diampuni saja. Taruh saja mereka di dalam sekoci dan hanyutkan sekoci itu. Terserah kepada nasib mereka akan selamat atau ditelan laut, bukan lagi urusan kita." Hati Lamkiong Peng memang luhur; betapapun, ia tidak sampai hati melemparkan orang-orang yang belum mati itu ke laut.
Hong Man-thian menggelengkan kepala atas jalan pikiran anak muda itu. Si juru masak kudisan juga tidak membantah. Segera mereka menurunkan sekoci dan memindahkan tujuh lelaki serta seorang perempuan itu ke dalam perahu kecil tersebut, lalu menghanyutkannya di tengah laut.
Ketika mereka bertiga tertawan, Tek-ih Hujin telah memerintahkan kapal berlayar kembali ke arah semula; sekarang kapal juga tetap laju menuju pulang. Lamkiong Peng berpikir juru masak kotor ini sungguh penuh keanehan. Ia mencoba bertanya, "Bila tidak keberatan, apakah boleh kami tanya siapa nama Anda yang sebenarnya?"
"Ah, nama orang rendah semacam hamba mana ada harganya untuk disebut," jawab si kudisan sambil tetap tertawa seperti orang bodoh. "Cuma nama Lamkiong-kongcu justru sudah pernah hamba dengar dari seorang kawanmu."
"Hah, apa betul? Siapa dia?" tanya Lamkiong Peng.
Juru masak itu memandang jauh ke sana, katanya kemudian, "Orang itu bukan saja kawan Kongcu, bahkan boleh dikatakan orang terdekat Kongcu."
"Eh, jangan-jangan engkau kenal Liong-toakoku?" Lamkiong Peng menegas dengan girang.
"Bukan," kata si juru masak.
"Lantas siapa? Apakah Ciok-siko, atau Su-ma-lopiauthau, atau Loh-sacek..." Begitulah sekaligus ia menyebut beberapa nama orang yang memiliki hubungan rapat dengan dirinya, bahkan nama Kwe Giok-he, Ong So-so, dan Yap Manjing juga disebutnya. Namun, si juru masak tetap menggeleng dan menjawab bukan.
Lamkiong Peng menjadi bingung sendiri. Ia pikir orang yang rapat dengan dirinya selain yang sudah disebutkan tinggal Bwe Kim-soat. Tapi dia berwatak dingin dan juga suka pada kebersihan. Misalnya, selama sepuluh tahun ia tersekap di dalam peti mati; jika orang lain tentu sudah mati konyol, tapi dia dapat keluar dengan hidup dan pakaiannya masih tetap putih bersih. Mustahil dia tidak jijik melihat orang dekil dan berbau busuk semacam ini, apalagi mau bicara dengannya. Karena itulah akhirnya ia menggeleng dan mengaku, "Wah, rasanya aku tidak ingat lagi ada orang lain yang memiliki hubungan dekat denganku."
Juru masak itu memandang jauh tanpa bicara. Sekian lama barulah ia berkata pula dengan perlahan, "Masa selain orang-orang itu, Kongcu tidak mempunyai sahabat lain lagi?"
"Rasanya tidak... tidak ada lagi," jawab Lamkiong Peng.
Juru masak itu termenung sejenak, mendadak ia tertawa, katanya, "Ah, tahulah aku, tentu orang itu sengaja mengaku sebagai sahabat baik Kongcu." Lalu ia melangkah ke pinggir kapal dan mengelamun sendiri.
Hong Man-thian yang sedang memegang kemudi memandang Lamkiong Peng sekejap. Selagi ia hendak bicara, mendadak si juru masak berteriak, "Wah, celaka!"
"Ada apa?" tanya Man-thian cepat.
Juru masak kudisan itu menuding badan kapal. Waktu Hong Man-thian melongok ke bawah, seketika air mukanya juga berubah hebat. Kiranya badan kapal yang terapung di permukaan air kini tinggal tiga-empat kaki saja.
"Hah, jadi kapal ini sedang tenggelam dengan perlahan!" teriak Lamkiong Peng khawatir.
Hong Man-thian tidak menjawab, sekali lompat, tubuhnya yang gempal itu melayang ke bawah kabin. Meski tongkatnya sudah terlempar ke laut, namun gerak-geriknya tetap cepat dan gesit. Segera Lamkiong Peng menyusul ke sana; setiba di bawah dek, keduanya saling pandang dengan muka pucat. Ternyata di antara celah-celah kabin sudah mulai merembes air laut, makin lama makin keras, sebagian barang sudah terapung di permukaan air. Malahan rembesan air segera berubah deras, sebentar saja sudah sebatas paha Lamkiong Peng.
"Lekas naik ke atas!" seru Man-thian.
Keduanya lantas melompat lagi ke atas geladak, Jitko yang sedang berjaga di puncak layar juga merambat turun.
"Bagaimana?" tanya si juru masak dengan khawatir.
"Kapal bocor, air laut sudah merembes masuk dan hampir menggenangi dek bawah. Tidak sampai setengah jam lagi kapal ini akan tenggelam," tutur Hong Man-thian.
Juru masak itu tampak bingung, mendadak ia mengentak kaki dan berkata, "Pantas sebelum Tek-ih Hujin memperlihatkan jejaknya, setiap hari dia pasti mendatangi dek. Agaknya diam-diam dia sudah membuat lubang di dasar kapal dan setiap hari harus disumbat. Bilamana akal kejinya berhasil, lubang itu tetap dibikin rapat; jika gagal usahanya, lubang itu akan membesar dan semuanya akan terkubur di dalam laut. Saat ini tentu penyumbat lubang itu sudah jebol dan air laut merembes masuk dengan deras tanpa kita ketahui."
"Sungguh keji amat perempuan itu," gerutu Lamkiong Peng dengan gemas. "Lantas apa daya kita?"
"Kecuali meninggalkan kapal, masa ada jalan lain?" ejek Man-thian.
"Ai, jika aku tidak memberikan sekoci itu, tentu..." si juru masak juga menyesal.
"Jiwa kami diselamatkan olehmu, buat apa engkau menyesal?" kata Man-thian. "Mati-hidup manusia sudah tercatat takdir, apa artinya mati bagi kita? Cuma akhirnya aku tetap mati di tangan Tek-ih Hujin, sampai di akhirat dia tetap merasa senang; sungguh aku tidak rela."
"Biar kuperiksa lagi, mungkin bisa..." kata Lamkiong Peng.
"Bisa apa?" ujar Man-thian. "Perbekalan dan air minum sudah terendam air laut. Biarpun kita terapung dan tidak karam, kita juga akan mati kelaparan dan kehausan."
Lamkiong Peng melongo dan urung melangkah pergi.
"Hong-locianpwe sungguh seorang yang tidak gentar mati," ujar si juru masak.
"Aku memang sudah bosan hidup, apa artinya mati bagiku? Cuma sayang, kalian yang masih muda ini harus ikut menjadi korban," ucap Man-thian dengan menyesal. "Jitko, coba kaucari beberapa guci arak lagi, sebelum mati marilah kita minum sepuasnya."
Makhluk itu tampaknya juga tidak menghiraukan hidup atau mati. Ia pergi ke bawah dan mendapatkan dua guci arak, katanya, "Tinggal ini saja, yang lain sudah pecah tertumbuk." Segera Hong Man-thian membuka guci arak dan menenggak arak tersebut. Kapal tenggelam dengan cepat. Kawanan binatang buas itu agaknya juga merasakan gelagat tidak enak; semula mereka lesu, sekarang lantas meraung-raung di dalam kurungan.
Lamkiong Peng ikut minum arak dan mendadak menghela napas.
"Kenapa engkau menghela napas?" tanya Man-thian.
"Toh setiba di Cu-sin-to, hidupmu juga tidak lebih baik daripada mati. Jika dapat mati sekarang, bukankah lebih menyenangkan malah?"
Seketika Lamkiong Peng tidak dapat merasakan makna yang terkandung dalam ucapan orang tua itu. Katanya, "Jelek-jelek, Wanpwe bukanlah manusia yang tamak hidup dan takut mati. Soalnya, Wanpwe mendadak teringat kepada seseorang, maka merasa menyesal. Bilamana orang itu ikut di atas kapal ini, tentu akal keji Tek-ih Hujin takkan terlaksana."
"Siapa yang kaumaksudkan?" tanya si juru masak kudisan dengan mata terbeliak.
Perlahan Lamkiong Peng menjawab, "Bwe..."
"Bwe Kim-soat maksudmu?" tukas si kudisan mendadak dengan badan bergetar.
"Kau kenal dia?" tanya Lamkiong Peng dengan heran.
Juru masak itu tidak menjawab, ucapnya dengan gemetar, "Dalam keadaan dan di tempat seperti ini, mengapa engkau teringat kepadanya?"
Kembali Lamkiong Peng menghela napas, gumamnya, "Teringat padanya, masa aku teringat padanya?" Sekilas pandang dilihatnya tubuh si kudisan gemetar dan berlinang air mata. Tentu saja Lamkiong Peng heran, tanyanya, "Kenapa kau..."
"Dapat mendengar ucapanmu ini, mati pun aku..." Belum lanjut ucapan si juru masak, mendadak makhluk aneh Jitko berteriak, "Aha, itu dia, ada daratan... daratan..."
Seketika si juru masak urung bicara lebih lanjut dan bertanya kepada Jitko, "Mana ada daratan?"
"Ya, memang ada daratan," Man-thian ikut bicara. "Meski manusia adalah makhluk yang paling pintar, tapi daya cium tak dapat menandingi binatang. Coba kaulihat, kawanan binatang buas itu kelihatan lain, tentu dari angin laut dapat mereka mencium bau daratan."
Sementara itu, Jitko telah merambat lagi ke puncak tiang layar. Sesudah memandang jauh sejenak, lalu merosot turun lagi. Ia mengambil sebuah ember dan turun ke dek, sementara itu badan kapal tinggal satu kaki saja di permukaan air. Pada saat bahaya mendadak menemukan titik terang seharusnya mereka bersyukur dan gembira, tapi Hong Man-thian dan si juru masak kudisan tidak kelihatan senang sedikit pun.