Chapter 96
Lamkiong Peng menjadi sangsi. Ia mencoba bertanya, "Tadi kau bilang setelah mendengar ucapanku, lalu bagaimana?"
Juru masak itu termangu-mangu, sejenak kemudian baru menjawab, "Kubilang mati pun engkau menggelikan dan kasihan."
Ia berdiri dan melangkah ke pinggir kapal, katanya pula, "Dari nama kawanmu yang kausebut tadi, jelas semuanya pendekar ternama di dunia persilatan, bahkan Yap Man-jing, Ong So-so, dan lain-lain juga anak perempuan yang cantik dan lemah lembut. Hanya Bwe Kim-soat saja, hm, dia berhati kejam, namanya busuk, usianya juga jauh lebih tua, tapi engkau justru teringat padanya, bukankah menggelikan dan harus dikasihani?"
Air muka Lamkiong Peng berubah hebat. Mendadak ia menenggak arak dua cawan, perlahan ia mendekati si kudisan dan berkata, "Apa pun yang kaukatakan, namun kutahu dia adalah perempuan yang paling lembut, paling berbudi. Demi untuk menolong dan membela orang lain, dia rela menderita sendiri, terhina, tersiksa, dan mengorbankan nama baiknya sendiri. Meski usianya lebih tua daripadaku, namun aku rela mendampingi dia selamanya."
Tubuh si kudisan tampak bergetar, tapi tidak berpaling. Dengan kasih mesra, Lamkiong Peng memandangi kepala orang yang penuh borok itu, ucapnya perlahan, "Dia sebenarnya seorang yang suka kepada kebersihan, tapi demi diriku dia rela membuat dirinya kotor. Dia seorang yang tinggi hati, lantaran diriku dia tidak sayang merendahkan diri. Dia begitu baik padaku, namun selagi aku masih hidup, dia tidak mau bicara terus terang padaku melainkan rela menderita sendirian. Sekarang aku menghadapi jalan buntu, apakah dia masih tetap..."
Belum habis ucapannya, berderailah air matanya. Dahi si kudisan juga kelihatan berkerut-kerut, air mata pun meleleh membasahi mukanya yang dekil itu.
Mendadak Lamkiong Peng meratap, "O, Kim-soat, mengapa engkau sampai hati mengelabuiku sejauh ini? Memangnya engkau belum cukup berkorban bagiku..."
"O, Adik Peng..." tiba-tiba si kudisan membalik tubuh dan mendekap anak muda itu.
Dengan erat, Lamkiong Peng merangkulnya. Kini tak dihiraukannya lagi mukanya yang kotor dan baunya yang busuk, sebab ia tahu semua itu tidak lain hanya bualan belaka, samaran Bwe Kim-soat yang cantik dan harum itu.
"Selamanya aku takkan berpisah lagi denganmu, apa pun yang terjadi dan betapa pun komentar orang atas diriku, aku akan berkumpul denganmu," ratap si kudisan alias Bwe Kim-soat.
"O, mengapa tidak sejak mula kaukatakan padaku? Mengapa engkau lebih suka menderita sendiri?" keluh Lamkiong Peng.
"Engkau tidak tahu, berapa kali ingin kubongkar penyamaranku ini dan memberitahukan siapa diriku, tapi aku..."
Begitulah kedua orang saling mengutarakan rasa rindu dan sedih masing-masing tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya. Hong Man-thian sendiri duduk termenung tanpa menghiraukannya; betapa keras hatinya, ia juga terharu oleh cinta murni kedua orang itu.
Sekonyong-konyong terdengar suara "blang" yang keras disertai guncangan badan kapal. Kiranya kapal telah kandas; jaraknya dengan pantai yang berpasir kuning itu cuma beberapa puluh tombak saja dan genangan air laut belum lagi mencapai geladak.
Kegirangan pertemuan kembali setelah berpisah sekian lama, kegembiraan karena hilangnya salah paham, ditambah lagi kegirangan lolos dari maut, sungguh sukar dilukiskan perasaan Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat pada saat itu. Mereka lantas berenang dan mendarat di pulau karang yang tak diketahui namanya serta tak berpenghuni itu.
Melihat kemesraan kedua orang itu, hati Hong Man-thian juga ikut senang dan terharu. Dengan sendirinya Bwe Kim-soat sudah membersihkan semua obat rias yang membuat wajah dan tubuhnya kelihatan kotor dan berbau itu. Kembalilah wajah aslinya yang cantik, cuma sekarang kelihatan agak kurus dan pucat, namun semakin menambah kemolekannya.
Pulau karang ini ternyata cukup subur di bagian pedalamannya. Pepohonan menghijau permai, langit cerah tanpa awan, suasana penuh gairah hidup; segala urusan duniawi yang kotor seakan-akan tak dikenal di sini. Pulau ini banyak ditumbuhi pohon kelapa. Hong Man-thian duduk mengelamun di bawah pohon sambil minum arak.
Mendadak ombak mendampar dengan dahsyat, kapal yang kandas itu terdampar ke pesisir. Kawanan binatang buas di dalam kurungan menjadi garang lagi demi melihat daratan, semuanya meraung-raung.
Jitko telah mengumpulkan berbagai buah-buahan liar dan beberapa biji kelapa, akan tetapi setelah dibuka airnya sudah kering. Meski makhluk aneh ini kelihatan bodoh, dia ternyata tidak mau diam. Selalu ada saja yang dikerjakan; ia sibuk mencari sesuatu di dalam kapal. Akhirnya ditemukan sebuah kapak. Dengan alat ini, dia membuat lubang badan kapal yang bocor itu lebih besar, dengan begitu air yang menggenang di dalam kapal dapat mengalir keluar dengan cepat. Lalu dia membongkar papan geladak kapal dan mendapatkan bahan pelekat yang biasanya tersedia di dalam kapal; dipaku dan ditambalnya lubang yang bocor itu hingga rapat.
Setelah sibuk setengah harian, akhirnya ia tertawa dan berkata, "Sebentar bila air naik pasang, kapal ini akan menyurut kembali ke tengah laut. Dengan demikian kita pun akan terbawa berlayar lagi daripada mati konyol di sini. Terutama sepasang pengantin baru kita, bolehlah berbulan madu di tengah lautan."
Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat saling menggenggam tangan dan saling pandang dengan terharu, entah apa yang harus diucapkan. Benar juga, menjelang magrib, air laut naik pasang. Lambat-laun kapal itu terapung pula di permukaan laut. Jitko memegang kemudi dan memasang layar, perlahan kapal itu melaju lagi ke tengah laut.
Perbekalan di dalam kapal sudah hampir ludes rusak atau hanyut terbawa air laut. Yang masih tersisa dan umpama sekadar dapat digunakan juga takkan tahan lebih lama dari beberapa hari saja. Terutama air minumnya, tiada tersisa setetes pun. Untunglah si makhluk aneh dapat menemukan dua guci arak yang belum pecah. Arak selain dapat melepas dahaga, juga sekadar dapat digunakan sebagai ganjal perut.
Dan begitulah tiga hari sudah berlalu pula. Pada malam hari keempat, selagi mereka putus asa karena sudah kehabisan perbekalan, tampaknya mereka hanya menanti ajal saja. Tiba-tiba si makhluk aneh dapat menemukan lagi seguci arak yang semula disangka sudah pecah; ternyata pada dasarnya masih tersisa setengah guci. Seperti menemukan barang mustika saja, mereka bergantian meneguk isi guci itu.
Tak terduga mendadak Hong Man-thian berteriak, "Wah, celaka!" Rupanya dia memiliki lwekang paling tinggi, maka dia paling cepat merasakan sesuatu yang tidak beres pada arak itu. Nyata arak itu beracun. Agaknya memang sudah diatur oleh Tek-ih Hujin; beberapa guci arak yang tersedia itu telah ditaruh racun. Telah diperhitungkannya, bilamana tidak tenggelam dan kandas, tentu juga penumpangnya akan kehabisan perbekalan. Segala apa yang dimakan dan diminum, maka arak ini pun tidak terkecuali akan dihabiskan oleh mereka dan tak terhindarlah akan keracunan.
Di antara mereka berempat, lwekang si makhluk aneh paling cetek; dia yang menjadi korban lebih dulu. Tahu-tahu matanya mendelik, lalu roboh binasa. Tentu saja Lamkiong Peng kaget. Waktu berpaling, dilihatnya muka Hong Man-thian juga hitam kelam; orang tua itu sudah kaku dengan mata terpejam.
"Hei, kenapa Hong-locianpwe?" seru Lamkiong Peng khawatir.
"Aku..." belum sempat bicara apa pun, Hong Man-thian tampak berkejang dan gigi gemeretuk. Tanpa ayal, Lamkiong Peng menotok hiat-to tidurnya supaya tidak merasakan siksaan yang melampaui batas. Orang tua itu sempat mengucapkan "terima kasih", lalu roboh terkapar.
Waktu ia menoleh, sungguh kagetnya tak terkatakan. Tanpa pamit, Bwe Kim-soat ternyata juga sudah rebah seperti orang tidur nyenyak, ujung mulutnya malah kelihatan mengulum senyum.
"Hah..." ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Ia rangkul tubuh Bwe Kim-soat dengan erat, ia pun ingin selekasnya menyusulnya ke alam baka.
Malam tiba, kegelapan yang tidak ada ujungnya. Lamkiong Peng merasa dunia ini sedemikian seram, makin lama makin mencekam, namun rasanya racun dalam tubuhnya tidak cepat bekerja. Betapa pun ia tidak tahu mengapa bisa terjadi begini.
Kiranya tempo hari ketika di hutan perkampungan Lamkiong-san-ceng, ia pernah menghirup sedikit bubuk racun Tek-ih Hujin yang membinasakan Busimsiang-ok itu. Waktu itu kotak yang dilemparkan Tek-ih Hujin itu menyambar lewat di sisinya dan tanpa terasa terendus bau harum olehnya, cuma saat itu tidak diperhatikan kejadian ini.
Racun yang terserap olehnya itu tidak segera bekerja, sebab racun buatan Tek-ih Hujin itu merupakan racun maha dingin, sebaliknya sejak kecil Lamkiong Peng berlatih lwekang yang mengutamakan hawa murni maha panas, maka setitik racun dingin itu dapat ditahannya. Sekarang racun dalam arak yang diminum itu justru racun maha panas; sebab itulah Bwe Kim-soat tidak tahan, ia roboh dengan tubuh panas membara. Bagi Lamkiong Peng, sekaligus terjadi pertarungan dua macam racun dalam tubuhnya. Tentu saja hal ini tidak dirasakan oleh Lamkiong Peng sendiri.
Akan tetapi apa pun juga akhirnya racun meluas juga dan membuatnya menggigil, pikiran pun mulai kabur, mata berkunang-kunang. Pada waktu dia hampir kehilangan kesadaran, tiba-tiba dari kejauhan permukaan laut sana berkumandang suara orang berteriak, "Hong Man-thian, apakah engkau sudah pulang?"
Suaranya kedengaran sangat jauh, namun bagi telinga Lamkiong Peng dirasakan juga begitu jelas. Ia hanya sempat berpikir, "Ah, barangkali sudah sampai di Cu-sin-to!" Habis itu ia lantas tidak ingat apa pun.
Pada saat itulah, dalam kegelapan yang tak berujung itu, ada setitik sinar lampu bergoyang-goyang mendekati mengikuti gelombang ombak, menuju ke kapal maut ini.
Di ujung pulau sana mencuat tinggi tebing yang curam. Di atas tebing berdiri sebuah rumah yang berdinding tinggi dan kelihatan seram. Sekeliling rumah tiada terdapat daun jendela; di tengah malam sunyi hanya kelihatan setitik cahaya lampu yang berkelip serupa api setan menghiasi ruangan yang luas.